Wednesday, December 3, 2014

Lilin dan Lampu

Umar bin Abdul Aziz menerima utusan dari berbagai wilayah negeri.
Pada suatu malam, pintu Umar diketuk dari luar. 
Penjaga pintu keluar. Sang tamu menitipkan pesan, 

"Sampaikan kepada Amirul Mukminin, bahwa utusan salah satu gubernurnya datang menghadap."
Penjaga pintu masuk. Ia menyampaikan pesan itu kepada Umar yang hendak beranjak tidur. 
Umar duduk. Ia berkata, "Izinkan dia masuk!"

Sang utusan masuk ke dalam. Umar menyalakan lampu lilin dengan sinarnya yang redup, dan meliuk-liuk ditiup angin. 
Umar duduk, diikut oleh sang utusan. 

Kepada utusan itu, Umar bertanya tentang berbagai hal
Tentang keadaan negeri utusan itu, orang-orang Muslim yang tinggal di Sana,
orang-orang kafir ahlu dzimmah, perilaku gubernur, harga-harga kebutuhan di
pasar, tentang anak-anak kaum Anshar dan Muhajirin, anak-anak jalanan dan
kaum fakir-miskin, tentang apakah semua orang menunaikan kewajibannya,
tentang orang yang ingin menyampaikan keluhan dan pengaduan tentang
apakah penguasa berbuat zhalim atau tidak, dan lain-lain.

Sang utusan menyampaikan semua yang ia ketahui dari pertanyaan itu
Setelah Umar menanyakan semua hal, sang utusan ganti bertanya, 
"Wahai Amirul Mukminin, apa kabar Tuan? Bagaimana pula kesehatan Tuan"
Bagaimana halnya dengan keluarga Tuan, dan semua pegawai Tuan?"

Umar mematikan lilin di hadapannya dengan sekali tiupan. "Wahai
pelayan, aku memerlukan lampu," perintah Umar kepada pelayannya. Umar
meminta dibawakan sebuah lampu yang redup dan nyaris tak bercahaya.

Tanyakan apa yang kamu suka," kata Umar kepada sang utusan.
Sang utusan menanyakan kabar Umar. Umar kemudian menceritakan
keadaannya dan keadaan keluarganya, putra, dan seluruh tanggungannya.
Sang utusan heran dengan tindakan Umar yang mematikan lilin di
hadapannya. 

"Wahai Amirul Mukminin, aku tidak pernah melihat engkau
melakukan hal seperti ini sebelumnya."
"Apa itu?" tanya Umar.
Tuan mematikan lilin saat aku menanyakan keadaan Tuan dan keluarga Tuan."

"Wahai hamba Allah, lilin yang aku matikan itu dinyalakan dengan
menggunakan harta Allah dan harta kaum Muslimin. Saat aku bertanya
tentang kebutuhan dan urusan kaum Muslimia maka lilin itu dinyalakan
demi mengatur kepentingan mereka. Saat kamu bertanya tentang
keadaanku dan keluargaku, maka aku mematikan cahaya lilin yang menjadi
hak kaum Muslimin itu."