Sunday, March 17, 2013

Riyadhah (melatih diri) dan Menahan Hawa Nafsu


Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Musa as., "Hai Musa, kalau engkau ingin agar Aku lebih dekat denganmu daripada pembicaraanmu dengan lisanmu, bisikanmu dengan hatimu, ruh dengan jasadmu, cahaya penglihatanmu dengan kedua matamu, dan pendengaranmu dengan telingamu, maka perbanyaklah memo­hon shalawat untuk Muhammad saw

Allah swt telah berfirman:
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), (Q5. Al Hasyr [59]: 18).

Yakni memperhatikan amalan yang baik untuk bekal di hari akhi­ratnya nanti.

Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya hawa nafsu dalam dirimu yang selalu cenderung kepada keburukan dan kejahatan adalah musuhmu yang jauh lebih berbahaya daripada iblis. Dan tidak sekali-kali setan dapat menguasai dirimu tiada lain hanyalah karena ada bantuan dari hawa nafsu dan syahwatnya yang terpendam di dalam dirimu. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh hawa nafsumu yang selalu membujukmu dengan angan-angan dan bujukannya yang memperdaya. Karena sesungguhnya termasuk watak yang disukai oleh hawa nafsu itu antara lain merasa aman (dari azab Allah), lalai, senang kepada waktu santai, kesenjangan dan kemalasan. Semua ajakannya tidak benar dan segala sesuatu yang timbul darinya adalah tipuan belaka. Jika engkau menyetujui ajakannya dan mengikuti perintahnya, niscaya engkau akan binasa. Jika engkau lengah dari memperhitungkannya, niscaya engkau akan tenggelam, dan jika engkau bersikap lemah tidak mampu menentangnya, melainkan mengikuti kemauannya, niscaya hawa nafsu akan menjerumuskanmu ke dalam neraka. Hawa nafsu sama sekali tidak punya arahan kepada kebaikan, bahkan hawa nafsu adalah biang petaka dan sumber keburukan yang membawa aib. Hawa nafsu adalah perbendaharaan iblis dan sarang segala keburukan, tiada yang mengenalnya, kecuali hanya penciptanya. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui kebaikan dan keburukan yang kamu kerjakan.

Apabila seorang hamba merenungkan masa lalu dari usia yang digunakannya untuk mencari pahala akhirat, maka renungan yang dilakukannya itu akan membersihkan hatinya, sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi saw dalam sabdanya yang mengatakan bahwa bertafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun. Demikianlah yang disebutkan di dalam kitab tafsir Abul Laits.

Oleh karena itu, dianjurkan bagi orang yang berakal untuk bertaubat dari dosa-dosanya yang telah lalu, berpikir untuk melakukan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah agar selamat di hari akhirat nanti, membatasi angan-angannya, menyegerakan bertaubat, berdzikir kepada Allah, meninggalkan hal-hal yang dilarang, mengekang hawa nafsu, dan tidak mengikuti kemauannya, karena hawa nafsu itu tak ubahnya bagaikan berhala; barangsiapa yang menyembah hawa nafsunya sama dengan menyembah berhala, dan barangsiapa yang menyembah Allah dengan tulus, maka dia adalah orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya.

