Monday, March 18, 2013

Subur Kang Sarwo Tinandur

kriminal d desaUntuk pendidikannya yang cuma SD from Pracimantoro, kegemaran Mr. Rigen membaca berbagai surat kabar dan majalah, mengagumkan juga. Kompas, Suara Pembaharuan dan Kedaulatan Rakyat dilalap habis.Tempo dan Editor diganyangnya pada gambar-gambar advertensi dan foto-fotonya. Persoalan politik dan militer di dalam dan luar negeri dikuasainya. Berita-berita skandal seks dan kriminal, apalagi ! Daharan-nya sehari-hari.
Kepatuhan dan kepercayaannya kepada dunia media sangat mengharukan sekaligus mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, semua yang dibacanya diterimanya sebagai kebenaran yang tidak tergoyahkan lagi. Reagan dan Gorbachev sama betulnya. Keterangan pemerintah semuanya benar dan baik. Mobil merk BMW adalah mobil yang paling bagus. Rokok Djarum adalah rokok yang paling hebat dan Essaven adalah obat ambeien yang paling dahsyat. Sampai pada suatu hari saya ajak diskusi tentang berita kriminal di desa.
“Ini bagaimana, Gen. Kok kehidupan di desa sangsoyo rusuh.”
“Rusuh pripun ? Wong ndeso niku adem ayem, tidak ada apa-apa kok rusuh to, Pak.”
“Lho, kamu mengikuti berita di koran-koran, tidak ?”
“Ya, mengikuti to, Pak. Ning kabar ndeso rusuh itu kok saya tidak lihat.”
Lha, itu kabar simbah yang ngracun cucunya dengan racun tikus. Mantu membunuh mertuanya dengan endrin. Pemuda-pemuda sorak-sorak menggiring orang kumpul kebo dengan menyuruh mereka berjalan bugil. Apa semua itu bukan gejala desa sangsoyorusuh ?”
“Oohh, itu to ? Kalau menurut saya koran-koran kota itu kalau memberitakan keadaan desa kok suka ditambah-tambahi. Biar ramai.”
“Jadi, menurut kamu kabar-kabar seperti itu sesungguhnya tidak terjadi di desa ?”
“Ya, kalau pembunuhan, sekali-sekali ya terjadi to, Pak. Tani pacul-paculan gara-gara rebutan air. Gerombolan rampok lewat,ngrampok rumah orang sugih di desa. Ning nek sing aneh-aneh seperti simbah ngracun putune pakai racun tikus, pemuda ngarakorang disuruh bugil, itu apa ya memper, Pak ?”
“Lho, zamannya baru zaman edan kok, Gen. Mosok tidak mungkin ?”
“Ya, sak edan-edannya wong ndeso, tidak mungkin ada simbah membunuh cucunya sendiri. Bapak kan sering dolan ke desa. Kan, Bapak pirsa sendiri bagaimana simbah di desa itu sayangnya sama putu habis-habisan. Kok ini diracun. Pakai racun tikus lagi. Dan pemuda-pemuda desa itu, Bapak pirsa juga kan ? Rukunnya mboten jamak, kok ini diberitakan ugal-ugalan, menelanjangi, terus mengaraknya keliling desa. Tak mungkin, tak mungkin … “
Mr. Rigen yang selalu patuh dan percaya kepada semua berita di koran dan majalah, tiba-tiba jadi seperti kena sengat waktu ada berita yang miring tentang desa. Berita-berita itu jadi tampil sebagai berita yang dibikin-bikin. Sebagai sensasi untuk mencari kegemparan. Suaranya jelas menampakkan kegetiran. Kengototannya mengucapkan “tidak mungkn, tidak mungkin” bagaikan almarhum Jhoni Gudel, menunjukkan itu semua. Saya pun jadi miris. Itu suara rakyat yang tidak trimo.
