Sunday, March 17, 2013

Sabar dalam Menahan Derita Sakit

Barangsiapa yang ingin selamat dari azab Allah, mendapat pahala dan rahmat-Nya, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya, maka hendaklah ia menahan diri dari hawa nafsu duniawi dan bersabar terhadap penderitaan dan berbagai musibah yang menimpa dirinya, sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah melalui firman-Nya:

Allah menyukai orang-orang yang bersabar. (Q5. Ali 'Imran [3]: 146).
Sabar itu bermacam-macam, yaitu sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghindari hal-hal yang diharamkan oleh-Nya, dan sabar dalam menanggung musibah yang menimpa diri terutama pada benturan pertamanya.

Barangsiapa yang sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah maka di hari kiamat nanti Allah akan memberinya tiga ratus derajat pahala di dalam surga yang jarak di antara setiap derajatnya sama dengan jarak antara langit dan bumi. Barangsiapa yang sabar dalam menghindari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka di hari kiamat nanti Allah akan memberinya enam ratus derajat pahala yang jarak di antara setiap derajatnya sama dengan jarak antara langit yang ketujuh dan bumi lapis yang ketujuh. Dan barangsiapa yang sabar dalam menanggung musibah, niscaya dihari kiamat nanti Allah akan memberinya tujuh ratus derajat yang jarak di antara setiap derajatnya sama dengan jarak antara 'Arasy dan bumi.

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa Zakaria as. (namun bukan Zakaria ayahnya Yahya) melarikan diri dari orang-orang Yahudi yang hendak membunuhnya, mereka mengejar dan menelusuri jejaknya. Ketika Zakaria sampai pada sebuah pohon, ia berkata kepadanya, "Hai pohon masukkanlah diriku ke dalam tubuhmu." Maka pohon itu terbelah menjadi dua bagian dan Zakaria masuk ke dalamnya, lalu pohon itu rapat kembali. Namun, iblis menunjukkan persembunyiannya kepada mereka dan menyarankan kepada mereka agar membawa gergaji untuk membelah pohon itu menjadi dua bagian agar Zakaria yang bersembunyi di dalamnya mati. Mereka melakukan apa yang disarankan oleh iblis. Demikian itu karena Zakaria berlindung kepada pohon dan bukan berlindung kepada Allah, maka hal itu berakibat dengan kebinasaan dirinya dan tubuhnya terbelah menjadi dua bagian oleh gergaji. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat dari Nabi bahwa beliau pernah bersabda, bahwa dalam hadis qudsi Allah Swt telah berfirman, "Tidak sekali-kali seorang hamba tertimpa suatu musibah, lalu ia berpegang teguh kepada-Ku, melainkan Kuberikan kepadanya sebelum mengajukan permintaannya kepada-Ku, dan Kuperkenankan baginya sebelum berdo'a kepada-Ku. Tidak sekali- kali seseorang hamba tertimpa suatu musibah, lalu ia berpegang teguh kepada makhluk bukan kepada-Ku, niscaya Aku menutup baginya semua pintu langit." Ketika gergaji sampai pada otaknya, Zakaria menjerit, maka dikatakan kepadanya, "Hai Zakaria, sesungguhnya Allah telah berfirman kepadamu,'Mengapa kamu tidak sabar menghadapi siksaan dan justru kamu mengaduh. Seandainya engkau katakan sekali lagi jeritanmu, niscaya Aku akan mencoret namamu dari daftar para nabi." Maka Zakaria terpaksa menahan rasa sakitnya dengan menggigit kedua bibirnya sampai tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.

Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi orang yang berakal bersikap sabar saat tertimpa musibah dan tidak mengeluh, niscaya akan selamat dari azab di dunia dan azab di akhirat. Karena sesungguhnya musibah yang paling berat pun menimpa para nabi dan wali-wali Allah.

Al Junaidi Al Baghdadi rahimahullah telah mengatakan bahwa musibah itu bagaikan pelita yang menerangi orang-orang 'arif, kesadaran yang menggugah bagi kaum muridin (orang-orang yang menghendaki jalan Allah), kebaikan yang memperindah bagi orang-orang yang mu'min dan kehancuran yang membinasakan bagi orang-orang yang lalai. Seseorang tidak dapat merasakan manisnya keimanan sebelum tertimpa musibah kemudian bersikap ridha dan sabar terhadapnya.

Rasulullah telah bersabda:
“Barangsiapa yang sakit selama semalam, lalu bersabar dan bersikap ridha kepada Allah niscaya akan dibersihkan dari dosa-dosanya sebagaimana saat baru lahir dari perut ibunya. Oleh karena itu, apabila kamu sakit jangan terlalu berharap untuk cepat sembuh darinya.”

