Sunday, December 7, 2014

Maqolah 28


Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :
Wahai Tuhanku…
Sesungguhnya aku senang
Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku
Sementara aku sangat faqir dan lemah
Oleh karena itu wahai Tuhanku,
Bagaimana Engkau tidak senang
Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku
Sementara Engkau Maha Kaya
Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu
Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu
Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:
Ilahy lastu lil firdausi ahla
Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi
Fahably zallaty wahfir dzunuuby
Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi
Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi
Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi
(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,
‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Wednesday, December 3, 2014

Maqolah 27


Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.
Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepada para Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dunia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan mencerai beraikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Lilin dan Lampu

Umar bin Abdul Aziz menerima utusan dari berbagai wilayah negeri.
Pada suatu malam, pintu Umar diketuk dari luar. 
Penjaga pintu keluar. Sang tamu menitipkan pesan, 

"Sampaikan kepada Amirul Mukminin, bahwa utusan salah satu gubernurnya datang menghadap."
Penjaga pintu masuk. Ia menyampaikan pesan itu kepada Umar yang hendak beranjak tidur. 
Umar duduk. Ia berkata, "Izinkan dia masuk!"

Sang utusan masuk ke dalam. Umar menyalakan lampu lilin dengan sinarnya yang redup, dan meliuk-liuk ditiup angin. 
Umar duduk, diikut oleh sang utusan. 

Kepada utusan itu, Umar bertanya tentang berbagai hal
Tentang keadaan negeri utusan itu, orang-orang Muslim yang tinggal di Sana,
orang-orang kafir ahlu dzimmah, perilaku gubernur, harga-harga kebutuhan di
pasar, tentang anak-anak kaum Anshar dan Muhajirin, anak-anak jalanan dan
kaum fakir-miskin, tentang apakah semua orang menunaikan kewajibannya,
tentang orang yang ingin menyampaikan keluhan dan pengaduan tentang
apakah penguasa berbuat zhalim atau tidak, dan lain-lain.

Sang utusan menyampaikan semua yang ia ketahui dari pertanyaan itu
Setelah Umar menanyakan semua hal, sang utusan ganti bertanya, 
"Wahai Amirul Mukminin, apa kabar Tuan? Bagaimana pula kesehatan Tuan"
Bagaimana halnya dengan keluarga Tuan, dan semua pegawai Tuan?"

Umar mematikan lilin di hadapannya dengan sekali tiupan. "Wahai
pelayan, aku memerlukan lampu," perintah Umar kepada pelayannya. Umar
meminta dibawakan sebuah lampu yang redup dan nyaris tak bercahaya.

Tanyakan apa yang kamu suka," kata Umar kepada sang utusan.
Sang utusan menanyakan kabar Umar. Umar kemudian menceritakan
keadaannya dan keadaan keluarganya, putra, dan seluruh tanggungannya.
Sang utusan heran dengan tindakan Umar yang mematikan lilin di
hadapannya. 

"Wahai Amirul Mukminin, aku tidak pernah melihat engkau
melakukan hal seperti ini sebelumnya."
"Apa itu?" tanya Umar.
Tuan mematikan lilin saat aku menanyakan keadaan Tuan dan keluarga Tuan."

"Wahai hamba Allah, lilin yang aku matikan itu dinyalakan dengan
menggunakan harta Allah dan harta kaum Muslimin. Saat aku bertanya
tentang kebutuhan dan urusan kaum Muslimia maka lilin itu dinyalakan
demi mengatur kepentingan mereka. Saat kamu bertanya tentang
keadaanku dan keluargaku, maka aku mematikan cahaya lilin yang menjadi
hak kaum Muslimin itu."

Monday, July 14, 2014

Maqolah 26



(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 25



(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tanda diterimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Sunday, July 13, 2014

Ingin Mimpi Bertemu Nabi Saw.


Siang itu, dengan wajah muram, seorang murid bersimpuh di hadapan syaikhnya. Syaikh dengan suara wibawanya bertanya, "Apa gerangan yang merisaukanmu?"
 

"Wahai Syaikh, sudah lama saya ingin melihat wajah Rasulullah walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginan itu belum juga terkabul," jelas si murid.
"Oo... rupanya itu yang kauinginkan. Tunggu sebentar ..." 

Setelah diam beberapa saat, berkatalah Syaikh, "Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam." Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah dia ke rumah Syaikh untuk memenuhi undangannya. Dia merasa heran melihat syaikhnya hanya menghidangkan ikan asin.

"Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!" kata Syaikh kepada muridnya. Karena tergolong murid taat, dia habiskan seluruh ikan asin yang disuguhkan. Selesai makan, dia merasa kehausan. Dia segera meraih segelas air dingin di hadapannya.
"Letakkan kembali gelas itu!" perintah Syaikh. "Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!"


Dengan penuh rasa heran, diturutinya perintah syaikh-nya. Malam itu dia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Dia membolak-balikkan badannya hingga akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi? Malam itu dia bermimpi minum air sejuk dari sungai, mata air, dan sumur. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya.

Paginya ketika bangun, dia langsung menghadap Syaikh. "Wahai Guru, bukannya melihat Rasulullah, saya malah bermimpi minum air."
Tersenyumlah Syaikh mendengar jawaban muridnya. Dengan bijaksana beliau berkata, "Begitulah, makan ikan asin membuatmu sangat kehausan sehingga kau hanya memimpikan air sepanjang malam.
 

Jika kau merasakan kehausan semacam itu akan Rasulullah maka kau akan melihat ketampanannya."
Terisaklah si murid. Dia sadar betapa cintanya kepada Rasulullah masih sebatas kata. Kerinduan sebatas pengakuan.

Abdurrahman ibn Auf

Abdurrahman ibn Auf adalah seorang tokoh Quraisy di Kota Makkah yang masuk Islam sebelum masuk di Darul Arqam. Ia termasuk salah seorang dari delapan orang yang masuk Islam di tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia pernah ikut hijrah ke Habasyah dan Madinah. Ia termasuk sepuluh orang yang diberi tahu oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga.
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda,

"Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluargaku sepeninggalku."

Abdurrahman menjual kebunnya senilai empat ratus ribu dirham dan hasil penjualannya dibagikan kepada istri-istri Rasulullah.

Ketika menghadapi saat kematiannya, ia menangis tersedu-sedu hingga ada yang bertanya kepadanya, "Mengapa Engkau menangis pada saat seperti ini?"

Abdurrahman, "Mus'ab ibn Umair yang lebih baik daripada aku wafat di masa Rasulullah Saw. dan ia tidak mempunyai kain kafan untuk menutupi mayatnya. Hamzah ibn Abdul Muthalib, paman Rasulullah Saw., yang lebih baik daripada aku tidak mendapatkan kain kafan untuk menutupi mayatnya, sedangkan aku orang kaya. Oleh karena itu. aku takut termasuk orang yang kebaikannya dipercepat di dunia. Aku takut tidak dapat bergabung dengan sahabat-sahabatku karena aku orang yang banyak harta."

Abdurrahman ibn Auf adalah seorang sahabat yang kaya. Ia meninggalkan banyak harta di Kota Makkah ketika hendak pergi hijrah. Ketika di Madinah, ia berdagang hingga menjadi orang kaya. Ia terkenal suka bersedekah di jalan Allah dan biasa hidup sederhana. Ketika menjelang kematiannya, ia merasa kkhawatir akan keselamatan dirinya di akhirat.

Abu Hurairah

Abu Hurairah adalah sahabat yang nama aslinya Abdur Rahman ibn Sakhr diberi nama Abu Hurairah oleh Rasulullah Saw. ketika beliau melihatnya sedang menggendong seekor kucing. Ketika itu beliau menyebutkan, "Wahai Abu Hurairah." Maksudnya, "Wahai Bapaknya kucing."

Abu Hurairah masuk Islam pada tahun peperangan Khaibar kemudian ia berjuang di medan perang itu bersama Rasulullah Saw. Ia selalu mendampingi Rasulullah dan mengingat semua sabdanya Rasulullah pernah berdoa baginya,

“Ya Allah, jadikan hati hambamu ini, dan ibunya, mencintai orang-orang mukmin dan jadikan hati mereka mencintai keduanya” (HR Muslim).

Muslim ibn Basyar berkata, "Abu Hurairah menangis ketika ia sedang sakit menghadapi kema-tiannya hingga ada yang bertanya kepadanya, 'Apa yang menyebabkan Engkau menangis?'

Abu Hurairah, Aku tidak menangis karena takut meninggalkan dunia. Aku takut karena akan menempuh perjalanan ke akhirat yang sangat jauh dan perbekalanku sangat sedikit. Aku tidak tahu apakah perjalananku akan berakhir di surga atau di neraka, " (Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dan Adz-Dzahabi dalam Siyar 'A'lam an-Nubala')

Friday, July 11, 2014

Tangisan Penggali Kubur



Imam Abu Al-Laitsi Nashr ibn Muhammad As-Samarkandi menyampaikan sebuah kisah dari ayahnya, dari Abu Hasan Al-Fara, dari Abu Bakar Al-Jurjani, dari Muhammad ibn Ishak, dari seseorang, dari Ma'mar Az-Zuhri yang berkata. "Umar ibn Khattab mendatangi Rasulullah Saw seraya menangis hingga sampai beliau bertanya kepadanya,
"Wahai Umar, apa yang menyebabkan kau menangis?"
Umar,
"Ya Rasulullah, di depan pintu ada seorang pemuda membuat miris hatiku dengan tangisannya."
Rasulullah berkata, "Wahai Umar, bawalah ia ke sini!"