Saya pun jadi manggut-manggut saja. Tetapi di dalam hati saya terus bertanya bagaimana hal-hal yang memang benar terjadi itu disangkal dengan sengit oleh Mr. Rigen. Memang selalu ada kemungkinan pemberitaan itu dibumbui untuk menambah selera sajian berita, tetapi kenyataan juga menunjukkan bahwa hal-hal tersebut telah diproses lewat otopsi di rumah sakit untuk korban yang dibunuh, dan semua peristiwa itu telah pula diajukan ke sidang pengadilan. Dan Mr. Rigen juga membaca semua itu di koran. Toh dia menolak itu sebagai suatu kenyataan. Apakah justru karena saking pedih hatinya melihat semua itu terjadi di desa, sehingga Mr. Rigen menyangkal dengan keras semuanya. Seakan-akan dengan begitu hatinya jadi tenteram. Saya tidak tahu.
Hari Minggu berikutnya, Pak Joyoboyo singgah ke rumah. Saya sedang malas mengobrol. Maka saya hanya tiduran di kamar sembari membaca. Kepada Mr. Rigen sudah saya instruksikan agar membeli beberapa potong ayam panggang untuk sarapan siang saya. Dari kamar saya dengar jelas obrolan mereka.
“Wah, pripun Mas Rigen. Wong cilik di desa saya semangkin susah hidupnya. Di desa sampeyan bagaimana ?”
Lha, ya sama saja. Apalagi daerah saya itu tandus. Tidak menghasilkan apa-apa. Maka kebanyakan dari kita ya ngumbara cari makan di kota. Seperti saya ini.”
Lha, harga-harga edan-edanan mahalnya kayak sekarang ini bagaimana ? Kita wong cilik ini terus disuruh makan sama apa, nggih ?
“Ya, makan sisanya wong-wong yang luwih sugih dari kita, Mas. Habis harus bagaimana ? Wong orang kayak kita ini ditakdirkan kalah terus, kok.”
“Wah, sampeyan kok pagi ini mendung banget to, Mas. Apa Pak Ageng marah sama sampeyan ?
“Tidak marah. Cuma pertanyaannya tentang macam-macam kejahatan di desa itu membuat saya marah dan bingung. Lha, wong ndeso kok sekarang ini jadi macam-macam begitu, lho. Yang mbunuh putu, yang ngracun endrin, yang ngarak orang bugil. Mestinya itu semua saking bingung susahnya cari makan ya, Mas ?”
Nggih mbok menawi mawon, Mas Rigen. Wong hidup di ndeso jan susah betul, kok.”
Lha, buktinya jaman saya kecil dulu, jaman nurmal atau neromal gitu, katanya, saya kok tidak pernah dengar kabar yang aneh-aneh kayak begitu. Sampeyan waktu kecil pernah dengar kabar simbah mbunuh putune dhewe, Mas Joyo ?”
Yak, ya tidak pernah, Mas Rigen. Sudah ah, saya pamit dulu. Pagi-pagi kok kita sudah ngobrol yang bikin perut mules, kepala pusing.Pun kita wong cilik pasrah kersaning Allah, Mas Rigen.”
Saya dengar Pak Joyboyo berjalan menjauh dan di jalan mulai meneriakkan lagunya yang terkenal, penggeng eyem … penggeng eyem ….Beni Prakosa yang rupanya kelupaan dibelikan setusuk sate usus, berontak kepada bapak dan ibunya. Suara rengekannya menyebalkan betul di pagi itu.
“Pak, sate usus, Pak. Buk, sate usus, Buk. Pak, sate usus, Pak. Bu, sate …. !”
“Diam apa tidak ! Diam apa tidak ! Dibilangin nggak ada sate usus kok ribut !”
“Pak, sate usus, Pak. Buk, sate usus, Buk !”
“Eh, kok malah rewel ! Malah nangis. Nanti dak racun tikus baru tahu rasa kamu. Diam !”
Astaga ……
 Yogyakarta, 9 Februari 1988
*) gambar dari surabayapagi.com