Friday, March 1, 2013

Pesan untuk Generasi Penerus #3

Al-Quthub Al-Yunaiti menukil kata-kata Syekh Abu Sa'id Al-Qailawi dalam kitabnya Mukhtashar Al-Mar'ah, ia berkata, "Berkali-kali aku melihat para Nabi hadir di majelis Syekh Abdul Qadir. Karena ruh para Nabi melayang-layang di antara langit dan bumi seperti hembusan angin ini. Aku juga melihat Rijal Al-Ghaib berbondong-bondong menghadiri majelis Abdul Qadir. Aku melihat Khidir lebih sering berada di mejelis itu. Aku bertanya kepadanya, lalu Khidir menjawab: 'Barang siapa yang mengharapkan keberuntungan, maka sering-seringlah bersama Abdul Qadir."'

Ibnu Abui Fatah Al-Harawi berkata, "Pada suatu hari aku hadir ke majelis Syekh Abdul Qadir. Beliau sedang berceramah sampai selesai. Lalu berkata: 'Andaikan Allah berkehendak untuk mendatangkan seekor burung berwarna hijau untuk mendengarkan ceramahku ini, niscaya itu akan terjadi.' Belum selesai beliau berkata seperti itu, tiba-tiba seekor burung berbulu hijau datang dan masuk ke dalam lengan bajunya. Pada hari yang lain ketika beliau sedang menyampaikan ceramahnya, orang- orang mulai memadati ruangan. Beliau berkata, 'Andaikan Allah berkehendak mendatangkan burung-burung berwarna hijau, niscaya semua yang ada di sini akan melihatnya.'"

Abu Daud Al-Baghdadi berkata, "Pada tahun 600 aku bermimpi melihat Syekh Ma'ruf Al-Karkhi. Dia membawa cerita segala permasalahan manusia. Beliau menunjukkan semua permasalahan itu kepada Allah swt. Syekh Ma'ruf berkata padaku: 'Wahai Daud, mana masalahmu? Akan aku sampaikan pada Allah swt.' Aku jawab, 'Apakah guruku akan ditinggalkan oleh mereka?' Beliau menjawab, 'Mereka tidak akan meninggalkan gurumu, dan tidak akan pernah meninggalkannya. Apa masalahmu yang lain. Akan aku sampaikan kepada Allah.'"

Abul Khair Kiram bin Syekh Mathar bin Al-Badirani berkata, "Ketika ayahku menjelang kematian, aku bertanya: 'Berpesanlah padaku, siapa yang harus aku patuhi sepeninggalmu?' Ayah menjawab, 'Syekh Abdul Qadir.' Aku pergi meninggalkannya sebentar, lalu aku kembali dan menanyakan pertanyaan yang sama. Ayah berkata: 'Wahai anakku, di suatu masa di mana Syekh Abdul Qadir hidup pada masa itu, jangan ikut siapa pun kecuali pada Syekh Abdul Qadir.' Setelah ayahku meninggal, aku pergi menuju Baghdad untuk menjumpai Syekh Abdul Qadir. Di sana terdapat Baqa', Abu Sa'id Al-Qailawi, Ali bin Al-Haiti, dan Syekh-syekh terkemuka lainnya. Aku mendengar Syekh Abdul Qadir berkata: 'Aku tidak menasihati kalian. Akan tetapi semua ucapan dan kata-kataku sama dengan kata-kata mereka yang ada di langit.' Aku kemudian mengangkat kepalaku ke langit. Di sana kulihat orang-orang yang bercahaya sedang menaiki kuda yang juga terbuat dari cahaya. Keberadaan mereka menutupi pandanganku ke langit karena begitu banyaknya jumlah mereka. Sebagian dari mereka ada yang memukul- mukul diri, ada yang menangis, ada yang gemetaran, ada pula yang bajunya terbakar oleh api. Aku merasa ketakutan. Aku berdiri dan lari memecah kumpulan orang-orang, sampai aku tiba di hadapan Syekh Abdul QSdir yang sedang duduk di atas kursinya. Beliau berbisik di telingaku: 'Wahai Kiram, wasiat apa yang engkau minta dari ayahmu?' Aku pun tertunduk karena kemuliaannya.

Mufarrij bin Syihab Asy-Syaibani berkata," Ketika ketenaran Syekh Abdul Qadir mulai terdengar di Seantero penjuru, sekitar seratus ulama fikih dan orang-orang mulia lainnya berkumpul menghadap Syekh Abdul Qadir untuk meminta fatwa. Masing-masing membawa satu persoalan yang berbeda dari beragam perspektif ilmu pengetahuan. Mereka mendatangi majelis taklimnya Syekh Abdul Qadir, dan pada waktu itu aku juga ada di sana. Ketika majelis hendak dimulai, Syekh Abdul Qadir menundukkan kepala, dari dadanya memancar cahaya terang, cahaya itu mengalir ke semua dada orang-orang yang berjumlah seratus itu. Ketika cahaya itu merasuk ke dada masing-masing orang, mereka langsung berteriak-teriak, merobek pakaiannya, dan melepas tutup kepalanya. Mereka berebutan mendekati Syekh Abdul Qadir yang ada duduk di atas kursi. Mereka meletakkan kepala masing-masing di kedua kaki Syekh Abdul Qadir. Majelis itu bergemuruh nyaring sekali sampai-sampai aku berpikir kota Baghdad dilanda gempa. Syekh Abdul Qadirkemudian merangkul mereka satu per satu sampai orang yang terakhir. Setelah itu, beliau berkata kepada satu per satu dari mereka: 'Masalahmu seperti ini dan jawabannya seperti ini.'
Demikianlah Syekh Abdul Qadir memberi jawaban atas semua orang yang hadir. Setelah pengajaran majelis itu berakhir, aku mendatangi mereka dan bertanya: 'Apa yang terjadi pada kalian?' Mereka menjawab, 'Ketika kami sedang duduk, tiba- tiba semua pengetahuan yang kami miliki hilang seketika. Seakan-akan kami tidak pernah memiliki pengetahuan sama sekali. Akan tetapi setelah Syekh Abdul Qadir memeluk kami di dadanya, semua yang hilang dari kami itu kembali lagi. Beliau telah menjelaskan semua permasalahan yang kami bawa, beserta jawaban-jawabannya yang tidak kami ketahui.'"

Hamid Al-Harani berkata, "Aku mendatangi Syekh Abdul Qadir di majelisnya di kota Baghdad. Aku duduk di dekat sajadahnya. Beliau melirik padaku dan berkata: 'Wahai Hamid, engkau akan duduk di permadani Raja.' Setelah aku kembali ke Haran, Sultan Nuruddin memintaku untuk mendampinginya, mendekatkanku pada dirinya, mempersilakanku duduk di permadaninya, dan menyerahkan tanah wakaf padaku. Aku pun teringat kata-kata Syekh Abdul Qadir." Hamid Al- Harani juga mengatakan, "Pada suatu hari Syekh Abdul Qadir menyampaikan ajarannya tentang kekuasaan Allah. Orang- Wang yang hadir pun dibuat khusyuk dan hormat. Tiba-tiba ada seekor burung yang sangat cantik warnanya sehingga beberapa orang kehilangan perhatian atas kata-kata nasihat Syekh Abdul Qadir. Beliau lalu berkata: 'Demi kemuliaan Tuhan, Andai saja aku ingin berkata kepada burung ini matilah dalam keadaaan terpotong-potong, niscaya burung itu akan mati dalam keadaan demikian.' Setelah ucapan Syekh Abdul Qadir selesai, burung itu jatuh ke tanah dengan tubuh yang sudah terpotong-potong."

Seorang ahli hadits, Abui Fadhal Ahmad bin Soleh bin Syafi' Al-Hanbali berkata, "Aku bersama Syekh Abdul Qcidir di madrasah An-Nidzamiyah. Para ulama fikih dan Al-Fuqaraa' (kaum sufi yang menjalani kehidupan miskin) berkumpul di hadapan beliau. Syekh Abdul Qadir menerangkan tentang Qadha' dan Qadar. Di tengah-tengah pembicaraannya, tiba-tiba saja seekor ular besar jatuh dari atap ke pangkuan Syekh Abdul Qadir. Semua orang yang hadir melarikan diri, sementara beliau tetap bergeming dari tempatnya. Ular besar itu masuk ke dalam baju Syekh Abdul Qadir, berjalan di sekujur tubuhnya, lalu keluar dari kerah bajunya, dan melilit leher beliau. Akan tetapi, Syekh Abdul Qadir tidak berhenti menjelaskan ajarannya. Posisi duduknya pun tidak berubah sedikit pun. Ular besar itu turun ke tanah, meminta maaf di hadapan beliau sambil mengeluarkan suara desisan, dan akhirnya pergi menghilang. Semua orang lalu berkumpul lagi dan bertanya tentang apa yang dikatakan ular tersebut. Syekh Abdul Qcidir menjawab, "Ular itu berkata: 'Aku telah banyak menguji para wali, tetapi aku belum pernah melihat orang yang semantap dirimu/ Aku katakan pada ular itu: 'Engkau jatuh ke pangkuanku, dan ketika itu aku sedang menerangkan soal Qadha' dan Qadar Allah. Bukankah engkau hanya 'ulat' kecil yang bergerak dan diam karena adanya Qadar Allah?! Aku ingin kata-kataku sama dengan perbuatanku.'"

Dari Abdur Razzaq, putra Syekh Abdul Qadir, ia berkata, "Aku mendengar ayah berkata, 'Pada suatu hari aku berada di masjid Al-Mansur sedang mengerjakan shalat. Lalu aku mendengar desisan sesuatu dari arah lembah. Tiba-tiba muncul suatu rupa yang besar sekali, dia membuka mulutnya lebar-lebar di tempat sujudku. Ketika aku akan sujud, aku melemparkannya dengan kedua tanganku ini, baru kemudian aku bisa bersujud. Dan ketika aku duduk untuk tasyahhud dalam shalat, dia merayap ke pahaku, lalu naik ke leher dan melilitnya. Keesokan harinya aku masuk ke sebuah bangunan tua di bagian luar masjid itu. Aku melihat orang dengan lobang mata yang besar sekali. Aku tahu dia adalah bangsa Jin. la berkata padaku: 'Aku adalah ular yang engkau lihat hari kemarin. Aku telah banyak menguji para wali seperti aku mengujimu itu. Akan tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang kemantapan hatinya seperti dirimu. Sebagian dari mereka ada yang lahir dan batinnya goyah, ada yang goyah lahirnya saja, dan ada pula hanya batinnya yang goyah. Dan aku lihat lahir dan batinmu tidak goyah sama sekali.' Jin itu pun meminta maaf dan ingin bertaubat di hadapanku. Aku pun memaafkannya.'"