Saturday, June 8, 2013

Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan


Seorang perempuan datang menghadap kepada Al Hasan Al Bashri ra. lalu berkata, "Anak perempuanku yang berusia masih sangat muda telah meninggal dunia, dan aku ingin bersua dalam mimpi dengannya, maka datang ke sini agar kamu sudi mengajarkan kepadaku cara yang dapat membantuku untuk dapat bersua dengannya dalam mimpi." Maka Al Hasan Al Bashri mengajarkan cara itu kepadanya, dan ternyata ia dapat bersua dengannya dalam mimpi, sedangkan anaknya itu mengenakan baju dari aspal, lehernya dibelenggu, dan kakinya dirantai. Lalu perempuan itu menceritakan mimpinya kepada Al Hasan sehingga membuat hati Al Hasan merasa bersedih karenanya. Akan tetapi, selang beberapa lama kemudian Al Hasan bersua dengan perempuan itu dalam mimpinya berada di dalam surga dengan mengenakan mahkota di kepalanya. Anak perempuan itu menegurnya, "Hai Hasan, apakah engkau tidak mengenalku, aku adalah anak perempuan dari wanita yang pernah datang kepadamu dan mengatakan anu dan anu kepadamu?" Al Hasan bertanya, "Apakah yang membuatmu menjadi seperti yang kulihat sekarang ini?" Anak perempuan itu mengatakan dalam jawabannya, bahwa pada suatu hari ada seorang lelaki melewati kuburan kami lalu ia membaca shalawat sekali untuk Nabi sedangkan di kuburan kami terdapat lima ratus lima puluh orang yang sedang diazab. Maka saat itu juga terdengar suara yang berseru, "Hentikanlah azab kalian terhadap mereka berkat bacaan shalawat lelaki ini." Dengan demikian, sekali bacaan shalawat seseorang untuk Nabi Muhammad mereka yang sedang diazab di dalam kuburan yang dilaluinya mendapatkan ampunan dari Allah terlebih lagi dengan orang yang membaca shalawat untuk Nabi & selama lima puluh tahun, sudah barang tentu ia akan mendapat syafa'at dari Nabi & kelak di hari kiamat?.

Allah telah berfirman, "Janganlah kamu," dalam berbuat kedurhakaan, "seperti orang-orang" kaum munafik yang "lupa kepada Allah" (QS. AlHasyr [59]: 19) yakni orang-orang yang meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya, bahkan tenggelam di dalam syahwat kenikmatan duniawi dan hanyut di dalam kesenangannya yang memperdaya.

Rasulullah saw pernah ditanya tentang orang mu'min dan orang munafik, dalam jawabannya beliau bersabda bahwa sesungguhnya kesukaan orang mu'min ialah mengerjakan salat dan puasa, sedangkan kesenangan orang munafik adalah makan dan minum, perihalnya sama seperti hewan. Orang munafik meninggalkan ibadah dan salatnya, sedangkan orang mu'min sibuk dengan bersedekah dan memohon ampunan. Orang munafik sibuk dengan ambisi dan angan-angannya yang panjang, sedangkan orang mu'min tidak pernah berharap kepada siapa pun, kecuali hanya dari Allah Berbeda dengan orang munafik, ia selalu berharap dari siapa pun, kecuali hanya dari Allah. Orang mu'min rela mengorbankan hartanya demi kepentingan agamanya, sedangkan orang munafik sebaliknya, ia rela mengorbankan agamanya demi kepentingan hartanya. Orang mumin tidak pernah merasa takut kepada siapa pun selain hanya kepada Allah, sedangkan orang munafik merasa takut kepada setiap orang, kecuali kepada Allah, Orang mu'min suka melakukan kebaikan dan menangis, sedangkan orang munafik suka berbuat jahat dan tertawa. Orang mu'min suka menyendiri tanpa teman, sedangkan orang munafik suka bergaul dan berkumpul bersama orang banyak. Orang mu'min suka menanam dan merasa khawatir akan mengalami gagal panen, sedangkan orang munafik suka mencabuti tanaman namun masih berharap dapat memanen. Orang mu'min suka menganjurkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran demi menegakkan agamanya dan mengadakan perbaikan, sedangkan orang munafik melakukan hal yang semisal demi jabatan kepemimpinan yang disandangnya, meskipun menimbulkan kerusakan, bahkan tega menganjurkan hal yang mungkar dan melarang kebajikan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan-perempuan, sebagian dari sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka mengenggam tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang- orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela'nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal, (Q5. At- Taubah [9]: 67-68).

