Tuesday, November 5, 2013

Engkau Akan Bersama dengan Orang yang Kaucintai

La yu'minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaiyya min nafsihi
"Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri ...."
—Hadis Nabi

Suatu ketika, Nabi Isa a.s. berdakwah di sebuah kota kecil. Orang-orang meminta beliau untuk menunjukkan mukjizatnya. "Mukjizat apa yang kalian inginkan?" tanya Nabi.
Mereka menjawab, "Hidupkan orang yang sudah mati."
Mereka pun pergi ke makam kota dan berhenti di depan sebuah kuburan. Sang Nabi pun berdoa kepada Tuhan agar orang yang sudah mati itu dihidupkan kembali. Orang mati tersebut bangkit dari kuburnya, melihat-lihat sekelilingnya, dan berteriak, "Keledaiku, mana keledaiku?"
Semua yang hadir menjadi heran. Lalu Nabi Isa menjelaskan, dahulu dia adalah orang miskin. Kekayaan yang sangat dia hargai pada waktu itu adalah keledainya. Semasa hidupnya dia disibukkan dengan keledai itu. Nabi Isa berpesan, "Apa pun yang paling kau perhatikan akan menentukan apa yang akan terjadi padamu saat kebangkitan. Di akhirat, kalian akan bersama dengan apa dan siapa pun yang kalian cintai."1
Sobat pembaca, apa kira-kira yang bakal kita teriakkan kelak kala kita dibangkitkan dari kubur? Kita bisa menebaknya sekarang. Mungkin uang, mobil, atau rumah baru. Boleh jadi, penyanyi idola kita. Bisa juga partai atau kursi kekuasaan. Ya, apa pun yang mendominasi hari-hari kita, itulah yang bakal kita damba kelak, baik kita sadari atau tidak. Dalam wacana psikologi mutakhir, begitulah hukum tarik-menarik (law of attraction) terjadi. Segala sesuatu yang kita pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan konsentrasi, baik hal positif maupun negatif, akan datang ke dalam kehidupan kita.2 Dan, menurut hukum ini pula, sesuatu akan menarik pada dirinya segala hal yang satu sifat dengannya.' Kemiripan menarik kemiripan. Orang baik akan berkumpul dengan orang baik. Orang jahat akan bersatu dengan sesama orang jahat.
Namun, coba jernihkan pikiran kita sejenak. Biarkan hati kita tetirah sesaat dari hiruk pikuk kesibukan kita. Maka, jauh di relung kesadaran kita akan tebersit secercah harapan: kelak kita ingin digabungkan dengan kafilah Rasulullah. Meminjam bahasa firman Tuhan, kita ingin ... bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah: para nabi, shiddtqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan merekalah sebaik-baiknya teman, (QS Al-Nisa [4]: 69).
Seorang laki-laki Arab dusun, datang menemui Nabi Saw. dan bertanya, "Kapan kiamat itu?" Mendapatkan pertanyaan itu, Rasulullah balik bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk itu?" Dia menjawab, "Demi Allah, saya tidak mempersiapkan amal yang banyak, baik berupa shalat atau puasa. Hanya saja saya mencintai Allah dan Rasulnya." Nabi Saw. bersabda,
"Engkau akan bersama orang yang kaucintai." Kata Anas bin Malik, "Aku belum pernah melihat kaum Muslim berbahagia setelah masuk Islam karena sesuatu seperti bahagianya mereka ketika mendengar sabda Nabi itu," (HR Al-Bukhari).4
"Para psikolog saat ini membuktikan, bahwa karakter manusia dapat diubah secara menyeluruh dengan pengulangan kata-kata tertentu. Ternyata hasil yang dicapai melalui kata-kata itu mengagumkan."
—Inayat Khan

Sebagaimana orang Arab dusun itu, sungguh kita belum mempersiapkan bekal buat Hari Kiamat nanti. Kecuali kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita ingin Allah menghimpun kita bersama orang-orang yang kita cintai. Namun, apa bukti bahwa kita mencintai Rasulullah?