Saturday, June 8, 2013

Kelalaian

Kelalaian berakibat menambah kekecewaan, melenyapkan ke­nikmatan, menghambat pengabdian, menambah kedengkian, celaan dan penyesalan.

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa pernah ada salah seorang yang saleh bersua dengan gurunya di dalam mimpi, lalu ia menanyainya, "Kekecewaan apakah yang paling berat menurutmu?" Sang guru menjawab, "Kekecewaan karena lalai." Dan menurut suatu riwayat disebutkan bahwa salah seorang dari mereka bertemu dengan Dzun Nun Al Mishri dalam mimpinya, lalu ia bertanya kepadanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh Allah kepadamu?" Dzun Nun menjawab, "Aku diberdirikan di hadapan-Nya, lalu Dia berfirman kepadaku, “Hai orang yang mengklaim hal yang bukan-bukan, hai pendusta, engkau mengaku-ngaku cinta kepada-Ku, namun engkau lalai kepada-Ku!"

Engkau tetap dalam kelalaian dan hatimu lupa (kepada-Ku), usia kian bertambah namun dosa-dosa tetap seperti semula.

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa salah seorang yang saleh mimpi bersua dengan ayahnya, lalu ia bertanya, "Wahai ayah, bagaimana denganmu dan bagaimana keadaanmu?" Ia menjawab, "Wahai anakku, dahulu kita hidup dalam keadaan lalai dan mati pun dalam keadaan lalai pula."

Dalam kitab Zahrur Riyadh disebutkan bahwa Nabi Ya'qub as. berteman dengan malaikat maut. Dan di suatu hari Malaikat maut datang mengunjunginya, maka Ya'qub as. bertanya, "Hai Malaikat maut, apakah engkau datang untuk berkunjung ataukah datang untuk mencabut nyawaku." Malaikat maut menjawab, "Tidak, melainkan aku datang untuk berkunjung." Ya'qub as. berkata, "Sesungguhnya aku meminta suatu keperluan kepadamu." Malaikat maut bertanya, "Apakah keperluanmu?" Ya'qub as. berkata, "Aku meminta kepadamu bila engkau hendak mencabut nyawaku karena ajalku sudah dekat, beritahukanlah kepadaku." Malaikat maut menjawab, "Baiklah, aku akan mengirimkan kepadamu dua atau tiga kurirku " Ketika ajal Ya'qub as. sudah tiba, Malaikat maut datang kepadanya, maka Ya'qub bertanya, "Apakah engkau datang untuk berkunjung ataukah untuk mencabut nyawaku?" Malaikat maut menjawab, "Aku datang untuk mencabut nyawamu." Ya'qub as. berkata, "Bukankah engkau pernah memberitahukan kepadaku bahwa engkau terlebih dahulu akan mengirimkan dua atau tiga kurirnya terlebih dahulu kepadaku?" Malaikat maut menjawab, "Aku sudah melakukannya, yaitu melalui rambutmu yang sebelumnya hitam kini telah memutih, sebelumnya tubuhmu kuat kini telah melemah, dan dahulu tubuhmu tegak kini telah bongkok. Wahai Ya'qub, seperti inilah kurir dariku kepada Bani Adam sebelum kematiannya."

Masa dan hari-hari tetap berlalu, sedangkan dosa-dosa terus dilakukan. Dan malaikat maut datang sedangkan hati dalam keadaan lalai.
Kesenanganmu di dunia adalah tipuan yang memperdaya dan berakibat penyesalan. Kehidupanmu di dunia untuk selamanya adalah mustahil dan omong kosong.

Abu Ali Ad Daqqaq mengatakan, "Aku menjenguk seorang lelaki saleh yang sedang sakit, ia adalah salah seorang syekh besar. Di sekelilingnya terdapat murid-muridnya, sedangkan sang syekh sendiri menangis, usianya sangat lanjut. Lalu aku bertanya kepadanya/Wahai syekh, mengapa engkau menangis, apakah engkau menangisi urusan dunia." Ia menjawab, "Tidak, melainkan aku menangisi salatku yang terlewatkan, "Aku bertanya heran, "Mengapa demikian, bukankah engkau seorang yang mengerjakan salat?" Ia menjawab, "Karena sesungguhnya dalam sisa usiaku ini, tidak sekali-kali kukerjakan sujudku, melainkan dengan hati yang lalai, dan tidak sekali-kali aku mengangkat tubuhku dari sujud, melainkan dengan hati yang lalai, dan sekarang ini, kujelang kematianku dengan hati yang lalai pula." Kemudian ia bernapas lega dan mengungkapkan bait-bait sya'ir berikut:



Kurenungkan tentang perhimpunanku di kari kiamat nanti, sesudak pipiku direbahkan di dalam kukuran.
Dalam kesendirian tiada teman sesudak mulia dan berkedudukan tinggi, diriku tergadaikan olek dosa-dosaku, sedangkan tanah menjadi bantalku.
Kurenungkan lamanya hisab, saat aku ditampilkan dan keadaanku yang terhina saat menerima catatan amalku.

Namun, karapanku dari-Mu wakai Rabb dan Penciptaku, sudilah kiranya Engkau memaafkan kesalahan-kesalahanku, wahai Tuhanku.

Di dalam kitab 'Uyunul Akhbar disebutkan dari Syaqiqil Bal- khiy yang telah mengatakan bahwa manusia mengatakan tiga perkara namun sepak terjang mereka bertentangan dengannya. Mereka mengatakan, "Kami adalah hamba-hamba Allah," namun mereka dalam sepak terjangnya melakukan perbuatan orang-orang yang merdeka, hal ini bertentangan dengan ucapan mereka. Dan mereka mengatakan, "Sesungguhnya Allah yang menjamin rezeki kami," padahal hati mereka tidak merasa tenang, kecuali dengan memiliki harta duniawi dan menghimpun puing-puingnya; hal ini bertentangan dengan ucapan mereka. Dan mereka mengatakan, "Kami pasti akan mati," padahal mereka dalam sepak terjangnya melakukan perbuatan seperti orang yang tidak bakal mati; hal ini pun bertentangan dengan ucapan mereka.

Oleh karena itu wahai saudaraku, perhatikanlah hal yang bermanfaat untuk dirimu, karena dengan tubuh yang mana engkau akan berdiri di hadapan Allah dan dengan lisan yang manakah engkau akan menjawab, dan apa yang akan engkau katakan bila Dia menanyakan kepadamu tentang hal yang sedikit dan hal yang banyak?. Maka persiapkanlah dirimu untuk menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang benar, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui semua kebaikan dan keburukan yang kamu lakukan. Kemudian nasihatilah orang-orang yang beriman untuk tidak meninggalkan perintah-Nya dan tetap mengesakan-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang- terangan.

Dalam sebuah hadis dari Nabi saw disebutkan bahwa tertulis di kaki 'Arasy, "Aku menaati orang yang patuh kepada-Ku, menyintai orang yang menyintai-Ku, memperkenankan orang yang berdo'a kepada-Ku dan mengampuni orang yang meminta ampunan kepada-Ku. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi orang yang berakal untuk menaati Allah dengan penuh rasa takut, tulus dalam menaati-Nya, ridha dengan ketetapan-Nya, sabar terhadap cobaan-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, dan menerima seadanya pemberian yang diberikan oleh-Nya. Allah berfirman, "Barangsiapa yang tidak ridha dengan ketetapan-Ku, tidak sabar dengan cobaan-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku, dan tidak qana'ah (menerima seadanya) dengan pemberian-Ku, maka hendaklah ia mencari tuhan selain dari-Ku."

Seorang laki-laki pernah berkata kepada Al Hasan Al Bashri rahimahullah, "Sesungguhnya aku masih belum dapat merasakan nikmatnya ketaatan." Al Hasan Al Bashri menjawab, "Barangkali kamu memandang wajah orang yang tidak punya rasa takut kepada Allah. Penghambaan diri yang sebenarnya ialah bila engkau meninggalkan segala sesuatu, seluruhnya karena Allah."

Seseorang pernah berkata kepada Abu Yazid rahimahullah, "Sesungguhnya aku masih belum dapat merasakan nikmatnya me­ngerjakan ketaatan." Abu Yazid menjawab, "Demikian itu karena engkau menyembah ketaatan dan bukan menyembah Allah, oleh karena itu sembahlah Allah sampai engkau dapat merasakan bahwa ketaatan itu menyenangkan."

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa seorang lelaki mengerjakan salatnya, ketika sampai kepada bacaan firman Allah swt  lyyaaka na'budu (hanya Engkaulah yang kami sembah), terlintas dalam pikirannya bahwa dirinya sedang menyembah Allah dengan sebenar-benarnya, namun hati kecilnya berseru kepadanya, "Kamu dusta, sesungguhnya yang kamu sembah hanyalah makhluk." Kemudian ia bertaubat dan mengasingkan dirinya dari semua orang. Ia mengerjakan salatnya lagi dan ketika sampai pada bacaan firman- Nya lyyaaka Na'budu (hanya Engkaulah yang kamu sembah) hati kecilnya berseru kepadanya, "Kamu dusta, sesungguhnya yang kamu sembah hanyalah hartamu." Akhirnya ia menyedekahkan semua hartanya, lalu salat lagi dan setelah bacaannya sampai kepada firman-Nya lyyaaka Na'budu (hanya Engkaulah yang kami sembah) hati kecilnya berseru kepadanya, "Kamu dusta, sesungguhnya yang kamu sembah hanyalah pakaianmu, "maka ia menyedekahkan semua pakaiannya, kecuali pakaian yang dikenakannya. Kemudian ia mengerjakan salatnya lagi, dan ketika bacaannya sampai kepada firman-Nya Iyyaka Na'budu (hanya Engkaulah yang kami sembah) hati kecilnya berseru sekarang baru engkau benar, sesungguhnya yang kamu sembah hanyalah Rabbmu."

Dalam kitab Raunaqul Majalis disebutkan bahwa seorang lelaki kehilangan beberapa buah karungnya, dan ia tidak ingat siapa yang mengambilnya. Ketika ia sedang mengerjakan salatnya teringatlah kepada karungnya, setelah salam ia berkata kepada budak pelayannya, "Pergilah kamu ke rumah Fulan bin Fulan dan mintalah darinya karungku." Pelayan bertanya, "Bilakah engkau mengingat karungmu?" Ia menjawab, "Ketika aku sedang mengerjakan salatku." Pelayan berkata, "Wahai tuanku, ternyata engkau mencari karung tuan bukan mencari Al Khaliq, Tuhan yang menciptakanmu." Maka sang majikan memerdekakan budaknya itu berkat kejujuran sang budak dalam keyakinannya.

Sudah selayaknya bagi orang yang berakal meninggalkan urusan duniawinya, menghambakan dirinya kepada Allah, dan memikirkan masa depan untuk kehidupan akhiratnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, " Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia," (yakn i kesenangan dalam kehidupan dunia seperti pakaian, makanan, minuman, dan lain sebagainya) "Kami berikan kepadanya sebagian dan keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat nanti." (karena kecintaan kepada pahala akhirat telah dicabut dari dalam qolbunya). (QS. Asy-Syuura [42]: 20).

Oleh karena itu, Abu Rakar Ash Shiddiq ra. menginfakkan kepada Nab\ & sebanyak empat puluh ribu dinar dengan sembunyi- sembunyi, dan empat puluh ribu dinar lagi dengan terang-terangan, sehingga tiada sesuatu pun dari harta dunia miliknya yang tersisa untuk dirinya.

Nabi adalah seorang yang sangat sederhana dalam kehidupannya, tidak mementingkan urusan duniawi, hobi dan kesenangannya, begitu pula dengan keluarga beliau Sebagai buktinya ialah pelaminan yang dipersiapkan oleh Nabi untuk putrinya sayyidah Fathimah Az Zahra ra. ketika dinikahkan dengan Ali ra. hanyalah selembar kulit kambing gibasy yang telah disamak dan bantal yang terbuat dari kulit berisikan sabut.


Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali

--------- ### -------