Umar lantas membawa pemuda itu ke hadapan Rasulullalh dan dalam keadaan menangis.
Rasullullah, "Wahai Pemuda, mengapa Engkau menangis?"
Pemuda, "Ya Rasulullah, aku menangis karena dosa-dosaku yang banyak dan aku takut terhadap Tuhan Yang Mahakuat."
Rasulullah, "Apakah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu?"
Pemuda, "Tidak, aku tidak menyekutukan Allah dengan apa pun."
Rasulullah, "Sungguh Allah mengampuni dosa-dosamu meski sebesar langit tujuh lapis, sebanyak bumi tujuh lapis dan sebesar gunung-gunung yang kokoh."
Pemuda, "Ya Rasulullah, dosa-dosaku lebih besar dari langit tujuh lapis, tujuh bumi dan gunung-gunung yang kokoh!"
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari kursi Allah?"
Pemuda, "Ya, dosa-dosaku lebih besar dari kursi Allah."
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari Arsy Allah?"
Pemuda, "Ya, dosa-dosaku lebih besar dari Arsy Allah."
Rasulullah, "Apakah dosa-dosamu lebih besar dari ampunan Allah?"
Pemuda, "Ampunan Allah lebih besar dari dosa-dosaku dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku, kecuali Allah Yang Mahabesar."
Rasulullah, "Katakan padaku, apa dosamu?"
Pemuda, "Aku malu untuk menyebutkannya kepadamu."
Rasulullah, "Katakan padaku, apa dosamu?"

Pemuda, "Wahai Rasulullah. Aku adalah tukang gali kuburan selama tujuh tahun. Aku melakukan pekerjaanku sampai suatu hari ada seorang wanita muda Anshar mati. Setelah mayat wanita itu dikuburkan, aku menggali kuburnya dan aku lepaskan kain kafannya. Aku menggaulinya .... Tidak lama kemudian, ia hidup dan berdiri seraya berkata, Celakalah kau pemuda. Apakah engkau tidak malu kepada Allah saat Dia mengadili semua manusia"
''Engkau telah menggauliku dan meninggalkan aku dalam keadaan telanjang di tengah kerumunan orang mati. Engkau telah meninggalkan dosa pada yang akan kau pertanggungjawabkan di hadapan Allah.'"

Mendengar ucapan pemuda itu, Rasulullah membenahi tubuh dan menepuk kening lantas berkata, "Wahai pemuda fasik. Sungguh kau pantas masuk neraka! Keluar dari rumahku!"

Pemuda itu pergi meninggalkan Rasulullah dan ia bertaubat selama empat puluh hari. Setelah empat puluh hari merintih untuk bertaubat, ia mengangkat kepala dan berdoa.
"Wahai Tuhannya Muhammad, Adam dan Hawa. Jika Kau mengampuni dosa-dosaku, beri tahukanlah kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya bahwa Engkau telah mengampuni dosa-dosaku. Jika tidak, datangkan api dari langit kepadaku dan bakarlah diriku dengannya. Hindarkanlah aku dari siksa api neraka di akhirat."

Karena kasus tersebut, Jibril lantas datang kepada Rasulullah dan berkata, "Salam sejahtera untukmu, wahai Muhammad. Tuhanmu menitipkan salam untukmu."
Rasulullah, "Dialah Keselamatan, dari-Nya datang keselamatan dan kepada-Nya keselamatan kembali."

Jibril, "Wahai Muhammad, Allah bertanya, Apakah Engkau yang menciptakan makhluk?"
Rasulullah, "Dialah yang menciptakan aku dan semua makhluk."
Jibril, "Allah bertanya, Apakah engkau yang memberi rezeki kepada mereka?'"
Rasulullah, "Yang memberi rezeki adalah Allah."
Jibril, "Allah bertanya, 'Apakah engkau yang menerima taubat ataukah Allah?"'
Rasulullah, "Allah yang menerima taubatku dan taubat mereka."
Jibril, "Allah berfirman, Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan lelaki itu karena Allah telah memaafkan dosa-dosanya! '
Rasulullah lantas menyuruh orang memanggil pemuda itu dan memberinya berita gembira bahwa Allah telah menerima taubatnya, (Abu Al-Laitsi Nashr ibn Muhammad As-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin).


Mencintai dengan Meneladani


Alkisah, pada suatu hari di Negeri Arab, ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus meninggalkan rumah untuk berkelana mencari uang. Di depan sebuah masjid, dia bertemu seorang muslim dan meminta bantuannya. 
"Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu," kata janda itu mengiba.
"Mana buktinya?" tanya lelaki muslim itu.
Janda itu tidak dapat membuktikan ucapannya, karena dia sendiri adalah orang asing di tempat itu. Akhirnya, lelaki itu tidak menolongnya.

Setelah itu, janda miskin itu bertemu dengan seorang Majusi. Dia pun meminta bantuannya. Orang Majusi itu mengajak ke rumahnya, memuliakannya, dan memberinya uang dan pakaian.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.. Semua orang mendatangi Nabi dan beliau menyambut mereka dengan baik. Ketika tiba giliran lelaki itu menghadap Rasulullah, beliau mengusirnya dan menyuruhnya pergi.
Lelaki itu berteriak, "Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga.
Rasulullah bertanya, "Mana buktinya?"
Lelaki itu tersadar, Rasulullah Saw. menyindirnya karena dia telah meminta bukti saat dimintai pertolongan. Dia menangis. Rasulullah lalu menunjukkan sebuah taman indah dan hunian megah di surga. "Lihat ini," tutur Rasul Saw., "seharusnya semua ini kuberikan untukmu. Namun, karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, kuberikan semua ini kepada seorang Majusi."

Pagi harinya lelaki itu terbangun. Dia mencari janda miskin itu. Ternyata dia menemukannya sedang berada di rumah seorang Majusi. "Ikutlah kau bersamaku," pinta lelaki itu kepada si janda. Namun, orang Majusi tidak mau menyerahkannya. Aku akan beri kau ribuan dinar asal kau mau menyerahkannya," pinta si lelaki muslim. Orang Majusi tetap tidak mau.
Lelaki itu akhirnya jengkel dan berkata, "Janda ini orang Islam. Seharusnya yang menolongnya sesama muslim juga!"

Orang Majusi itu lalu bercerita, "Tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah. Dia mengatakan akan
memberikan kepadaku surga yang semula akan diberikan kepadamu. Ketahuilah, pagi ini ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikutnya karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang pencintanya."

#Shalawat

Sekelumit Kisah Masa Depan


      Rasulullah Saw. pernah menuturkan sekelumit "kisah masa depan" kepada para sahabat. Kelak Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan. Pada hari itu matahari mendekat kepada mereka dan manusia ditimpa kesusahan serta penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.
Di antara mereka ada yang berkata, "Tidakkah kalian lihat apa yang telah menimpa kita, tidakkah kalian mencari orang yang bisa memberikan syafaat kepada Rabb kalian?"
Yang lain lalu menimpali, "Bapak kalian adalah Adam a.s." Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata, "Wahai Adam, Anda bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau syafaati kami kepada Rabb-mu? Apakah tidak kau saksikan apa yang menimpa kami?"
Maka Adam berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk mendekati pohon (khuldi), tetapi aku langgar. Nafsi nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh a.s."
Lalu mereka segera pergi menemui Nuh a.s. dan berkata, "Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, dan Allah telah memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur ('abdan syakura), tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat apa yang terjadi pada kami? Tidakkah engkau beri kami syafaat menghadap Rabb-mu?"
Maka Nuh berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa, yang telah kugunakan untuk mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim
Mereka segera menemui Nabi Ibrahim dan berkata, "Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi, syafaatilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang menimpa kami?"
Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah berbohong tiga kali. Na/si nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Musa a.s.!"
Kemudian mereka segera pergi ke Nabi Musa, dan berkata, "Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberikan kelebihan kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafaatilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?"
Musa berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Isa a.s.!"
Kemudian mereka pergi menemui Nabi Isa, dan berkata, "Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam
gendongan. Mohonkanlah syafaat bagi kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?"
Nabi Isa berkata, "Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad Saw.!"
Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad Saw. dan berkata, "Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafaatilah kami kepada Rabb-mu, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?"
Lalu Nabi Saw. pergi menuju bawah 'Arasy. Di sana beliau bersujud kepada Rabb, kemudian Allah membukakan kepadanya puji-pujian-Nya, dan betapa indahnya pujian-Nya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorang pun sebelum Nabi Muhammad. Kemudian Allah Swt. berkata kepada Muhammad, "Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan berilah syafaat, niscaya akan dikabulkan!"
Nabi mengangkat kepala dan berkata, "Umatku, wahai Rabb-ku. Umatku, wahai Rabb-ku. Umatku, wahai Rabb-ku!"
Kemudian Allah menyampaikan kepadanya, "Wahai Muhammad, masukkan ke surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari sekian pintu surga, mereka memiliki hak bersama dengan manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu surga," (HR Bukhari dan Muslim).
Sobat, renungkanlah! Betapa kita sangat membutuhkan Rasulullah Saw. agar bisa menyelamatkan kita dari berbagai kegelisahan yang terjadi pada Hari Kiamat.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (yushalluna) untuk Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya (wasallimu taslima).
(QS Al-Ahzab [33]: 56)

Perbanyaklah Bershalawat

Abdullah bercerita, "Kami mempunyai seorang pembantu yang mengabdi kepada raja. Orang itu dikenal suka berbuat kerusakan. Suatu malam, saya mimpi melihatnya sedang bergandengan tangan dengan Nabi Saw. Lalu saya berkata, 'Wahai Nabi Allah, lelaki itu orang fasik. Bagaimana mungkin baginda sudi bergandengan dengannya?' Maka, Rasulullah Saw. bersabda, Aku telah mengetahuinya. Namun, dosa-dosanya telah berlalu, dan aku telah memberinya syafaat.'
Saya bertanya, 'Wahai Nabi Allah, dengan perantara apa orang itu sampai pada derajat itu?' Beliau menjawab, 'Dengan memperbanyak shalawat kepadaku. Sesungguhnya setiap malam menjelang tidur, orang itu bershalawat kepadaku sebanyak 1.000 kali.'
Abdullah berkata, 'Pada pagi harinya, tiba-tiba saya menjumpai lelaki itu sedang menangis. Setelah masuk dan duduk di hadapanku, dia berkata, 'Wahai Abdullah,
rentangkanlah tanganmu karena Nabi Saw. telah menyuruhku agar aku bertobat sambil memegang tanganmu. Beliau juga telah menceritakan kepadaku dialog antara dirimu dan beliau mengenai keadaanku tadi malam.' Setelah dia bertobat, aku menanyakan ihwal mimpinya. Orang itu menjawab, 'Nabi Saw. mendatangiku, lalu menggenggam tanganku. Beliau bersabda, 'Bangunlah, aku akan memintakan syafaat 
untukmu kepada Tuhanku karena bacaan shalawatmu kepadaku.' Lebih lanjut orang itu berkisah, 'Maka, saya pun berdiri bersama Nabi Saw. dan beliau memberikan syafaatnya kepadaku. Lalu beliau berpesan kepadaku, 'Jika pagi hari telah tiba, maka datangilah Abdullah dan bertobatlah di atas tangannya, serta konsistenlah dengan pertobatanmu.

Demikianlah. Mencintai Rasul Saw. tak akan bertepuk sebelah tangan. Beliau bersabda, "Perbanyaklah bershalawat kepadaku, sebab shalawat kalian dapat menghapus dosa-dosamu, meninggikan derajatmu, dan menjadi syafaat bagimu di hadapan Tuhanmu?"

Sobat, kepada umatnya yang dicintainya, kepada kita semua, beliau berpesan untuk bershalawat kepadanya. Bukan
karena beliau mementingkan diri sendiri. Tanpa doa dari siapa pun, kedudukannya di sisi Allah takkan tertandingi oleh makhluk mana pun. Pesannya untuk bershalawat kepadanya lahir karena kecintaannya kepada kita.

Duhai, betapa mulianya engkau, ya Rasulullah. Engkau meminta kami berdoa untukmu, padahal apa artinya doa kami, shalawat kami, di hadapan kebesaranmu? Engkau pesankan kami bershalawat bagimu demi kebahagiaan kami juga. Bukankah kami hanya bisa dekat kepada Tuhan melalui cinta padamu? Bukankah kami hanya bisa naik ke tempat yang tinggi bergantung pada kerinduan atasmu? Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa sallim.




Wednesday, July 9, 2014

Maqolah 24



Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan yang dimaksud dari dunia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah / tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Monday, July 7, 2014

Maqolah 22



Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepada Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 23



(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan / sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya). Artinya, bahwa ekspresi ketaatan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk / dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Thursday, July 3, 2014

Maqolah 22



Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepada Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 21



(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati diantara manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati. Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.

Sunday, June 29, 2014

Keutamaan Ramadhan


Ramadhan  terdiri   dari   lima   huruf,   yakni   ra', mim, dhad, alif,  dan nun. Ra' berasal dari  kata  rahmat dan  rafah (kesejahteraan), mim dari  kata  majazat (keistimewaan), munnah (pemberian), serta  mahabbah (cinta),  dhad  dari  kata  dhaman  li ats-tsawab (jaminan pahala), alzf dari kata u!fah (ikatan), dan nun dari kata  nur (cahaya)  serta  nawal (capaian).

Jika kamu menikmati bulan  Ramadhan dengan sebenar benarnya, dan beramal secara benar, maka semua  keutamaan itu akan  menghampirimu di dunia  untuk menguatkan serta  menerangi  hatimu. Dan di akhirat kelak,  kamu  akan  mendapatkan kenikmatan yang  belum  pernah terlihat oleh  mata, terdengar oleh telinga, serta  terlintas dalam  pikiran  manusia.

Sebagian besar di antara kalian tidak memiliki ilmu mengenai puasa.  Mulianya sebuah   urusan   itu  tergantung  dengan kadar kemuliaan sosok yang memerintahkan. Setiap  orang  yang  tidak memiliki  ilmu  dari-Nya, tidak   juga dari  para  nabi-Nya, rasul Nya,  dan  hamba-Nya yang  shalih,   maka  bagaimana ia akan memiliki ilmu  mengenai bulan  yang mulia  ini.

Sebagian besar diantara kalian melihat Bapak-bapak, Ibu ibu dan para tetangga sedang berpuasa, kemudian kalian ikut berpuasa sebagai kebiasaan, bukan ibadah. Kalian  menyangka bahwa puasa itu hanyalah sekedar menahan diri dari makanan dan minuman. Kalian sama sekali tidak menjalankan syarat serta rukun berpuasa. Wahai kaum,  tinggalkanlah kebiasaan dan teruslah beribadah,  berpuasalah karena- Nya,   janganlah  bosan menjalankan  puasa   pada   bulan   Ramadhan  serta   mengisinya dengan  ibadah. Beramallah dan ikhlaslah dalam a.malan-amalan kalian,  kerjakanlah shalat  Tarawih,  serta  nyalakanlah lampu di dalam rumah rumah kalian, karena itu akan menjadi cahaya pada hari kiamat.

Bila kalian  menaati Allah Swt. pada bulan Ramadhan dan memuliakannya, maka   bulan   tersebut  akan   memberikan  syafaat   kepada  kalian   pada   Hari Akhir. Tunaikanlah hak puasa,  agar Dia menunaikan hak  kalian.  Penuhilah perintah-Nya, maka  Dia  akan  memenuhi  kebutuhan kalian,  mempersaksikan kalian di  sisi-Nya,   memuji  kalian,   serta melimpahkan karunia-Nya, kemulian-Nya, Nikmat-Nya, pemberian-Nya, kesejahteraan-Nya, serta pemeliharaan-Nya kepada kalian.

Celakalah dirimu, apa yang bisa memberikan manfaat  bagimu ? kamu berpuasa dan berbuka dengan makanan yang haram dan tidur dengan melakukan maksiat pada malam malam yang mulia. Celakalah dirimu, kamu berpuasa karena riya atau kemunafikan, yakni selama selama berada ditengah tengah khalayak masyarakat, jika sedang sendirian, kamu berbuka (tidak berpuasa). Jika bertemu mereka, kamu berkata “Aku sedang berpuasa”. Sembari mengaku berpuasa, sepanjang siang kamu mencela, menuduh, berjanji dengan janji janji yang dusta serta mengambil harta orang lain dengan penipuan, berkilah, dan merampok.

Puasamu sama sekali tidak memberikan manfaat kepadamu, dan tidak bisa dianggap sebagai puasa. Rasulullah Saw bersabda :
"Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa pun dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga. Berapa banyak orang yang menjalankan qiyamul lail yang tidak mendapatkan apa pun dari qiyam-nya itu, kecuali kelelahan dan begadang.'”

Di  antara  kalian,  ada  yang  menjadi  seorang  muslim  secara  zhahir,    namun  batinny seperti    par penyembah   berhala. Celakalah kalian,  perbaruilah keislaman kalian, taubat kalian, permintaan ampun kalian, dan keikhlasan kalian,  agar Penguasa kalian   menerima  kalian,   serta   memaafkan  dosa-dosa  kalian yang  telah  berlalu.

Wahai   orang-orang  yang berpuasa,  bersyukurlah  kepada Tuhan   kalian.    Bagaimana  pun    juga,    Dia lah  yang    sudah membuat kalian  bisa berpuasa dan  mampu menjalankannya. Barangsiapa  yang  berpuasa,  maka   hendaklah  berpuasa pendengaran, penglihatan, kedua  tangan, kaki, semua anggota badan,  serta  hatinya. Hendaklah ikut  berpuasa semua   zhahir dan   batin.   Jika  kalian   berpuasa,  maka   tinggalkanlah  sikap dusta, kesaksian  palsu,  ghibah, namimah, adu domba, serta mengambil harta  orang  lain.

Kalian  berpuasa agar  bisa menyucikan dan  membersihkan diri  dari  segala  dosa. Jika   kalian  melakukan semua  ini  maka manfaat apakah yang bisa diberikan oleh puasa kalian. Rasulullah Saw. bersabda,Puasa  adalah tameng”   Artinya, tameng yang akan  melindungi pelakunya. Oleh  karena  itu,  tameng disebut juga  benteng, karena  dapat melindungi pemiliknya dan menghalanginya dari  anak  panah. Orang yang  kehilangan akalnya  disebut majnun (gila),  karena akalnya tertutup.  Puasa merupakan benteng bagi  orang  yang  menjalankannya dengan wara',  takwa,   dan  ikhlas.  Jika  sudah  seperti itu  maka orang yang  menjalankan  puasa  akan  dijauhkan  dari  segala   bahaya dunia  dan akhirat. Wahai  orang-orang yang berpuasa, bantulah orang-orang fakir  dan  miskin  dengan  bagian  makanan kalian ketika  berbuka, karena  hal  itu  merupakan pahala  kalian  yang paling  banyak serta  tanda diterimanya puasa  kalian.

Semua  ini fana;  tidak  ada yang  kekal,  kecuali  sesuatu  yang kalian  berikan  untuk akhirat kalian.  Berikanlah selama kalian mampu   memberikan.  Pada   hari   kiamat  kelak,   kalian   akan dikumpulkan dalam  keadaan lapar, haus, telanjang, takut, malu, dan  hati  berdebar-debar. Barang  siapa  yang  memberi makan  di dunia,  maka  akan  diberi  makan pada hari kiamat. Barang siapa yang memberi minum di dunia,  maka  akan  diberi  minun pada hari kiamat . Barang  siapa  yang  memberikan pakaian di dunia, maka akan  diberikan pakaian pada  hari  tersebut. Barang siapa yang  takut kepada Al-Haq (Azza wa jalla) serta  malu  kepada­Nya di  dunia,  maka  ia aman  pada  hari  kiamat  kelak.   Barang siapa  yang mengasihi di  dunia,  maka  Dia  akan  mengasihi nya pada hari kiamat.

Dalam  bulan  Ramadhan, ada  Lailatul   Qadar. Malam   tersebut  merupakan  malam  paling    agung  dalam    satu   tahun yang  memiliki   tanda-tanda bagi  orang-orang yang  shalih.   Diantara para hamba Allah Swt. , ada yang  dibukakan pandangan mereka, sehingga  mereka bisa melihat cahaya  Ilahi yang  berada di tangan para malaikat, serta dapat menyaksikan cahaya wajah mereka dan pintu pintu langit. Sebab pada malam itu, Dia menampakan diri-Nya kepada penduduk bumi.

