Saturday, March 2, 2013

Taubat Nasuha

Allah Swt. menciptakan para makhluk dan menghidupkan mereka dalam keselamatan, mematikan mereka dalam keselamatan, serta mengumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keselamatan. Mereka yang diselamatkan oleh-Nya merupakan orang-orang yang ridha dengan qadha, tenang dengan janji-Nya, dan takut dengan ancaman-Nya. Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari mereka. Amin.

Ada suatu kaum yang menghubungkan cahaya dengan kegelapan dalam menyembah Al-Haq 'Azza waJalla; sedangkan mereka berada di atas langkah ketakutan dan kehati-hatian. Mereka takut dengan akibat yang buruk. Mereka sama sekali tidak mengetahui ilmu-Nya berkaitan dengan diri mereka sendiri dan akhir urusan mereka, sehingga mereka menghubungkan cahaya dengan kegelapan dalam keadaan sedih, gelisah, serta tangisan yang disertai dengan terus mengerjakan shalat, puasa, haji, dan semua ketaatan. Mereka berdzikir mengingat-Nya dengan hati dan lisan. Tatkala sampai ke akhirat, mereka masuk ke dalam surga, serta melihat wajah-Nya dan kemuliaan-Nya. Kemudian, mereka memuji-Nya dan berkata, "Segala puji bagi Allah Swt. yang menghilangkan kesedihan dari kami."

Wahai anakku, jika kamu meluruskan keimananmu dan sampai ke lembah makrifat, lalu ke lembah ilmu, kemudian ke lembah kefanaan dari dirimu sendiri dan semua makhluk, lalu menuju wujud bukan dengan dirimu sendiri dan bukan pula dengan diri mereka, maka ketika itu hilanglah kesedihanmu. Penjagaan akan melayanimu, pemeliharaan akan mengelilingimu, taufiq akan mengetuk di hadapanmu, para malaikat akan berjalan di sekelilingmu, para arwah akan mendatangimu dan mengucapkan salam kepadamu, Al-Haq 'Azza wa Jalla akan merasa bangga denganmu di depan para makhluk-Nya, serta pandangan-Nya akan menjagamu dan menarikmu menuju negeri kedekatan dengan-Nya, merasa tenang bersama-Nya, dan bermunajat kepada-Nya.

Wahai para pelaku maksiat, bertaubatlah dari segala maksiat yang kalian lakukan, karena Tuhan kalian Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, menerima taubat dari para hamba-Nya,
serta mengampuni segala dosa dan menghapusnya. Bertaubatlah dengan hati dan lisan kalian.

Ya Allah, sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang bertaubat kepada- Mu dari segala dosa dan kesalahan.
Kami tidak akan mengulanginya lagi.
Wahai Tuhan kami, janganlah menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Wahai Tuhan kami, janganlah membelokkan hati kami setelah Engkau menunjuki kami. Wahai Dzat Yang Maha Pengampun segala dosa, ampunilah segala dosa kami. Wahai Dzat Yang Maha Penutup, tutupilah segala aib kami.

Beristighfarlah kepada-Nya, karena Dia mengampuni segala dosa. Syukurilah amalan yang sedikit, serta konsisten menjalankan amalan yang lebih baik darinya, karena Dia Maha Mulia lagi Maha Dermawan, memberi tanpa mengharapkan ganti dan tanpa sebab, maka bagaimanakah pemberian-Nya jikalau ada sebabnya? Mendekatlah kepada-Nya dengan tauhid dan amal shalih, meninggalkan dunia, mengutamakan akhirat, serta meninggalkan segala maksiat dan kesalahan.

Orang yang menginginkan Al-Haq 'Azza wa Jalla tentu tidak akan mengharapkan surga-Nya dan tidak takut dengan neraka-Nya. Ia hanya menginginkan ridha-Nya serta dekat dengan-Nya, dan takut jauh dari-Nya. Kamu adalah tawanan setan, hawa, nafsu, dunia, dan syahwat. Kamu tidak memiliki kebaikan sedikit pun. Di "kaki" hatimu, ada rantai. Kamu tidak memiliki kebaikan sedikit pun. Ya Allah, bebaskanlah dirinya dari penawanannya dan bebaskan kami, serta pakaikanlah kami secerabut rahasia-rahasia-Mu. Amin.

Kalian harus menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya dan menjaga seluruh batasan syariat. Jika kalian sudah mengerjakan yang fardhu, maka lanjutkan dengan melakukan yang sunnah. Kalian harus mengambil 'azimah (lawan rukhshah/ keringanan) dan berpaling dari rukhshah. Barang siapa yang terus-menerus mengambil rukhshah serta meninggalkan 'azimah, maka dikhawatirkan agamanya berada di ambang kehancuran. 'Azimah itu miliki para lelaki untuk mengendarai sesuatu yang paling bahaya dan sulit; sedangkan rukhshah biasanya ditujukan untuk anak-anak dan para wanita, karena rukhshah itu berfungsi untuk memberi kemudahan.

Wahai anakku, kamu harus berada di shaf pertama, karena shaf tersebut merupakan barisan para lelaki yang berani. Jauhilah shaf terakhir, karena shaf itu merupakan shafnya orang-orang pengecut. Manfaatkanlah nafsumu dan biasakan nafsu tersebut untuk mengambil 'azimah, karena beban yang kamu berikan pasti mampu dipikulnya. Janganlah menjauhkan tongkatmu darinya, karena ia sedang tidur dan mencampakkan beban-beban itu darinya. Janganlah memperlihatkan kepadanya putih gigimu dan putih kedua matamu, karena ia adalah hamba keburukan yang tidak mau menjalankan segala kesibukan, kecuali dengan tongkat. Janganlah membuatnya kenyang jikalau kamu beramal, karena kekenyangannya akan membuatnya membangkang dan ia akan mengerjakan sesuatu sebagai balasan kekenyangannya. Sufyan ats-Tsauri adalah orang yang banyak melakukan ketaatan dan sering kenyang perutnya. Bila kenyang, ia mengucapkan pepatah, "Kenyangkanlah si hitam dan paksalah bekerja keras, karena si hitam adalah keledai." Kemudian, ia bangkit untuk beribadah dan melakukannya sebanyak-banyaknya. Sebagian orang berkata, "Kami melihat Sufyan ats-Tsaury makan, sampai kami mencelanya. Kemudian ia shalat dan menangis, sampai kami menyayanginya." Janganlah meniru Sufyan dalam hal makannya yang banyak, namun tirulah ibadahnya yang banyak. Janganlah mengenyangkan nafsumu; sebagaimana Sufyan mengenyangkannya. Sebab, kamu tidak bisa menguasainya; sebagaimana Sufyan menguasainya.

Jika hati dalam keadaan benar, maka hati tersebut akan menjadi "pohon" yang memiliki ranting, daun, dan buah, serta memberikan berbagai manfaat kepada para makhluk, baik manusia, jin, maupun malaikat. Sebaliknya, bila hati tidak sehat, maka hati tersebut seperti hati binatang yang memiliki bentuk tanpa arti, bejana tanpa air, pohon tanpa buah, sarang tanpa burung, rumah tanpa penghuni, serta gudang yang dikumpulkan di dalamnya segala permata, dinar, dan dirham tanpa ada yang menginfaqkan. Hati ini juga seperti jasad tanpa ruh, seperti jasad yang hambar. Hati yang berpaling dari Allah Swt. dan kafir kepada-Nya adalah hati yang hambar. Oleh karena itu, Dia menyamakannya dengan batu. Di dalam al- Qur'an disebutkan:

"Kemudian, setelah itu, hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi...." (QS. al-Baqarah {2}: 74).

Tatkala Bani Israil tidak mengamalkan Taurat, maka Allah Swt. menjadikan hati mereka layaknya batu dan dicampakkan dari pintu-Nya. Begitu juga kalian, wahai para pengikut Rasulullah Saw., bila kalian tidak mengamalkan al-Qur'an dan berhukum dengan hukum-hukumnya, maka hati kalian akan hambar dan dicampakkan dari pintu-Nya. Janganlah menjadi orang-orang yang disesatkan-Nya, lantaran ilmu yang kalian miliki. Jika kalian belajar karena makhluk, maka kalian beramal untuk mereka. Bila kalian belajar untuk-Nya maka kalian pun akan beramal untuk-Nya. Ketaatan adalah amalan surga, sedangkan maksiat merupakan amalan neraka, dan setelah itu, urusannya kembali kepada-Nya. Dia melakukan hal-hal yang diinginkan-Nya. Dia tidak ditanya tentang segala perbuatan- Nya, namun merekalah yang akan ditanya.

Orang yang shiddiq melihat sesuatu dengan cahaya Allah Swt., bukan dengan cahaya kedua matanya, bukan pula dengan cahaya matahari dan bulan. Ini adalah cahaya-Nya yang bersifat umum, Dia juga memiliki cahaya khusus.

Ya Allah, karuniakanlah kami akan kelembutan-Mu, ilmu- Mu, dan kedekatan dengan-Mu. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani