Sunday, July 28, 2013

Persahabatan dan Orang yang Pantas Dijadikan Sahabat


45
]angan kautemani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan
Allah.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —

Seorang murid dilarang berteman dengan orang semacam itu se­kalipun orang itu adalah ahli ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya. Sebaliknya, kaudisarankan berteman dengan orang yang membuatmu bersemangat dan ucapannya membimbingmu ke jalan Allah.
Misalnya, orang yang tekadnya tinggi yang senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk, atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam setiap perkara tidak bertawakal kepada selain-Nya sehingga di matanya seluruh manusia tak berarti apa-apa, tidak bisa mendatangkan bahaya ataupun manfaat. Bahkan, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap amalnya, ia tetap berjalan pada jalur syara', tanpa melebih-lebihkannya atau menguranginya. Inilah sifat orang-orang 'arif yang mengenal Allah.
Menemani orang-orang seperti itu, walaupun ibadahnya sedikit dan amalan sunahnya tidak banyak, amat dianjurkan bagi seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia sebab manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.
Adapun orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat di atas, kita hanya diperbolehkan bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih, karena tidak ada gunanya bergaul dengan mereka. Jika mereka sederajat denganmu, pergaulanmu dengan mereka tidak akan mendatangkan bahaya apa-apa bagimu. Namun, jika derajat mereka berada di bawahmu, Ibnu Atha illah memberikan nasihatnya melalui hikmah berikut.

46
Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk daripada dirimu.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —
Artinya, berteman dengan orang yang kualitas kebaikannya berada di bawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kaubangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kaurela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu adalah pangkal segala keburukan.
Boleh saja kauberteman dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.
Di sini Ibnu Athaillah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang 'arif terbagi menjadi dua: pertemanan yang didasari keinginan dan pertemanan yang mengharap berkah.
Pertemanan yang didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syeikh atau gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.
Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Di sini tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaimana ia berpegang pada batasan-batasan syara'. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah mereka raih.