Sunday, March 17, 2013

Mengalahkan Hawa Nafsu dan Permusuhan Setan

Sudah selayaknya bagi orang yang berakal mengekang hawa nafsunya dengan menahan rasa lapar, karena dengan menahan rasa lapar seseorang dapat mengalahkan musuh Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi saw pernah bersabda, "Sesungguhnya setan dapat berjalan di dalam tubuh anak Adam melalui peredaran darahnya, "maka persempitlah jalannya dengan melaparkan diri. Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Allah di hari kiamat nanti adalah orang yang lebih lama menahan rasa lapar dan dahaganya. Dan sesungguhnya penyebab paling besar yang membinasakan manusia ialah syahwat perutnya, karena syahwat perut inilah yang menyebabkan Adam dan Hawa diusir dari surga, negeri yang kekal menuju ke dunia, negeri kehinaan dan kemiskinan. Sebab ketika Allah melarang keduanya memakan buah terlarang, keduanya dikalahkan oleh hawa nafsunya dan membuat keduanya memakannya, sehingga terlucutilah pakaian keduanya dan menjadi terlihatlah 'aurat keduanya. Perut itu pada hakikatnya adalah sumber berbagai keinginan syahwat.

Salah seorang ahli hikmah telah mengatakan bahwa barang- siapa yang dikuasai oleh hawa nafsunya, ia akan jatuh ke dalam belenggu cinta syahwatnya, tersekap di dalam penjara kelalaiannya dan qolbunya tidak dapat membuahkan faedah yang bermanfaat. Barangsiapa yang mengairi lahan anggota-anggota tubuhnya dengan siraman syahwat, berarti ia telah menanam di dalam qolbunya pohon penyesalan. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk- Nya terdiri dari tiga macam, yaitu menciptakan malaikat dan membekalinya dengan akal tanpa membekalinya dengan syahwat; menciptakan hewan dan membekalinya dengan syahwat tanpa membekalinya dengan akal; kemudian Allah menciptakan manusia dan membekalinya dengan akal dan syahwat. Oleh karena itu, barangsiapa yang nafsu syahwatnya dapat mengalahkan akalnya, maka hewan lebih baik darinya, dan barangsiapa yang akalnya dapat mengalahkan nafsu syahwatnya, maka dia lebih baik dari malaikat.

Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa Ibrahim Al Khawwash pernah menceritakan, "Aku pernah berada di bukit Lakkam, dan kulihat buah delima yang membuatku ingin memakannya, lalu aku memetik satu buah delima dan kubelah namun ternyata rasanya masih masam, sehingga kubuang dan kulanjutkan perjalananku. Lalu aku melihat seorang laki-laki tergeletak dalam keadaan dikerumuni oleh banyak lebah, aku berkata, "Assalaamu 'Alaika (semoga keselamatan terlimpahkan buatmu)" Ia menjawab, "Wa'alaikas Salaam (semoga keselamatan pun terlimpahkan untuk kamu), wahai Ibrahim." Aku bertanya, "Dari mana kamu mengenalku?" Laki-laki itu menjawab, "Barangsiapa yang mengenal Allah tiada sesuatu pun yang tersembunyi baginya."Aku berkata, "Aku melihat dirimu mempunyai kedudukan di sisi Allah, lalu mengapa engkau tidak meminta kepada-Nya untuk menyelamatkan dirimu dari serangan lebah?" Laki-laki itu menjawab, "Aku pun melihat dirimu mempunyai kedudukan di sisi Allah, lalu mengapa engkau tidak meminta kepada-Nya untuk menghindarkanmu dari selera ingin makan buah delima? Dikarenakan ingin makan delima seseorang merasakan kepedihannya di akhirat; sedangkan sakit karena sengatan lebah dirasakan oleh seseorang hanya di dunia, dan lagi sengatan lebah dirasakan oleh tubuh, sedangkan sengatan syahwat dirasakan oleh qolbu." Lalu aku melanjutkan perjalananku dan meninggalkannya.

Keinginan hawa nafsu dapat mengubah seorang raja menjadi budak, sedangkan sikap sabar dapat mengubah seorang budak menjadi raja. Tidakkah engkau lihat dalam kisah Yusuf as. dan Zulaikha? Sesungguhnya kesabaran Yusuf dapat mengangkatnya menjadi seorang raja, sedangkan Zulaikha menjadi terhina, miskin, nenek-nenek yang tunanetra karena nafsu syahwatnya, dia tidak sabar dalam menahan cintanya kepada Yusuf as.

Abul Hasan Ar Razi telah menceritakan bahwa ia pernah melihat ayahnya dalam mimpi setelah dua tahun semenjak kematiannya, sedangkan ayahnya mengenakan pakaian dari aspal. Maka Abul Hasan bertanya, "Wahai ayah, mengapa kulihat engkau mengenakan pakaian ahli neraka?" Ia menjawab, "Wahai anakku hawa nafsuku telah menjerumuskanku ke dalam neraka, oleh karena itu wahai anakku bersikap waspadalah terhadap tipu muslihat hawa nafsumu."

Aku tertimpa oleh empat macam cobaan yang tidak sekali-kali menimpa diriku kanya karena kecelakaan dan penderitaanku. iblis, duniawi, hawa nafsu, dan kesenanganku, mana mungkin aku selamat semuanya adalah musuhku.
Dan kulihat bisikan hatiku menyeru kepada kemauan hawa nafsuku dalam kepekatannya dengan berbagai macam alasan.

Hatim Al Asham rahimahullah telah mengatakan bahwa diriku adalah bentengku. Ilmu adalah senjataku. Dosaku adalah kerugianku. Setan adalah musuhku, dan aku sendiri berkhianat terhadap hawa nafsuku.

Diceritakan dari seorang ahli ma'rifat yang telah mengatakan bahwa jihad itu ada tiga macam, yaitu jihad melawan orang-orang kafir yang dikenal dengan jihad fisik, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:
yang berjihad dijalan Allah, (Q5. Al-Maidah [5]: 54).
Jihad melawan kebatilan dengan ilmu dan hujjah yang jelas, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
dan bantahlah mereka dengan carayang lebih baik. (Q5. An-Mahl [16]: 125) Jihad melawan hawa nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan orang-orangyang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (Q5. AI-'Ankabuut [29]: 69).

Nabi pernah bersabda bahwa jihad yang paling utama ialah jihad melawan hawa nafsu. Dan sesungguhnya dahulu para sahabat bila baru pulang dari medan jihad melawan orang-orang kafir, mereka mengatakan, "Kami baru pulang dari jihad yang kecil menuju ke jihad yang besar."

Tidak sekali-kali mereka menyebut jihad melawan hawa nafsu dan setan sebagai jihad yang besar, karena jihad melawan hawa nafsu lebih lestari. Berbeda dengan jihad melawan orang-orang kafir yang terjadi di suatu waktu sedangkan di waktu yang lain tidak. Dalam perang, jihad melawan musuh dapat dilihat, sedangkan dalam jihad melawan setan musuh tidak dapat dilihat, maka sudah barang tentu jihad melawan musuh yang terlihat lebih mudah daripada melawan musuh yang tak terlihat. Selain itu setan dalam memerangimu mempunyai pembantu yang ada dalam dirimu yaitu hawa nafsumu, sedangkan orang kafir tidak mempunyai pembantu dalam dirimu, oleh karena itu memerangi hawa nafsu lebih berat. Sesungguhnya jika kamu dapat membunuh musuhmu yang kafir, tentu kamu akan beroleh kemenangan dan ghanimah, dan jika musuhmu yang kafir dapat membunuhmu, maka kamu beroleh mati syahid dan surga. Dan kamu tidak akan mampu membunuh setan, tetapi jika setan dapat membunuhmu, berarti kamu jatuh ke dalam siksa Tuhan Yang Maha Pemurah. Sebagaimana yang dikatakan dalam peribahasa bahwa barangsiapa kudanya lari meninggalkannya di medan perang, niscaya akan jatuh ke tangan orang kafir, dan barangsiapa yang imannya lari meninggalkannya, niscaya jatuh ke dalam kemurkaan Tuhan Yang Maha Perkasa.

Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kemurkaan-Nya dan barangsiapa yang jatuh ke tangan orang-orang kafir, tangannya tidak akan dibelenggu ke lehernya, kakinya tidak dirantai, perutnya tidak akan kelaparan, dan badannya tidak akan telanjang.

Namun, barangsiapa yang jatuh ke dalam murka Tuhan Yang Maha Perkasa, niscaya mukanya menjadi hitam, tangannya dibelenggu sampai ke lehernya dengan rantai, kakinya diikat dengan tali dari neraka, dan makanannya dari neraka, begitu pula dengan minuman dan pakaiannya.

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali