Sunday, March 31, 2013

Sore-Sore Tentang Gusti Allah


ngobrol soreSore-sore sepulang saya dari Jakarta dan Padang, Mr. Rigen menunggu saya minum teh dan nyomot pisang goreng panas. Upacara sore begitu sering kali memang saya rindukan setiap kali saya harus lama meninggalkan Yogya. Ada suasana yang khas pada sore-sore begitu. Suasana yang tidak dapat digambarkan atau ditulis secara pas. Wong soal roso, kok ! Setangkas-tangkas seorang penulis tidak akan mungkin ia akan memiliki cukup peluru kata-kata untuk bercerita tentang suasana sore dengan teh panas kenthel dan pisang goreng yang manget-manget. Ya, pokoknya maat dan laras. Mungkin Anda akan bertanya apakah di Jakarta, di mana saya justru direriung keluarga tidak saya temui suasana maat dan laras begitu ? Wooo … lain !
Di Jakarta, istri baru pulang menjelang maghrib dari rutin kerja kantor. Si Gendut, mahasiswi metropolitan masa kini, entah di mana sore-sore begitu. Entah belum pulang dari ngobrol di rumah temannya, jogging keliling kompleks, pokoknya embuhdi mana, dia selalu punya acara sendiri. Suasana kumpul itu baru datang di sekitar meja makan pada malam hari. Sore memang jarang hadir di rumah saya di Jakarta. Kecuali pada hari Minggu dan hari libur.
Sore-sore, agaknya memang milik kota yang masih adem ayem di pedalaman. Kota yang pada pukul dua siang tidur. Yang toko-tokonya setengah terbuka setengah tertutup pada jam-jam siang begitu. Sore-sore memang sekatan waktu yang indah antara siang dan malam. Sehabis menggeliat sesudah tidur siang, belum siap untuk mandi sore dan mikir-mikir mau apa pada malam harinya. Sore memang zona yang akan aman untuk menampung itu semua. Di luar negeri pun tidak ada suasana sore-sore begitu. Sore kadang lenyap begitu saja ditelan malam pada musim dingin. Atau tidak jelas batasnya pada hari-hari panjang di musim panas. Pokoknya sore-sore milik kota seperti Ngayogya inilah.
“Wah … pripun, Pak ?”
Pripun lagi. Mbok sekali-sekali mulai dialog itu tidak dengan pripun.”
Lha, memang batur itu kan perbendaharaan kata-katanya terbatas to, Pak. Di ketoprak-ketoprak dan dagelan-dagelan itu batur kan ya mulai dengan pripun to, Pak.”
Huss … kok semangkin nekat, lho.”
“Ha …inggih. Pripun itu cara wong cilik bertanya pada para pemimpinnya.”
“Ya, sudah. Silakan pripun !”
Mr. Rigen meringis. Tahu bahwa diam-diam majikannya selalu kagum akan ketangkasan pokorolannya.
Pripun, Pak ? Jago-jago Bapak kok keok semua !”
“Jago apa ?”
“Persija, keok. Pak Ngalmus dobel keok !
Saya jadi mak sengkring mendengar pertanyaan atau malah ledekan Mr. Rigen itu. Saya sudah mencoba melupakan semua itu, kok ini malah digugat lagi.
“Yaaa … kadang-kadang dalam hidup itu, Gen, orang tidak dapat terus-terusan berhasil. Kadang-kadang perlu juga keok itu. Ada hikmahnya, Gen, keok itu.”
Yakk … Bapak kok terus jadi lebih tua begitu, lho.”
Lha, terus maumu apa, Gen? Wong kenyataannya Persija ya kalah tenan. Pak Ngalmus ya belum berhasil lagi jadi menteri. Mau apa, mau apa ?”
“Ya, betul itu memang kersane Gusti Allah. Yang saya herani, kok Persebayadiparengke menang, wong sudah pernah urikan main sabun. Dan Pak Ngalmus yang sudah ngetok semua usaha bertahun-tahun kok ya belum diparengkeGusti Allah jadi menteri, lho.”
“Ya, mana kita tahu, Gen. Pokoknya apa yang digariskan Yang Kuwasa itu mesti ada maksudnya. Mesti baiknya.”
Yakk … Bapak itu kok terus tiru-tiru kami wong cilik, lho. Kalau tidak paham, sudah buntu, larinya ke Gusti Allah. Buat ngayem-ayem, menenteramkan hati. Saya itu mohon penjelasan lho, Pak.”
Saya jadi judeg. Kenapa wong cilik seperti Mr. Rigen itu suka menuntut yang angel-angel dari kami kaum pemegang kekuasaan. Kami power eliteKeranjingan tenan ! Mbok ya sudah nrimo saja dengan keterangan yang seadanya, yang masuk akal. Lagi pula apa kersanya Gusti Allah itu hanya untuk wong cilik saja ?
“Gen ! Gusti Allah itu kalau kagungan kersa buat kita semua. DIA yang menentukan Persebaya menang. Yo wis. DIA menetapkan Pak Ngalmus belum boleh jadi menteri. Yo wis. Diterima saja.”
“Wah … kalau begitu saya dak main sabun dalam bal-balan lawan Blunyah Cilik minggu depan. Biar Jetis terpelanting masuk kotak. Paklik saya di Praci daksuruh lenggang-kangkung saja, tidak usah kasak-kusuk untuk jadi lurah. Nanti kan kejatuhan pulung sendiri.”
Sehabis ngomong begitu, mak brebet Mr. Rigen pergi ke belakang. Saya mengelus dada. Weh … sering kali sulit juga nyratenimomong kemauan wong cilik ! Selalu butuh penjelasan yang memuaskan. Tetapi permintaannya sering sulit-sulit. Kayaknya kami kaum power elite hasumadya dengan penjelasan yang memuaskan. Kalau kami sendiri hilang akal dan mau lari ke Gusti Allah dimarahi. Kayaknya cuma mereka yang punya Gusti Allah. Wee … lha, trembelane tenan !
Tetapi sesudah saya merenung sebentar, saya kok jadi tersenyum. Lha, kalau mereka wong cilik tidak mengklaim Gusti Allah sebagai milik mereka, punya apa lagi mereka ?
Yogyakarta, 29 Maret 1988
*) gambar koleksi Dian Kelana (kompasiana.com)