Thursday, June 27, 2013

Amanat

Allah swt telah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengemu- kakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu," yakni mereka menolak dan tidak mau menerimanya, "dan mereka khawatir akan mengkhianatinya," yakni mereka takut bila tidak dapat menunaikan amanat itu sehingga mereka akan tertimpa hukuman. Atau mereka takut akan berbuat khianat terhadap amanat itu. Pengertian amanat dalam ayat ini ialah ketaatan, dan semua kefardhuan yang penunaiannya berkaitan dengan pahala dan hukuman.
Imam Qurthubi mengatakan bahwa pengertian amanat menurut pendapat yang shahih dan dianut oleh jumhur ulama mempunyai arti yang menyeluruh, mencakup semua tugas agama, meskipun sebagian dari perinciannya masih diperselisihkan.
Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa amanat yang dimaksud dalam ayat ini menyangkut amanat yang berkaitan dengan harta benda, seperti barang titipan dan lain sebagainya yang bersifat materi. Namun, menurut nwayat lain yang bersumberkan dari Ibnu Mas'ud disebutkan bahwa amanat ini berkenaan dengan semua hal yang difardhukan, dan yang paling berat ialah amanat yang berkaitan dengan harta.
Abu Darda mengatakan bahwa mandi jinabah adalah amanat. Ibnu Umar mengatakan bahwa mula-mula bagian dari tubuh manusia yang diciptakan Allah adalah kemaluannya. Lalu Allah berfirman, "Ini adalah amanat yang Kutitipkan kepadamu, maka janganlah kamu menggunakannya, kecuali dengan cara yang benar Jika kamu memeliharanya, niscaya Aku akan balas memeliharamu." Kemaluan adalah amanat, telinga adalah amanat, mata adalah amanat, lisan adalah amanat, perut adalah amanat, tangan adalah amanat, dan kaki adalah amanat, masih belum sempurna iman seseorang yang tidak dapat memelihara amanatnya.
Al Hasan mengatakan bahwa sesungguhnya amanat ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya bergetar berikut dengan segala isinya, dan Allah berfirman kepadanya, "Jika kamu berbuat baik kepadanya, niscaya akan Kubalas kamu dengan pahala, dan jika kamu berbuat buruk kepadanya niscaya kamu akan Kuazab." Maka semuanya menjawab, "Kami tidak mau."
Mujahid mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan Adam ditawarkanlah amanat ini kepadanya dan Allah mengemukakan firman yang sama kepadanya, lalu Adam menjawab, "Barangkali aku dapat memikulnya." Dan tidak diragukan lagi bahwa penawaran amanat yang dikemukakan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung adalah penawaran yang bersifat pilihan, bukan penawaran yang bersifat harus. Seandainya Allah mengharuskan mereka menerimanya, tentulah mereka tidak dapat menolaknya Ulama ahli fiqih dan lain-lainnya mengatakan bahwa penawaran dalam ayat ini merupakan perumpamaan, yakni seandainya langit, bumi, dan gunung-gunung meskipun bentuknya yang begitu besar dapat dibebankan kepadanya tugas-tugas syari'at yang mengandung pahala dan hukuman, tentulah tidak akan mampu, sebab tugas ini sangat berat haknya dan berada di luar kemampuannya. Setelah tugas ini ditawarkan kepada manusia ia mau memikulnya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah selanjutnya, "dan dipikullah amanat itu oleh manusia." Yakni manusia mau menunaikan haknya setelah tugas mi ditawarkan kepada Adam as. di alam arwah, yaitu ketika dikeluarkan dari punggung Adam semua keturunannya yang bakal ada kemudian diambil janji dari mereka. "Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh," (QS. Al-Ahzab [33]: 72). Yakni namun demikian manusia itu amat zalim terhadap dirinya sendiri lagi sangat bodoh terhadap beban yang dipikulnya atau tidak mengetahui bobot perintah Rabbnya.
Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas yang telah mengatakan bahwa amanat ditawarkan kepada Adam, dikatakan kepadanya, "Terimalah amanat ini beserta semua konsekuensinya. Jika kamu taat niscaya Kuberikan ampunan bagimu, dan jika kamu durhaka niscaya Aku akan mengazabmu." Adam menjawab, "Aku mau menerimanya dengan semua konsekuensinya." Tidak lama kemudian di antara waktu asar hingga malam, pada hari itu juga Adam memakan buah terlarang, namun berkat rahmat dari Allah yang dilimpahkan kepada Adam, akhirnya Adam bertaubat dan beroleh petunjuk.
Amanat berakar dari iman, oleh karena itu barangsiapa yang memelihara amanat Allah, niscaya Allah balas memelihara imannya. Rasulullah saw pernah bersabda, "Tiada iman bagi orang yang tidak memelihara amanatnya dan tiada agama bagi orang yang tidak memegang janjinya."
Seorang penya'ir mengatakan: Sungguh celaka bagi orang yang puas dengan sikap khianat dan berpaling dari memelihara amanat.
Dia menolak berpegang kepada agama dan harga diri, pada ahirnya zaman menimpakan musibah yang bertubi-tubi kepadanya.
 Penya'ir yang lain mengatakan: Alangkah bejat pekerti orang yang puas dengan khianat, tidakkah ia melihat berbagai musibah yang menimpa orang- orang yang binasa.
Berbagai macam petaka menimpakan penderitaan tiada hentinya terhadap orang yang menghianati janjinya atau melanggar sumpahnya.

Rasulullah saw telah bersabda, "Seorang mu'min pantas me- nyandang pekerti apa pun selain khianat dan dusta."
Rasulullah saw telah bersabda, "Umatku masih tetap dalam keadaan baik selama mereka tidak melihat bahwa amanat sebagai jarahan yang menguntungkan dan sedekah sebagai beban yang merugikan."
Rasulullah saw telah bersabda pula, "Sampaikanlah amanat kepada orang yang mempercayakannya kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang berkhianat kepadamu."
Di dalam kitab shahihain disebutkan melalui Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Pertanda orang munafik itu ada tiga yaitu apabila berbicara dusta, apabila berjanji menyalahinya atau ingkar, dan apabila dipercaya khianat." Maksudnya apabila ada seseorang yang mempercayainya untuk menyimpan suatu rahasia, ia mengkhianatinya dengan membocorkannya kepada orang lain atau apabila diberi suatu titipan ia mengkhianatinya dengan mengingkarinya, tidak memeliharanya dan menggunakannya tanpa seizin pemiliknya.
Memelihara amanat merupakan perbuatan yang senantiasa dilakukan oleh para malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah), para nabi, para rasul, termasuk orang-orang yang berbakti lagi bertakwa kepada Allah. Allah telah berfirman:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, (QS. An-Nisaa [4]: 58).
Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini mengandung sejumlah besar pokok-pokok hukum syari'at yang ditujukan kepada semua orang mukallaf pada umumnya, mencakup para penguasa dan lain-lainnya. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi para penguasa membela orang yang teraniaya dan memenangkan haknya, sebab yang demikian itu merupakan amanat baginya dan juga memelihara harta kaum muslimin, terlebih lagi harta anak-anak yatim. Diwajibkan bagi para ulama mengajari kalangan awam hukum-hukum agama mereka, sebab tugas ini merupakan amanat yang dipercayakan kepada para ulama untuk memeliharanya. Diwajibkan bagi orangtua memelihara anaknya dengan memberinya pendidikan yang baik, sebab anak adalah amanat yang dipercayakan kepadanya. Rasulullah saw telah bersabda, "Kamu semua adalah penggembala dan masing-masing dari kamu akan dimintai pertanggung jawab mengenai gembalaannya."
Di dalam kitab Zahrur Riyadh disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti akan didatangkan seorang hamba, lalu diberdirikan di hadapan Allah swt, dan Allah, bertanya, "Apakah kamu telah mengembalikan amanat si Fulan?" Ia menjawab, "Tidak, wahai Rabbku." Maka Allah memerintahkan kepada malaikat yang langsung memegang tangannya dan membawanya ke neraka Jahannam, lalu diperlihatkan kepadanya amanat yang dimaksud berada di dasar neraka Jahannam. Maka ia jatuh ke dalam neraka Jahannam selama tujuh puluh tahun hingga sampai ke dasarnya, lalu ia naik dengan membawa amanat itu, dan manakala sampai ke permukaan neraka Jahannam, kakinya terpeleset lalu jatuh lagi ke dalamnya. Demikianlah, lalu ia naik, dan terjatuh lagi, demikianlah seterusnya sampai ia beroleh belas kasihan dari Allah berkat syafa'at Al Mushthafa saw yang pada akhirnya pemilik amanat memaafkannya.
Diriwayatkan dari Salamah ra. yang telah menceritakan bahwa ketika kami sedang duduk di sisi Nabi saw tiba-tiba didatangkan jenazah seseorang untuk disalatkan, lalu beliau saw bertanya, "Apakah ia punya hutang?" Dijawab, "Tidak,", maka barulah beliau mau menyalatkannya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain, dan beliau bertanya, "Apakah ia punya hutang?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau saw bertanya, "Apakah dia meninggalkan sesuatu?" Mereka menjawab, "Ya Tiga Dinar,", maka beliau menyalatkannya. Dan didatangkan lagi jenazah yang ketiga, beliau bertanya, "Apakah ia punya hutang?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bertanya, "Apakah dia meninggalkan sesuatu." Mereka menjawab, "Tidak,", maka Rasulullah saw bersabda, "Salatkanlah jenazah teman kalian ini oleh kalian."
Qatadah yang telah menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar, mengharap ridha Allah, menghadapi musuh bukan lari darinya, apakah Allah akan menghapus dosa-dosaku?" Beliau saw menjawab, "Ya." Tetapi ketika lelaki itu berpaling, beliau memanggilnya dan bersabda, "Allah akan mengampuni semua dosa orang yang mati syahid, kecuali hutang."

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali


--------- ### -------