Sunday, April 13, 2014

4. AL MALIK (Dzat Yang Maha Merajai)


Segala yang ada dilangit dan dibumi semuanya tunduk kepada Allah Ta'ala, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Merajai dan apabila Dia berkehendak maka tidak ada satupun yang dapat menghalangi-Nya. Oleh sebab itu tidak ada pilihan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini kecuali menerima ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala.

Sebagai seorang hamba yang lemah dan bodoh, hendaknya kita fahami dan rasakan tentang Malik-Nya Allah Ta'ala ini, bahwa segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi berada dalam kekuasanNya.

Karena apabila kita tidak bisa merasakan Malik-Nya Allah Ta'ala, mengakibatkan apabila menerima balak (kesusahan) banyak berkeluh kesah dan menyalahkan orang lain, dan apabila mendapatkan nikmat akan merasa tinggi hati (sombong), karena merasa atas kemampuan dan kepintaran diri sendiri. Padahal Allah adalah Dzat Yang Maha Merajai, apapun yang telah ditentukan-Nya pasti akan terjadi dan tidak ada satupun yang dapat menolak atau merubah ketetapan-Nya tersebut.
Yang Pertama, Allah Ta'ala telah menentukan batas umur manusia. Kapan seseorang lahir dan kapan ia mati tidak ada satupun yang dapat menolak atau merubahnya. Walaupun seluruh kemampuan (kekuatan) dikumpulkan niscaya tidak bisa.

Apakah itu orang yang punya kekuasaan, atau orang yang kaya raya, atau orang pintar, atau orang miskin, atau orang tua, atau anak muda dan lain sebagainya, semuanya tidak bisa menolak ketentuan Allah Ta'ala. Sesuai surat Yunus (10) ayat : 49
Katakanlah: “aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah” Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).

Ada satu pertanyaan apabila seseorang bunuh diri apakah dia sendiri yang menentukan ajalnya? Jawabannya “tidak Karena banyak orang yang mencoba bunuh diri tetapi tidak mati karena ajalnya belum sampai. Dan kalaupun dia mati berarti ajalnya sudah sampai tetapi dia memilih jalan kefasikan. Sebetulnya walaupun dia tidak bunuh diri jika ajalnya telah sampai pasti akan mati juga. Karena Ajal setiap manusia telah ditentukan oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi bagaimana cara mati adalah pilihan manusia itu sendiri. Apabila cara mati juga ditentukan, maka orang yang bunuh diri tidak berdosa.

Apabila seseorang sudah sampai ajalnya, maka secanggih apapun kedokteran, ketabiban dan teknologi sedikitpun tidak bisa menolak atau menghalangi. Oleh sebab itu kita harus yakin bahwa kematian pasti akan menemui kita. Apakah nanti malam, atau besok pagi, atau seminggu lagi. atau sebulan lagi, atau setahun lagi dan seterusnya.

Maka dari itu Rasulullah SAW berwasiat : “aku tinggalkan dua perkara yang bisa menjadi nasehat. Yang satu pandai berbicara yaitu Al qur'an dan yang satu lagi diam yaitu kematian”.

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir niscaya selalu ingat dengan kematian, sehingga ia bersungguh-sungguh untuk menyiapkan bekal (amal ibadah atau amal sholeh), dan ia juga takut untuk melakukan dosa.

Para sahabat zaman dahulu apabila melakukan sholat subuh ia berfikir tidak akan sampai kepada sholat dzuhur. Mereka merasa bahwa inilah sholatnva yang terakhir sehingga mereka melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya. Bahkan ada juga sahabat yang apabila ruku' didalam sholat mereka merasa tidak sampai kepada sujud, sehingga mereka berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Allah Ta'ala. Begitu juga dalam melakukan amal-amal ibadah dan amal-amal sholeh lainnya, mereka selalu berfikir inilah amalku yang terakhir, sehingga mereka selalu mempersembahkan yang terbaik untuk Allah Ta'ala.

Selama ini kita beranggapan bahwa umur selalu bertambah sehingga ada istilah ulang tahun. Padahal yang sebenarnya umur itu selalu berkurang. Karena andaikata umur yang ditentukan oleh Allah 50 tahun, dan sekarang sudah umur 30 tahun, berarti tinggal 20 tahun lagi. Jadi setaip hari kita ini mendekati kematian.
Oleh sebab itu jangan sampai kita menjadi orang yang lalai. Seharusnya kita selalu berfikir dosa-dosa mana yang sudah diampuni oleh Allah Ta'ala dan amal-amal mana yang sudah diterima oleh Allah Ta'ala, karena waktu ini terus berjalan. Allah berfirman disurat Al 'Ashr (103) ayat :1-3
1.      Demi masa.
2.      Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3.      Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Andaikata besok pagi kematian menjemput kita, sudahkah kita termasuk orang-orang yang selamat? Andaikata besok pagi kita menghadap Allah Ta'ala, sudahkah kita sanggup mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita? Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merasa bahwa umur masih panjang. Jangan merasa masih muda sehingga menunda-nunda untuk bertaubat dan beramal sholeh. Karena kita nanti pasti akan menyesal.

Yang kedua masalah Rizki. Rizki telah ditentukan oleh Allah Ta'ala mulai dari kita lahir sampai ajal menjemput. Akan tetapi hal inilah yang justru selalu membuat kita pusing. Padahal sebelum Allah memerintahkan kita beribadah kepada-Nya, terlebih dahulu Allah Ta'ala menjamin rizki bagi kita.

Mensikapi masalah rizki ini yang menjadi tugas (kewajiban) kita hanyalah berikhtiyar (berusaha). Masalah berapa banyaknya yang akan Allah berikan kita harus terima dengan ikhlas. Karena itulah yang terbaik bagi kita. Bukan berarti Allah tidak mau memberi rizki yang lebih kepada hamba-hambaNya, akan tetapi jika sang hamba diberi lebih maka cenderung membuat ia melampui batas. Sesuai surat Asy Syuura (42) ayat: 27
“Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”

Oleh sebab itu Allah menurunkan rizki kepada hamba-hambaNva disesuaikan dengan kemampuan sang hamba tersebut didalam menerimanya. Sebagai contohnya si A kemampuannya satu gelas, si B satu ember, sedangkan si C satu drum. Setelah itu ada hujan yang sangat deras. Maka air yang diperoleh oleh masing-masing hanyalah sebatas ukurannya tersebut. Untuk itu bagi orang-orang yang ukurannya satu gelas mungkin hanya untuk kebutuhannya sendiri dan keluarga, tetapi bagi yang ukurannya banyak pasti ada bagian untuk orang lain.

Sebetulnya kalau hanya untuk kebutuhan diri sendiri sebetulnya tidak banyak. Sebagai contohnya kita punya rumah lima. Yang kita butuhkan hanya satu untuk beristirahat. Kalau lima-limanya kita tempati niscaya tidak bisa istirahat. Begitupun juga makan, apabila sudah kenyang akan berhenti. Bukan berarti orang kaya makanya 10 piring. Akan tetapi karena mengikuti hawa nafsunya manusia selalu mengumpul-ngumpulkan harta yang banyak, padahal setelah ia mati akan jatuh waris sedangkan dihari akhir nanti dia yang akan dihisab (dimintai pertanggung jawabannya).

Setiap orang yang diberi lebih oleh Allah sebetulnya ada bagian untuk orang lain. Oleh sebab itu apabila kelebihan tersebut dikumpul- kumpulkan dan tidak diberikan kepada orang yang lebih berhak, maka ia akan memperoleh neraka huthamah. Sesuai surat Al Humazah (101) ayat: 1 - 9

1.      Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
2.      Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
3.      Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
4.      Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
5.      Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
6.      (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
7.      Yang (membakar) sampai ke hati.
8.      Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
9.      (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Orang-orang yang selalu merasa kurang dengan rizki-rizki yang Allah Ta'ala berikan, membuat ia tidak pandai bersyukur. Oleh sebab itu hendaknya kita tahu diri bahwa kita adalah seorang hamba yang banyak berdosa dan selalu durhaka. Selalu menyekutukan Dia dan apabila beramal belum bisa sempurna. Akan tetapi Allah masih memberi kita rizki dan tidak mengazab kita serta menunggu kita untuk bertaubat. Padahal andaikata Allah tidak memberi rizki kepada kitapun sangat wajar. Tetapi kenapa kita tidak mau bersyukur dengan pemberian- pemberianNya dan masih selalu merasa kurang?

Yang ketiga masalah penghidupan. Sebetulnya masalah penghidupan mau menjadi apa sudah ditentukan oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi banyak sekali manusia yang tidak terima dengan penghidupan yang telah Allah Ta'ala tetapkan, sehingga ia tidak pandai bersyukur. Padahal itulah yang paling sesuai untuk dirinya.

Menjadi apapun diri kita yang penting tidak menyalahi hukum- hukum Allah Ta'ala, disitulah terdapat amal bagi kita. Sebagai contohnya apabila kita menjadi seorang petani. Dengan bertani kita berniat memudahkan orang-orang untuk makan nasi atau sayur. Kita menjadi pedagang berniat memudahkan orang-orang yang mau membeli sesuatu. Jadi semua itu bernilai ibadah jika kita niatkan dengan benar. Yang paling penting menjadi apapun kita jadilah yang Islami (baik). Pegawai, petani, pedagang, pejabat yang islami.
Yang keempaat adalah balak dan nikmat. Balak dan nikmat ini juga sarana untuk memberikan amal kepada manusia. Maksudnya adalah, apabila seseorang didalam menerima nikmat ia bersyukur maka akan memperoleh amal dan apabila dalam menerima balak ia bersabar juga akan mendapat amal.

Allah memberikan balak kepada hamba-Nya bukan berarti Dia benci, akan tetapi agar Allah mempunyai alasan untuk mengampuni hambaNya tersebut. Asalkan sang hamba ridho dan sabar didalam menerimanya. Oleh sebab itu tidak perlu kita pusing apabila menerima balak. Keempat hal diatas pasti akan terjadi, karena yang menentukan adalah Allah Al Malik (Dzat Yang Maha Merajai). Sehingga tidak ada satupun yang dapat merubahnya.

Didalam hidup ini Allah Ta'ala telah membuat hukum-hukum, diantaranya : "Apabila seseorang melakukan ketaqwaan akan menerima kemanfaatan dan apabila melakukan kejahatan akan menerima kemudhoratan". Dan hukum-hukum yang telah Allah Ta'ala tetapkan ini pasti akan terjadi.

Oleh sebab itu tidaklah mungkin seseorang yang melakukan kebaikan akan mendapatkan kemudhoratan. Begitu juga sebaliknya apabila melakukan kejahatan tidak mungkin mendapatkan kemanfaatan.

Akan tetapi apabila kita banyak sekali melakukan kefasikan (kejahatan) tetapi justru mendapatkan kemanfaatan-kemanfaatan, maka berhati-hatilah (khawatirlah). Karena mungkin kita termasuk orang- orang yang mendapatkan harta istijraj, yaitu bayaran didunia dari kebaikan yang kita kerjakan, tetapi diakhirat kelak kita tidak memperoleh balasan apa-apa melainkan hanya neraka dan kita akan kekal didalamnya.

Sisi Tafakkurnya
Sudahkah kita ridho dengan semua pemberian Allah Ta'ala untuk diri kita, begitu juga untuk orang lain?. Seberapa banyak yang kita ridho dan seberapa banyak yang kita iri atau kecewa?.

Contoh Do'a Dari Sisi Keimanan
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang ridho atas semua ketentuan yang telah Engkau tetapkan bagi kami.

Sikap Orang Beriman
Orang-orang yang beriman sangat yakin dengan ketentuan Allah Ta'ala yang telah ditetapkan-Nva dengan Asma’ Ar Rahman. Dan orang-orang yang beriman juga yakin bahwa apabila dia memilih kefasikan akan mendapatkan dosa (azab) dan apabila memilih ketaqwaan akan mendapatkan amal (syurga).

Sikap Orang Bertaqwa
Orang-orang bertaqwa akan membuktikan keyakinannya tersebut dengan perbuatan. Yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hukum-hukum yang ada didalam Al Qur'an sifatnya adalah pasti. Bahwa barang siapa yang fasik akan mendapatkan dosa (azab) dan barang siapa yang taqwa akan mendapat amal (syurga). Tidaklah mungkin orang-orang yang melakukan kefasikan akan mendapatkan amal (syurga) dan tidak mungkin orang-orang yang bertaqwa akan mendapatkan dosa neraka, apabila niatnya benar dan dilakukan dengan syareat yang benar.

Apabila orang-orang yang fasik mendapatkan kebaikan, maka ini adalah istijraj. Sebagai contohnya orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsunya, dan apabila melakukan ibadah niatnya hanya mengharapkan duniawi. Dan dia-pun kikir serta enggan melakukan amal-amal sholeh. Orang-orang seperti ini apabila mendapatkan kebaikan berarti istijraj. Yaitu balasan didunia tetapi diakhirat tidak mendapat apa-apa melainkan mendapat neraka.

Apabila orang-orang yang fasik mendapatkan musibah ini namanya peringatan. Apabila orang-orang yang melakukan kebaikan mendapatkan musibah ini namanya ujian untuk meningkatkan keimanannya kepada Allah Ta'ala. Dan apabila orang-orang melakukan kebaikan mendapat kebaikan, ini namanya rahmat supaya melakukan amal yang lebih banyak lagi.

Contoh Do'a Dari Sisi Ketaqwaan
Ya Allah, tolonglah kami agar dapat menggunakan apa-apa yang telah Engkau berikan kepada kami untuk melakukan ketaqwaan kepada-Mu.

Sikap Orang Bertawakkal
Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan hasil ketaqwaan-nya hanya kepada Allah Ta'ala. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan balasan atau tidak. Dan andaikata dia berbuat salah, dia sangat mengharapkan ampunan dari Allah Ta'ala dan siap menerima pembalasan.

Sikap Orang Mukhlis
Dia akan menerima dengan ikhlas apapun yang telah Allah Ta'ala berikan kepadanya. Bahkan apabila menerima musibah akibat dari kesalahan yang dia lakukan, maka dia akan bersyukur. Karena dengan musibah itulah dia bisa menjadi sadar, sehingga bisa bertaubat dan kembali kejalan yang lurus.

Ada seorang Ulama' ditanya : “Apa yang engkau sukai dalam hidup ini?” Dia menjawab : "Yang aku sukai adalah apa yang disukai Allah Ta'alan. Allah Ta'ala suka mengingatkan hamba-Nya yang berdosa, maka diapun juga suka menerima peringatan apabila berdosa.

Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman dan selalu mengikuti hawa nafsu, didalam hidup ini dia suka dengan sesuatu yang membuat Allah Ta'ala murka, dan benci dengan sesuatu yang membuat Allah Ta'ala senang (ridho).

Padahal apabila Allah Ta'ala memberikan peringatan atas kesalahan yang kita lakukan, berarti Allah Ta'ala masih sayang kepada diri kita dan masih menghendaki kebaikan bagi diri kita untuk dikehidupan akhirat nanti.

Kalau dikasihi, semua manusia dikasihi oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi kalau disayangi, hanya sedikit sekali orang-orang yang disayangi oleh Allah Ta'ala. Karena orang-orang yang disayangi adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah Ta'ala. Oleh sebab itu bagi orang-orang mukhlis dia akan merasa ikhlas dan bersyukur menerima peringatan dari Allah Ta'ala.

Tidaklah mungkin seseorang bisa selamat apabila tidak diselamatkan Allah Ta'ala. Akan tetapi terlebih dahulu kita harus mempunyai keinginan yang kuat untuk selamat. Tidaklah mungkin Allah Ta'ala menyelamatkan hamba-Nya apabila sang hamba tidak mampunyai keinginan untuk selamat. Karena pecuma saja diselamatkan juga tidak akan mau.

Ibaratnya ada anak yang tidak mau makan. Walaupun orang tuanya memaksanya, mengancamnya atau menjanjikan akan memberikan sesuatu, tetap saja dia tidak mau makan.

Begitupun juga dengan orang-orang yang tidak mau selamat. Walaupun Allah Ta'ala sudah mengancamnya dengan siksa neraka, dijanjikan dengan syurga, bahkan dipaksa dengan diberikan peringatan-peringatan, tetap saja dia tidak mau selamat.

Dizaman Nabi Musa, Allah Ta'ala menurunkan hidangan dari langit berupa Manna dan Salwa. Hal ini Allah Ta'ala lakukan agar hamba- Nya mau beriman kepada-Nya sehingga bisa selamat diakhirat kelak. Disini Allah Ta'ala membuktikan bahwa Allah Ta'ala sangat menginginkan hamba-Nya bisa beriman kepada-Nya. Karena mereka meminta bukti akan ada-Nya Allah Ta'ala dan kekuasaan-Nya, yaitu mereka meminta diturunkan hidangan dari langit. Dan hal itu Allah Ta'ala kabulkan agar kiranya mereka percaya (beriman) kepada-Nya.

Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma' Al Malik
Dia mempunyai kemauan yang sangat kuat didalam melakukan sesuatu yang dia minati. Dengan kata lain dia memiliki sikap bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Tetapi disini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu kehendaknya ini apakah kehendak dari Ailah Ta'ala atau kehendak hawa nafsunya.

Orang yang telah meneladani Asma' Al Malik ini mempunyi keyakinan bahwa apapun ketentuan Allah Ta'ala pasti terjadi dan ketentuan tersebut pasti yang terbaik. Dan dia selalu mengajak orang lain kepada Allah Ta'ala bukan kepada dirinya.

Terkadang kita melihat sesuatu dinampakkan sifat dan perbuatan Allah Ta'ala sehingga kita bisa menerima ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala dan menjadikan peringatan bagi diri kita. Akan tetapi terkadang seseorang memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu dan dipaksakannya seolah-olah yang dilakukan itu adalah kehendaknya sendiri. Tetapi setelah itu ia baru sadar bahwa memang ini ketentuan Allah, sehingga ia menjadi yakin bahwa apapun yang ditentukan Allah pasti terjadi.

Misalnya dalam menghadapi ketentuan Allah Ta'ala masalah umur. Apabila ada orang sakit yang terlambat dibawa kerumah sakit sehingga ia mati, banyak sekali orang yang mengatakan bahwa andaikata cepat dibawa kerumah sakit maka nyawanya akan tertolong. Akan tetapi bagi orang-orang yang telah meneladani Asma' Al Malik ini akan mengatakan “tidak”. Karena ini sudah ditentukan Allah ia akan mati. Sehingga dengan demikian apapun yang menjadi ketentuan Allah ia akan berusaha untuk mengikutinya dan meluruskannya ketika ada orang yang menentang atas ketentuan Allah tersebut.

Contoh do'a bagi orang-orang yang ingin meneladani Asma' Al Malik
Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu bagi pemberian yang Engkau kehendaki untuk hamba-hambaMu. Sehingga mereka dapat melihat manfaat dari pada apa yang Engkau berikan adalah paling tepat (sesuai) bagi mereka.