Sunday, June 30, 2013

BAB1: PengetahuanTentangDiri

Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan Hadits: "Dia yang mentetahui dirinya sendiri, akan mengetahui Tuhan," dan sebagaimana yang tertulis di dalam al-Qur'an: "Akan Kami tunjukkan ayat-ayat kami di dunia ini dan di dalam diri mereka, agar kebenaran tampak bagi mereka." Nah, tidak ada yang lebih dekat kepada anda kecuali diri anda sendiri. Jika anda tidak mengetahui diri anda sendiri, bagaimana anda bisa mengetahui segala sesuatu yang lain. Jika anda berkata" "Saya mengetahui diri saya"- yang berarti bentuk luar anda; badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya - pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan. Demikian pula halnya jika pengetahuan anda hanyalah sekedar bahwa kalau lapar anda makan, dan kalau marah anda menyerang seseorang; akankah anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan anda?
Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya, ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut ini:
Siapakah anda, dan dari mana anda datang? Kemana anda pergi, apa tujuan anda datang lalu tinggal sejenak di sini, serta di manakah kebahagiaan anda dan kesedihan anda yang sebenarnya berada? Sebagian sifat anda adalah sifat-sifat binatang, sebagian yan glain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Mestai anda temukan, mana di antara sifat-sifat ini yan gaksidental dan mana yan gesensial (pokok). Sebelum anda ketahui hal ini, tak akan bisa anda temukan letak kebahagiaan anda yang sebenarnya.
Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Oleh karena itu, jika anda seekor hewan, sibukkan diri anda dengan pekerjaan-pekerjaan ini. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, akal bulus dan kebohongan. Jika anda termasuk dalam kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka. Malaikat-malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sama sekali bebas dari kualitas-kualitas hewan. Jika anda punya sifat-sifat malaikat, maka berjuanglah untuk mencapai sifat-sifat asal anda agar bisa anda kenali dan renungi Dia Yang Maha Tinggi, serta merdeka dari perbudakan nafsu dan amarah. Juga mesti anda temukan sebab-sebab anda diciptakan dengan kedua insting hewan ini: mestikah keduanya menundukkan dan memerangkap anda, ataukah anda yang mesti menundukkan mereka dan - dalam kemajuan anda - menjadikan salah satu di antaranya sebagai kuda tunggangan serta yang lainnya sebagai senjata.
Langkah pertama menuju pengetahuan tentang diri adalah menyadari bahwa anda terdiri dari bentuk luar yang disebut sebagai jasad, dan wujud dalam yang disebut sebagai hati atau ruh. Yang saya maksudkan dengan "hati" bukanlah sepotong daging yang terletak di bagian kiri badan, tetapi sesuatu yang menggunakan fakultas-fakultas lainnya sebagai alat dan pelayannya. Pada hakikatnya dia tidak termasuk dalam dunia kasat-mata, melainkan dunia  maya; dia datang ke dunia ini sebagai pelancong yan gmengunjungi suatu negeri asing untuk keperluan perdagangan dan yang akhirnya akan kembali ke tanah asalnya. Pengetahuan tentang wujud dan sifat-sifatnya inilah yang merupakan kunci pengetahuan tentang Tuhan.
Beberapa gagasan tentang hakikat hati atau ruh bisa diperoleh seseorang yang mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain individualitasnya. Dengan demikian, ia juga akan memperoleh penglihatan sekilas akan sifat tak berujung dari individualitas itu. Meskipun demikian, pemeriksaan yang terlalu dekat kepada esensi ruh dilarang oleh syariat. Di dalam al-Qur'an tertulis: "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan: Ruh itu adalah urusan Tuhanku." (QS 17:85). Yang bisa diketahui adalah bahwa ia merupakan suatu esensi tak terpisahkan yang termasuk dalam dunia titah, dan bahwa ia tidak berasal dari sesuatu yang abadi, melainkan diciptakan. Pengetahuan filosofis yang tepat tentang ruh bukanlah merupakan pendahuluan yang perlu untuk perjalanan di atas lintasan agama, melainkan muncul lebih sebagai akibat disiplin-diri dan kesabaran berada di atas lintasan itu, sebagaimana dikatakan dalam al-Qur'an: "Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan padanya jalan yan glurus." (QS 29:69).
Untuk melanjutkan peperangan ruhaniah demi mendapatkan pengetahuan tentang diri dan tentang Tuhan, jasad bisa digambarkan sebagai suatu kerajaan, jiwa (ruh) sebagai rajanya serta berbagai indera dan fakultas lain sebagai tentaranya. Nalar bisa disebut sebagai wazir atau perdana menteri, nafsu sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai petugas polisi. Dengan berpura-pura mengumpulkan pajak, nafsu terus-menerus cenderung untuk merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah selalu cenderung kepada kekasaran dan kekerasan. Pemungut pajak dan petugas polisi keduanya harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri yang harus dipenuhinya. Tapi jika nafsu dan amarah menguasai nalar, maka - tak bisa tidak - keruntuhan jiwa pasti terjadi. Jiwa yang membiarkan fakultas-fakultas yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan seorang bidadari kepada kekuasaan seekor anjing, atau seorang muslim kepada tirani seorang kafir.
Penanaman kualitas-kualitas setan, hewan ataupun malaikat menghasilkan watak-watak yang sesuai dengan kualitas tersebut - yang di Hari Perhitungan akan diwujudkan dalam bentuk kasat-mata, seperti nafsu sebagai babi, ganas sebagai anjing dan serigala, serta suci sebagai malaikat. Tujuan disiplin moral adalah untuk memurnikan hati dari karat-nafsu dan amarah, sehingga bagaikan cermin yan gjernih, ia memantulkan cahaya Tuhan.
Barangkali di antara pembaca ada yang akan berkeberatan, "Tapi jika manusia telah diciptakan dengan kualitas-kualitas hewan, setan dan malaikat, bagaimana bisa kita ketahui bahwa kualitas malaikat merupakan esensinya yang sebenarnya, sementara kualitas hewan dan setan hanyalah aksidental dan peralihan belaka?" Atas pertanyaan ini, saya jawab bahwa esensi tiap makhluk adalah sesuatu yang tertinggi di dalam dirinya dan khas baginya.
Kuda dan keledai kedua-duanya adalah hewan pengangkut beban, tetapi kuda lebih unggul dari keledai karena ia dimanfaatkan untuk perang. Jika gagal dalam hal ini, ia pun terpuruk ke tingkatan binatang pengangkut beban. Fakultas tertinggi di dalamnya adalah nalar yang menjadikannya bisa merenung tentang Tuhan. Jika fakultas ini dominan dalam dirinya, maka ketika mati dia tinggalkan di belakangnya segenap kecenderungan kepada nafsu dan amarah, sehingga memungkinkannya berkawan dengan para malaikat. Dalam hal pemilikan kualitas-kualitas hewan, manusia kalah dibanding banyak hewan, tetapi nalar membuatnya lebih unggul dari mereka, sebagaimana tertulis di dalam al-Qur'an: "Telah Kami tundukkan segala sesuatu di atas bumi untuk manusia" (QS 45:13). Tetapi jika kecenderungan- kecenderungannya yang lebih rendah yang menang, maka setelah kematiannya, dia akan selamanya menghadap ke bumi dan mendambakan kesenangan-kesenangan duniawi.
Selanjutnya, jiwa rasional di dalam manusia penuh dengan keajaiban- keajaiban pengetahuan maupun kekuatan. Dengan itu semua ia menguasai seni dan sains, ia bisa menempuh jarak dari bumi ke langit bolak-balik secepat kilat, dan mampu mengatur lelangit dan mengukur jarak antar bintang. Dengan itu juga ia bisa menangkap ikan dari lautan dan burung- burung dari udara, serta bisa menundukkan binatang-binatang seperti gajah, unta dan kuda.
Pancainderanya bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap ke dunia luar. Tetapi ajaib dari semuanya ini, hatinya memiliki jendela yang terbuka ke arah dunia ruh yang tak kasat-mata. Dalam keadaan tertidur, ketika saluran inderanya tertutup, jendela ini terbuka dan ia menerima kesan-kesan dari dunia tak-kasat-mata; kadang-kadang bisa ia dapatkan isyarat tentang masa depan. Hatinya bagaikan sebuah cermin yang memantulkan segala sesuatu yang tergambar di dalam Lauhul-mahfuzh. Tapi, bahkan dalam keadaan tidur, pikiran-pikiran akan segala sesuatu yang bersifat keduniaan akan memburamkan cermin ini, sehingga kesan-kesan yang diterimanya tidak jelas. Meskipun demikian setelah mati pikiran-pikiran seperti itu sirna dan segala sesuatu tampak dalam hakikat-telanjangnya. Dan kata-kata di dalam al-Qur'an pun menyatakan: "Telah Kami angkat tirai darimu dan hari ini penglihatanmu amat tajam."
Membuka sebuah jendela di dalam hati yang mengarah kepada yan gtak- kasat-mata ini juga terjadi di dalam keadaan-keadaan yang mendekati ilham kenabian, yakni ketika intuisi timbul di dalam pikiran - tak terbawa lewat saluran-indera apa pun. Makin seseorang memurnikan dirinya dari syahwat- syahwat badani dan memusatkan pikirannya pada Tuhan, akan makin pekalah ia terhadap intuisi-intuisi seperti itu. Orang-orang yang tidak sadar akan hal ini tidak punya hak untuk menyangkal hakikatnya.
Intuisi-intuisi seperti itu tidak pula terbatas hanya pada tingkatan kenabian saja. Sebagaimana juga besi, dengan memolesnya secukupnya, ia akan bisa dijelmakan menjadi sebuah cermin. Jadi, dengan disiplin yang memadai, pikiran siapa pun bisa dijadikan mampu menerima kesan-kesan seperti itu. Kebenaran inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ketika beliau berkata: "Setiap 
 anak lahir dengan suatu fitrah (untuk menjadi muslim); orang tuanyalah yang kemudian membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi." Setiap manusia, di kedalaman kesadarannya, mendengar pertanyaan "Bukankah Aku ini tuhanmu?" dan menjawab "Ya". Tetapi ada hati yang menyerupai cermin yang telah sedemikian dikotori oleh karat dan kotoran sehingga tidak lagi memberikan pantulan-pantulan yang jernih. Sementara hati para nabi dan wali, meskipun mereka juga mempunyai nafsu seperti kita, sangat peka terhadap segenap kesan-kesan ilahiah.
Bukan hanya dengan nalar pengetahuan capaian dan intuitif saja jiwa manusia bisa menempati tingkatan palin gutama di antara makhluk-makhluk lain, tetapi juga dengan nalar kekuatan. Sebagaimana malaikat-malaikat berkuasa atas kekuatan-kekuatan alam, demikian jugalah jiwa mengatur anggota-anggota badan. Jiwa yang telah mencapai suatu tingkatan kekuatan khusus, tidak saja mengatur jasadnya sendiri, melainkan juga jasad orang lain. Jika mereka ingin agar seseorang yang sakit bisa sembuh, maka si sakit pun akan sembuh, atau menginginkan seseorang yang sehat agar jatuh sakit, maka sakitlah orang itu, atau jika ia inginkan kehadiran seseorang, maka datanglah orang itu kepadanya. Sesuai dengan baik-buruknya akibat yang ditimbulkan oleh jiwa yang sangat kuat ini, hal tersebut diistilahkan sebagai mukjizat dan sihir. Jiwa ini berbeda dari orang biasa dalam tiga hal:
  1. Yang hanya dilihat oleh orang-orang lain sebagai mimpi, mereka lihat pada saat-saat jaga.
  2. Sementara kehendak orang lain hanya mempengaruhi jasad mereka saja, jiwa ini, dengan kekuatan kehendaknya, bisa pula menggerakan jasad-jasad di luar mereka.
  3. Pengetahuan yang oleh orang lain diperoleh dengan belajar secara sungguh-sungguh, sampai kepada mereka lewat intuisi.
Tentunya bukan hanya tiga tanda ini sajalah yang membedakan mereka dari orang-orang biasa, tetapi hanya ketiganya itulah yang bisa kita ketahui. Sebagaimana halnya, tidak ada sesuatu pun yang mengetahui sifat-sifat Tuhan yang sebenarnya, kecuali Tuhan sendiri, maka tak ada seorang pun yang mengetahui sifat sebenarnya seorang Nabi, kecuali seorang Nabi. Hal ini tak perlu kita herankan, sama halnya dengan di dalam peristiwa sehari-hari kita melihat kemustahilan untuk menerangkan keindahan puisi pada seseorang yan gtelinganya kebal terhadap irama, atau menjelaskan keindahan warna kepada seseorang yang sama sekali buta. Di samping ketidakmampuan, ada juga hambatan-hambatan lain di dalam pencapaian kebenaran ruhaniah. Salah satu di antaranya adalah pengetahuan yang dicapai secara eksternal. Sebagai misal, hati bisa digambarkan sebagai sumur dan pancaindera sebagai lima aliran yang dengan terus-menerus membawa air ke dalamnya. Agar bisa menemukan kandungan hati yang sebenarnya, maka aliran-aliran ini mesti dihentikan untuk sesaat dengan cara apa pun dan sampah yang dibawa bersamanya mesti dibersihkan dari sumur itu. Dengan kata lain, jika kita ingin sampai kepada kebenaran ruhani yang murni, pada saat itu mesti kita buang pengetahuan yang telah dicapai dengan proses-proses eksternal dan yang sering sekali mengeras menjadi prasangka dogmatis. 
Kesalahan dari jenis lain, berlawanan dengan itu, dibuat oleh orang-orang yang dangkal yang - dengan menggemakan beberapa ungkapan yang mereka tangkap dari guru-guru Sufi - ke sana ke mari menyebarkan kutukan terhadap semua pengetahuan. Ia bagaikan seseorang yang tidak capak di bidang kimia menyebarkan ucapan: "Kimia lebih baik dari emas," dan menolak emas ketika ditawarkan kepadanya. Kimia memang lebih baik dari emas, tapi para ahli kimia sejati amatlah langka, demikian pula Sufi-sufi sejati. Seseorang yang hanya memiliki pengetahuan yang dangkal tentang tasawuf, tidak lebih unggul daripada seorang yang terpelajar. Demikian pula seseorang yang baru mencoba beberapa percobaan kimia, tidak punya alasan untuk merendahkan seorang kaya.
Setiap orang yang mengkaji persoalan ini akan melihat bahwa kebahagiaan memang terkaitkan dengan pengetahuan tentang Tuhan. Tiap fakultas dalam diri kita senang dengan segala sesuatu yang untuknya ia diciptakan. Syahwat senang memuasi nafsu, kemarahan senang membalas dendam, mata senang melihat obyek-obyek yang indah, dan telinga senang mendengar suara-suara yang selaras. Fungsi tertinggi jiwa manusia adalah pencerapan kebenaran, karena itu dalam mencerap kebenaran tersebut ia mendapatkan kesenangan tersendiri. Bahkan soal-soal remeh, seperti mempelajari catur, juga mengandung kebaikan. Dan makin tinggi materi subyek pengetahuan didapatnya, makin besarlah kesenangannya. Seseorang akan senang jika dipercayai untuk jabatan Perdana Menteri, tetapi betapa lebih senangnya ia jika sang raja sedemikian akrab dengannya sehingga membukakan soal-soal rahasia baginya.
Seorang ahli astronomi yang dengan pengetahuannya bisa memetakan bintang-bintang dan menguraikan lintasan-lintasannya, mereguk lebih banyak kenikmatan dari pengetahuannya dibanding seorang pemain catur. Setelah mengetahui bahwa tak ada sesuatu yang lebih tinggi dari Allah, maka betapa akan besarnya kebahagiaan yang memancar dari pengetahuan sejati tentang- Nya itu!
Orang yang telah kehilangan keinginan akan pengetahuan seperti ini adalah bagaikan seorang yang telah kehilangan seleranya terhadap makanan sehat, atau yang untuk hidupnya lebih menyukai makan lempung daripada roti. Semua nafsu badani musnah pada saat kematian bersamaan dengan kematian organ-organ yang biasa diperalat nafsu-nafsu tersebut. Tetapi jiwa tidak. Ia simpan segala pengetahuan tentang Tuhan yang dimilikinya, malah menambahnya.
Suatu bagian penting dari pengetahuan kita tentang Tuhan timbul dari kajian dan renungan atas jasad kita sendiri yang menampakkan pada kita kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Sang Pencipta. Dengan kekuasan- Nya, Ia bangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa dari hanya suatu tetesan belaka. Kebijakan-Nya terungkapkan di dalam kerumitan jasad kita serta kemampuan bagian-bagiannya untuk saling menyesuaikan, Ia perlihatkan cinta-Nya dengan memberikan lebih dari sekadar organ-organ yang memang mutlak perlu bagi eksistensi - seperti hati, jantung dan otak - tetapi juga yang tidak mutlak perlu - seperti tangan, kaki, lidan dan mata
 Kepada semuanya ini telah Ia tambahkan sebagai hiasan hitamnya rambut, merahnya bibir dan melengkungnya bulu mata.
Manusia dengan tepat disebut sebagi 'alamushshaghir' atau jasad-kecil di dalam dirinya. Struktur jasadnya mesti dipelajari, bukan hanya oleh orang- orang yang ingin menjadi dokter, tetapi juga oleh orang-orang yang ingin mencapai pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan, sebagaimana studi yang mendalam tentang keindahan dan corak bahasa di dalam sebuah puisi yang agung akan mengungkapkan pada kita lebih banyak tentang kejeniusan pengarangnya.
Di atas semua itu, pengetahuan tentang jiwa memainkan peranan yang lebih penting dalam membimbing ke arah pengetahuan tentang Tuhan ketimbang pengetauhan tentan gjasad kita dan fungsi-fungsinya. Jasad bisa diperbandingkan dengan seekor kuda dengan jiwa sebagai penunggangnya. Jasad diciptakan untuk jiwa dan jiwa untuk jasad. Jika seorang manusia tidak mengetahui jiwanya sendiri - yang merupakan sesuatu yang paling dekat dengannya - maka apa arti klaimnya bahwa ia telah mengetahui hal-hal lain. Kalau demikian, ia bagaikan seorang pengemis yang tidak memiliki persediaan makanan, lalu mengklaim bisa memberi makan seluruh penduduk kota.
Dalam bab ini kita telah berusaha sampai tingkat tertentu untuk memaparkan kebesaran jiwa manusia. Seseorang yang mengabaikannya dan menodai kapasitasnya dengan karat atau memerosotkannya, pasti menjadi pihak yang kalah di dunia ini dan di dunia mendatang. Kebesaran manusia yang sebenarnya terletak pada kapasitasnya untuk terus-menerus meraih kemajuan. Jika tidak, di dalam ruang temporal ini, ia akan menjadi makhluk yang paling lemah di antara segalanya - takluk oleh kelaparan, kehausan, panas, dingin dan penderitaan. Sesuatu yang paling ia senangi sering merupakan sesuatu yang paling berbahaya baginya. Dan sesuatu yang menguntungkannya tidak bisa ia peroleh kecuali dengan kesusahan dan kesulitan. Mengenai inteleknya, sekadar suatu kekacauan kecil saja di dalam otaknya sudah cukup untuk memusnahkan atau membuatnya gila. Sedangkan mengenai kekuatannya, sekadar sengatan tawon saja sudah bisa mengganggu rasa santai dan tidurnya. Mengenai tabiatnya, dia sudah akan gelisah hanya dengan kehilangan satu rupiah saja. Dan tentang kecantikannya, ia hanya sedikit lebih cantik daripada benda-benda memuakkan yang diselubungi dengan kulit halus. Jika tidak sering dicuci, ia akan menjadi sangat menjijikkan dan memalukan.
Sebenarnyalah manusia di dunia ini sungguh amat lemah dan hina. Hanya di dalam kehidupan yang akan datang sajalah ia akan mempunyai nilai, jika dengan sarana "kimia kebahagiaan" tersebut ia meningkat dari tingkat hewan ke tingkat malaikat. Jika tidak, maka keadaannya akan menjadi lebih buruk dari orang-orang biadab yan gpasti musnah dan menjadi debu. Perlu baginya untuk - bersamaan dengan timbulnya kesadaran akan keunggulannya sebagai makhluk terbaik - belajar mengetahui juga ketidakberdayaannya, karena hal ini juga merupakan salah satu kunci kepada pengetahuan tentang Tuhan.

Kata Pengantar Kimia Kebahagiaan


Ketahuilah, bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi suatu tujuan agung. Meskipun bukan merupakan bagian Yang Kekal, ia hidup selamanya; meski jasadnya rapuh dan membumi, ruhnya mulia dan bersifat ketuhanan. Ketika, dalam tempaan hidup zuhud, ia tersucikan dari nafsu jasmaniah, ia mencapai tingkat tertinggi; dan sebaliknya, dari menjadi budak nafsu angkara, ia memiliki sifat-sifat malaikat. Dengan mencapai tingkat ini, ia temukan surganya di dalam perenungan tentang Keindahan Abadi, dan tak lagi pada kenikmatan-kenikmatan badani. Kimia ruhaniah yang menghasilkan perubahan ini dalam dirinya, seperti kimia yang mengubah logam rendah menjadi emas, tak bisa dengan mudah ditemukan. Untuk menjelaskan kimia dan metode operasinya itulah maka pengarang menyusun karya yang diberi judul Kimia Kebahagiaan ini.
Khazanah-khazanah Tuhan yang mengandung kimia ini, ada pada hati para nabi. Siapa saja yang mencarinya di tempat lain akan kecewa dan bangkrut di hari kemudian, yakni ketika ia mendengar firman: "... Telah Kami angkat tirai itu darimu, dan pandanganmu pada hari ini sangatlah tajam." (QS 50:22)
Allah telah mengutus ke dunia ini seratus duapuluh empat nabi untuk mengajar manusia tentang resep kimia ini, dan bagaimana cara mensucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah melalui tempaan zuhud. Kimia ini dapat secara ringkas diuraikan sebagai berpaling dari dunia untuk menghadap kepada Allah. Bagiannya ada empat. Pertama, pengetahuan tentang diri. Kedua, pengetahuan tentang Allah. Ketiga, pengetahuan tentang dunia ini sebagaimana adanya. Keempat, pengetahuan tentang akhirat sebagaimana adanya.
Marilah kita mulai memaparkan keempat bagian ini secara berurutan. 

Thursday, June 27, 2013

Amanat

Allah swt telah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengemu- kakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu," yakni mereka menolak dan tidak mau menerimanya, "dan mereka khawatir akan mengkhianatinya," yakni mereka takut bila tidak dapat menunaikan amanat itu sehingga mereka akan tertimpa hukuman. Atau mereka takut akan berbuat khianat terhadap amanat itu. Pengertian amanat dalam ayat ini ialah ketaatan, dan semua kefardhuan yang penunaiannya berkaitan dengan pahala dan hukuman.
Imam Qurthubi mengatakan bahwa pengertian amanat menurut pendapat yang shahih dan dianut oleh jumhur ulama mempunyai arti yang menyeluruh, mencakup semua tugas agama, meskipun sebagian dari perinciannya masih diperselisihkan.
Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa amanat yang dimaksud dalam ayat ini menyangkut amanat yang berkaitan dengan harta benda, seperti barang titipan dan lain sebagainya yang bersifat materi. Namun, menurut nwayat lain yang bersumberkan dari Ibnu Mas'ud disebutkan bahwa amanat ini berkenaan dengan semua hal yang difardhukan, dan yang paling berat ialah amanat yang berkaitan dengan harta.
Abu Darda mengatakan bahwa mandi jinabah adalah amanat. Ibnu Umar mengatakan bahwa mula-mula bagian dari tubuh manusia yang diciptakan Allah adalah kemaluannya. Lalu Allah berfirman, "Ini adalah amanat yang Kutitipkan kepadamu, maka janganlah kamu menggunakannya, kecuali dengan cara yang benar Jika kamu memeliharanya, niscaya Aku akan balas memeliharamu." Kemaluan adalah amanat, telinga adalah amanat, mata adalah amanat, lisan adalah amanat, perut adalah amanat, tangan adalah amanat, dan kaki adalah amanat, masih belum sempurna iman seseorang yang tidak dapat memelihara amanatnya.
Al Hasan mengatakan bahwa sesungguhnya amanat ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya bergetar berikut dengan segala isinya, dan Allah berfirman kepadanya, "Jika kamu berbuat baik kepadanya, niscaya akan Kubalas kamu dengan pahala, dan jika kamu berbuat buruk kepadanya niscaya kamu akan Kuazab." Maka semuanya menjawab, "Kami tidak mau."
Mujahid mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan Adam ditawarkanlah amanat ini kepadanya dan Allah mengemukakan firman yang sama kepadanya, lalu Adam menjawab, "Barangkali aku dapat memikulnya." Dan tidak diragukan lagi bahwa penawaran amanat yang dikemukakan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung adalah penawaran yang bersifat pilihan, bukan penawaran yang bersifat harus. Seandainya Allah mengharuskan mereka menerimanya, tentulah mereka tidak dapat menolaknya Ulama ahli fiqih dan lain-lainnya mengatakan bahwa penawaran dalam ayat ini merupakan perumpamaan, yakni seandainya langit, bumi, dan gunung-gunung meskipun bentuknya yang begitu besar dapat dibebankan kepadanya tugas-tugas syari'at yang mengandung pahala dan hukuman, tentulah tidak akan mampu, sebab tugas ini sangat berat haknya dan berada di luar kemampuannya. Setelah tugas ini ditawarkan kepada manusia ia mau memikulnya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah selanjutnya, "dan dipikullah amanat itu oleh manusia." Yakni manusia mau menunaikan haknya setelah tugas mi ditawarkan kepada Adam as. di alam arwah, yaitu ketika dikeluarkan dari punggung Adam semua keturunannya yang bakal ada kemudian diambil janji dari mereka. "Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh," (QS. Al-Ahzab [33]: 72). Yakni namun demikian manusia itu amat zalim terhadap dirinya sendiri lagi sangat bodoh terhadap beban yang dipikulnya atau tidak mengetahui bobot perintah Rabbnya.
Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas yang telah mengatakan bahwa amanat ditawarkan kepada Adam, dikatakan kepadanya, "Terimalah amanat ini beserta semua konsekuensinya. Jika kamu taat niscaya Kuberikan ampunan bagimu, dan jika kamu durhaka niscaya Aku akan mengazabmu." Adam menjawab, "Aku mau menerimanya dengan semua konsekuensinya." Tidak lama kemudian di antara waktu asar hingga malam, pada hari itu juga Adam memakan buah terlarang, namun berkat rahmat dari Allah yang dilimpahkan kepada Adam, akhirnya Adam bertaubat dan beroleh petunjuk.
Amanat berakar dari iman, oleh karena itu barangsiapa yang memelihara amanat Allah, niscaya Allah balas memelihara imannya. Rasulullah saw pernah bersabda, "Tiada iman bagi orang yang tidak memelihara amanatnya dan tiada agama bagi orang yang tidak memegang janjinya."
Seorang penya'ir mengatakan: Sungguh celaka bagi orang yang puas dengan sikap khianat dan berpaling dari memelihara amanat.
Dia menolak berpegang kepada agama dan harga diri, pada ahirnya zaman menimpakan musibah yang bertubi-tubi kepadanya.
 Penya'ir yang lain mengatakan: Alangkah bejat pekerti orang yang puas dengan khianat, tidakkah ia melihat berbagai musibah yang menimpa orang- orang yang binasa.
Berbagai macam petaka menimpakan penderitaan tiada hentinya terhadap orang yang menghianati janjinya atau melanggar sumpahnya.

Rasulullah saw telah bersabda, "Seorang mu'min pantas me- nyandang pekerti apa pun selain khianat dan dusta."
Rasulullah saw telah bersabda, "Umatku masih tetap dalam keadaan baik selama mereka tidak melihat bahwa amanat sebagai jarahan yang menguntungkan dan sedekah sebagai beban yang merugikan."
Rasulullah saw telah bersabda pula, "Sampaikanlah amanat kepada orang yang mempercayakannya kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang berkhianat kepadamu."
Di dalam kitab shahihain disebutkan melalui Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Pertanda orang munafik itu ada tiga yaitu apabila berbicara dusta, apabila berjanji menyalahinya atau ingkar, dan apabila dipercaya khianat." Maksudnya apabila ada seseorang yang mempercayainya untuk menyimpan suatu rahasia, ia mengkhianatinya dengan membocorkannya kepada orang lain atau apabila diberi suatu titipan ia mengkhianatinya dengan mengingkarinya, tidak memeliharanya dan menggunakannya tanpa seizin pemiliknya.
Memelihara amanat merupakan perbuatan yang senantiasa dilakukan oleh para malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah), para nabi, para rasul, termasuk orang-orang yang berbakti lagi bertakwa kepada Allah. Allah telah berfirman:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, (QS. An-Nisaa [4]: 58).
Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini mengandung sejumlah besar pokok-pokok hukum syari'at yang ditujukan kepada semua orang mukallaf pada umumnya, mencakup para penguasa dan lain-lainnya. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi para penguasa membela orang yang teraniaya dan memenangkan haknya, sebab yang demikian itu merupakan amanat baginya dan juga memelihara harta kaum muslimin, terlebih lagi harta anak-anak yatim. Diwajibkan bagi para ulama mengajari kalangan awam hukum-hukum agama mereka, sebab tugas ini merupakan amanat yang dipercayakan kepada para ulama untuk memeliharanya. Diwajibkan bagi orangtua memelihara anaknya dengan memberinya pendidikan yang baik, sebab anak adalah amanat yang dipercayakan kepadanya. Rasulullah saw telah bersabda, "Kamu semua adalah penggembala dan masing-masing dari kamu akan dimintai pertanggung jawab mengenai gembalaannya."
Di dalam kitab Zahrur Riyadh disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti akan didatangkan seorang hamba, lalu diberdirikan di hadapan Allah swt, dan Allah, bertanya, "Apakah kamu telah mengembalikan amanat si Fulan?" Ia menjawab, "Tidak, wahai Rabbku." Maka Allah memerintahkan kepada malaikat yang langsung memegang tangannya dan membawanya ke neraka Jahannam, lalu diperlihatkan kepadanya amanat yang dimaksud berada di dasar neraka Jahannam. Maka ia jatuh ke dalam neraka Jahannam selama tujuh puluh tahun hingga sampai ke dasarnya, lalu ia naik dengan membawa amanat itu, dan manakala sampai ke permukaan neraka Jahannam, kakinya terpeleset lalu jatuh lagi ke dalamnya. Demikianlah, lalu ia naik, dan terjatuh lagi, demikianlah seterusnya sampai ia beroleh belas kasihan dari Allah berkat syafa'at Al Mushthafa saw yang pada akhirnya pemilik amanat memaafkannya.
Diriwayatkan dari Salamah ra. yang telah menceritakan bahwa ketika kami sedang duduk di sisi Nabi saw tiba-tiba didatangkan jenazah seseorang untuk disalatkan, lalu beliau saw bertanya, "Apakah ia punya hutang?" Dijawab, "Tidak,", maka barulah beliau mau menyalatkannya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain, dan beliau bertanya, "Apakah ia punya hutang?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau saw bertanya, "Apakah dia meninggalkan sesuatu?" Mereka menjawab, "Ya Tiga Dinar,", maka beliau menyalatkannya. Dan didatangkan lagi jenazah yang ketiga, beliau bertanya, "Apakah ia punya hutang?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bertanya, "Apakah dia meninggalkan sesuatu." Mereka menjawab, "Tidak,", maka Rasulullah saw bersabda, "Salatkanlah jenazah teman kalian ini oleh kalian."
Qatadah yang telah menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar, mengharap ridha Allah, menghadapi musuh bukan lari darinya, apakah Allah akan menghapus dosa-dosaku?" Beliau saw menjawab, "Ya." Tetapi ketika lelaki itu berpaling, beliau memanggilnya dan bersabda, "Allah akan mengampuni semua dosa orang yang mati syahid, kecuali hutang."

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali


--------- ### -------

Wednesday, June 26, 2013

Taat dan Menyintai Allah serta Rasul-Nya

Sehubungan dengan pengertian ini Allah telah berfirman:

Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) menyintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan balas menyintaimu (Q5. Ali Imran [3]: 31).

Perlu diketahui semoga Allah merahmati Anda, bahwa kecin­taan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan menaati dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh keduanya, sedangkan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah dengan melimpahkan nikmat ampunan-Nya kepada mereka. Menurut suatu pendapat disebutkan bahwa bila seorang hamba meyakini bahwa kesempurnaan yang hakiki hanyalah milik Allah, dan semua yang dilihatnya sempurna, baik yang ada pada dirinya maupun pada diri orang lain semuanya itu dari Allah semata dan berkat karunia-Nya, berarti kecintaannya kepada Allah menuntutnya agar berkehendak taat kepada Allah dan berkeinginan untuk melakukan semua yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, pengertian cinta kepada Allah ditafsirkan dengan pengertian dorongan melakukan ketaatan dan menuntut seseorang untuk mengikuti Rasul saw dalam ibadahnya serta anjuran untuk menaatinya.

Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri yang telah menceritakan bahwa dahulu di masa Rasulullah saw ada suatu kaum yang berkata, "Hai Muhammad, sesungguhnya kami benar-benar menyintai Rabb kami,", maka Allah swt menurunkan ayat ini.

Diriwayatkan dari Bisyr Al Hafi rahimahullah yang telah mengatakan bahwa ia bersua dengan Rasulullah dalam mimpinya, lalu beliau  saw bersabda, "Hai Bisyr, tahukah kamu mengapa Allah meninggikan derajatmu di antara teman-temanmu?" Bisyr menjawab, "Wahai Rasulullah, aku tidak tahu." Beliau bersabda, "Berkat kerajinanmu dalam melayani orang-orang saleh, nasihatmu kepada saudara-saudaramu dan kecintaanmu kepada teman-temanmu serta orang-orang yang mengikuti sunnahku dan kamu sendiri mengikuti sunnahku."

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah telah bersabda:

Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku berarti ia mencintaiku, dan barangsiapa yang menyintaiku, kelak di hari kiamat nanti ia akan bersamaku di dalam surga.

Dalam sebuah atsar yang terkenal disebutkan bahwa orang yang berpegang teguh kepada sunnah penghulu semua makhluk dan para rasul di saat akhlak semua manusia merosot dan munculnya berbagai pendapat yang bertentangan, baginya pahala yang sama dengan seratus orang yang mati syahid. Demikianlah menurut apa yang disebutkan di dalam kitab Syir'atul Islam.

Dan Rasulullah pernah bersabda, "Semua umatku pasti masuk surga terkecuali orang yang membangkang." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang membangkang itu?" Rasulullah menjawab, "Orang yang taat kepadaku niscaya masuk surga, dan orang yang durhaka terhadapku berarti ia membangkang. Setiap perbuatan yang tidak sesuai dengan sunnah (tuntunan) ku adalah perbuatan durhaka."

Salah seorang ulama mengatakan bahwa seandainya engkau melihat seorang syekh dapat terbang di angkasa, berjalan di atas laut, dapat makan api atau hal lainnya yang menakjubkan. Sedangkan dia meninggalkan salah satu dari hal yang difardhukan oleh Allah atau salah satu dari hal yang disunnahkan dengan sengaja, maka ketahuilah dia adalah seorang pendusta dalam pengakuannya Perbuatan yang dilakukannya bukan termasuk karamah (kemuliaan dari Allah), melainkan istidraj (penghinaan dari-Nya), semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.

Al Junaid rahimahullah telah mengatakan bahwa tidak sekali-kali seseorang dapat berhubungan dengan Allah, melainkan hanya melalui Allah, dan jalan untuk berhubungan dengan-Nya tanpa mengikuti petunjuk sunnah adalah batil, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, "Barangsiapa yang menyia-nyiakan sunnahku, niscaya kuharamkan beroleh syafaatku." Demikianlah menurut yang disebutkan di dalam kitab Syir'atul Islam.

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa seorang laki-laki melihat seseorang yang tidak waras melakukan perbuatan yang tidak dapat dimengerti olehnya, lalu ia ceritakan hal itu kepada Ma'ruf Al Karkhi rahimahullah, maka Ma'ruf tersenyum setelah mendengarnya dan berkata, "Wahai saudaraku, Allah mempunyai banyak pengagum-Nya, ada yang kecil dan ada yang besar dan ada pula yang tergila-gila kepada-Nya, dan orang yang engkau lihat melakukan hal yang tidak rasional itu adalah termasuk salah seorang dari mereka yang tergila-gila kepada-Nya."

Dalam sebuah hikayat yang berumberkan dari Al Junaid disebutkan bahwa gurunya yang bernama As Sirri rahimahullah jatuh sakit, namun kamu semua tidak mengetahui obatnya dan tidak pula mengetahui penyebabnya. Lalu ada seorang tabib yang ahli melakukan terapi kepadanya dan kami mengambil botol penampung buang air kecilnya, lalu botol itu diamati dengan saksama oleh sang tabib, sesudah itu sang tabib berkata, "Menurut hemat saya ini adalah air seni orang yang dimabuk rindu kepada Allah." Al Junaid melanjutkan kisahnya, "Setelah mendengar hasil tes itu aku kaget dan jatuh pingsan sehingga botolnya terjatuh dari tanganku. Setelah aku sadar, kuceritakan hal itu kepada As Sirri yang ternyata hanya tersenyum mendengar laporanku lalu berkata, "Semoga Allah merahmatinya, betapa tajamnya penglihatan tabib itu." Aku bertanya, "Wahai ustad, apakah pertanda cinta dapat dibaca melalui air seni orang yang bersangkutan?" As Sirri menjawab, "Ya."
Al Fudhail rahimahullah telah mengatakan bahwa apabila dikatakan kepadamu, "Apakah engkau cinta kepada Allah?"
Sebaiknya kamu diam, karena jika kamu katakan, "Tidak," berarti kamu kafir, dan jika kamu jawab, "Ya,", maka sifatmu bukanlah sifat orang-orang yang cinta kepada Allah, maka hindarilah murka-Nya.

Sufyan Ats Tsauri telah mengatakan bahwa barangsiapa yang menyintai orang yang cinta kepada Allah, maka tiada lain yang dicintainya secara tidak langsung hanyalah Allah. Dan barangsiapa yang memuliakan orang yang memuliakan Allah, maka sesungguhnya yang dimuliakannya secara tidak langsung hanyalah Allah.

Sahl rahimahullah sehubungan dengan pertanda cinta kepada Allah mengatakan bahwa pertanda cinta kepada Allah adalah menyintai Al Quran, pertanda menyintai Al Quran adalah menyintai Nabi saw,  pertanda menyintai Nabi saw adalah menyintai sunnahnya, pertanda menyintai sunnahnya adalah menyintai pahala akhirat, pertanda menyintai pahala akhirat adalah membenci duniawi, dan pertanda membenci duniawi ialah tidak mengambil darinya, kecuali hanya sebagai bekal dan sarana untuk meraih pahala akhirat.

Abul Hasan Az Zanjani mengatakan bahwa pokok ibadah itu bertopang pada tiga sendi yaitu mata, qolbu, dan lisan. Mata digunakan untuk mengambil pelajaran, qolbu untuk berpikir dan lisan untuk mengatakan kebenaran, mengucapkan tasbih dan dzikir, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Q5. Al-Ahzab [33]: 41-42).

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa Abdullah dan Ahmad ibnu Harb mendatangi sebuah tempat, lalu Ahmad ibnu Harb memotong segenggam rumput tanah, maka Abdullah berkata kepadanya, "Kamu telah melakukan lima buah kesalahan, yaitu hatimu lalai dari bertasbih kepada Tuhanmu, kamu biasakan dirimu dengan berbagai kesibukan selain berdzikir kepada Allah, perbuatanmu itu menjadi panutan yang bakal diikuti oleh orang lain, engkau cegah rumput dari bertasbih kepada Rabbnya, dan engkau tetapkan hujjah Allah atas dirimu pada hari kiamat nanti Demikianlah menurut apa yang disebutkan di dalam kitab Raunaqul Majalis.
As Sirri rahimahullah telah mengatakan bahwa ia melihat Al Jurjani makan sereal yang langsung dihirupnya tanpa dicampur dengan air. As Sirri bertanya, "Mengapa engkau tidak pernah menyantap makanan selainnya." Al Jurjani menjawab "Sesungguahnya aku telah menghitung waktu antara mengunyah dan menelan makanan sama dengan sembilan puluh kali tasbih maka sejak empat puluh tahun yang silam aku tidak pernal mengunyah roti."

Disebutkan bahwa Sahl ibnu Abdullah setiap setengah bulan hanya makan sekali, apabila bulan Ramadhan tiba ia makan hanya sekali selama sebulan, terkadang ia tahan untuk tidak makan sampai tujuh puluh hari. Demikian itu karena bila makan tubuhnya lemah dan bila lapar tubuhnya kuat.

Abu Hammad Al Aswad melakukan i'tikaf di dalam Masjidil Haram selama tiga puluh tahun, dan ternyata tidak pernah kelihatan makan dan minum serta tiada suatu saat pun yang dilaluinya kosong dari aktivitas berdzikir kepada Allah.

Menurut suatu riwayat disebutkan bahwa Amr ibnu 'Ubaid tidak pernah keluar dari rumahnya, kecuali karena tiga urusan, yaitu menunaikan salat berjama'ah, menjenguk pasien dan menghadiri pengurusan jenazah. Dalam pesannya ia mengatakan, "Kulihat orang-orang itu tak ubahnya bagaikan para pencuri dan penyamun Usia manusia itu bagaikan permata yang tak ternilai harganya, oleh karena itu sudah selayaknya dipenuhi dengan perbendaharaan yang kekal untuk bekal di akhirat. Dan ketahuilah oleh kalian bahwa orang yang mencari pahala akhirat dituntut untuk bersikap zuhud dalam kehidupan dunianya agar tekad dan cita-citanya dapat terfokuskan untuk satu tujuan sehingga sikap batiniahnya tidak berseberangan dengan lahiriahnya, karena memang memelihara keadaan tidak dapat dilakukan, kecuali dengan mengendalikan keseimbangan sikap lahir dan batinnya."

Diriwayatkan dari Ibrahim ibnul Hakim yang telah men­ceritakan bahwa dahulu ayahnya bila rasa kantuk datang menyerangnya, ia terjun ke dalam laut dan bertasbih, maka ikan-ikan yang ada di laut mengerumuninya ikut bertasbih dengannya.

Diriwayatkan bahwa Wahb ibnu Munabbih pernah berdo'a kepada Allah memohon agar dihilangkan rasa kantuk darinya di malam hari, maka lenyaplah rasa kantuk darinya di malam hari selama empat puluh tahun.

Dahulu Hasan Al Hallaj mengikat dirinya mulai dari mata kaki hingga lututnya dengan tiga belas ikatan, namun demikian di setiap siang dan malam harinya masih sempat mengerjakan salat seribu raka'at.

Al Junaid di awal mulanya selalu datang ke pasar dan mem­buka tokonya lalu masuk ke dalamnya dan menutupkan tirainya kemudian mengerjakan salat empat ratus raka'at, sesudah itu ia pulang ke rumahnya.
Habasyi ibnu Daud selalu mengerjakan salat subuhnya dengan wudhu salat 'isyanya selama empat puluh tahun. Oleh karena itu, dianjurkan bagi orang mu'min agar melestarikan wudhunya. Setiap kali berhadas ia kembali bersuci dan mengerjakan salat sunnahnya dua raka'at. Dan ia berupaya keras untuk menghadap ke arah kiblat di setiap majelisnya serta membayangkan dirinya seolah-olah sedang duduk di hadapan Rasulullah saw dengan sikap penuh hormat dan mawas diri sehingga mampu menetapi sikap tenang dan anggun dalam semua perbuatannya. Dia bersikap tabah menghadapi gangguan orang lain, tidak membalas keburukan orang lain dengan perbuatan yang semisal bahkan sebaliknya memohonkan ampunan untuk setiap orang yang berbuat jahat terhadap dirinya. Ia tidak pernah merasa 'ujub dengan dirinya dan tidak pula dengan amal yang dilakukannya, sebab sikap 'ujub termasuk sifat setan, bahkan sebaliknya ia memandang dirinya dengan pandangan yang hina dan memandang orang-orang yang saleh dengan sikap memuliakan dan penuh hormat. Barangsiapa yang tidak mengenal cara menghormati orang-orang yang saleh, maka ia tidak dapat bergaul dengan mereka, dan barangsiapa yang tidak mengenal etika melakukan ketaatan, niscaya hatinya tidak dapat merasakan manisnya ketaatan.

Al Fudhail ibnu 'Iyadh pernah ditanya, "Wahai Abu 'Ali, bilakah seseorang menjadi saleh?" Ia menjawab, "Bila berniat dilakukan dengan penuh ketulusan, rasa takut kepada Allah memenuhi qolbunya, jujur dalam lisannya, dan semua anggota tubuhnya melakukan amalan yang saleh."

Allah berfirman di saat Nabi saw melakukan mi'rajnya, "Hai Ahmad, jika kamu ingin menjadi orang yang paling wara', maka bersikap zuhudlah terhadap perkara duniawi dan cintailah perkara ukhrawi." Nabi saw bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimanakah cara berzuhud terhadap perkara duniawi?" Allah berfirman, "Ambillah dari harta dunia ini sekadar cukup untuk kebutuhan makan minum dan berpakaian, janganlah kamu menyimpannya untuk hari esok dan lestarikanlah berdzikir kepada-Ku." Nabi saw bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimanakah caranya agar aku dapat berdzikir kepadamu dengan lestari?" Allah berfirman, "Dengan berkhalwat (menyendiri), jadikanlah waktu tidurmu untuk salat dan waktu makanmu untuk lapar (puasa)."

Nabi telah bersabda, "Sikap zuhud terhadap duniawi merehatkan hati dan menyenangkan badan, sedangkan berambisi kepadanya memperbanyak kegundahan dan kesedihan. Cinta duniawi merupakan pangkal segala kekeliruan, sedangkan sikap zuhud terhadapnya adalah pangkal kebajikan dan ketaatan."

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki saleh bersua dengan sekumpulan orang dan ternyata ia menjumpai seorang tabib yang sedang memberikan terapi terhadap berbagai penyakit dan obatnya. Lalu ia bertanya, "Wahai orang yang pandai mengobati penyakit tubuh, dapatkah engkau mengobati penyakit qolbu?" Sang tabib menjawab, "Baiklah, terangkanlah kepadaku penyakit yang dideritanya." Ia berkata, "Hati ini telah digelapkan oleh berbagai macam dosa sehingga membuatnya menjadi kesat dan kasar, maka bagaimanakah cara mengobatinya?" Sang tabib menjawab, "Obatnya ialah dengan merendahkan diri kepada Allah, mengagungkan-Nya dan memohon ampun kepada Nya baik di malam maupun di siang hari, bersegera melakukan ketaatan kepada Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun serta memohon maaf kepada Raja Yang Maha Perkasa, inilah obat untuk menyembuhkan qolbu yang sakit termasuk ilmu yang langka." Maka lelaki saleh itu menjerit dan pergi dengan menangis seraya berkata, "Sebaik-baik tabib adalah kamu, kamu benar dalam mengobati qolbuku." Sang tabib menjawab, "Ini adalah obat untuk menyembuhkan qolbu orang yang bertaubat dan kembali ke jalan Tuhan Yang Mahabaik lagi Maha Penerima taubat."

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki membeli seorang budak, budaknya berkata, "Wahai tuanku, aku mengajukan tiga syarat kepadamu. Salah satunya ialah janganlah engkau menghalangiku dari salat fardhu bila telah tiba waktunya. Kedua, engkau boleh memerintahku di siang hari sesukamu, tetapi jangan memerintahku di malam hari. Ketiga, sediakanlah untukku tempat tinggal di dalam rumahmu, tiada yang memasukinya selain diriku." Lalu sang budak mengitari rumah majikannya dan menjumpai sebuah ruangan yang terbengkalai, lalu ia berkata kepada majikannya, "Kuambil ruangan ini untuk tempat tinggalku." Sang majikan berkata, "Hai pelayanku, mengapa engkau memilih ruangan yang terbengkalai?" Sang pelayan menjawab, "Tidakkah engkau tahu bahwa rumah yang terbengkalai pun bila bersama Allah akan menjadi seperti taman." Sejak saat itu sang pelayan melayani tuannya di siang hari, sedangkan bila malam tiba, ia gunakan waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah

Ketika sang pelayan dalam keadaan demikian, di suatu malam sang majikan berkeliling mengontrol rumahnya dan sampailah ia di ruangan pelayannya yang dijumpainya terang, dan ia melihat pelayannya sedang sujud, namun anehnya di atas kepalanya terdapat lampu dari cahaya yang bergantung di antara bumi dan langit. Sang pelayan asyik bermunajat dan ber-tadharru' merendahkan diri kepada Tuhannya seraya berkata dalam do'anya, "Wahai Tuhanku, Engkau telah membebankan atas diriku kewajiban melayani tuanku di siang hari, seandainya tidak ada tugas itu tentulah aku tidak akan menggunakan waktuku, baik malam maupun siang hari, melainkan kugunakan untuk berkhidmat melayani-Mu, maka maafkanlah daku wahai Tuhanku." Sedangkan majikannya memperhatikannya dengan rasa kagum hingga fajar subuh terbit, dan lampu cahaya itu dikembalikan serta atap rumah pun menyatu kembali, lalu ia kembali ke rumahnya dan memberitahukan apa yang telah disaksikannya itu kepada istrinya. Pada malam berikutnya, ia mengajak istrinya sampai ke pintu rumah sang pelayan, yang saat itu sedang bersujud, sementara di atas kepalanya terdapat pelita dari cahaya. Keduanya berdiri di depan pintu kamar sang pelayan dan memperhatikan sang pelayan sembari menangis sampai subuh. Sesudah itu keduanya memanggil pelayannya dan berkata kepadanya, "Sekarang engkau kumerdekakan karena Allah, agar kamu dapat mencurahkan semua waktumu untuk menyembah Tuhan yang engkau telah meminta maaf kepada-Nya." Sesudah itu sang pelayan mengangkat kedua tangannya ke atas dan mengatakan bait sya'ir berikut:

Wahai pemilik rahasia, kini rahasia itu telah terbuka, dan aku tidak ingin hidup lagi bila rahasiaku telah terbuka.

Sesudah itu sang pelayan berdo'a, "Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu matikanlah diriku,", maka pada saat itu juga tubuh sang pelayan tersungkur dan jatuh dalam keadaan tidak bernyawa Memang demikianlah keadaan orang-orang saleh yang merindukan Allah dan mencari ridha-Nya.

Dalam kitab Zahrur Riyadh disebutkan bahwa Musa as  mempunyai seorang teman akrab yang biasa menghiburnya, namun di suatu hari temannya itu berkata, "Hai Musa, do'akanlah kepada  Allah agar aku dapat mengenal-Nya dengan pengenalan yang sebenar-benarnya." Maka Musa as. berdo'a untuknya, do'a Musa dikabulkan lalu temannya itu pergi ke daerah pegunungan dan hidup di sana bersama dengan hewan-hewan liar, sehingga Musa merasa kehilangan dia, lalu Musa berkata dalam do'anya, "Wahai Rabbku, saudaraku tempat aku mendapat hiburan aku kehilangan dia. Lalu dikatakan kepada Musa, "Hai Musa, siapa pun yang telah mengenal-Ku dengan sebenar-benarnya, selamanya dia tidak akan mau bergaul dengan makhluk."

Dalam berita yang terdahulu disebutkan bahwa Yahya as. dan Isa as. sedang berjalan di pasar, tiba-tiba ada seorang wanita yang menabrak mereka, maka Yahya berkata, "Demi Allah aku tidak menyadarinya." 'Isa berkata, "Subhanallah, tubuhmu bersamaku tetapi hatimu entah ke mana?" Yahya menjawab, "Wahai anak bibi'. seandainya hatiku merasa tenang dengan selain Rabbku meskipun  hanya sekejap, tentulah aku mengira diriku tidak mengenal-Nya.

Dikatakan bahwa ma'rifat yang sejati itu dapat diraih dengan menanggalkan semua kesibukan, baik yang menyangkut urusan dunia maupun akhirat tetapi membaktikan diri sepenuhnya hanya untuk menyembah Allah, dan tergila-gila karena cinta kepada-Nya sehingga tidak sadar terkecuali bila telah tiba saatnya untuk dapat melihat-Nya dan yang bersangkutan senantiasa berada di dalam penerangan cahaya dari Tuhannya.



Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali