Wednesday, June 26, 2013

Taat dan Menyintai Allah serta Rasul-Nya

Sehubungan dengan pengertian ini Allah telah berfirman:

Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) menyintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan balas menyintaimu (Q5. Ali Imran [3]: 31).

Perlu diketahui semoga Allah merahmati Anda, bahwa kecin­taan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan menaati dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh keduanya, sedangkan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah dengan melimpahkan nikmat ampunan-Nya kepada mereka. Menurut suatu pendapat disebutkan bahwa bila seorang hamba meyakini bahwa kesempurnaan yang hakiki hanyalah milik Allah, dan semua yang dilihatnya sempurna, baik yang ada pada dirinya maupun pada diri orang lain semuanya itu dari Allah semata dan berkat karunia-Nya, berarti kecintaannya kepada Allah menuntutnya agar berkehendak taat kepada Allah dan berkeinginan untuk melakukan semua yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, pengertian cinta kepada Allah ditafsirkan dengan pengertian dorongan melakukan ketaatan dan menuntut seseorang untuk mengikuti Rasul saw dalam ibadahnya serta anjuran untuk menaatinya.

Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri yang telah menceritakan bahwa dahulu di masa Rasulullah saw ada suatu kaum yang berkata, "Hai Muhammad, sesungguhnya kami benar-benar menyintai Rabb kami,", maka Allah swt menurunkan ayat ini.

Diriwayatkan dari Bisyr Al Hafi rahimahullah yang telah mengatakan bahwa ia bersua dengan Rasulullah dalam mimpinya, lalu beliau  saw bersabda, "Hai Bisyr, tahukah kamu mengapa Allah meninggikan derajatmu di antara teman-temanmu?" Bisyr menjawab, "Wahai Rasulullah, aku tidak tahu." Beliau bersabda, "Berkat kerajinanmu dalam melayani orang-orang saleh, nasihatmu kepada saudara-saudaramu dan kecintaanmu kepada teman-temanmu serta orang-orang yang mengikuti sunnahku dan kamu sendiri mengikuti sunnahku."

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah telah bersabda:

Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku berarti ia mencintaiku, dan barangsiapa yang menyintaiku, kelak di hari kiamat nanti ia akan bersamaku di dalam surga.

Dalam sebuah atsar yang terkenal disebutkan bahwa orang yang berpegang teguh kepada sunnah penghulu semua makhluk dan para rasul di saat akhlak semua manusia merosot dan munculnya berbagai pendapat yang bertentangan, baginya pahala yang sama dengan seratus orang yang mati syahid. Demikianlah menurut apa yang disebutkan di dalam kitab Syir'atul Islam.

Dan Rasulullah pernah bersabda, "Semua umatku pasti masuk surga terkecuali orang yang membangkang." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang membangkang itu?" Rasulullah menjawab, "Orang yang taat kepadaku niscaya masuk surga, dan orang yang durhaka terhadapku berarti ia membangkang. Setiap perbuatan yang tidak sesuai dengan sunnah (tuntunan) ku adalah perbuatan durhaka."

Salah seorang ulama mengatakan bahwa seandainya engkau melihat seorang syekh dapat terbang di angkasa, berjalan di atas laut, dapat makan api atau hal lainnya yang menakjubkan. Sedangkan dia meninggalkan salah satu dari hal yang difardhukan oleh Allah atau salah satu dari hal yang disunnahkan dengan sengaja, maka ketahuilah dia adalah seorang pendusta dalam pengakuannya Perbuatan yang dilakukannya bukan termasuk karamah (kemuliaan dari Allah), melainkan istidraj (penghinaan dari-Nya), semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.

Al Junaid rahimahullah telah mengatakan bahwa tidak sekali-kali seseorang dapat berhubungan dengan Allah, melainkan hanya melalui Allah, dan jalan untuk berhubungan dengan-Nya tanpa mengikuti petunjuk sunnah adalah batil, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, "Barangsiapa yang menyia-nyiakan sunnahku, niscaya kuharamkan beroleh syafaatku." Demikianlah menurut yang disebutkan di dalam kitab Syir'atul Islam.

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa seorang laki-laki melihat seseorang yang tidak waras melakukan perbuatan yang tidak dapat dimengerti olehnya, lalu ia ceritakan hal itu kepada Ma'ruf Al Karkhi rahimahullah, maka Ma'ruf tersenyum setelah mendengarnya dan berkata, "Wahai saudaraku, Allah mempunyai banyak pengagum-Nya, ada yang kecil dan ada yang besar dan ada pula yang tergila-gila kepada-Nya, dan orang yang engkau lihat melakukan hal yang tidak rasional itu adalah termasuk salah seorang dari mereka yang tergila-gila kepada-Nya."

Dalam sebuah hikayat yang berumberkan dari Al Junaid disebutkan bahwa gurunya yang bernama As Sirri rahimahullah jatuh sakit, namun kamu semua tidak mengetahui obatnya dan tidak pula mengetahui penyebabnya. Lalu ada seorang tabib yang ahli melakukan terapi kepadanya dan kami mengambil botol penampung buang air kecilnya, lalu botol itu diamati dengan saksama oleh sang tabib, sesudah itu sang tabib berkata, "Menurut hemat saya ini adalah air seni orang yang dimabuk rindu kepada Allah." Al Junaid melanjutkan kisahnya, "Setelah mendengar hasil tes itu aku kaget dan jatuh pingsan sehingga botolnya terjatuh dari tanganku. Setelah aku sadar, kuceritakan hal itu kepada As Sirri yang ternyata hanya tersenyum mendengar laporanku lalu berkata, "Semoga Allah merahmatinya, betapa tajamnya penglihatan tabib itu." Aku bertanya, "Wahai ustad, apakah pertanda cinta dapat dibaca melalui air seni orang yang bersangkutan?" As Sirri menjawab, "Ya."
Al Fudhail rahimahullah telah mengatakan bahwa apabila dikatakan kepadamu, "Apakah engkau cinta kepada Allah?"
Sebaiknya kamu diam, karena jika kamu katakan, "Tidak," berarti kamu kafir, dan jika kamu jawab, "Ya,", maka sifatmu bukanlah sifat orang-orang yang cinta kepada Allah, maka hindarilah murka-Nya.

Sufyan Ats Tsauri telah mengatakan bahwa barangsiapa yang menyintai orang yang cinta kepada Allah, maka tiada lain yang dicintainya secara tidak langsung hanyalah Allah. Dan barangsiapa yang memuliakan orang yang memuliakan Allah, maka sesungguhnya yang dimuliakannya secara tidak langsung hanyalah Allah.

Sahl rahimahullah sehubungan dengan pertanda cinta kepada Allah mengatakan bahwa pertanda cinta kepada Allah adalah menyintai Al Quran, pertanda menyintai Al Quran adalah menyintai Nabi saw,  pertanda menyintai Nabi saw adalah menyintai sunnahnya, pertanda menyintai sunnahnya adalah menyintai pahala akhirat, pertanda menyintai pahala akhirat adalah membenci duniawi, dan pertanda membenci duniawi ialah tidak mengambil darinya, kecuali hanya sebagai bekal dan sarana untuk meraih pahala akhirat.

Abul Hasan Az Zanjani mengatakan bahwa pokok ibadah itu bertopang pada tiga sendi yaitu mata, qolbu, dan lisan. Mata digunakan untuk mengambil pelajaran, qolbu untuk berpikir dan lisan untuk mengatakan kebenaran, mengucapkan tasbih dan dzikir, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Q5. Al-Ahzab [33]: 41-42).

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa Abdullah dan Ahmad ibnu Harb mendatangi sebuah tempat, lalu Ahmad ibnu Harb memotong segenggam rumput tanah, maka Abdullah berkata kepadanya, "Kamu telah melakukan lima buah kesalahan, yaitu hatimu lalai dari bertasbih kepada Tuhanmu, kamu biasakan dirimu dengan berbagai kesibukan selain berdzikir kepada Allah, perbuatanmu itu menjadi panutan yang bakal diikuti oleh orang lain, engkau cegah rumput dari bertasbih kepada Rabbnya, dan engkau tetapkan hujjah Allah atas dirimu pada hari kiamat nanti Demikianlah menurut apa yang disebutkan di dalam kitab Raunaqul Majalis.
As Sirri rahimahullah telah mengatakan bahwa ia melihat Al Jurjani makan sereal yang langsung dihirupnya tanpa dicampur dengan air. As Sirri bertanya, "Mengapa engkau tidak pernah menyantap makanan selainnya." Al Jurjani menjawab "Sesungguahnya aku telah menghitung waktu antara mengunyah dan menelan makanan sama dengan sembilan puluh kali tasbih maka sejak empat puluh tahun yang silam aku tidak pernal mengunyah roti."

Disebutkan bahwa Sahl ibnu Abdullah setiap setengah bulan hanya makan sekali, apabila bulan Ramadhan tiba ia makan hanya sekali selama sebulan, terkadang ia tahan untuk tidak makan sampai tujuh puluh hari. Demikian itu karena bila makan tubuhnya lemah dan bila lapar tubuhnya kuat.

Abu Hammad Al Aswad melakukan i'tikaf di dalam Masjidil Haram selama tiga puluh tahun, dan ternyata tidak pernah kelihatan makan dan minum serta tiada suatu saat pun yang dilaluinya kosong dari aktivitas berdzikir kepada Allah.

Menurut suatu riwayat disebutkan bahwa Amr ibnu 'Ubaid tidak pernah keluar dari rumahnya, kecuali karena tiga urusan, yaitu menunaikan salat berjama'ah, menjenguk pasien dan menghadiri pengurusan jenazah. Dalam pesannya ia mengatakan, "Kulihat orang-orang itu tak ubahnya bagaikan para pencuri dan penyamun Usia manusia itu bagaikan permata yang tak ternilai harganya, oleh karena itu sudah selayaknya dipenuhi dengan perbendaharaan yang kekal untuk bekal di akhirat. Dan ketahuilah oleh kalian bahwa orang yang mencari pahala akhirat dituntut untuk bersikap zuhud dalam kehidupan dunianya agar tekad dan cita-citanya dapat terfokuskan untuk satu tujuan sehingga sikap batiniahnya tidak berseberangan dengan lahiriahnya, karena memang memelihara keadaan tidak dapat dilakukan, kecuali dengan mengendalikan keseimbangan sikap lahir dan batinnya."

Diriwayatkan dari Ibrahim ibnul Hakim yang telah men­ceritakan bahwa dahulu ayahnya bila rasa kantuk datang menyerangnya, ia terjun ke dalam laut dan bertasbih, maka ikan-ikan yang ada di laut mengerumuninya ikut bertasbih dengannya.

Diriwayatkan bahwa Wahb ibnu Munabbih pernah berdo'a kepada Allah memohon agar dihilangkan rasa kantuk darinya di malam hari, maka lenyaplah rasa kantuk darinya di malam hari selama empat puluh tahun.

Dahulu Hasan Al Hallaj mengikat dirinya mulai dari mata kaki hingga lututnya dengan tiga belas ikatan, namun demikian di setiap siang dan malam harinya masih sempat mengerjakan salat seribu raka'at.

Al Junaid di awal mulanya selalu datang ke pasar dan mem­buka tokonya lalu masuk ke dalamnya dan menutupkan tirainya kemudian mengerjakan salat empat ratus raka'at, sesudah itu ia pulang ke rumahnya.
Habasyi ibnu Daud selalu mengerjakan salat subuhnya dengan wudhu salat 'isyanya selama empat puluh tahun. Oleh karena itu, dianjurkan bagi orang mu'min agar melestarikan wudhunya. Setiap kali berhadas ia kembali bersuci dan mengerjakan salat sunnahnya dua raka'at. Dan ia berupaya keras untuk menghadap ke arah kiblat di setiap majelisnya serta membayangkan dirinya seolah-olah sedang duduk di hadapan Rasulullah saw dengan sikap penuh hormat dan mawas diri sehingga mampu menetapi sikap tenang dan anggun dalam semua perbuatannya. Dia bersikap tabah menghadapi gangguan orang lain, tidak membalas keburukan orang lain dengan perbuatan yang semisal bahkan sebaliknya memohonkan ampunan untuk setiap orang yang berbuat jahat terhadap dirinya. Ia tidak pernah merasa 'ujub dengan dirinya dan tidak pula dengan amal yang dilakukannya, sebab sikap 'ujub termasuk sifat setan, bahkan sebaliknya ia memandang dirinya dengan pandangan yang hina dan memandang orang-orang yang saleh dengan sikap memuliakan dan penuh hormat. Barangsiapa yang tidak mengenal cara menghormati orang-orang yang saleh, maka ia tidak dapat bergaul dengan mereka, dan barangsiapa yang tidak mengenal etika melakukan ketaatan, niscaya hatinya tidak dapat merasakan manisnya ketaatan.

Al Fudhail ibnu 'Iyadh pernah ditanya, "Wahai Abu 'Ali, bilakah seseorang menjadi saleh?" Ia menjawab, "Bila berniat dilakukan dengan penuh ketulusan, rasa takut kepada Allah memenuhi qolbunya, jujur dalam lisannya, dan semua anggota tubuhnya melakukan amalan yang saleh."

Allah berfirman di saat Nabi saw melakukan mi'rajnya, "Hai Ahmad, jika kamu ingin menjadi orang yang paling wara', maka bersikap zuhudlah terhadap perkara duniawi dan cintailah perkara ukhrawi." Nabi saw bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimanakah cara berzuhud terhadap perkara duniawi?" Allah berfirman, "Ambillah dari harta dunia ini sekadar cukup untuk kebutuhan makan minum dan berpakaian, janganlah kamu menyimpannya untuk hari esok dan lestarikanlah berdzikir kepada-Ku." Nabi saw bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimanakah caranya agar aku dapat berdzikir kepadamu dengan lestari?" Allah berfirman, "Dengan berkhalwat (menyendiri), jadikanlah waktu tidurmu untuk salat dan waktu makanmu untuk lapar (puasa)."

Nabi telah bersabda, "Sikap zuhud terhadap duniawi merehatkan hati dan menyenangkan badan, sedangkan berambisi kepadanya memperbanyak kegundahan dan kesedihan. Cinta duniawi merupakan pangkal segala kekeliruan, sedangkan sikap zuhud terhadapnya adalah pangkal kebajikan dan ketaatan."

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki saleh bersua dengan sekumpulan orang dan ternyata ia menjumpai seorang tabib yang sedang memberikan terapi terhadap berbagai penyakit dan obatnya. Lalu ia bertanya, "Wahai orang yang pandai mengobati penyakit tubuh, dapatkah engkau mengobati penyakit qolbu?" Sang tabib menjawab, "Baiklah, terangkanlah kepadaku penyakit yang dideritanya." Ia berkata, "Hati ini telah digelapkan oleh berbagai macam dosa sehingga membuatnya menjadi kesat dan kasar, maka bagaimanakah cara mengobatinya?" Sang tabib menjawab, "Obatnya ialah dengan merendahkan diri kepada Allah, mengagungkan-Nya dan memohon ampun kepada Nya baik di malam maupun di siang hari, bersegera melakukan ketaatan kepada Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun serta memohon maaf kepada Raja Yang Maha Perkasa, inilah obat untuk menyembuhkan qolbu yang sakit termasuk ilmu yang langka." Maka lelaki saleh itu menjerit dan pergi dengan menangis seraya berkata, "Sebaik-baik tabib adalah kamu, kamu benar dalam mengobati qolbuku." Sang tabib menjawab, "Ini adalah obat untuk menyembuhkan qolbu orang yang bertaubat dan kembali ke jalan Tuhan Yang Mahabaik lagi Maha Penerima taubat."

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki membeli seorang budak, budaknya berkata, "Wahai tuanku, aku mengajukan tiga syarat kepadamu. Salah satunya ialah janganlah engkau menghalangiku dari salat fardhu bila telah tiba waktunya. Kedua, engkau boleh memerintahku di siang hari sesukamu, tetapi jangan memerintahku di malam hari. Ketiga, sediakanlah untukku tempat tinggal di dalam rumahmu, tiada yang memasukinya selain diriku." Lalu sang budak mengitari rumah majikannya dan menjumpai sebuah ruangan yang terbengkalai, lalu ia berkata kepada majikannya, "Kuambil ruangan ini untuk tempat tinggalku." Sang majikan berkata, "Hai pelayanku, mengapa engkau memilih ruangan yang terbengkalai?" Sang pelayan menjawab, "Tidakkah engkau tahu bahwa rumah yang terbengkalai pun bila bersama Allah akan menjadi seperti taman." Sejak saat itu sang pelayan melayani tuannya di siang hari, sedangkan bila malam tiba, ia gunakan waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah

Ketika sang pelayan dalam keadaan demikian, di suatu malam sang majikan berkeliling mengontrol rumahnya dan sampailah ia di ruangan pelayannya yang dijumpainya terang, dan ia melihat pelayannya sedang sujud, namun anehnya di atas kepalanya terdapat lampu dari cahaya yang bergantung di antara bumi dan langit. Sang pelayan asyik bermunajat dan ber-tadharru' merendahkan diri kepada Tuhannya seraya berkata dalam do'anya, "Wahai Tuhanku, Engkau telah membebankan atas diriku kewajiban melayani tuanku di siang hari, seandainya tidak ada tugas itu tentulah aku tidak akan menggunakan waktuku, baik malam maupun siang hari, melainkan kugunakan untuk berkhidmat melayani-Mu, maka maafkanlah daku wahai Tuhanku." Sedangkan majikannya memperhatikannya dengan rasa kagum hingga fajar subuh terbit, dan lampu cahaya itu dikembalikan serta atap rumah pun menyatu kembali, lalu ia kembali ke rumahnya dan memberitahukan apa yang telah disaksikannya itu kepada istrinya. Pada malam berikutnya, ia mengajak istrinya sampai ke pintu rumah sang pelayan, yang saat itu sedang bersujud, sementara di atas kepalanya terdapat pelita dari cahaya. Keduanya berdiri di depan pintu kamar sang pelayan dan memperhatikan sang pelayan sembari menangis sampai subuh. Sesudah itu keduanya memanggil pelayannya dan berkata kepadanya, "Sekarang engkau kumerdekakan karena Allah, agar kamu dapat mencurahkan semua waktumu untuk menyembah Tuhan yang engkau telah meminta maaf kepada-Nya." Sesudah itu sang pelayan mengangkat kedua tangannya ke atas dan mengatakan bait sya'ir berikut:

Wahai pemilik rahasia, kini rahasia itu telah terbuka, dan aku tidak ingin hidup lagi bila rahasiaku telah terbuka.

Sesudah itu sang pelayan berdo'a, "Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu matikanlah diriku,", maka pada saat itu juga tubuh sang pelayan tersungkur dan jatuh dalam keadaan tidak bernyawa Memang demikianlah keadaan orang-orang saleh yang merindukan Allah dan mencari ridha-Nya.

Dalam kitab Zahrur Riyadh disebutkan bahwa Musa as  mempunyai seorang teman akrab yang biasa menghiburnya, namun di suatu hari temannya itu berkata, "Hai Musa, do'akanlah kepada  Allah agar aku dapat mengenal-Nya dengan pengenalan yang sebenar-benarnya." Maka Musa as. berdo'a untuknya, do'a Musa dikabulkan lalu temannya itu pergi ke daerah pegunungan dan hidup di sana bersama dengan hewan-hewan liar, sehingga Musa merasa kehilangan dia, lalu Musa berkata dalam do'anya, "Wahai Rabbku, saudaraku tempat aku mendapat hiburan aku kehilangan dia. Lalu dikatakan kepada Musa, "Hai Musa, siapa pun yang telah mengenal-Ku dengan sebenar-benarnya, selamanya dia tidak akan mau bergaul dengan makhluk."

Dalam berita yang terdahulu disebutkan bahwa Yahya as. dan Isa as. sedang berjalan di pasar, tiba-tiba ada seorang wanita yang menabrak mereka, maka Yahya berkata, "Demi Allah aku tidak menyadarinya." 'Isa berkata, "Subhanallah, tubuhmu bersamaku tetapi hatimu entah ke mana?" Yahya menjawab, "Wahai anak bibi'. seandainya hatiku merasa tenang dengan selain Rabbku meskipun  hanya sekejap, tentulah aku mengira diriku tidak mengenal-Nya.

Dikatakan bahwa ma'rifat yang sejati itu dapat diraih dengan menanggalkan semua kesibukan, baik yang menyangkut urusan dunia maupun akhirat tetapi membaktikan diri sepenuhnya hanya untuk menyembah Allah, dan tergila-gila karena cinta kepada-Nya sehingga tidak sadar terkecuali bila telah tiba saatnya untuk dapat melihat-Nya dan yang bersangkutan senantiasa berada di dalam penerangan cahaya dari Tuhannya.



Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali