Monday, July 14, 2014

Maqolah 26



(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 25



(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tanda diterimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Sunday, July 13, 2014

Ingin Mimpi Bertemu Nabi Saw.


Siang itu, dengan wajah muram, seorang murid bersimpuh di hadapan syaikhnya. Syaikh dengan suara wibawanya bertanya, "Apa gerangan yang merisaukanmu?"
 

"Wahai Syaikh, sudah lama saya ingin melihat wajah Rasulullah walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginan itu belum juga terkabul," jelas si murid.
"Oo... rupanya itu yang kauinginkan. Tunggu sebentar ..." 

Setelah diam beberapa saat, berkatalah Syaikh, "Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam." Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah dia ke rumah Syaikh untuk memenuhi undangannya. Dia merasa heran melihat syaikhnya hanya menghidangkan ikan asin.

"Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!" kata Syaikh kepada muridnya. Karena tergolong murid taat, dia habiskan seluruh ikan asin yang disuguhkan. Selesai makan, dia merasa kehausan. Dia segera meraih segelas air dingin di hadapannya.
"Letakkan kembali gelas itu!" perintah Syaikh. "Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!"


Dengan penuh rasa heran, diturutinya perintah syaikh-nya. Malam itu dia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Dia membolak-balikkan badannya hingga akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi? Malam itu dia bermimpi minum air sejuk dari sungai, mata air, dan sumur. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya.

Paginya ketika bangun, dia langsung menghadap Syaikh. "Wahai Guru, bukannya melihat Rasulullah, saya malah bermimpi minum air."
Tersenyumlah Syaikh mendengar jawaban muridnya. Dengan bijaksana beliau berkata, "Begitulah, makan ikan asin membuatmu sangat kehausan sehingga kau hanya memimpikan air sepanjang malam.
 

Jika kau merasakan kehausan semacam itu akan Rasulullah maka kau akan melihat ketampanannya."
Terisaklah si murid. Dia sadar betapa cintanya kepada Rasulullah masih sebatas kata. Kerinduan sebatas pengakuan.

Abdurrahman ibn Auf

Abdurrahman ibn Auf adalah seorang tokoh Quraisy di Kota Makkah yang masuk Islam sebelum masuk di Darul Arqam. Ia termasuk salah seorang dari delapan orang yang masuk Islam di tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia pernah ikut hijrah ke Habasyah dan Madinah. Ia termasuk sepuluh orang yang diberi tahu oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga.
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda,

"Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluargaku sepeninggalku."

Abdurrahman menjual kebunnya senilai empat ratus ribu dirham dan hasil penjualannya dibagikan kepada istri-istri Rasulullah.

Ketika menghadapi saat kematiannya, ia menangis tersedu-sedu hingga ada yang bertanya kepadanya, "Mengapa Engkau menangis pada saat seperti ini?"

Abdurrahman, "Mus'ab ibn Umair yang lebih baik daripada aku wafat di masa Rasulullah Saw. dan ia tidak mempunyai kain kafan untuk menutupi mayatnya. Hamzah ibn Abdul Muthalib, paman Rasulullah Saw., yang lebih baik daripada aku tidak mendapatkan kain kafan untuk menutupi mayatnya, sedangkan aku orang kaya. Oleh karena itu. aku takut termasuk orang yang kebaikannya dipercepat di dunia. Aku takut tidak dapat bergabung dengan sahabat-sahabatku karena aku orang yang banyak harta."

Abdurrahman ibn Auf adalah seorang sahabat yang kaya. Ia meninggalkan banyak harta di Kota Makkah ketika hendak pergi hijrah. Ketika di Madinah, ia berdagang hingga menjadi orang kaya. Ia terkenal suka bersedekah di jalan Allah dan biasa hidup sederhana. Ketika menjelang kematiannya, ia merasa kkhawatir akan keselamatan dirinya di akhirat.

Abu Hurairah

Abu Hurairah adalah sahabat yang nama aslinya Abdur Rahman ibn Sakhr diberi nama Abu Hurairah oleh Rasulullah Saw. ketika beliau melihatnya sedang menggendong seekor kucing. Ketika itu beliau menyebutkan, "Wahai Abu Hurairah." Maksudnya, "Wahai Bapaknya kucing."

Abu Hurairah masuk Islam pada tahun peperangan Khaibar kemudian ia berjuang di medan perang itu bersama Rasulullah Saw. Ia selalu mendampingi Rasulullah dan mengingat semua sabdanya Rasulullah pernah berdoa baginya,

“Ya Allah, jadikan hati hambamu ini, dan ibunya, mencintai orang-orang mukmin dan jadikan hati mereka mencintai keduanya” (HR Muslim).

