Sunday, June 23, 2013

Tentang Iblis dan Azab yang Diterimanya

Alah swt telah berfirman, “Dan jika karnu berpaling" dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, "maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali 'Imran [3]: 32) yakni tidak memberikan ampunan kepada mereka dan tidak pula menerima taubatnya, sebagaimana Dia tidak menerima taubat iblis karena kekafiran dan kesombongannya. Allah mengampuni Adam as. dan menerima taubatnya, karena Adam mengakui dosa dan kesalahan yang dilakukannya serta menyesalinya dan mencela dirinya. Meskipun apa yang dilakukannya bukanlah dosa yang sebenarnya, karena para nabi 'alahimussalam di-ma'shum (dipelihara) dari dosa, selamanya mereka tidak pernah melakukan kedurhakaan, baik sebelum kenabian maupun sesudahnya menurut pendapat yang shahih. Akan tetapi, di sini diungkapkan dalam bentuk dosa oleh karena itu Adam dan Hawa 'alahimas salaam mengatakan dalam do'a mereka sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:
"Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi(QS. Al-A'raaf [7]: 23).
Adam menyesali perbuatannya dan bersegera melakukan taubat. Ia tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (Q5. Az-Zumar [39]: 53).

Berbeda halnya dengan iblis. Ia tidak mengakui dosa-dosanya, tidak menyesalinya, tidak mencela dirinya sendiri, tidak segera bertaubat dan putus asa dari rahmat Allah lebih dari itu ia tetap sombong dan angkuh. Oleh karena itu, siapa pun yang sepak terjangnya seperti iblis, taubatnya tidak akan diterima, dan siapa pun yang sikapnya seperti Adam, Allah mau menerima taubatnya. Sesungguhnya setiap kedurhakaan yang sumbernya berasal dari kesenangan nafsu, masih punya harapan untuk diampuni, sedangkan setiap kedurhakaan yang bersumberkan dari kesombongan tidak dapat diharapkan akan beroleh ampunan. Kesalahan yang dilakukan oleh Adam bersumberkan dari kesenangan nafsunya, sedangkan kedurhakaan iblis berumberkan dari sikap sombongnya.
Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa iblis datang kepada Musa as. lalu berkata kepadanya, "Engkaukah orang yang dipilih oleh Allah menjadi rasul-Nya dan mengajakmu berbicara langsung dengan-Nya?" Musa menjawab, "Benar, lalu apa maumu dan siapakah sebenarnya kamu ini?" Iblis berkata,."Hai Musa, katakanlah kepada Rabbmu, bahwa salah satu dari makhluk-Nya meminta agar taubatnya diterima." Maka Allah menurunkan wahyu kepada Musa, “Hai Musa, katakanlah kepadanya bahwa sesungguhnya Aku mengabulkan apa yang dimintanya, namun perintahkanlah kepadanya agar mau bersujud ke kuburan Adam, jika ia mau bersujud kepadanya niscaya Kuterima taubatnya dan Kuampuni dosa-dosanya." Maka Musa pun menyampaikan hal itu kepadanya, dan ternyata setelah mendengar jawabannya iblis marah dan kesombongannya muncul seraya mengatakan, "Hai Musa, dahulu ketika di surga aku tidak mau sujud kepadanya, maka bagaimana aku mau bersujud kepadanya setelah ia mati?."
Menurut suatu riwayat disebutkan bahwa siksa yang ditimpa- kan kepada iblis di dalam neraka sangat keras, lalu dikatakan kepada-nya, "Bagaimana kamu rasakan azab Allah?" Iblis menjawab, "Terasa sangat keras sekali." Dikatakan kepadanya bahwa sesungguhnya Adam berada di taman surga, maka bersujudlah kamu kepadanya dan minta maaflah agar kamu mendapatkan ampunan." Namun, iblis menolak, maka azab yang ditimpakan kepadanya diperkeras sebanyak tujuh puluh ribu kali lipat azab yang ditimpakan kepada semua penghuni neraka.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah swt mengeluarkan iblis dari neraka setiap seratus ribu tahun, dan Allah pun mengeluarkan Adam dari surga, lalu memerintahkan kepada iblis untuk bersujud kepada Adam, namun iblis menolak, kemudian iblis dikembalikan ke neraka. Wahai saudara-saudaraku, jika kamu ingin selamat dari iblis, maka berpegang teguhlah kepada Tuhan dan mintalah perlindungan kepada-Nya.
Pada hari kiamat nanti diletakkanlah sebuah kursi dari api untuk tempat duduk iblis, sedangkan laknat dari Allah ditimpakan di atasnya, dan berkumpullah di sekelilingnya semua setan dan orang-orang kafir. Iblis mempunyai suara seperti ringkikan keledai, ia mengatakan, "Hai penduduk neraka, apakah sekarang kalian merasakan azab yang telah diancamkan oleh Tuhan kepada kalian?" Mereka menjawab, "Ya benar." Kemudian iblis berkata, "Sekarang aku benar-benar merasa putus asa dari rahmat Allah." Lalu Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk memukuli iblis dan para pengikutnya dengan gada api, sehingga mereka berjatuhan ke dalam neraka selama empat puluh tahun, dan mereka tidak mendengar adanya perintah untuk keluar dari neraka untuk selama-lamanya, semoga Allah melindungi kita dari neraka.
Menurut riwayat lain disebutkan bahwa pada hari kiamat iblis dihadapkan dan diperintahkan agar didudukkan di atas kursi api, sedangkan di leher iblis terdapat kalung laknat dari Allah. Lalu Allah swt memerintahkan kepada para malaikat Zabaniyah (juru siksa) untuk menyeret iblis dari kursinya dan mencampakkannya ke dalam neraka. Mereka bergelantungan untuk menariknya namun mereka tidak mampu, lalu Allah memerintahkan kepada Jibril bersama dengan delapan puluh ribu malaikat untuk membantunya, namun mereka masih belum mampu. Kemudian Allah memerintahkan kepada Israfil, selanjutnya 'Izrail yang masing-masing dari mereka dibantu oleh delapan puluh ribu malaikat, namun mereka masih belum mampu juga. Allah swt berfirman, "Seandainya berkumpul beberapa kali lipat jumlah semua malaikat yang telah Kuciptakan untuk menyeret iblis dari kursinya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, bila kalung laknat-Ku masih berada di leher iblis."
Di dalam suatu riwayat disebutkan bahwa nama iblis di langit yang terdekat adalah 'abid (ahli ibadah), di langit yang kedua zahid (ahli zuhur), di langit ketiga al 'arif (ahli makrifat), di langit yang keempat al wali (kekasih), di langit kelima at taqiy (ahli takwa), di langit yang keenam al khazin (juru kunci) dan di langit yang ketujuh 'azazil, sedangkan di lauh mahfuzh disebut iblis. Padahal kesudahan dari perkara iblis (dengan gelar yang sedemikian banyaknya) membuatnya tenggelam di dalam kelalaian. Ketika Allah memerintahkan kepadanya untuk sujud kepada Adam, iblis membantah perintah Allah dan mengatakan, “Apakah Engkau lebih mengutamakan Adam daripadaku, padahal Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan diriku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah liat."
Maka Allah berfirman, “Aku berbuat menurut apa yang Kukehendaki." Iblis merasa dirinya lebih mulia dan berpaling dari Adam dengan perasaan sombong dan angkuh, sedangkan para malaikat bersujud dalam waktu yang cukup lama. Ketika mereka mengangkat kepala dari sujudnya melihat iblis tidak mau sujud, dan ternyata mereka mendapat taufik untuk bersujud, lalu mereka bersujud lagi kepada Allah untuk kedua kalinya sebagai ungkapan syukur atas taufik-Nya. Akan tetapi, iblis tetap berdiri dan terlihat berpaling dari mereka tanpa ada keinginan untuk mengikuti sikap mereka, dan tidak pula merasa menyesal dengan sikapnya, maka Allah mengutuk rupa iblis yang tadinya sangat indah cemerlang diubah menjadi rendah seperti babi. Allah menjadikan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti punuk unta jantan yang besar, wajahnya yang terletak di antara kedua punuknya rupanya mirip dengan kera, kedua matanya terbelah tegak di sepanjang wajahnya, 1 kedua lobang hidungnya terbuka seperti kendi tukang bekam, kedua bibirnya mirip dengan bibir banteng, gigi taringnya keluar seperti gigi taring babi hutan, dan pada dagunya terdapat tujuh lembar rambut.

Allah mengusirnya dari surga, dari langit dan bahkan dari bumi ke pulau yang terpencil, sehingga tidak dapat masuk ke daratan bumi, melainkan dengan sembunyi-sembunyi. Laknat yang ditimpakan kepadanya terus berlangsung sampai hari kiamat, sebab iblis termasuk makhluk yang kafir. Perhatikanlah, semula iblis memiliki rupa yang begitu indah dan cemerlang, memiliki sayap yang cantik, banyak ilmunya, banyak ibadahnya, kedudukan iblis bagaikan para malaikat, paling besar rupanya, penghulu malaikat Karubiyyin dan lain sebagainya, namun semuanya itu tidak dapat mcmberi manfaat sedikit pun kepada dirinya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terkandung peringatan.

Di dalam sebuah atsar disebutkan bahwa setelah iblis men- dapat pembalasan dari Allah atas keangkuhannya, Jibril dan Mikail menangis, maka Allah berfirman kepada keduanya, "Apakah yang menyebabkan kamu berdua menangis?" Keduanya menjawab, "Wahai Rabb kami, kalau begitu, kami pun tidak merasa aman dari pembalasan-Mu." Allah berfirman, "Jadilah kamu berdua mempunyai perasaan seperti itu, jangan sampai kamu berdua merasa aman dari pembalasan-Ku."

Menurut suatu riwayat disebutkan bahwa iblis berkata, "Wahai Rabbku, Engkau telah mengeluarkan aku dari surga karena Adam, sedangkan aku tidak punya kekuasaan terhadapnya, kecuali setelah diberi kekuasaan oleh-Mu." Allah berfirman, "Engkau dapat mcnguasainya," yakni dapat menguasai anak cucu Adam karena para nabi terpelihara dari gangguan iblis. Iblis berkata, "Berilah daku tambahan." Allah berfirman, "Tidak sekali-kali dilahirkan bagi Adam seorang anak, melainkan dilahirkan pula bagimu anak sebanyak dua kali lipatnya." Iblis berkata, "Berilah daku tambahan. Allah berfirman, "Di dalam dada mereka terdapat tempat tinggal bagimu, kamu dapat merasukinya melalui aliran darahnya." Iblis berkata, "Berilah daku tambahan." Allah berfirman, "Hasunglah mereka olehmu dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kakimu, bersekutulah kamu dengan mereka dalam harta bendanya dengan mendorong mereka untuk menghasilkannya dan membelanjakan-nya kepada hal-hal yang diharamkan. Bersekutulah kamu dengan mereka dan anak-anaknya. Bujuklah mereka dalam berhubungan melalui berbagai penyebab yang diharamkan seperti bersetubuh di saat sedang haidh dan bersekutu dalam memberi mereka nama seperti 'Abdul 'Uzza serta menyesatkan anak cucunya dengan mendorong mereka kepada agama yang batil, pekerjaan yang rendah, dan perbuatan yang buruk. Berikanlah janji-janji palsu kepada mereka seperti beroleh syafa'at dari tuhan-tuhan, mengandalkan diri kepada kemuliaan kakek moyang, dan menangguhkan taubat dengan angan-angan yang panjang. Ungkapan seperti ini mengandung makna ancaman, sama halnya dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya, "Perbuatlah apa yang kamu kehendaki," (QS. Fushshilat [41]: 40).

Dan Adam pun berkata, "Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menguasakan iblis terhaadapku, sehingga aku tidak dapat terhindar darinya, kecuali dengan pertolongan-Mu." Allah berfirman, "Tidak sekali-kali dilahirkan bagimu seorang anak, melainkan Aku tugaskan kepadanya seseorang yang memeliharanya dari kalangan para malaikat."Adam berkata, "Berilah tambahan kepadaku."Allah berfirman, "Satu amal kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya." Adam berkata, "Berilah tambahan kepadaku." Allah berfirman, "Pintu taubat tidak Kututup bagi mereka selama ruh masih berada di dalam tubuhnya" Adam berkata, "Berilah tambahan kepadaku." Allah berfirman, "Aku akan memberi ampunan kepada mereka tanpa perduli." Adam berkata, "Aku sudah cukup."

Iblis bertanya, "Wahai Rabbku, Engkau telah menjadikan rasul-rasul di kalangan keturunan Adam dan telah Engkau turunkan pula kepada mereka kitab-kitab, lalu siapakah pesuruh-pesuruhku?" Allah menjawab, "Para tukang tenung." Iblis bertanya, "Lalu apakah kitab-kitabku?" Allah menjawab, "Tatto." Iblis bertanya, "Apakah hadisku." Allah menjawab, "Kebohongan." Iblis bertanya, "Apakah quranku?" Allah menjawab, "sya'ir-sya'ir." Iblis bertanya, "Apakah azan (seruan)ku?" Allah menjawab, "Seruling." Iblis bertanya, "Apakah masjidku?" Allah menjawab, "Pasar-pasar." Iblis bertanya, "Lalu di manakah tempat tinggalku." Allah menjawab, "Kamar mandi." Iblis bertanya, "Apakah makananku." Allah menjawab, "Hewan yang disembelih tanpa menyebut nama-Ku."
Iblis bertanya, "Apakah minumanku?" Allah menjawab, "Minuman yang memabukkan." Iblis bertanya, "Apakah perangkapku?" Allah menjawab, "Wanita."

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali


--------- ### -------