Thursday, June 22, 2017

Belajar Menghargai dari Anjing Hitam

#Ucapan Anjing Hitam Yang Menyayat Hati dari kisah Syeikh Abu Yazid al-Busthami 
" BELAJAR MENGHARGAI DARI SEEKOR ANJING "
Pada suatu hari, Syeikh Abu Yazid al-Busthami sedang menyusuri sebuah jalan sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Maka dengan enjoynya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.
Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Syeikh Abu Yazid al-Busthami merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. Ternyata anjing-anjing itu sudah mendekat di sampingnya.
Secara spontanitas Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena merasa khawatir jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis.
Tapi, betapa kagetnya Syeikh Abu Yazid al-Busthami begitu ia mendengar anjing hitam yang di dekatnya tadi memprotes: “Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!”
Mendengar suara anjing hitam seperti itu, Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih terbengong: “Benarkah ia bicara padanya? Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata?” Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih terdiam dengan renungan-renungannya.
Belum sempat bicara, anjing hitam itu meneruskan celotehnya: “Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!”
Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara anjing hitam yang ada di dekatnya itu, Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah si anjing hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar. Ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.
“Ya, engkau benar anjing hitam. Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih.” kata Syeikh Abu Yazid al-Busthami.
Ungkapan Syeikh Abu Yazid al-Busthami tadi tentu saja merupakan ungkapan rayuan agar si anjing hitam itu mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.
“Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu. Tetapi siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu bagaikan raja. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!” kata si anjing hitam.
Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih termenung dengan kesalahannya. Setelah dilihatnya, ternyata si anjing hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si anjing hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Syeikh Abu Yazid al-Busthami.
“Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milikMu. Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersamaMu yang abadi dan kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhlukMu yang terhina di antara semuanya.” seru Syeikh Abu Yazid al-Busthami.
Kemudian, dengan langkah yang sempoyongan Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para santri yang telah menunggu pengajarannya.
Keunikan dan kenylenehan Syeikh Abu Yazid al-Busthami memang sudah terlihat sejak dulu. Kepada para santrinya, beliau tidak selalu mengajarkan di pesantrennya saja, tetapi juga diajak merespon secara langsung untuk membaca ayat-ayat alam yang tergelar di alam semesta ini. Banyak pelajaran yang didapat para santri dari Syeikh Abu Yazid al-Busthami; baik pembelajaran secara teoritis maupun praktis dalam hubungannya dengan ketuhanan.
Suatu hari, Syeikh Abu Yazid al-Busthami sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah anjing hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia anjing kuning yang lebih jelek dari anjing hitam. Begitu melihat si anjing kuning tadi terlihat tergesa-gesa, maka Syeikh Abu Yazid al-Busthami segera saja mengomando kepada para muridnya agar memberi jalan kepada anjing kuning itu.
“Hai murid-muridku, semuanya minggirlah. Jangan ada yang mengganggu anjing kuning yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa,” kata Syeikh Abu Yazid al-Busthami kepada para muridnya.
Para muridnya pun tunduk-patuh kepada perintah Syeikh Abu Yazid al-Busthami. Setelah itu, si anjing kuning melewati di depan Syeikh Abu Yazid al-Busthami dan para santrinya dengan tenang, tidak merasa terganggu.
Secara sepintas, si anjing kuning memberikan hormatnya kepada Syeikh Abu Yazid al-Busthami dengan menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Maklum, jalanan yang sedang dilewati itu memang sangat sempit, sehingga harus ada yang mengalah salah satu; rombongan Syeikh Abu Yazid al-Busthami ataukah si anjing kuning.
Si anjing kuning telah berlalu. Tetapi rupanya ada salah seorang murid Syeikh Abu Yazid al-Busthami yang memprotes tindakan gurunya dan berkata: “Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhlukNya. Sementara, Guru adalah raja di antara kaum sufi, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing jelek tadi. Apakah pantas perbuatan seperti itu?”
Syeikh Abu Yazid al-Busthami menjawab: “Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: “Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para sufi?” Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya.”
Mendengar penjelasan gurunya itu, para murid pun manggut-manggut. Itu merupakan pertanda bahwa mereka paham mengapa guru mereka berlaku demikian. Semuanya diam membisu. Mereka tidak ada yang berani membantah lagi. Akhirnya mereka pun meneruskan perjalanannya.