Muslim ibn Basyar berkata, "Abu Hurairah menangis ketika ia sedang sakit menghadapi kema-tiannya hingga ada yang bertanya kepadanya, 'Apa yang menyebabkan Engkau menangis?'

Abu Hurairah, Aku tidak menangis karena takut meninggalkan dunia. Aku takut karena akan menempuh perjalanan ke akhirat yang sangat jauh dan perbekalanku sangat sedikit. Aku tidak tahu apakah perjalananku akan berakhir di surga atau di neraka, " (Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dan Adz-Dzahabi dalam Siyar 'A'lam an-Nubala')

Friday, July 11, 2014

Tangisan Penggali Kubur



Imam Abu Al-Laitsi Nashr ibn Muhammad As-Samarkandi menyampaikan sebuah kisah dari ayahnya, dari Abu Hasan Al-Fara, dari Abu Bakar Al-Jurjani, dari Muhammad ibn Ishak, dari seseorang, dari Ma'mar Az-Zuhri yang berkata. "Umar ibn Khattab mendatangi Rasulullah Saw seraya menangis hingga sampai beliau bertanya kepadanya,
"Wahai Umar, apa yang menyebabkan kau menangis?"
Umar,
"Ya Rasulullah, di depan pintu ada seorang pemuda membuat miris hatiku dengan tangisannya."
Rasulullah berkata, "Wahai Umar, bawalah ia ke sini!"

Umar lantas membawa pemuda itu ke hadapan Rasulullalh dan dalam keadaan menangis.
Rasullullah, "Wahai Pemuda, mengapa Engkau menangis?"
Pemuda, "Ya Rasulullah, aku menangis karena dosa-dosaku yang banyak dan aku takut terhadap Tuhan Yang Mahakuat."
Rasulullah, "Apakah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu?"
Pemuda, "Tidak, aku tidak menyekutukan Allah dengan apa pun."
Rasulullah, "Sungguh Allah mengampuni dosa-dosamu meski sebesar langit tujuh lapis, sebanyak bumi tujuh lapis dan sebesar gunung-gunung yang kokoh."
Pemuda, "Ya Rasulullah, dosa-dosaku lebih besar dari langit tujuh lapis, tujuh bumi dan gunung-gunung yang kokoh!"
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari kursi Allah?"
Pemuda, "Ya, dosa-dosaku lebih besar dari kursi Allah."
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari Arsy Allah?"
Pemuda, "Ya, dosa-dosaku lebih besar dari Arsy Allah."
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari ampunan Allah?"
Pemuda, "Ampunan Allah lebih besar dari dosa-dosaku dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku, kecuali Allah Yang Mahabesar."
Rasulullah, "Katakan padaku, apa dosamu?"
Pemuda, "Aku malu untuk menyebutkannya kepadamu."
Rasulullah, "Katakan padaku, apa dosamu?"

Pemuda, "Wahai Rasulullah. Aku adalah tukang gali kuburan selama tujuh tahun. Aku melakukan pekerjaanku sampai suatu hari ada seorang wanita muda Anshar mati. Setelah mayat wanita itu dikuburkan, aku menggali kuburnya dan aku lepaskan kain kafannya. Aku menggaulinya .... Tidak lama kemudian, ia hidup dan berdiri seraya berkata, Celakalah kau pemuda. Apakah engkau tidak malu kepada Allah saat Dia mengadili semua manusia"
''Engkau telah menggauliku dan meninggalkan aku dalam keadaan telanjang di tengah kerumunan orang mati. Engkau telah meninggalkan dosa pada yang akan kau pertanggungjawabkan di hadapan Allah.'"

Mendengar ucapan pemuda itu, Rasulullah membenahi tubuh dan menepuk kening lantas berkata, "Wahai pemuda fasik. Sungguh kau pantas masuk neraka! Keluar dari rumahku!"

Pemuda itu pergi meninggalkan Rasulullah dan ia bertaubat selama empat puluh hari. Setelah empat puluh hari merintih untuk bertaubat, ia mengangkat kepala dan berdoa.
"Wahai Tuhannya Muhammad, Adam dan Hawa. Jika Kau mengampuni dosa-dosaku, beri tahukanlah kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya bahwa Engkau telah mengampuni dosa-dosaku. Jika tidak, datangkan api dari langit kepadaku dan bakarlah diriku dengannya. Hindarkanlah aku dari siksa api neraka di akhirat."

Karena kasus tersebut, Jibril lantas datang kepada Rasulullah dan berkata, "Salam sejahtera untukmu, wahai Muhammad. Tuhanmu menitipkan salam untukmu."
Rasulullah, "Dialah Keselamatan, dari-Nya datang keselamatan dan kepada-Nya keselamatan kembali."

Jibril, "Wahai Muhammad, Allah bertanya, Apakah Engkau yang menciptakan makhluk?"
Rasulullah, "Dialah yang menciptakan aku dan semua makhluk."
Jibril, "Allah bertanya, Apakah engkau yang memberi rezeki kepada mereka?'"
Rasulullah, "Yang memberi rezeki adalah Allah."
Jibril, "Allah bertanya, 'Apakah engkau yang menerima taubat ataukah Allah?"'
Rasulullah, "Allah yang menerima taubatku dan taubat mereka."
Jibril, "Allah berfirman, Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan lelaki itu karena Allah telah memaafkan dosa-dosanya! '
Rasulullah lantas menyuruh orang memanggil pemuda itu dan memberinya berita gembira bahwa Allah telah menerima taubatnya, (Abu Al-Laitsi Nashr ibn Muhammad As-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin).


Mencintai dengan Meneladani


Alkisah, pada suatu hari di Negeri Arab, ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus meninggalkan rumah untuk berkelana mencari uang. Di depan sebuah masjid, dia bertemu seorang muslim dan meminta bantuannya. 
"Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu," kata janda itu mengiba.
"Mana buktinya?" tanya lelaki muslim itu.
Janda itu tidak dapat membuktikan ucapannya, karena dia sendiri adalah orang asing di tempat itu. Akhirnya, lelaki itu tidak menolongnya.

Setelah itu, janda miskin itu bertemu dengan seorang Majusi. Dia pun meminta bantuannya. Orang Majusi itu mengajak ke rumahnya, memuliakannya, dan memberinya uang dan pakaian.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.. Semua orang mendatangi Nabi dan beliau menyambut mereka dengan baik. Ketika tiba giliran lelaki itu menghadap Rasulullah, beliau mengusirnya dan menyuruhnya pergi.
Lelaki itu berteriak, "Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga.
Rasulullah bertanya, "Mana buktinya?"
Lelaki itu tersadar, Rasulullah Saw. menyindirnya karena dia telah meminta bukti saat dimintai pertolongan. Dia menangis. Rasulullah lalu menunjukkan sebuah taman indah dan hunian megah di surga. "Lihat ini," tutur Rasul Saw., "seharusnya semua ini kuberikan untukmu. Namun, karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, kuberikan semua ini kepada seorang Majusi."

Pagi harinya lelaki itu terbangun. Dia mencari janda miskin itu. Ternyata dia menemukannya sedang berada di rumah seorang Majusi. "Ikutlah kau bersamaku," pinta lelaki itu kepada si janda. Namun, orang Majusi tidak mau menyerahkannya. Aku akan beri kau ribuan dinar asal kau mau menyerahkannya," pinta si lelaki muslim. Orang Majusi tetap tidak mau.
Lelaki itu akhirnya jengkel dan berkata, "Janda ini orang Islam. Seharusnya yang menolongnya sesama muslim juga!"

Orang Majusi itu lalu bercerita, "Tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah. Dia mengatakan akan
memberikan kepadaku surga yang semula akan diberikan kepadamu. Ketahuilah, pagi ini ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikutnya karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang pencintanya."

#Shalawat

Sekelumit Kisah Masa Depan


      Rasulullah Saw. pernah menuturkan sekelumit "kisah masa depan" kepada para sahabat. Kelak Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan. Pada hari itu matahari mendekat kepada mereka dan manusia ditimpa kesusahan serta penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.
Di antara mereka ada yang berkata, "Tidakkah kalian lihat apa yang telah menimpa kita, tidakkah kalian mencari orang yang bisa memberikan syafaat kepada Rabb kalian?"
Yang lain lalu menimpali, "Bapak kalian adalah Adam a.s." Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata, "Wahai Adam, Anda bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau syafaati kami kepada Rabb-mu? Apakah tidak kau saksikan apa yang menimpa kami?"
Maka Adam berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk mendekati pohon (khuldi), tetapi aku langgar. Nafsi nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh a.s."
Lalu mereka segera pergi menemui Nuh a.s. dan berkata, "Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, dan Allah telah memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur ('abdan syakura), tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat apa yang terjadi pada kami? Tidakkah engkau beri kami syafaat menghadap Rabb-mu?"
Maka Nuh berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa, yang telah kugunakan untuk mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim
Mereka segera menemui Nabi Ibrahim dan berkata, "Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi, syafaatilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang menimpa kami?"
Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah berbohong tiga kali. Na/si nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Musa a.s.!"
Kemudian mereka segera pergi ke Nabi Musa, dan berkata, "Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberikan kelebihan kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafaatilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?"
Musa berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Isa a.s.!"
Kemudian mereka pergi menemui Nabi Isa, dan berkata, "Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam
gendongan. Mohonkanlah syafaat bagi kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?"
Nabi Isa berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad Saw.!"
Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad Saw. dan berkata, "Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafaatilah kami kepada Rabb-mu, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?"
Lalu Nabi Saw. pergi menuju bawah 'Arasy. Di sana beliau bersujud kepada Rabb, kemudian Allah membukakan kepadanya puji-pujian-Nya, dan betapa indahnya pujian-Nya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorang pun sebelum Nabi Muhammad. Kemudian Allah Swt. berkata kepada Muhammad, "Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan berilah syafaat, niscaya akan dikabulkan!"
Nabi mengangkat kepala dan berkata, "Umatku, wahai Rabb-ku. Umatku, wahai Rabb-ku. Umatku, wahai Rabb-ku!"
Kemudian Allah menyampaikan kepadanya, "Wahai Muhammad, masukkan ke surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari sekian pintu surga, mereka memiliki hak bersama dengan manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu surga," (HR Bukhari dan Muslim).
Sobat, renungkanlah! Betapa kita sangat membutuhkan Rasulullah Saw. agar bisa menyelamatkan kita dari berbagai kegelisahan yang terjadi pada Hari Kiamat.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (yushalluna) untuk Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya (wasallimu taslima).
(QS Al-Ahzab [33]: 56)