Dan firman Allah

Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam, (Q5. An-Misa [4]: 140).

Yakni jika mereka mati dalam kekafiran dan kemunafikannya.

Dalam pembahasan ini kami memulai dengan orang-orang munafik, sebab mereka lebih buruk dari orang-orang kafir, tempat tinggal mereka semua nanti adalah di dalam neraka, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dan neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (Q5. An-Misa [4]: 145).

Munafiq menurut istilah bahasa berakar dari kata nafqa- ul yarbu' (liang marmut), disebutkan bahwa marmut di dalam sarangnya mempunyai dua buah lubang, salah satunya disebut nafiqa sedangkan yang lain disebut qashi'a.  Marmut biasa menampakkan diri melalui salah satu liangnya, namun bila keluar dari sarangnya melalui lubang yang lain. Oleh karena itulah orang yang mempunyai karakter ganda disebut munafik. Ia perlihatkan dirinya sebagai seorang muslim, padahal dalam batinnya memendam kekafiran.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa perumpamaan orang munafik sama dengan seekor kambing yang ada di antara dua kelompok ternak kambing lain, terkadang bergabung dengan salah satunya dan terkadang bergabung dengan kelompok yang lain, tidak pernah menetap dengan salah satu di antara keduanya, sebab memang bukan berasal dari mereka. Demikian pula halnya dengan orang munafik, tidak pernah menetap bersama dengan golongan kaum muslimin sepenuhnya dan tidak pula dengan golongan orang- orang kafir.

Sesungguhnya Allah menciptakan neraka dengan mempunyai tujuh buah pintu gerbang sebagaimana yang disebutkan oleh firman- Nya:

Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. (Q5. Al-Hijr [15]: 44).

terbuat dari besi ditutup dengan laknat, bagian luarnya dari tembaga, bagian dalamnya dari timah, bagian bawahnya terdapat azab, bagian atasnya penuh dengan kemurkaan, dan landasannya dari tembaga, kaca, besi dan timah. Api membakar para penghuni neraka dari bagian atas, bawah, kanan dan kiri mereka. Neraka itu bertingkat-tingkat, sebagiannya di atas sebagian yang lain, salah satunya dikhususkan bagi orang-orang munafik yaitu bagian yang paling bawahnya.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi saw lalu beliau bertanya, "Hai Jibril, gambarkanlah kepadaku neraka dan panas apinya. "Jibril menjawab, "Sesungguhnya Allah swt menciptakan neraka lalu menyalakannya selama seribu tahun sehingga memerah, dan menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga memutih, kemudian menyalakannya lagi seribu tahun sehingga menghitam, maka neraka sampai sekarang terlihat hitam. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar menjadi seorang nabi, seandainya sebuah pakaian yang dikenakan oleh seorang ahli neraka diletakkan di bumi, niscaya semua penduduk bumi akan mati karenanya. Dan seandainya seember minuman ahli neraka dituangkan ke dalam semua air yang ada di bumi, niscaya akan membunuh siapa pun yang mencicipinya. Dan seandainya sehasta rantai yang disebutkan di dalam firman-Nya, "dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (QS. Al-Haaqqah [69]: 32) setiap hasta sama panjangnya dengan jarak dari ufuk timur sampai ke ufuk barat. Dan seandainya rantai itu diletakkan di atas sebuah gunung, niscaya gunung itu akan hancur lebur. Andaikata seseorang dimasukkan ke dalam neraka, kemudian dikeluarkan darinya, niscaya semua penghuni bumi akan mati karena baunya yang sangat busuk."

Dan Rasulullah saw bertanya pula kepada Jibril, "Hai Jibril, gambarkanlah kepada kami tentang pintu-pintu neraka, apakah seperti pintu-pintu kami ini?" Jibril menjawab, "Wahai Rasulullah  memang benar, namun pintu neraka bertingat-tingkat sebagiannya lebih rendah dari sebagian yang lain; jarak di antara satu tingkat ke tingkat yang lain sama dengan jarak perjalanan tujuh puluh tahun, setiap pintu lebih panas tujuh puluh kali lipat dari pintu lain yang ada di atasnya." Nabi bertanya pula tentang para penghuni dari pintu-pintu tersebut, maka Jibril menjawab bahwa adapun lapisan yang paling bawah adalah tempat untuk orang-orang munafik, namanya neraka Hawiyah, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya, " Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka." (QS. An-Nisa [4]: 145). Pintu yang kedua menjadi tempat untuk orang-orang musyrik, namanya neraka Jahim. Pintu yang ketiga adalah tempat untuk orang-orang shabi-in namanya neraka Saqar. Pintu yang keempat adalah tempat untuk iblis yang terkutuk beserta para pengikutnya dari kalangan orang-orang majusi, namanya Lazha. Pintu yang kelima adalah tempat untuk orang-orang yahudi, namanya Huthamah. Pintu yang keenam adalah tempat untuk orang-orang nasrani, namanya Sa'iir." Sesudah itu Jibril diam, maka Rasulullah bertanya, "Mengapa kamu tidak menceritakan kepadaku tentang penghuni pintu neraka yang ketujuh (lapisan paling atas)?" Jibril menjawab, "Hai Muhammad, janganlah engkau tanyakan kepadaku tentang para penghuninya." Rasul Saw bertanya kepadanya dengan nada mendesak, "Kamu harus ceritakan kepadaku tentangnya." Akhirnya Jibril menjawab, "Menjadi tempat untuk orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar dari kalangan umatmu, karena saat mereka mati belum sempat bertaubat darinya."
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Allah swt menurunkan firman-Nya:

Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. (Q5. Maryam [19]: 71).

Maka rasa takut mencekam diri Nabi saw karena mengkhawatir­kan keadaan umatnya, dan beliau saw menangis dengan tangisan yang berat. Memang orang yang mengenal Allah dan kerasnya azab serta pembalasan-Nya, pasti akan merasa sangat takut dan menangisi kelalaian yang dilakukan oleh dirinya sebelum melihat semua kesulitan yang akan dialaminya dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri negeri yang menakutkan ini, meskipun belum disingkapkan tirai yang menghalangi pemandangannya saat ia dihadapkan kepada Tuhan Yang Maha Membalas lagi Maha Perkasa dan diperintahkan untuk diseret ke neraka. Memang berapa banyak orangtua yang menyerukan kalimat penyesalannya di dalam neraka dengan mengatakan, "Aduhai masa tuaku yang kusia-siakan." Berapa banyak pemuda yang menyerukan kalimat penyesalannya di dalam neraka dengan mengatakan, "Aduhai masa mudaku yang kusia-siakan." Dan berapa banyak wanita yang menyerukan ungkapan penyesalannya di dalam neraka dengan mengatakan, "Aduhai diriku, betapa malunya, karena semua tirai dibuka dan dibeberkan." Sedangkan muka dan tubuh mereka menjadi hitam, mereka terhina dan tidak punya daya apa pun, orangtua mereka tidak dihormati, orang kecil mereka tidak disayang dan wanita mereka tidak ditutupi.

Ya Allah lindungilah kami dari neraka dan azabnya, dan juga dari setiap amalan yang mendekatkan diri kami kepadanya. Masukkanlah kami ke dalam surga bersama dengan orang-orang yang bertakwa berkat rahmat-Mu, wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Ya Allah, tutupilah 'aurat kami, berikanlah kepada kami rasa aman dari ketakutan, hindarkanlah kami dari kesalahan-kesalahan kami, janganlah Engkau permalukan kami di hadapan-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta segenap keluarga dan para sahabatnya.


Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali
--------- ### -------