Wahai kaum, jangan sampai cita cita kalian berada dalam makanan kalian, karena hal itu merupakan cita cita yang rendah. Kalian diuji dengan makanan dan minuman, serta sudah dicukupkan dalam masalah rezeki. Maka janganlah menuduh Allah Swt. dengan keburukan. Maha Suci Dzat Yang Maha  Berdiri,   tidak  makan dan  minum, memberi rezeki  dan tidak  diberi  rezeki, memberi makan dan  tidak  diberi  makanan, Maha  Berdiri  yang  tidak  memiliki kerongkongan, serta  tidak makan, minum, dan  tidur.  

Kelobaan kalian  bertambah, namun wara' serta amanah kalian  sedikit  sekali. Celakalah  kamu dunia  ini  hanyalah  sesaat,   maka  isilah dengan  ketaatan.  Wahai    anakku,  wara'-lah    dalam    semua keadaanmu,  baik  untuk  urusan   dunia   maupun  akhirat. Jika sudah  demikian,          kamu   akan beruntung. Apabila       kamu wara'  maka  kamu  tidak  akan  celaka,  karena  Allah  Swt.  ridha kepadamu.

Sebagian orang orang shalih yang telah meninggal dunia pernah ditemui dalam sebuah mimpi. Mereka ditanya “ Apa yang Allah Swt. lakukan terhadapmu ?”
ia menjawab, “Dia mengampuniku”
lalu ia ditanya lagi “Kenapa?”  
Ia menjawab, “Pada suatu hari, aku berwudhu di kamar mandi dan melangkah menuju masjid, Tatkala sudah mendekati masjid, aku melihat di kakiku ada bagian yang tidak tersentuh air sebesar satu dirham. Kemudian aku kembali lagi dan membasuh bagian itu. Dia berfirman kepadaku “Aku sudah mengampunimu karena penghormatanmu terhadap Syariat-Ku”

Di manakah posisi kalian di antara kaum yang lambung mereka jauh dari tempat tidur dan tidak bisa tidur. Bagaimana mereka akan tidur, sementara ketakutan membuat mereka resah, rasa kantuk menghilang dari mata mereka, dan kedekatan kepada Allah Swt. yang mereka dapatkan dalam qiyam al-lail telah memaksa mereka. Mereka tidak tidur, kecuali jika kelelahan dalam sujud mereka, Maha suci Dzat yang memberikan mereka tidur seperti itu, sehingga tubuh mereka bisa istirahat. Dengan kondisi yang demikian, lambung mereka berusaha diangkat dari tempat tidur dan tidak bisa menempel di atasnya, terkadang karena  takut:, berharap, malu,  dan  merindu. Alangkah sedikitnya rasa takut kalian  kepada-Nya.
  
Apabila Rasulullah Saw. mengerjakan shalat, maka beliau mendengar suara gemuruh di Dadanya, layaknya gemuruh kuali. Jika Nabi Ibrahim As mngerjakan shalat maka gemuruh  dadanya  terdengar dari jarak satu mil, yaitu sepertiga farsakh. Mereka merasa takut, padahal mereka termasuk golongan para shiddiq, Khalil, pencinta dan penyambut dakwah.
Aku melihat kalian berputar-putar di tengah saja, keluar dari jamaah. Rasa senang kalian dalam ketaatan kepada-Nya sedikit, rasa jauh kalian dari ketaatan itu banyak, kalian merasa cukup dengan sedikit kebaikan, dan banyaknya dunia yang kalian apitkan tidak membuat kalian kenyang. Ini bukanlah amalan seseorang yang mengetahui bahwa ia akan mati dan bertemu Tuhannya, kemudian amalan-amalannya akan diperlihatkan kepadanya pada hari kiamat. Ini bukanlah amalan seseorang yang takut dengan muhasabah dan munaqasyah. Ini bukanlah amalan seseorang yang ingin masuk ke dalam kuburnya, yang tidak mengetahui apakah lubang itu berupa neraka ataukah faman surga.
Kaum tersebut berpuasa dan mengerjakan qiyam al-lail. Jika lelah, mereka menjatuhkan diri ke tanah, kemudian istirahat. Lambung mereka jauh dari tempat tidur, kemudian mereka duduk dan kembali melakukan amalan yang mereka lakukan sebelumnya, yaitu berdoa kepada Tuhan mereka dalam keadaan takut dan berharap; takut ditolak dan berharap diterima. Mereka berkata, "Wahai Tuhan, kami mengerjakan amalan yang benar dan sempurna dengan ikhlas, serta jauh dari pandangan nafsu dan rasa ujub." Mereka takut amalan yang mereka kerjakan ditolak. Kemudian, mereka berharap amalan tersebut diterima, karena mereka mengetahui bahwa Dia Maha Mulia, menerima yang sedikit, memberi yang banyak, menerima yang hina dan rendah, serta memberikan yang baik. Dia menerima barang yang bercampur-aduk dan menyempurnakan takaran.
Rasa takut adalah 'azimah (lawan rukhshah/keringanan), dan harapan adalah rukhshah. Kaum itu berada di antara rasa takut dan berharap. Terkadang, mereka berada dalam keadaan seperti ini dan kadang pula dalam keadaan seperti itu terkadang bersama yang zhahir dan kadang pula bersama yang batin, terkadang bersama kejernihan dan kadang pula bersama kekeruhan, terkadang mulia dan kadang pula menjadi hina, terkadang memberi dan kadang pula tidak memberi. Mereka tetap berada dalam keadaan seperti itu, sampai datang satu waktu dan hati mereka sampai kepada Al-Khaliq 'Azza waJalla. Ketika itu, tidak ada satu keringanan pun yang tersisa pada diri mereka, begitu juga dengan kekeruhan, yang ada hanyalah 'azimah serta kejernihan yang sempurna.
Harta membuatmu lelah untuk sampai ke pintu Allah Swt. Keluarga mengantarkanmu ke kuburan, dan mereka kembali lagi. Sedangkan, amalanmu akan menemanimu dan masuk bersamamu ke dalam kubur serta tidak meninggalkanmu Wahai orang-orang yang lalai, kurangilah teman yang akan meninggalkan kalian, perbanyaklah sesuatu yang akan menemani dan tidak meninggalkan kalian. Perbanyaklah amal shalih Berpuasalah dan ikhlaslah dalam puasa kalian. Shalatlah dan ikhlaslah dalam shalat kalian. Berhajilah dan ikhlaslah dalam haji kalian. Berzakatlah dan ikhlaslah dalam zakat kalian. Ingat lah Tuhan kalian dan ikhlaslah dalam berdzikir mengingat Nya. Layanilah orang-orang yang shalih serta mendekatlah kepada mereka. Ikhlaslah dalam melayani mereka. Sibuklah dengan aib diri kalian sendiri, dan berpalinglah dari aib selain kalian. Perintahkanlah kebaikan serta jauhilah kemungkaran Janganlah menyebarkan aib manusia dan janganlah pula merobek tabir pelindung mereka. Sibuklah dengan diri kalian sendiri dan jangan sibuk dengan selain kalian. Janganlah terlalu banyak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kalian, karena Rasulullah Saw. bersabda:
"Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berarti baginya”
Aib-aibmu perlu kamu perhatikan, dan aib-aib selainmu tidak perlu kamu perhatikan. Taatlah dan jangan bermaksiat. Bertauhidlah serta jangan mempersekutukan Allah Swt. Jika kamu berpegang dengan makhluk dan segala perantara maka itu adalah kesyirikan.
Celakalah dirimu, kamu telah gila. Kemurkaan dan berpaling tidak akan memberikanmu apa pun, bahkan akan menghilangkan segala sesuatu dari dirimu. Kemarahanmu tidak akan memajukan apa pun, serta tidak pula memundurkannya. Ada dan hilangnya ujian berada pada kekuasaan Allah Swt. Dia-lah yang menurunkan penyakit dan obat; menciptakan penyakit dan obatnya. Jika Dia mengujimu maka itu hanya untuk mengenal dirimu sendiri serta memperlihatkan ayat-ayat-Nya dan kemampuan-Nya kepada dalam menurunkan serta menghapus ujian. Semua ujian merupakan jalan untuk mengenalkan dan mengetuk pintu-Nya, mengumpulkan antara Hati dengan-Nya, serta meninggikan posisi/Kedudukanmu. Janganlah kalian membenci ujian, karena ada berbagai kebaikan dalam sesuatu yang kalian benci. Janganlah bertanya kenapa dan bagaimana. Bila kalian bersabar menghadapi segala ujian maka kalian dibersihkan dari segala dosa, baik zhahir maupun batin. Rasulullah Saw. bersabda:
"Musibah itu akan terus menimpa seorang mukmin, sampai ia berjalan di muka bumi dan tidak ada satu dosa pun yang dipikulnya.”
Kesalahan-kesalahan seorang mukmin yang mendapatkan ujian akan diangkat dari lembaran-lembaran amalnya dan para malaikat juga melupakannya. Sebagian orang-orang yang shalih berkata, "Tuhanku, sekalian manusia mencintai-Mu karena nikmat-Mu, dan aku mencintai-Mu karena ujian-Mu."
Celakalah dirimu, jika kamu tidak ridha dengan qadha Allah Swt. maka janganlah memakan rezeki-Nya, carilah Tuhan selain-Nya. Dia berfirman:
"Wahai anak Adam, jika kamu tidak ridha dengan qadha-Ku serta tidak sabar menghadapi ujian-Ku, maka carilah Tuhan selain-Ku."
Bersabarlah bersama Tuhan kalian, karena kalian tidak memiliki Tuhan selain-Nya, dan tidak ada selain-Nya Tuhan kedua, tidak ada Tuhan selain-Nya, tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada pemberi rezeki selain-Nya. Bersabarlah bersama Dzat Yang Maha Esa dalam keinginan-Nya.
Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang tenang, ridha, mendapatkan taufiq, muslim dan menyerahkan diri. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, sertu jagalah kami dari azab neraka.