Diriwayatkan bahwa di suatu hari Malik ibnu Dinar berjalan di pasar kota Bashrah. Ia melihat buah tin yang diinginkannya. Lalu ia menanggalkan sandalnya dan menukarkannya kepada penjual buah seraya berkata, "Berilah aku buah tin dan sandal ini sebagai penukarnya." Penjual buah itu melihat sandalnya lalu berkata, "Tetapi sandal ini tidak ada nilainya sama sekali, "maka Malik pun berlalu. Ketika ditanyakan kepada penjual buah, "Tahukah kamu, siapakah tadi yang berbicara denganmu?" Ia menjawab, "Tidak." Ketika dikatakan kepadanya bahwa orang itu adalah Malik ibnu Dinar, maka si penjual buah mengambil sebaki buah tin dan menaruhnya di atas kepala budaknya seraya berkata, "Jika dia mau menerimanya darimu, maka kamu menjadi orang yang merdeka." Maka budak itu bergegas lari mengejar Malik ibnu Dinar, lalu berkata kepadanya, "Terimalah buah tin ini dariku, "namun Malik menolak. Budak itu berkata lagi, "Terimalah buah ini, karena jika kamu mau menerimanya berarti aku akan merdeka." Malik ibnu Dinar berkata kepadanya, "Jika padanya terdapat penyebab yang akan kemerdekaanmu berarti padanya terdapat penyebab yang bakal menyiksaku." Budak itu tetap mendesak agar Malik mau menerimanya, akhirnya Malik ibnu Dinar berkata dengan nada yang tegas, "Aku bersumpah tidak mau menukar agama dengan buah tin dan tidak mau makan buah tin sampai hari pembalasan nanti."

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa Malik ibnu Dinar ketika sedang sakit yang membawa kepada kematiannya menginginkan semangkok madu yang dicampur dengan susu untuk ia jadikan bubur dengan roti kering yang hangat. Pelayannya pergi mencari apa yang diinginkannya lalu menyajikannya, dan Malik ibnu Dinar menerimanya. Namun, Malik ibnu Dinar hanya memandangi mangkok itu selama sesaat lalu berkata, "Hai hawa nafsuku, sesungguhnya engkau telah bersabar selama tiga puluh tahun, dan kini usiamu hanya tinggal sesaat, "lalu ia singkirkan mangkok itu dari tangannya dan mengekang nafsu makannya, sampai meninggal dunia ia belum sempat memakannya. Demikianlah keadaan para nabi, para wali, orang-orang yang shiddiq, orang-orang yang merindukan Allah dan para ahli zuhud.

Sulaiman ibnu Daud as. telah mengatakan bahwa orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya lebih kuat daripada orang yang menaklukkan sebuah kota sendirian.

Ali ibnu Abu Thalib karramallahu wajhahu mengatakan, "Perumpamaan diriku dan hawa nafsuku tiada lain bagaikan seorang penggembala ternak kambing. Setiap kali ia giring ternaknya ke satu arah, ternak kambingnya lari bertebaran ke arah yang lain. Barangsiapa yang mampu meredam kemauan hawa nafsunya, kelak akan mendapat kasih sayang dan beroleh kemuliaan; dan barangsiapa yang mematikan kehidupan, hatinya kelak akan mendapat laknat dan beroleh siksaan."

Yahya ibnu Mu'adz Ar Raziy rahimahullah mengatakan, "Lawanlah hawa nafsumu dengan taat kepada Allah dan melakukan kegiatan riyadhah, yaitu dengan sedikit tidur, tidak banyak bicara, tidak menghiraukan gangguan orang lain, dan tidak banyak makan. Kurang tidur akan menjernihkan kemauan, sedikit bicara akan menghindarkan diri dari berbagai bencana, tidak menghiraukan gangguan orang lain akan menghantarkan diri untuk dapat mencapai tujuan, dan sedikit makan akan mematikan hawa nafsu, karena sesungguhnya banyak makan akan mengeraskan hati dan menghapuskan cahayanya. Rasa lapar akan membawa pelakunya kepada cahaya hikmah, sedangkan kekenyangan akan menjauhkan pelakunya dari Allah.

Sehubungan dengan hal, ini Rasulullah pernah bersabda, "Terangilah hatimu dengan rasa lapar, perangilah hawa nafsumu dengan rasa lapar dan dahaga, dan gencarlah dalam mengetuk pintu surga dengan melaparkan diri, karena sesungguhnya pahala melakukan semuanya itu sama dengan orang yang berjihad dijalan Allah. Dan sesungguhnya tiada suatu amalan pun yang lebih disukai oleh Allah selain daripada menahan rasa lapar dan haus, orang yang memenuhi perutnya tidak dapat memasuki kerajaan langit dan akan kehilangan manisnya ibadah."

Abu Bakar Ash Shiddiq ra. telah mengatakan, "Sejak masuk Islam aku tidak pernah merasa kekenyangan demi merasakan manisnya menyembah Rabbku, dan tidak pula pernah merasa segar semenjak masuk Islam karena rindu bersua dengan-Nya." Karena sesungguhnya banyak makan akan meminimalisir ibadah, sebab jika seseorang banyak makan, tubuhnya akan terasa berat, matanya mengantuk, dan semua anggota tubuhnya lemas, sehingga tiada sesuatu pun yang berarti dapat dilakukannya meskipun ia berusaha dengan sekuat tenaga selain hanya tidur, sehingga tubuhnya mirip dengan bangkai yang tercampakkan. Demikianlah menurut kitab Minhajul Abidin.

Disebutkan dari Luqmanul Hakim, bahwa ia pernah berkata kepada putranya, "Janganlah kamu banyak makan dan tidur, karena sesungguhnya barangsiapa yang memperbanyak keduanya, kelak di hari kiamat akan menjadi orang yang miskin amal saleh." Demikianlah yang disebutkan di dalam kitab Munyatul Fata.

Nabi S telah bersabda, "Janganlah matikan hatimu dengan banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hati itu sama dengan tanaman, bila kebanyakan air akan mati." Hal tersebut diserupakan oleh sebagian orang yang saleh melalui gambaran berikut, bahwa perut itu tak ubahnya bagaikan panci yang mendidih di bawah hati sedangkan asapnya sampai kepada hati. Apabila kebanyakan asap, maka akan mengeruhkan hati dan membuatnya menjadi hitam. Banyak makan akan mewariskan pemahaman yang tumpul dan ilmu yang dapat diserapnya pun minim, sehingga dapat disimpulkan bahwa kekenyangan dapat menghilangkan kecerdasan.

Dalam sebuah hikayat yang bersumberkan dari Yahya ibnu Zakaria as. disebutkan bahwa iblis menampakkan diri kepadanya dengan membawa banyak kail, maka Yahya bertanya kepadanya, "Apa yang kamu bawa ini?" Iblis menjawab, "Ini adalah beragam nafsu syahwat yang kugunakan untuk mengail manusia." Yahya bertanya, "Apakah engkau mendapatkan padanya sesuatu bagian untukku?" Iblis menjawab, "Tidak, kecuali hanya di suatu malam kamu kekenyangan, sehingga aku berhasil membuatmu malas mengerjakan shalatmu." Yahya as. berkata, "Tidak mengapa, maka sejak saat ini aku tidak akan membiarkan diriku kekenyangan selamanya." Iblis berkata, "Tidak mengapa, sejak saat ini aku tidak akan memberikan nasihat kepada seorang pun untuk selamanya." Hal ini terjadi pada seseorang yang tidak pernah kekenyangan selama hidupnya, kecuali hanya dalam satu malam. Maka terlebih lagi dengan orang yang tidak pernah merasa lapar barang semalam pun seumur hidupnya, kemudian berambisi untuk mengerjakan ibadah.

Dalam sebuah riwayat yang juga bersumberkan dari Yahya ibnu Zakaria as. disebutkan, bahwa di suatu kali ia pernah kekenyangan karena makan roti gandum sehingga membuatnya tertidur pada malam itu dan meninggalkan wiridnya. Maka Allah ^ mewahyukan kepadanya, "Hai Yahya, apakah engkau menemukan rumah yang lebih baik bagimu daripada rumah-Ku,
atau menemukan perlindungan yang lebih baik bagimu daripada perlindungan-Ku. Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku, seandainya engkau melihat surga Firdaus dan melihat pula neraka Jahannam tentulah engkau akan menangis mengeluarkan nanah, bukannya air mata, dan tentulah engkau akan lebih suka memakai baju besi ketimbang kain woolmu."

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali