Saturday, March 2, 2013

Mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Jika kamu sudah berada dalam suatu keadaan, maka janganlah memilih selainnya; baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Apabila kamu berada di pintu istana raja, maka janganlah memasukinya sampai kamu dipaksa; bukan atas pilihan sendiri. Adapun yang dimaksud paksaan dalam konteks ini adalah perintah yang keras, tegas, dan berulang-ulang. Janganlah kamu mencukupkan diri dengan sekadar izin memasukinya. Sebab, bisa jadi itu adalah tipuan dari raja. Akan tetapi, bersabarlah sampai kamu dipaksa masuk, sehingga kamu memasukinya dengan dipaksa oleh kehendak raja tersebut.

Dalam kondisi semacam itu, raja tidak akan menghukummu. Kamu hanya akan dihukum, karena pilihanmu yang pesimis, kekurangajaranmu, ketidaksabaranmu, buruknya adabmu, dan ketidakridhaanmu terhadap keadaan yang kamu jalani sekarang.

Jika kamu sudah mendapatkan izin masuk, maka merendahlah, tundukkanlah pandanganmu, berlakulah sopan, dan menjaga hal- hal yang diperintahkan kepadamu berupa menyibukkan diri dengannya dan melayaninya, tanpa mengharap kenaikan pangkat ke level yang tertinggi. Allah Swt berfirman:

"Dan, janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan, karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaahaa [20]: 131).

Ini merupakan bentuk pengajaran dari Allah Swt. kepada nabi pilihan-Nya; Nabi Muhammad Saw., dalam menjaga keadaan diri dan ridha terhadap segala pemberian. Allah Swt. berfirman, "Dan, karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaahaa [20]: 131). Artinya, Allah Swt. berfirman, 'Apayang telah Aku berikan kepadamu, berupa kebaikan, kenabian, ilmu, qana'ah, kesabaran, kewalian dalam agama, dan ahli di dalamnya, itu lebih pantas dan utama dari apa yang Aku berikan kepada selainmu."

Dengan demikian, segala kebaikan itu ada dalam menjaga keadaan, ridha menjalaninya, dan tidak melirik selainnya. Sebab, bisa jadi kebaikan itu merupakan bagianmu atau milik orang selainmu, atau tidak bagian siapa-siapa, bahkan Allah Swt. malah menciptakan petaka di dalamnya.

Jika memang kebaikan itu telah ditetapkan menjadi bagianmu, maka kebaikan tersebut akan sampai kepadamu, baik kamu menginginkannya atau pun tidak. Oleh karenanya, tidak selayaknya kamu menunjukkan adab yang buruk dan kekurangajaran dalam mencarinya, karena itu sama sekali tidak terpuji dalam pandangan ilmu dan logika.

Sebaliknya, apabila kebaikan itu merupakan bagian orang lain, maka janganlah berlelah diri untuk mendapatkan sesuatu yang bukan jatahmu. Sebab, hal itu tidak akan sampai kepadamu selama- lamanya. Jika kebaikan tersebut bukanlah bagian siapa-siapa, bahkan malah menimbulkan fitnah, maka bagaimana seseorang yang berakal akan merelakan diri dan menganggap baik suatu ambisi untuk meraih fitnah yang dapat merusak dirinya?

Bila kamu diberi kesempatan untuk masuk kamar raja, kemudian menuju lotengnya, maka lakukanlah apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu menjaga, mengetuk, dan beradab, bahkan harus lebih lagi, karena kamu lebih dekat kepada raja dan lebih dekat dengan bahaya. Janganlah berharap dapat berpindah dari suatu keadaan ke keadaan yang lebih tinggi atau lebih rendah, tidak pula tetapnya dan kekekalannya. Janganlah mengubah sifatnya; sedangkan kamu berada di Wf dalamnya. Kamu tidak memiliki pilihan sedikit pun dalam hal ini, karena itu adalah bentuk kufur nikmat keadaan. Kekufuran itu bisa menyebabkan pelakunya menjadi hina di dunia dan akhirat.

Maka dari itu, berbuatlah seperti yang telah kami sebutkan, sampai kamu mencapai keadaan permanen yang menjadi kedudukan bagimu. Ketika itu,
kamu akan mengetahui bahwa ini adalah pemberian yang jelas. Selanjutnya, hendaklah kamu memegangnya erat-erat dan jangan melakukan kesalahan. Segala keadaan tersebut adalah untuk para wali, dan kedudukan itu untuk para abdal. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan hidayah-Nya kepadamu.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------