Sunday, April 20, 2014

7. AL MUKMIN (Dzat Yang Maha Terpercaya)


Janganlah kita gantungkan harapan kita kepada selain Allah Ta'ala disaat kita menghadapi suatu permasalahan. Akan tetapi mohonlah hanya kepada-Nya saja, karena hanya Dia Dzat Yang Maha Terpercaya. Mohonlah hanya kepada Allah Ta'ala untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang kita hadapi, yakini dan rasakan bahwa hanya Allah Ta'ala yang dapat menyelesaikan permasalahan kita dengan sebaik-baiknya.

Sering kali apabila kita mempunyai suatu masalah minta diselesaikan oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi setelah masalah itu selesai, kita merasa seolah-olah karena kepintaran kita sendiri tanpa merasakan adanya pertolongan Allah.

Padahal seharusnya kita benar-benar mengakui keberadaan Allah Ta'ala, karena Allah Ta'ala hanya minta untuk diakui keberadaanNya. Dan apabila kita tidak mau mengakui keberadaan Allah Ta'ala, maka kita termasuk orang-orang yang sombong. Dan apabila kita termasuk orang yang sombong, maka selamanya kita tidak bisa mencium baunya syurga.
Oleh sebab itu apapun permasalahan yang kita hadapi apabila kita serahkan kepada Allah Ta'ala, maka Dia akan mengurusinya dengan sebaik-baiknya. Dengan syarat kita harus menyerahkannya secara full dan harus menerima apapun keputusan Allah dengan ridho. Karena apapun yang diputuskan oleh Allah Ta'ala adalah pasti yang terbaik untuk kehidupan akhirat. Akan tetapi cara Allah Ta'ala menyelesaikan terkadang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita.

Apabila didalam hidup ini kita menerima sesuatu, hendaklah kita kontrol do'a-do'a yang telah kita panjatkan. Karena hal itu bisa saja pengabulan dari do'a yang kita panjatkan. Sebagai contohnya kita berdo'a agar diselamatkan dunia dan diakhirat. Selamat dunia dan akhirat menurut Allah Ta'ala adalah ketenangan jiwa (hati tentram), sehingga apapun yang membuat hati tidak tentram akan Dia ambil.

Apabila dengan harta, anak, jabatan, dan lain sebagainya tidak membuat hati kita tentram, maka akan diambil oleh Allah Ta'ala. Inilah contoh pengabulan do'a. Akan tetapi hal ini tidak sesuai dengan nafsu kita, karena kita berfikir selamat didunia adalah dengan banyaknya harta, anak, jabatan yang tinggi, dan lain sebagainya.
Terkadang kita mempunyai masalah sehingga kita berdo'a kepada Allah Ta'ala. Akan tetapi setelah permohonan tersebut dikabulkan kita tidak terima, karena tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Sebagai contohnya kita mempunyai hutang yang banyak kepada orang lain, lalu kita memohon kepada Allah Ta'ala agar masalah kita tersebut diselesaikan. Setelah itu kita ditangkap polisi dan dipenjara. Akan tetapi hal ini membuat kita tidak terima, padahal itulah bentuk penyelesaian dari Allah Ta'ala. Karena setelah kita dipenjara, maka secara otomatis hutang kita menjadi lunas.

Oleh sebab itu apabila kita sudah menyerahkan kepada Allah harus menerima dengan ikhlas dan jangan sekali-kali berburuk sangka kepadaNya. Karena apapun penyelesaian dari permasalahan yang kita hadapi adalah yang terbaik.

Manusia adalah makhluq yang lemah, bodoh dan tidak punya daya upaya serta kekuatan walau sedikitpun. Sehingga tidak ada satupun manusia yang mampu mengurusi dirinya sendiri. Akan tetapi apabila kita mau menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta'ala. maka Allah Ta'ala akan mengurusinya dengan sebaik-baiknya.

Akan tetapi terkadang kita salah dalam menyerahkan urusan kepada Allah Ta'ala. Sebagai contohnya kita melakukan ibadah-ibadah, setelah itu kita serahkan kepada Allah Ta'ala dan meminta  agar rizki lancar dan banyak. Hal ini adalah tidak benar.

Padahal didalam Al Qur'an Allah Ta'ala telah mengingatkan bahwa apa yang disisi Allah Ta'ala yaitu syurga adalah lebih baik dari pada apa yang dapat kita kumpulkan didunia ini. Bahkan andaikata kita mempunyai emas sepenuh bumi untuk menebus diri dari azab neraka, niscaya tebusan itu tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala. Sesuai Surat Ali Imran (3) : 91
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi. walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong”
Seharusnya yang kita serahkan kepada Allah Ta'ala adalah : "Apabila kita sudah berupaya dengan sungguh-sungguh melakukan ibadah atau amal sholeh dengan niat dan syareat yang benar seperti contohnya sholat, akan tetapi masih banyak sekali kekurangan. Inilah yang kita serahkan kepada Allah Ta'ala agar sholat yang kita lakukan diterima disisiNya. Contoh yang lain kita telah bersedekah dengan niat yang ikhlas, akan tetapi sering kali tergoda oleh hawa nafsu dan syetan. Inilah yang boleh kita serahkan kepada Allah Ta'ala agar diterima disisiNya. Begitu juga dengan ibadah-ibadah dan amal-amal sholeh yang lain".

Sisi Tafakkurnya
Seberapa banyak permasalahan yang kita hadapi yang kita serahkan urusannya kepada Allah Ta'ala? Dan seberapa banyak yang tidak kita serahkan kepada Allah Ta'ala karena merasa mampu mengurusi sendiri, yang akhirnya mengecewakan dan menyulitkan kita?

Contoh Do'a Dari Sisi Keimanan
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu menyerahkan segala urusan kepada-Mu.
Sikap Orang Beriman
Orang-orang yang beriman betul-betul menyadari bahwa dirinya adalah lemah, bodoh, tidak punya daya upaya dan kekuatan sedikitpun. Sehingga dia merasa tidak mampu mengurusi dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah Ta'ala.
Orang-orang yang beriman sangat yakin, apabila dia mau menyerahkan urusannya kepada Allah Ta'ala, maka urusannya tersebut akan diselesaikan oleh Allah Ta'ala dengan sebaik-baiknya. Sehingga didalam melakukan amal apapun, semata-mata hanya mengharapkan keridhoan Allah Ta'ala.

Sikap Orang Bertaqwa
Orang-orang yang bertaqwa selalu menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta'ala, setelah dia berikhtiyar dan berdo'a. Dan ketika Allah Ta'ala telah memberikan bimbingan kepadanya, maka bimbingan tersebut akan dia jalankan dengan sungguh-sungguh walau apapun resikonya.
Didalam hidup ini kita harus berkhtiyar (berusaha), karena dengan ikhtiyar itulah kita akan mendapatkan amal. Akan tetapi sebelum berikhtivar, terlebih dahulu kita harus memohon bimbingan kepada Allah Ta'ala. Dan jangan sekali-kali kita bergantung (bersandar) dengan ikhtiyar tersebut, karena masalah hasil adalah hak Allah Ta'ala.

Manusia adalah makhluq yang lemah, bodoh dan tidak punya daya upaya sedikitpun. Sehingga tidak ada satupun manusia yang mampu mengurusi dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah Ta'ala. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merasa mampu mengurusi diri sendiri dan jangan sekali-kali mengurusi urusan orang lain serta menghina keburukan orang lain. Karena mengurusi diri sendiri saja kita tidak mampu, apalagi mengurusi urusan orang lain?

Bahkan Rasulullah SAW saja tidak bertanggung jawab terhadap dosa yang dilakukan orang lain. Karena tugas beliau hanya menyampaikan berita gembira dan peringatan, sedangkan masalah orang mau menerima atau tidak bukan urusan beliau. Sesuai Surat Az Zuiuar (39) Ayat : 41
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. Siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri. Dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka”

Kalau Rasulullah SAW saja tidak bertanggung jawab terhadap orang lain, kenapa kita sibuk mengurusi orang lain? Apakah kita sudah dijamin selamat sehingga berani mengurusi orang lain? Padahal jika kita mau berfikir, untuk mengurusi diri sendiri saja sungguh sangat berat. Apakah kita bisa selamat atau tidak diakhirat nanti.

Karena kita ini adalah makhluq yang lemah dan bodoh, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Oleh sebab itu hendaknya kita serahkan kepada Allah Ta'ala, agar Dia membimbing kita kejalan yang lurus. Dan apabila Allah Ta'ala telah memberi petunjuk-Nya. hendaknya kita jalankan petunjuk tersebut walau apapun resikonya dan jangan sekali-kali kita ingkari.
Makanya ada do'a : "Ya Allah ya Tuhanku, hukumlah hamba jika hamha salah dan berilah hamba rahmat jika hamba benar. Agar kiranya hamba mengerti mana yang benar dan mana yang salah menurut Engkau". Orang-orang yang bertaqwa tidak takut kemudhoratan menimpanya didunia, yang penting diakhirat dia bisa selamat. Karena dia yakin bahwa Allah Ta'ala tidak akan pernah mendzolimi hamba-hambaNya dan tidak akan pernah memberikan beban yang diluar kesanggupan hambaNya didalam menerimanya.

Contoh Do'a Dari Sisi Ketaqwaan
Ya Allah, janganlah Engkau serahkan segala urusan kami kepada kami sendiri walaupun hanya sekejap, karena kami pasti tidak mampu melakukannya.
Perlu digaris bawahi bahwa kita berdo'a setelah berikhtiyar terlebih dahulu. Jangan sekali-kali kita berdo'a tanpa adanya ikhtiyar (usaha).

Sikap Orang Bertawakkal
Apabila dia telah berikhtiyar dan berdoa kepada Allah Ta'ala. maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dan sedikitpun dia tidak pernah ragu kepada Allah Ta'ala dan tidak pernah memaksa Allah Ta'ala agar memenuhi keinginan hawa nafsunya.

Didalam hidup ini yang kita harapkan dari Allah Ta'ala ini apa? Apakah kesenangan kehidupan dunia atau kebahagiaan kehidupan akhirat? Orang-orang yang mengharapkan kesenangan dunia, dia akan selalu memperturutkan hawa nafsunya. Bahkan didalam melakukan ketaqwaan, niatnya hanya ingin dibalas didunia untuk memuaskan keinginan hawa nafsunya. Sedangkan untuk kehidupan akhirat tidak pernah dia hiraukan. Akan tetapi bagi orang-orang yang mengharapkan kehidupan akhirat, dia tidak perduli dengan kehidupannya didunia. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan kesusahan atau kemudhoratan. Yang penting dia diakhirat bisa selamat dan hidup bahagia.

Sikap Orang Mukhlis
Apabila dia telah bertawakkal kepada Allah Ta'ala, maka hasil apapun yang Allah Ta'ala berikan dia terima dengan ikhlas dan senang.
Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman, apabila dia menyerahkan urusannya kepada Allah Ta'ala, maka dia memaksa agar Allah Ta'ala segera menyelesaikan urusannya tersebut dan harus sesuai dengan hawa nafsunya. Dan apabila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, maka dia tidak mau menerimanya dengan ikhlas. Bahkan dia akan menyalahkan Allah Ta'ala.
Padahal dosa yang paling tinggi adalah kemusyrikan. Dan kemusyrikan yang paling tinggi adalah menjadikan diri sendiri sebagai tuhan dan menjadikan Allah Ta'ala sebagai hamba. Yaitu selalu memaksa Allah Ta'ala agar memenuhi segala keinginan hawa nafsunya.

Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma' Al Mukmin Apabila ia sudah menjadi kholifah, maka ia akan selalu menyerahkan semua urusan yang ia hadapi hanya kepada Allah Ta'ala, karena hanya Allah Ta'ala sajalah yang mampu untuk menyelesaikan urusan yang dihadapinya. Sedikitpun ia tidak berani untuk menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya walaupun permasalahannya itu sangat kecil.

Dan terhadap sesama manusia, ia akan berusaha untuk menjadi orang yang amanah serta berusaha menyelesaikan segala urusan yang diamanahkan kepadanya dengan sebaik-baiknva.

Contoh do’a yang ingin meneladani Asma' Al Mukmin
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai perantara-perantaraMu didalam menyelesaikan urusan hamba-hambaMu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang amanah.