Tuesday, June 6, 2017

Jagal Yang Membunuh Seratus Jiwa

Dari Abu Sa'id Saad bin Malik Al Khudri bahwa Nabi Saw. Bersabda :       
"Dahulu ada salah seorang dari umat sebelum kalian yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Kemudian ia bertanya tentang penduduk bumi yang paling ber ilmu. Maka ia ditunjukkan kepada seorang Rahib, ia pun mendatanginya lantas mengabarkan kepada rahib bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, masihkah ada taubat baginya ?

"Tidak" jawab Rahib, maka rahib itu pun dibunuhnya sehingga genaplah korban menjadi seratus jiwa.

Kemudian ia bertanya lagi siapa penduduk bumi yang paling ber ilmu. Maka ditunjukkan kepada seorang alim, jagal ini berkata bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, masih ada kah taubat baginya ?

"Masih" jawab si alim
"Siapa yang sanggup menghalangi dirimu dengan TAUBAT ? Pergilah ke daerah yg demikian dan demikian karena di sana ada orang orang yang beribadah kepada Allah Swt, sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kamu kembali ke daerah itu, karena tempat itu adalah tempat yang jelek.

Orang itupun pergi menuju kampung yang ditunjukkan si alim, Ketika mencapai setengah perjalanan, ajal keburu datang menjemputnya. Maka bertikailah malaikat Rahmat dengan Malaikat Azab menyangkut nasib orang ini.

"Ia datang sebagai orang bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah" kata malaikat Rahmat.
Malaikat azab berkata "Sesungguhnya ia belum beramal dengan satu kebajikan pun"

Kemudian seorang malaikat yang menyamar dalam wujud manusia mendatangi mereka dan memutuskan perkara yang mereka perselisihkan. Ia berkata "Ukurlah jarak antara kedua tempat itu! Mana jarak yang lebih dekat itulah bagiannya"

Mereka pun mengukurnya dan mendapati orang ini lebih dekat ke tempat yang hendak ia tuju. Akhirnya ia dibawa oleh malaikat Rahmat (Mutyafaqun 'alaih)

Dalam sebuah riwayat pada salah satu kitab shahih terdapat tambahan "jarak orang itu ke kampung yang shalih lebih dekat satu jengkal sehingga ia digolongkan sebagai penduduknya"

Dalam sebuah riwayat dalam kitab shahih pula "maka Allah mewahyukan kepada tempat ini agar nebjauh dan kepada tempat ini agar mendekat, Allah berfirman "ukurlah jarak antara keduanya!" Maka mereka mendapati orang itu lebih dekat ke tempat yang shalih seukiran satu jengkal, sehingga dosa dosanya di ampuni. 

Dalam sebuah riwayat disebutkan "orang itu bergeser dengan dadanya ke tempat yang shalih"

#Taubat
#RahmatAllah
#JanganMenghakimi



Thursday, June 1, 2017

Berhubungan Seks saat Ramadhan



Ketika kami sedang duduk duduk bersama Rasulullah saw, seorang pria mendekat dan berkata : "Wahai Rasulullah celakalah aku"

Nabi berkata "Apa yang terjadi ?"
Dia berkata : "Saya berhubungan seks dengan istri ketika puasa Ramadhan"

Rasulullah kemudian bertanya, "Bisakah kau menemukan budak yang dapat kau bebaskan ?"

Dia berkata "Tidak"
"Apakah kau mampu berpuasa dua bulan berturut turut ?"
Dia berkata "Tidak"
"Apakah engkau memiliki harta untuk memberi makan 60 orang miskin ?"
"Tidak ya Rasul"

Lalu Nabi berhenti dan mempertimbangkan. Kami menunggu beliau, sampai sebuah keranjang besar kurma dibawakan kepadanya.
Rasulullah berkata : "Ambilah ini dan jadikan ia sebagai sedekah untuk menebus dosamu"

Pria itu kemudian berkata "Wahai Rasulullah, di mana saya harus menemukan seseorang yang lebih miskin daripada diriku sendiri ? Demi Allah, tidak ada keluarga di kota ini yang lebih miskin dari diriku"

Nabi saw pun tertawa sampai kamu bisa melihat giginya. Beliau berkata "Kalau begitu, pergilah dan beri makan keluargamu"
















Laki Laki Penghuni Surga


"Sungguh aku melihat seorang laki laki berbolak balik di Surga dengan sebab ia menebang sebatang pohon yang melitang di tengah jalan yang mengganggu kaum Muslimin"