Adh Dhahhak telah mengatakan bahwa barangsiapa yang tidak pernah mendapat suatu cobaan, kesusahan, atau suatu musibah selama empat puluh malam, maka ia tidak memiliki suatu kebaikan pun di sisi Allah.

Mu'adz ibnu Jabal ra. telah mengatakan bahwa apabila seorang hamba yang mu'min mendapat cobaan sakit, Allah berfirman kepada malaikat pencatat keburukan, "Hentikanlah kegiatan mencatatmu darinya." Dan berfirman kepada malaikat pencatat kebaikan, "Catatkanlah untuk hamba-Ku amal terbaik yang biasa dikerjakannya."

Dan di dalam sebuah hadis dari Nabi saw disebutkan bahwa apabila seorang hamba jatuh sakit, Allah mengutus kepadanya dua malaikat seraya berfirman, "Lihatlah apa yang dikatakan oleh hamba- Ku." Jika hamba yang bersangkutan mengucapkan "Alhamdulillaah (segala puji bagi Allah)," maka hal itu dilaporkan kepada Allah, padahal Allah lebih mengetahui, dan Allah berfirman, "Bagi hamba-Ku jika Kuwafatkan dirinya, niscaya Aku akan memasukkannya ke dalam surga. Dan jika Kusembuhkan ia dari sakitnya, niscaya Aku akan menggantikan untuknya daging yang lebih baik dari dagingnya yang semula, dan darah yang lebih baik dari darahnya yang semula, serta kuhapuskan semua keburukannya."

Dalam sebuah hikayat diceritakan bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki fasik yang tidak dapat dicegah dari kefasikannya, sehingga penduduk kotanya merasa terganggu dengan keberadaannya di antara mereka, namun mereka tidak mampu mencegah kefasikan yang dilakukannya. Akhirny,i mereka memohon kepada Allah dengan permintaan yang mendesak, lalu Allah mewahyukan kepada Musa as. bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang pemuda yang fasik, maka usirlah ia dari kota tempat tinggal mereka agar mereka tidak tertimpa api disebabkan kefasikannya.

Maka Musa as. datang dan mengusir pemuda itu, lalu pemuda itu pergi ke salah satu kampung yang lain, namun Allah memerintahkan kepada Musa as. untuk mengusirnya dari kampung itu, maka Musa pun mengusirnya lagi. Akhirnya pemuda itu keluar menuju ke sebuah padang pasir yang sepi, tiada suatu makhluk pun, tiada tanaman, tiada seekor hewan liar, dan tiada pula seekor burung yang menghuninya. Pemuda itu jatuh sakit sendirian di padang pasir itu tanpa ada seorang pun yang dapat menolongnya. Tubuhnya terkulai jatuh di atas pasir lalu menyandarkan kepala di atasnya dan berkata, "Seandainya ibuku ada di dekat kepalaku, niscaya ia akan mengasihaniku dan menangisi kehinaan yang menimpa diriku. Seandainya ayahku ada, tentulah ia akan menolongku dan mengurus diriku, seandainya istriku ada, tentulah ia menangisi perpisahan denganku, seandainya anak-anakku ada, tentulah mereka akan menangis di belakang jenazahku dan mengatakan dalam do'a mereka, “Ya Allah, ampunilah ayah kami yang terasing, lemah, durhaka, fasik lagi terusir dari kampung halamannya ke sebuah kampung dan dari suatu kampung ke padang pasir dan dari padang pasir ini ia akan keluar meninggalkan alam dunia menuju ke alam akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu.' Ya Allah, Engkau telah putuskan aku dari orang tuaku, anak-anakku, dan istriku, maka janganlah Engkau putuskan diriku dari rahmat- Mu. Dan sesungguhnya Engkau telah bakar hatiku karena berpisah dengan mereka, maka janganlah Engkau bakar diriku dengan api-Mu karena kedurhakaanku." Maka Allah mengirimkan kepadanya bidadari dalam rupa ibunya, bidadari lain dalam rupa istrinya, pelayan-pelayan surga dalam rupa anak-anaknya, dan malaikat dalam rupa ayahnya, lalu mereka semua duduk di dekatnya dan menangisinya, sehingga ia berkata, "Ternyata ayahku, ibuku, istriku, dan anak-anakku semuanya telah hadir di sisiku”  menyaksikan pemandangan itu menjadi senanglah hatinya dan melayanglah nyawanya sedangkan ia telah berhasil mendapat rahmat dan kasih sayang dari Allah dalam keadaan dibersihkan dari dosa-dosanya dan beroleh ampunan.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa as."Pergilah kamu ke padang pasir anu di tempat anu, karena sesungguhnya telah meninggal dunia padanya salah seorang dari kekasih-Ku, maka datangilah tempat itu dan uruslah jenazahnya lalu kuburkanlah." Ketika Musa as. sampai di tempat yang dimaksud ia melihat pemuda yang pernah diusirnya dari kampung halaman ke kampung yang lain atas perintah Allah, dan ia melihat ada beberapa bidadari di sekitarnya. Maka Musa as. berkata, "Wahai Rabbku, bukankah pemuda ini yang pernah kuusir dari kampung halamannya ke kampung yang lain berdasarkan perintah dari-Mu?"

Allah menjawab," Hai Musa, sesungguhnya Aku merahmatinya dan memaafkan semua kesalahannya berkat rintihannya di tempat ia mati, karena jauh terpisah dari kampung halaman, kedua orangtua, istri, dan anak-anaknya. Dan Aku kirimkan kepadanya bidadari dalam rupa ibunya, malaikat dalam rupa ayahnya, bidadari dalam rupa istrinya yang meminta belas kasihan untuknya sebab ia mati dalam keadaan terhina di pengasingannya. Karena sesungguhnya apabila meninggal dunia orang yang berada dalam pengasingannya, maka seluruh penduduk langit dan penduduk bumi menangisinya karena kasihan dan iba kepadanya, maka bagaimana Aku tidak merahmatinya sedangkan Aku adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang?"

Apabila seseorang yang terasing berada dalam sekaratnya, Allah berfirman, "Hai malaikat-malaikat-Ku, ini adalah orang terasing lagi musafir yang berada jauh dari anak-anak, istri, dan kedua orang tuanya. Apabila mati tiada seorang pun yang bersedih menangisi kematiannya." Kemudian Allah menjadikan malaikat dalam rupa ayahnya, malaikat dalam rupa ibunya, malaikat dalam rupa anaknya, dan malaikat dalam rupa salah seorang kerabatnya, lalu mereka menemuinya dan Allah membukakan kedua matanya sehingga ia dapat melihat kedua orangtua dan anak-anaknya, oleh karena iu menjadi senanglah hatinya lalu ruhnya melayang keluar dengan senang dan gembira. Kemudian apabila jenazahnya dikebumikan, mereka ikut mengiringinya dan mereka berdo'a untuknya di atas kuburnya sampai hari kiamat nanti. Yang demikian itu merupakan bentuk kasih sayang dari Allah sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; (Q5. Asy-5yuura [42]: 19).

Ibnu 'Atha telah mengatakan bahwa seorang hamba akan terlihat kejujuran dan kebohongannya di saat-saat sedang mengalami kesusahan dan kesenangannya. Barangsiapa yang bersyukur di saat beroleh kesenangan dan mengeluh di saat mengalami kesusahan, berarti dia termasuk orang-orang yang bohong. Seandainya dalam diri seseorang terhimpun pengetahuan semua manusia dan jin, kemudian badai cobaan datang menerpanya, lalu ia memperlihatkan keluhan terhadap musibah yang menimpa dirinya, berarti tidak bermanfaat ilmu yang dimilikinya maupun amal yang dilakukannya. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah telah berfirman, "Barangsiapa yang tidak ridha dengan ketetapan takdir-Ku dan tidak bersyukur terhadap pemberian-Ku, hendaklah ia mencari tuhan selain diri-Ku."

Wahb ibnu Munabbih telah meriwayatkan bahwa dahulu pernah ada salah seorang nabi yang menyembah Allah selama lima puluh tahun, lalu Allah mewahyukan kepadanya, "Sesungguhnya Aku telah mengampunimu." Maka nabi itu bertanya, "Wahai Rabbku, bagaimana Engkau mengampuniku padahal aku belum pernah melakukan suatu dosa pun?"

Kemudian Allah memerintahkan kepada salah satu urat dari anggota tubuhnya untuk melakukan gangguan sakit terhadapnya, sehingga membuatnya tidak dapat tidur semalam suntuk. Ketika malaikat pagi hari datang, nabi itu mengadukan kepadanya tentang gangguan sakit yang ia rasakan dari uratnya. Lalu malaikat itu menjawab, bahwa sesungguhnya Tuhanmu telah berfirman, "Pahala ibadah lima puluh tahun masih belum dapat mengimbangi dosa dari keluhanmu karena gangguan sakit urat ini."

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali
--------- ### -------