Saturday, April 12, 2014

AR RAHIM (Dzat Yang Maha Penyayang)


Semua manusia akan mendapatkan kasih oleh Allah Ta'ala selama ia hidup didunia ini, tetapi tidak semua manusia disayangi oleh Allah Ta'ala diakhirat kelak. Dengan kata lain semua manusia mendapatkan RahmanNya Allah Ta'ala tetapi tidak semua manusia mendapatkan RahimNya Allah Ta'ala.

Sedangkan bagaimana caranya agar kita menjadi orang-orang yang disayangi oleh Allah Ta'ala?. Orang-orang yang disayangi Allah Ta'ala adalah orang-orang yang beriman dan menggunakan segala pemberian Allah Ta'ala untuk melakukan ketaqwaan kepadaNya (Menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya), tidak mengikuti kefasikan dan tidak mempertuhankan hawa nafsu.

Sebetulnya didalam hidup ini kita tidak pantas menerima pemberian-pemberian Allah Ta'ala, karena mengingat begitu banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan, kedurhakaan dan kemunafikan yang telah kita kerjakan. Akan tetapi karena kasih Allah Ta'ala kepada hamba-hambaNya yang begitu besar, maka Allah Ta'ala masih memberikan dan mencukupi segala kebutuhan kita. Oleh sebab itu hendaknya semua itu kita syukuri dan kita gunakan untuk melakukan ketaqwaan kepadaNya.

Dengan kata lain kita gunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, terutama fisik (tubuh) ini. Dan didalam bertaqwa yang Allah Ta'ala lihat adalah presentasenya. Artinya apabila si A diberi oleh Allah Ta'ala harta 10 ribu lalu dia sedekahkan 5 ribu, dengan si B yang diberi oleh Allah 10 juta lalu dia sedekahkan 5 juta, maka nilainya sama dimata Allah. Akan tetapi jika si B hanya bersedekah 1 juta, maka nilainya dimata Allah Ta'ala lebih besar si A.
Ciri-ciri orang yang akan memperoleh syurga adalah yang memiliki ketenangan jiwa didalam menjalani kehidupan dunia ini. Apabila tertimpa suatu masalah segera mengembalikan kepada Allah dengan bersabar dan memohon serta bergantung hanya kepadaNya. Surat Al Fajr (89) ayat : 27 – 30

27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
30. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku.

Jadi orang-orang yang dipanggil untuk memasuki syurga adalah yang memiliki ketenangan jiwa. Yaitu tidak memiliki rasa khawatir dan bersedih hati tentang masalah duniawi. Akan tetapi untuk masalah akhirat dia sangat khawatir. Khawatir karena dosa yang sangat banyak, sehingga terdorong untuk selalu memohon ampun dan memperbaiki diri Dan merasa khawatir karena amal (bekal untuk mati) masih sangat sedikit, sehingga terdorong untuk memperbanyak amal-amal sholeh.

Oleh sebab itu untuk melihat apakah diri kita nantinya akan masuk syurga atau neraka bisa dilihat sekarang. Sudah tenang atau belum jiwa kita? karena orang-orang yang yang dipangil untuk masuk syurga adalah yang jiwanya tenang. Sedangkan syaratnya adalah dengan banyak mengingat Allah Ta'ala. Sesuai surat Ar Ra'd (13) ayat :28
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Mengingat Allah namanya dzikir. Sedangkan bagaimana kita bisa banyak mengingat Allah Ta'ala? Terlebih dulu kita harus kenal kepadaNya dengan sebenar-benarnya. Karena jika kita tidak mengenal Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, maka tidak mungkin kita bisa mengingat-Nya.
Oleh sebab itu Rasulullah SAW bersabda : "AWWALUDDIN MA'RIFATULLAH' (awal beragama adalah mengenal Allah). Tidak mungkin kita bisa beragama dengan benar tanpa mengenal Allah terlebih dahulu. Karena bagaimana kita bisa sholat dengan khusyu', bisa bersyukur, bersabar, bertawakkal, dan lain sebagainya jika tidak kenal dengan Tuhan kita.

Makna dzikir adalah ingat. Oleh sebab itu yang namanya dzikir tidak hanya menyebut dilisan saja. Jika kita banyak menyebut tetapi tidak membuat ingat kepada Allah Ta'ala, berarti tidak dinamakan dzikir (sia-sia). Akan tetapi walaupun tidak menyebut nama Allah tetapi ingat dengan Allah itu namanya dzikir. Sebagai contohnya disaat minum air ingat bahwa Allah yang memberi. Bisa melihat ingat Allah yang memberi penglihatan, dan lain sebagainya.

Orang yang ingat pasti banyak menyebut, akan tetapi orang yang banyak menyebut belum tentu ingat. Jadi dalam hal ini jangan sampai terbalik. Dalam hidup ini banyak sekali yang menganjurkan agar kita banyak menyebut Allah. Akan tetapi tidak bisa membuat kita ingat kepadaNya, karena tidak kenal dengan siapa yang kita sebut. Padahal apabila banyak mengingat Allah secara otomatis akan banyak menyebutNya. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita memaksakan diri untuk banyak menyebut Allah tetapi tidak bisa membuat ingat kepadaNya.

Perlu diingat bahwa syurga itu sangat mahal. Tidak bisa kita tempuh tanpa dengan kesungguhan. Kita ingin menginap dihotel berbintang lima saja harus mengumpulkan uang yang cukup lama. Sedangkan syurga itu jutaan kali lipat dibanding hotel yang ada dunia ini. Bahkan Emas sepenuh bumi saja untuk menebus dari azab neraka tidak akan diterima. Surat Ali Imran (3) ayat: 91
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.”

Didalam hidup ini jangan sekali-kali kita merasa lebih baik dari orang lain apabila bisa menghindari perbuatan keji dan munkar. Karena kalau bukan karena karunia Allah dan rahmatNya, maka tidak ada seorangpun yang dapat tercegah (bersih) dari perbuatan keji dan munkar untuk selama-lamanya. Dan hendaknya kita sadari bahwa segala kebaikan itu datangnya dari Allah dalam bentuk rahmat dan karunianya yang membersihkan hambaNya. Surat An Nuur (24) ayal :21
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama- lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”

Sisi Tafakkurnya
Seberapa banyak dari Rahman Allah Ta'ala yang telah diberikan kepada kita yang kita pergunakan untuk mencapai Rahim-Nya? atau yang kita pergunakan sesuai dengan syareat yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya? Dan seberapa banyak dari Rahman (pemberian-pemberian) Allah Ta'ala yang kita pergunakan hanya untuk memuaskan hawa nafsu?.

Contoh Do'a dari sisi Keimanan
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mencintai kehidupan akhirat.

Sikap Orang Beriman
Orang-orang yang beriman sangat yakin dengan adanya hari akhir, bahwasannya Allah Ta'ala akan memberikan syurga-Nya diakhirat kelak kepada orang-orang yang beriman dan menggunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala untuk beramal sholeh.

Sikap Orang Bertaqwa
Orang-orang yang bertaqwa akan melakukan apapun untuk mendapatkan amal disisi Allah Ta'ala atau menggunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala untuk beramal sholeh. Dengan kata lain menjalankan segala perintah Allah Ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

Orang-orang yang bertaqwa selalu berfikir dan berusaha untuk mendapatkan amal disisi Allah Ta'ala, baik dengan harta, ilmu atau tenaga. Bahkan setiap tarikan nafas, setiap perbuatan dan setiap perkataan, dia selalu berfikir bagaimana bisa menjadi amal disisi Allah Ta'ala, sehingga bisa menjadi bekalnya diakhirat kelak. Dan ketika Allah Ta'ala memberikan tawaran amal kepadanya, maka dia segera mengambilnya.
Didalam hidup ini hendaknya kita membuka hati untuk melakukan amal-amal sholeh, sehingga Allah Ta'ala akan memberikan tawaran-tawaran amal kepada kita. Karena apabila didalam hati kita tidak ada keinginan untuk beramal sholeh, maka sebanyak apapun tawaran amal dari Allah Ta'ala tidak akan kita terima.

Untuk mendapatkan amal memang sangat berat karena banyak sekali halangan-halangannya. Bisa orang tua, isteri, anak, saudara, pekerjaan dan lain sebagainya. Akan tetapi bagi orang-orang yang benar-benar beriman dengan Asma’ Ar Rahim, maka halangan apapun tidak dapat mencegahnya untuk memperoleh amal disisi Allah Ta'ala.

Selama ini kita sangat menginginkan agar masuk syurga, tetapi kita tidak pernah berusaha untuk meraih syurga. Padahal syurga bukanlah menurut angan-angan kosong belaka. Bagaimana mungkin kita bisa masuk syurga, jika kita hanya berangan-angan kosong tanpa beramal? Bagaimana mungkin kita masuk syurga jika masih sering memperturutkan hawa nafsu?
Karena syurga adalah kepunyaan Allah Ta'ala dan hanya Dia yang bisa memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya kedalamnya. Oleh sebab itu jika kita ingin masuk syurga, kita harus mengikuti aturan yang mempunyai syurga yaitu Allah Ta'ala.

Apabila kita ingin masuk syurga, maka hendaknya kita selalu berfikir dan berusaha bagaimana bisa mendapatkan amal disisi Allah Ta'ala. Dengan kata lain kita selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan amal sebanyak-banyaknya.

Setiap manusia telah diberi titipan oleh Allah Ta'ala. Ada yang dititipi harta, ada yang dititipi ilmu dan ada yang dititipi tenaga. Dan apapun yang dititipkan Allah Ta'ala kepada kita itulah yang seharusnya kita gunakan untuk beramal sholeh. Jangan sampai kita berfikir untuk beramal sholeh dengan sesuatu yang tidak dititipkan kepada diri kita. Sehingga selamanya kita tidak akan pernah beramal sholeh melainkan hanya berangan-angan kosong belaka.

Sebagai contohnya seseorang yang dititipi tenaga tetapi dia tidak mau beramal sholeh dengan tenaganya tersebut. Justru dia berfikir ingin beramal sholeh dengan harta, padahal dia tidak dititipi harta. Begitupun juga dengan yang lain.
Agama Islam bisa menjadi kuat jika ketiga titipan Allah Ta'ala bisa bersatu. Yang punya harta beramal sholeh dengan hartanya, yang punya ilmu beramal sholeh dengan ilmunya dan yang punya tenaga beramal soleh dengan tenaganya.

Dan didalam beramal sholeh ada dua cara yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Bagi orang-orang yang kuat hatinya (hatinya tidak tumbuh riya' atau sombong), maka hendaknya beramal sholeh dengan terang-terangan agar bisa menjadi syi'ar. Akan tetapi bagi orang-orang yang hatinya tidak kuat, maka hendaknya dengan sembunyi-sembunyi. Karena jika beramal dengan riya atau sombong, maka sebesar apapun amal akan hapus (sia-sia).

Akan tetapi bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan duniawi, mereka akan selalu berfikir untuk mendapatkan hasil dunia dan dia akan selalu berusaha untuk memuskan hawa nafsunya. Sehingga selamanya akan menjadi orang faqir walaupun pada dasarnya hartanya banyak, karena dia selalu merasa kurang. Padahal sebanyak apapun harta tidak bisa dipakai untuk menebus diri dari azab neraka. Sesuai surat Ali Imran (3) Ayat 191
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong”.

Rasulullah SAW bersabda : "Ditanyakan kepada salah seorang penghuni neraka pada hari kiamat kelak : "Bagaimana pendapatmu jika engkau mempunyai sesuatu diatas bumi, apakah engkau bersedia untuk menjadikannya sebagai tebusan?" Mereka menjawab : "Ya, aku bersedia". Kemudian Allah Ta'ala berfirman : "Sesungguhnya Aku telah menghendaki darimu sesuatu yang lebih ringan dari itu. Aku telah mengambil perjanjian darimu ketika masih berada dipunggung Adam, yaitu agar engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, tetapi engkau menolak dan tetap mempersekutukan Aku. (HR. Bukhari Muslim)

Contoh Do'a Dari Sisi Ketaqwaan
Ya Allah, terimalah amal ibadah kami dan terimalah amal sholeh kami serta terimalah taubat kami. Karena tidaklah mungkin kami bisa melakukan amal dengan sempurna, dan tidaklah mungkin kami bisa terlepas dari kesalahan dan dosa. Ya Allah, berikanlah kami kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat serta hindarkanlah kami dari azab api neraka.

Sikap Orang Bertawakkal : Orang-orang yang bertawakkal tidak ada keraguan didalam dirinya tentang janji-janji Allah Ta'ala, bahwa apabila menggunakan pemberian Allah Ta'ala dengan benar pasti Allah Ta'ala akan memberikan syurga-Nya diakhirat kelak. Setelah itu apapun hasil yang akan Allah Ta'ala berikan, dia serahkan seutuhnya kepada Allah Ta'ala.

Dia yakin apabila dia menepati janjinya kepada Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala pasti akan menepati janji-Nya pula kepadanya, yaitu akan memberikan syurga. Yang dinamakan menepati janji kepada Allah Ta'ala adalah melakukan ketaqwaan.

Pertama kita harus yakin bahwa apabila kita melakukan dosa akan mendapat neraka dan apabila bertaqwa akan mendapatkan syurga. Setelah itu baru bertaqwa, kemudian baru menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta'ala. Oleh sebab itu tanpa keimanan, tidak mungkin kita bisa bertaqwa dan bertawakkal dengan benar.

Allah Ta'ala berfirman bahwa barang siapa yang mempersekutukan Allah Ta'ala, maka semua amalnya akan sia-sia dan dia termasuk orang yang merugi. Surat Az Zumar (39) Ayat : 65
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi- nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”

Hal ini disebabkan melakukan ketaqwaan tidak didasari dengan keimanan kepada Allah Ta'ala. Sebagai contohnya sholat, sedekah, puasa, dan lain sebagainya tidak dilakukan karena keimanannya kepada Allah Ta'ala, melainkan karena manusia atau mengharapkan kehidupan dunia.

Oleh sebab itu keimanan sungguh sangat penting, karena keimanan inilah yang menentukan apakah amal kita diterima atau ditolak. Dengan kata lain dengan keimanan inilah kita bisa bertaqwa dan bertawakkal dengan benar.

Apabila keimanan kita belum lurus, maka ketaqwaan juga tidak bisa lurus. Sehingga menerima sebagian dan mengingkari sebagian yang lain. Begitupun juga tidak bisa tawakkal dengan benar.

Makanya Rasulullah SAW bersabda : "Awal beragama adalah mengenal Allah Ta'ala". Tanpa mengenal Allah Ta'ala tidaklah mungkin seseorang bisa beragama dengan benar.

Orang-orang yang tidak beriman apabila bertaqwa berdasarkan dunia dan tawakkalnya berdasarkan kemampuan (ikhtiyar), sedangkan hasilnya apabila berhasil merasa sombong apabila gagal menyalahkan orang lain.

Sikap Orang Mukhlis         : Orang-orang mukhlis akan merasakan kesenangan dan ketenangan didalam beramal. Sedikitpun dia tidak mengharapkan penilaian manusia atau keuntungan dunia.
Dia tidak memperdulikan penilaian manusia. Terserah manusia akan bilang apa, yang penting dimata Allah Ta'ala dia benar. Terkadang perbuatan baik yang dia lakukan justru dihina dan dicaci maki orang lain serta disalahkan orang lain. Akan tetapi semua itu dia terima  dengan ikhlas dan tidak membuatnya sakit hati.

Orang-orang yang bisa ikhlas adalah orang-orang yang menginginkan kehidupan akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan duniawi, selamanya tidak akan pernah bisa ikhlas.

Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma' Ar Rahim Didalam melakukan segala sesuatu, dia melihat bahwa semua manusia adalah sama. Akan tetapi dia melebihkan keberadaan orang- orang yang beriman.

Hal ini sebagai bukti bahwa dia akan selalu mendahulukan Allah Ta'ala dan Rasul Nya, sehingga dengan perantaraan dirinya, akan terlihat bahwa Allah Ta'ala melebihkan orang-orang beriman.
Didalam mengelola pemberian-pemberian Allah Ta'ala dia juga mengutamakan kepentingan akhirat dari pada kepentingan duniawi. Hal ini karena ia ingin mencari bekal sebanyak-banyaknya menuju Allah Ta'ala.

Contoh do'a bagi yang ingin meneladani Asma' Ar Rahim

Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantara-Mu didalam Engkau memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Mu, agar mereka yakin tentang adanya hari akhir.