Perbanyaklah Bershalawat

Abdullah bercerita, "Kami mempunyai seorang pembantu yang mengabdi kepada raja. Orang itu dikenal suka berbuat kerusakan. Suatu malam, saya mimpi melihatnya sedang bergandengan tangan dengan Nabi Saw. Lalu saya berkata, 'Wahai Nabi Allah, lelaki itu orang fasik. Bagaimana mungkin baginda sudi bergandengan dengannya?' Maka, Rasulullah Saw. bersabda, Aku telah mengetahuinya. Namun, dosa-dosanya telah berlalu, dan aku telah memberinya syafaat.'
Saya bertanya, 'Wahai Nabi Allah, dengan perantara apa orang itu sampai pada derajat itu?' Beliau menjawab, 'Dengan memperbanyak shalawat kepadaku. Sesungguhnya setiap malam menjelang tidur, orang itu bershalawat kepadaku sebanyak 1.000 kali.'
Abdullah berkata, 'Pada pagi harinya, tiba-tiba saya menjumpai lelaki itu sedang menangis. Setelah masuk dan duduk di hadapanku, dia berkata, 'Wahai Abdullah,
rentangkanlah tanganmu karena Nabi Saw. telah menyuruhku agar aku bertobat sambil memegang tanganmu. Beliau juga telah menceritakan kepadaku dialog antara dirimu dan beliau mengenai keadaanku tadi malam.' Setelah dia bertobat, aku menanyakan ihwal mimpinya. Orang itu menjawab, 'Nabi Saw. mendatangiku, lalu menggenggam tanganku. Beliau bersabda, 'Bangunlah, aku akan memintakan syafaat 
untukmu kepada Tuhanku karena bacaan shalawatmu kepadaku.' Lebih lanjut orang itu berkisah, 'Maka, saya pun berdiri bersama Nabi Saw. dan beliau memberikan syafaatnya kepadaku. Lalu beliau berpesan kepadaku, 'Jika pagi hari telah tiba, maka datangilah Abdullah dan bertobatlah di atas tangannya, serta konsistenlah dengan pertobatanmu.

Demikianlah. Mencintai Rasul Saw. tak akan bertepuk sebelah tangan. Beliau bersabda, "Perbanyaklah bershalawat kepadaku, sebab shalawat kalian dapat menghapus dosa-dosamu, meninggikan derajatmu, dan menjadi syafaat bagimu di hadapan Tuhanmu?"

Sobat, kepada umatnya yang dicintainya, kepada kita semua, beliau berpesan untuk bershalawat kepadanya. Bukan
karena beliau mementingkan diri sendiri. Tanpa doa dari siapa pun, kedudukannya di sisi Allah takkan tertandingi oleh makhluk mana pun. Pesannya untuk bershalawat kepadanya lahir karena kecintaannya kepada kita.

Duhai, betapa mulianya engkau, ya Rasulullah. Engkau meminta kami berdoa untukmu, padahal apa artinya doa kami, shalawat kami, di hadapan kebesaranmu? Engkau pesankan kami bershalawat bagimu demi kebahagiaan kami juga. Bukankah kami hanya bisa dekat kepada Tuhan melalui cinta padamu? Bukankah kami hanya bisa naik ke tempat yang tinggi bergantung pada kerinduan atasmu? Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa sallim.




Wednesday, July 9, 2014

Maqolah 24



Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan yang dimaksud dari dunia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah / tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Monday, July 7, 2014

Maqolah 22



Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepada Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 23



(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan / sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya). Artinya, bahwa ekspresi ketaatan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk / dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Thursday, July 3, 2014

Maqolah 22



Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepada Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 21



(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati diantara manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati. Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.