Friday, July 11, 2014

Tangisan Penggali Kubur



Imam Abu Al-Laitsi Nashr ibn Muhammad As-Samarkandi menyampaikan sebuah kisah dari ayahnya, dari Abu Hasan Al-Fara, dari Abu Bakar Al-Jurjani, dari Muhammad ibn Ishak, dari seseorang, dari Ma'mar Az-Zuhri yang berkata. "Umar ibn Khattab mendatangi Rasulullah Saw seraya menangis hingga sampai beliau bertanya kepadanya,
"Wahai Umar, apa yang menyebabkan kau menangis?"
Umar,
"Ya Rasulullah, di depan pintu ada seorang pemuda membuat miris hatiku dengan tangisannya."
Rasulullah berkata, "Wahai Umar, bawalah ia ke sini!"

Umar lantas membawa pemuda itu ke hadapan Rasulullalh dan dalam keadaan menangis.
Rasullullah, "Wahai Pemuda, mengapa Engkau menangis?"
Pemuda, "Ya Rasulullah, aku menangis karena dosa-dosaku yang banyak dan aku takut terhadap Tuhan Yang Mahakuat."
Rasulullah, "Apakah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu?"
Pemuda, "Tidak, aku tidak menyekutukan Allah dengan apa pun."
Rasulullah, "Sungguh Allah mengampuni dosa-dosamu meski sebesar langit tujuh lapis, sebanyak bumi tujuh lapis dan sebesar gunung-gunung yang kokoh."
Pemuda, "Ya Rasulullah, dosa-dosaku lebih besar dari langit tujuh lapis, tujuh bumi dan gunung-gunung yang kokoh!"
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari kursi Allah?"
Pemuda, "Ya, dosa-dosaku lebih besar dari kursi Allah."
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari Arsy Allah?"
Pemuda, "Ya, dosa-dosaku lebih besar dari Arsy Allah."
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari ampunan Allah?"
Pemuda, "Ampunan Allah lebih besar dari dosa-dosaku dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku, kecuali Allah Yang Mahabesar."
Rasulullah, "Katakan padaku, apa dosamu?"
Pemuda, "Aku malu untuk menyebutkannya kepadamu."
Rasulullah, "Katakan padaku, apa dosamu?"

Pemuda, "Wahai Rasulullah. Aku adalah tukang gali kuburan selama tujuh tahun. Aku melakukan pekerjaanku sampai suatu hari ada seorang wanita muda Anshar mati. Setelah mayat wanita itu dikuburkan, aku menggali kuburnya dan aku lepaskan kain kafannya. Aku menggaulinya .... Tidak lama kemudian, ia hidup dan berdiri seraya berkata, Celakalah kau pemuda. Apakah engkau tidak malu kepada Allah saat Dia mengadili semua manusia"
''Engkau telah menggauliku dan meninggalkan aku dalam keadaan telanjang di tengah kerumunan orang mati. Engkau telah meninggalkan dosa pada yang akan kau pertanggungjawabkan di hadapan Allah.'"

Mendengar ucapan pemuda itu, Rasulullah membenahi tubuh dan menepuk kening lantas berkata, "Wahai pemuda fasik. Sungguh kau pantas masuk neraka! Keluar dari rumahku!"

Pemuda itu pergi meninggalkan Rasulullah dan ia bertaubat selama empat puluh hari. Setelah empat puluh hari merintih untuk bertaubat, ia mengangkat kepala dan berdoa.
"Wahai Tuhannya Muhammad, Adam dan Hawa. Jika Kau mengampuni dosa-dosaku, beri tahukanlah kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya bahwa Engkau telah mengampuni dosa-dosaku. Jika tidak, datangkan api dari langit kepadaku dan bakarlah diriku dengannya. Hindarkanlah aku dari siksa api neraka di akhirat."

Karena kasus tersebut, Jibril lantas datang kepada Rasulullah dan berkata, "Salam sejahtera untukmu, wahai Muhammad. Tuhanmu menitipkan salam untukmu."
Rasulullah, "Dialah Keselamatan, dari-Nya datang keselamatan dan kepada-Nya keselamatan kembali."

Jibril, "Wahai Muhammad, Allah bertanya, Apakah Engkau yang menciptakan makhluk?"
Rasulullah, "Dialah yang menciptakan aku dan semua makhluk."
Jibril, "Allah bertanya, Apakah engkau yang memberi rezeki kepada mereka?'"
Rasulullah, "Yang memberi rezeki adalah Allah."
Jibril, "Allah bertanya, 'Apakah engkau yang menerima taubat ataukah Allah?"'
Rasulullah, "Allah yang menerima taubatku dan taubat mereka."
Jibril, "Allah berfirman, Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan lelaki itu karena Allah telah memaafkan dosa-dosanya! '
Rasulullah lantas menyuruh orang memanggil pemuda itu dan memberinya berita gembira bahwa Allah telah menerima taubatnya, (Abu Al-Laitsi Nashr ibn Muhammad As-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin).