Thursday, March 7, 2013

Takut Kepada Allah

Abul Laits rahimahullah telah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat di langit ketujuh yang senantiasa sujud sejak Allah menciptakan mereka sampai hari kiamat nanti, bergetar persendian mereka karena takut menyalahi perintah Allah. Apabila sudah tiba saat hari kiamat, mereka mengangkat kepalanya dan mengatakan, "Mahasuci Engkau, kami belum mengabdi kepada-Mu dengan pengabdian yang sebenarnya." Hal ini dijelaskan oleh firman-Nya:

Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka), (Q5. An-Nahl [16]:50).

Yakni mereka tidak pernah mendurhakai Allah barang sekejap pun. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, “Apabila bergetar tubuh seseorang hamba karena takut kepada Allah, maka berguguranlah dosa-dosanya bagaikan dedaunan yang rontok dari pohonnya."

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki yang terpaut hatinya dengan seorang wanita. Ketika wanita itu keluar untuk suatu keperluan, ia pun ikut pergi menemaninya. Ketika ia hanya berduaan dengannya di daerah pedalaman, dan orang-orang lain yang dalam rombongannya telah lelap dalam tidurnya, mulailah ia mengutarakan isi hatinya kepada wanita itu. Maka wanita itu berkata, "Periksalah, apakah orang-orang telah tidur semuanya?"

Bergembiralah hati laki-laki itu setelah mendengar ucapannya. Ia mengira bahwa wanita itu akan memenuhi apa yang didambakannya. Maka dengan segera ia bangkit dan mengelilingi rombongan kafilah, setelah diperiksanya ternyata mereka semua telah lelap dalam tidurnya. Lalu ia kembali kepada wanita itu dan mengatakan, bahwa memang benar semua orang telah lelap dalam tidurnya. Namun, wanita itu bertanya lagi, "Bagaimana menurutmu dengan Allah, apakah Dia tidur di saat seperti ini?" Maka dengan spontan laki-laki itu menjawab, "Sesungguhnya Allah tidak tidur, Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur."

Wanita itu kembali bertanya, "Sesungguhnya Tuhan yang tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur pasti melihat kita, meskipun orang-orang tidak melihat kita, oleh karena itu Dia lebih layak untuk ditakuti daripada selain-Nya." Saat itu juga sang laki-laki sadar, lalu meninggalkan wanita itu karena takut kepada Allah Yang Maha Pencipta, ia bertaubat dan kembali ke kampung halamannya.

Selang beberapa lama kemudian setelah laki-laki itu meninggal dunia, ada seseorang yang memimpikannya, ia bertanya kepadanya, "Apakah yang dilakukan oleh Allah terhadap dirimu?" Laki-laki itu menjawab, "Allah telah mengampuni semua dosa-dosaku berkat rasa takutku yang membuatku meninggalkan perbuatan dosa itu."

Dalam hikayat lain disebutkan bahwa dahulu ada seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israil yang mempunyai banyak anak, ia tertimpa oleh kelaparan dan membuat kehidupannya dalam keadaan terjepit. Keadaan demikian membuatnya terpaksa menyuruh istrinya untuk mencari sesuatu dari bahan makanan pokok untuk makan anak-anaknya. Sang istri datang ke rumah seorang saudagar yang kaya dan meminta sesuatu dari bahan makanan pokok untuk makan anak-anaknya. Saudagar itu berkata, "Baiklah, namun perkenankanlah diriku untuk dapat menguasai dirimu." Mendapat jawaban demikian wanita itu terdiam dan segera pulang ke rumahnya, namun sesampainya di rumah ia melihat anak-anaknya menjerit dan berteriak, "Wahai ibu, kami hampir mati karena kelaparan, berilah kami sesuatu untuk makan."

Keadaan itu membuat sang wanita terpaksa kembali kepada saudagar itu dan menceritakan kepadanya apa yang dialami oleh anak-anaknya, namun si saudagar itu berkata, "Bersediakah engkau memenuhi keinginanku?." Wanita itu dalam jawabannya mengiakan, dan setelah saudagar itu hanya berduaan dengannya, mendadak tubuh wanita itu gemetar seakan-akan semua persendiannya terlepas dari tempatnya masing-masing. Hal itu membuat si saudagar heran dan bertanya, "Mengapa kamu gemetar?" Wanita itu menjawab, "Aku takut kepada Allah." Saudagar berkata, "Kamu yang demikian miskin takut kepada Allah, padahal akulah yang lebih berhak untuk merasa takut kepada-Nya." Lalu ia berbalik tidak mau menggaulinya dan sebaliknya memenuhi semua keperluannya, maka dengan serta merta sang wanita pulang ke rumahnya dengan membawa berbagai macam makanan yang banyak lagi enak-enak untuk anak-anaknya yang menyambut kedatangannya dengan perasaan sangat gembira.

Allah mewahyukan kepada Musa as., "Sampaikanlah kepada si Fulan bin Fulan bahwa sesungguhnya Aku mengampuni dosa-dosanya." Musa datang menemuinya dan bertanya, "Barangkali kamu telah melakukan sesuatu yang baik antara dirimu dengan Allah?" Lalu lelaki itu menceritakan kisah yang telah dialaminya, sesudah itu Musa berkata, "Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu." Demikianlah menurut kisah yang disebutkan di dalam kitab Majma'ul Lathaaif.

Diriwayatkan dari Nabi dalam hadis qudsinya yang menyebutkan bahwa Allah telah berfirman, "Aku tidak akan menghimpunkan dalam diri seorang hamba antara dua rasa takut dan dua rasa aman. Barangsiapa yang merasa takut kepada-Ku semasa di dunia, niscaya Kuberikan keamanan kepadanya di hari akhirat nanti. Dan barangsiapa yang merasa aman kepada-Ku semasa di dunia, niscaya akan Kubuat ia merasa takut di akhirat nanti."
Allah telah berfirman:


Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. (Q5. Al-Maidah [5]: 44).

Dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman. (Q5. Ali Imran [3]: 175).

“Umar ra. jatuh pingsan karena takut kepada Allah bila mendengar sebuah ayat dibacakan. Pada suatu hari ia mengambil jerami lalu berkata, "Aduhai jika diriku menjadi jerami dan bukan menjadi manusia yang dikenal sebutannya. Aduhai seandainya ibuku tidak melahirkanku." 'Umar ra. adalah orang yang sering menangis karena takut kepada Allah, sehingga di wajahnya terbentuk dua garis hitam bekas aliran air matanya.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda:
“Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sampai ada air susu kembali ke teteknya.”

Di dalam kitab Daqaaiqul Akhbaar disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti seorang hamba dihadapkan, saat ditimbang ternyata amal keburukannya lebih berat maka diperintahkanlah untuk dimasukkan ke neraka. Akan tetapi, ada sehelai rambut kedua matanya berkata membela tuannya, "Wahai Rabbku, Rasul-Mu Muhammad pernah bersabda, bahwa barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan mengharamkan matanya terkena api neraka, dan sesungguhnya aku pernah menangis karena takut kepada-Mu."

Maka Allah memberikan ampunan kepadanya dan membebaskannya dari neraka, berkat pembelaan dari sehelai rambut mata yang pernah menangis karena takut kepada Allah ketika di dunia. Dan malaikat Jibril as. mengumandangkan seruannya bahwa si Fulan bin Fulan telah selamat (dari siksa neraka) berkat pembelaan dari sehelai rambutnya.

Di dalam kitab Bidayatul Hidayah disebutkan bahwa apabila Hari Kiamat terjadi, maka didatangkanlah neraka Jahannam yang suara gelegaknya bergemuruh, sehingga membuat semua umat terduduk berlutut karena ngeri mendengar suaranya yang menakutkan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. (Q5. Al-Jaatsiyah [45]: 20).

Yakni terduduk berlutut karena takut dan setiap umat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya masing-masing.

Apabila didatangkan kepada mereka neraka, mereka mendengar suara gelegak dan gemuruhnya, padahal sesungguhnya suara gemuruh neraka dapat terdengar sejauh perjalanan lima ratus tahun. Setiap orang saat itu sehingga para nabi pun meminta tolong untuk menyelamatkan dirinya masing-masing seraya mengatakan, "Selamatkanlah diriku, selamatkanlah diriku!" Terkecuali Nabi pilihan Muhammad Saw karena sesungguhnya beliau mengatakan, "Selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku!"

Kemudian muncullah gelombang api dari neraka Jahim yang sangat besar seperti beberapa buah gunung, lalu umat Muhammad berupaya sekuat tenaga menghalaunya dengan mengatakan, "Hai api, demi kebenaran orang-orang yang shalat, demi kebenaran orang-orang yang bersedekah, demi kebenaran orang-orang yang khusyu' dan demi kebenaran orang-orang yang puasa, kembalilah ke tempatmu!, akan tetapi api neraka Jahim tidak mau kembali dan tetap mendekat. Maka Jibril as. berseru, "Sesungguhnya api neraka sedang menuju kepada umat Muhammad Saw" Kemudian Jibril datang dengan membawa sewadah air yang diterima langsung oleh Rasulullah lalu Jibril berkata, "Wahai Rasulullah, terimalah air ini dan siramkanlah ke api neraka itu." Maka Rasulullah menyiramkan air itu ke api yang langsung padam saat itu juga karenanya. Rasulullah Saw bertanya, "Air apakah ini?" Jibril as. menjawab, "Ini adalah air mata orang-orang yang durhaka dari kalangan umatmu yang menangis karena takut kepada Allah saat mereka bertaubat. Dan sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar disiramkan ke dalam api, maka dengan seizin Allah api itu padam."

Nabi dalam do'anya sering mengatakan, "Ya Allah, berilah daku rezeki memiliki kedua mata yang suka menangis karena takut kepada-Mu sebelum air mata pantas dikeluarkan." Sehubungan dengan pengertian ini dalam sebuah bait sya'ir disebutkan:

Wahai kedua mataku, mengapa kamu tidak menangis menyesali dosa-dosaku, padahal usia makin menggerogoti diriku tanpa kusadari.

Dalam sebuah riwayat yang bersumberkan dari Muhammad ibnul Munkadir rahimahullah disebutkan bahwa bila menangis ia selalu mengusapkan bekasnya ke seluruh wajah dan jenggotnya seraya mengatakan, "Telah sampai kepadaku bahwa neraka tidak akan membakar bagian yang tersentuh oleh air mata." Dan sudah selayaknya bagi seorang mu'min merasa takut terhadap azab Allah dan menahan dirinya dari kemauan hawa nafsunya, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt melalui ayat-ayat berikut:



Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q5. An-Naazi'at [79]: 37-41).

Barangsiapa yang ingin selamat dari azab Allah dan beroleh pahala serta rahmat-Nya, maka hendaklah ia bersikap sabar dalam menghadapi berbagai penderitaan hidup di dunia, bersabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah dan senantiasa menjauhi kedurhakaan.

Di dalam kitab Zahratur Riyadh disebutkan bahwa telah diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa apabila ahli surga telah memasuki surga, kedatangan mereka disambut dengan baik dan senang oleh para malaikat. Lalu diletakkanlah berbagai mimbar untuk mereka dan digelarkan hamparan dan didatangkanlah berbagai macam makanan dan buah-buahan surgawi, namun dengan semua kesenangan itu mereka masih bingung.

Maka Allah bertanya, "Wahai hamba-hamba-Ku, mengapa kamu kebingungan, surga ini bukan tempat untuk kebingungan?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami mempunyai suatu janji yang sekarang sudah tiba saatnya." Allah berfirman kepada para malaikat, "Angkatlah tirai-tirai penutup-Ku dari wajah mereka!" Para malaikat berkata, "Wahai Rabb kami, kalau begitu mereka akan dapat melihat-Mu, padahal dahulu mereka adalah orang-orang yang durhaka?" Allah berfirman, "Angkatlah tirai-tirai itu, karena sesungguhnya dahulu semasa di dunia mereka adalah orang-orang yang gemar melakukan dzikir, banyak melakukan sujud, dan sering menangis karena mengharapkan pertemuan dengan-Ku."

Maka disingkapkanlah tirai-tirai itu dari wajah mereka sehingga mereka dapat melihat Allah, lalu mereka langsung menyungkur bersujud, dan Allah berfirman,
"Angkatlah muka kalian, karena sesungguhnya di sini bukan negeri untuk beramal, melainkan negeri untuk menerima penghormatan." Dan Allah menampakkan diri-Nya kepada mereka yang penampilan-Nya tidak dapat digambarkan, lalu berfirman kepada mereka dengan nada yang ramah, "Wahai hamba-hamba-Ku, keselamatan dan kesejahteraan Kulimpahkan kepada kalian, sesungguhnya Aku telah ridha kepada kalian, maka apakah kalian merasa puas dengan balasan yang telah Kuberikan kepada kalian?"

Mereka menjawab, "Wahai Rabb kami, bagaimana kami tidak puas sedangkan Engkau telah mengenugerahkan kepada kami sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbayangkan hakikatnya dalam hati seorang manusia pun?" Hal inilah yang dimaksud oleh firman-Nya:



Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadap-Nya. (Q5. Al- Maidah [5]: 119).

Dan firman-Nya dalam surat Yasin yaitu:
(Kepada mereka dikatakan), "Salam", sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang. (Q5. Yasin [36]: 58).

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali
--------- ### -------