Sunday, March 31, 2013

Melaksanakan Nglobi Untuk Pak Ngalmus


hotel aryadutaWaktu baru-baru ini saya duduk di lobi Hotel Aryaduta, Jakarta, menunggu seorang kawan yang yang akan menraktir teppan yaki di restoran Shima yang nempel di hotel tersebut, sekelebat saya melihat Mas Ngalimin alias Drs. Ngalimin M.Ed, Neb, alias Mr. Almost atau yang menurut ejaan Mr. Rigen ; Pak Ngalmus. Tubuh saya segera saya plorod-kan dan saya jadikan lebih mengkeret takut ketahuan Mr. Almost. Di kursi yang empuk, kepenak bin comfortable itu memang duduk sembari mlorod dan mengkeretbisa enak sekali bagai seekor kucing yang tidur mblungker.
Tetapi, bayangan begitu tentulah hilang sama sekali. Bagaimana tidak. Seperti yang pernah saya laporkan dalam kolom ini pada bulan Januari yang lalu, saya telah sanggup menerima tugas melobi koneksi saya para mantan tokoh-tokoh sipil dan militer untuk mengatrol Mr. Ngalimin menjadi menteri. Memang betul waktu itu saya duduk di lobi, tapi lobi hotel, bukan lobi kasak-kusuk politik. Mati aku ! Beliau melihat saya bahkan mendekati tempat saya duduk.
“Aha ! Campaign manager-ku ! Baru duduk di lobi untuk melobi koneksi dalam rangka aku jadi menteri ?”
Waduh ! Dalam hati, saya kagum juga kepada beliau. Tidak saja sanggup menebak apa yang sedang saya pikirkan. Tetapi malah menebak dalam satu sajak. Luar biasa. Saya terpaksa bersikap pura-pura kaget.
“Lho, Mas Nglimin. Sudah lama di Jakarta ?”
“Lho, sampeyan itu bagaimana, sih ? Ya sudah, to. Kan saya mesti nongkrongi SIUM MPR sembari lobi ke sana ke sini. Sampeyanbagaimana nglobi-nya ? Oke, to ?”
Saya jadi cegukan mendapat pertanyaan seperti itu. Pertanyaan itu adalah tagihan, tuntutan prestasi kerja saya sebagai salah satulobbyist Mr. Ngalimin yang kali ini tidak boleh lagi menyandang Mr. Almost, tetapi Insya Allah mesti jadi Mr. Minister. Saya cegukan karena saya tidak terlalu sukses mengerjakan pekerjaan rumah saya. Dengan pelan dan diplomatis sekali saya coba menjawab dan memberikan laporan pekerjaan rumah saya.
“Begini, Mas Ngalimin. Saya sudah berhasil mengontak semua calon target kita.”
Good, good. I know you won’t let me down,” sambil berkata begitu Mr. Ngalimin menepuk-nepuk bahu saya. Benar-benar sudah gaya politikus Nebraska.
“Wah … tunggu Mas. Saya berhasil mengontak, tapi .. eh, itu Mas.”
“Eh … bagaimana ?”
“Begini, Mas. Berhasil itu ternyata tidak berarti sukses.”
“Lho, bagaimana ini ? Berhasil tidak berarti sukses ? Waaahh … sampeyan ini masih wong Jawa betul. Ngono yo ngono, ning ojo ngono.”
“Maksud saya, nggih, Mas Ngalimin. Saya sudah berhasil menghubungi atau mendatangi empat rumah para mantan target kita dan malah salah satu night club yang sedang in di Jakarta.”
“Lantas, lantas ? Tidak suksesnya itu di mana ?”
“Tidak suksesnya ? Ya, di rumah-rumah dan klab malam itu.”
“Bagaimana, bagaimana ?”
“Begini. Di tiga rumah mantan menteri sipil, menteri pati ABRI dan mantan keuangan PT Lenga Klentik Negara, saya dapatkan hal yang tidak dinyana-nyana. Lha, kok mereka sudah pada seda, meninggal dunia, semua.”
“Wah, jadi mereka juga sudah mantan manusia, to ? Lantas lainnya ? Tadi sampeyan menyebut empat rumah mantan tokoh dan satu night club ?
“Ya, di satu rumah lagi itu rumahnya seorang mantan perwira tinggi, mantan seorang yang hebat banget. Saya dapati rumahnya kosong. Rumahnya gede banget. Anjing herdernya dua. Untung satpamnya ramah. Katanya, bapak sedang di rumah ibu yang satunya, Ngomong begitu sambil berkedip-kedip matanya. Waktu melihat wajah saya yang kecewa bin gela, mas satpam itu menyarankan saya untuk mencoba malam-malam ke satu night club baru yang kecil tapi indah, Le Beo. Bapak suka dansa malam-malam di sana. Sekali lagi satpam itu mengerdip-ngerdipkan matanya.”
“Lantas, lantas ? Sampeyan juga pergi ke sana ?”
Lha, iya dong. Meski tempatnya sangat eksklusif dan sangat muahall. Saya glembuk adik saya yang jadi pengusaha untuk mengajak saya ke sana. Adik saya yang pengusaha kelas teri, yang cukup puas dengan proyek sub-sub-sub kontraktor, jadinya juga ngglembuk partner Cina-nya. Yang sesungguhnya juga pas-pasan saja.”
“Lantas, lantas ?”
Saya lantas menyambung laporan saya. Kami ke Le Beo bertiga saja. Sesunggguhnya tidak lucu karena seharusnya kita diharapkan membawa partner. Tetapi ndilalah ketiga istri kami alergi dengan klab malam. Untunglah kami dapat membujuk sang manager bahwa kami hanya minum dan menemui seseorang saja, itu pun hanya untuk sebentar saja. Kami duduk. Minuman sudah dipesan. Dan musik pun sedang bermain dengan hangatnya. Musik disko yang tidak gedobrakan diselingi cha-cha dan kadang-kadang sekali waltz. Enak juga. Kaki sudah mulai gatal-gatal kepingin turun ke lantai. Eh, bukan Narayana lagi. Tur tidak ada partner. Dan targetnya kan mau ngomong, melobi sang mantan jenderal, to ? Jadi, ya cukup jari-jari saja dijentik-jentikkan di meja. Adik saya yang tidak dansa dan hanya sekali-sekali saja ke klab malam hanya untuk meng-entertain relasinya, ketawa cekikikan melihat kombinasi ketegangan, nostalgia dan kenikmatan terbayang di wajah saya. Akhirnya, saya melihat pak jenderal, eh mantan jenderal itu datang dengan seorang wanita yang aduhai cantiknya. Pastilah bukan ibu yang satunya. Untuk itu terlalu manja dan coquette sikapnya. Sikap yang belum mapan, belum jelas anggaran pengeluarannya. Paling-paling calon ibu yang satunya lagi. Pak mantan jenderal pun melambaikan tangan kepada saya.
“Rileks, ya ? Nanti saya nggabung ke situ. Mau pencak silat dulu di lantai. Boleh, to ? Boleh, to ? Pensiunan, kok.”
Sambil tertawa terkekeh, mereka turun ke lantai. Dan astaga ! Kawan saya yang mantan jenderal itu masih dengan gusto, penuh gaya, berdansa dan berdansa. Dan kami dengan penuh kegemasan dan kecemasan, menunggu dan menunggu. Sialan, pak mantan jenderal pada jam sebelas malam, begitu saja mak glenes pergi, lupa nggabung dengan meja kami.
“Begitulah, Mas Ngalimin. Berhasil kontak tapi tidak sukses. Maafkan saya. Saya telah gagal total.”
Mas Ngalimin diam. Mengambil sebatang Gudang Garam. Menyalakan korek, menyedot rokoknya dalam-dalam. Sementara itu saya melirik ke pojok lobi, saya lihat teman yang mau menraktir teppan yaki sudah gelisah menunggu. Teman saya itu adalah seorang sahabat yang bonafid, jutawan nyaris milyarder hasil dari keringat sendiri. Bukan putra mahkota, bukan pejabat. Pengusaha, titik. Karena itu, tidak tega untuk saya perkenalkan kepada Mr. Ngalimin.
“Wah, ya sudah. Nggak apa-apa. You did your utmost best. Saya masih ada harapan  lain. Kontak saya itu sudah saya penuhi permintaannya. Seekor ikan arwana dan sejodoh ikan mas koki Taiwan. Katanya dia sudah melihat nama saya masuk. Dan berkat lobi dia, saya dapat pointer, angka yang tinggi.”
“Wah, syukurlah Mas. Saya ikut mendo’akan.”
Dengan langkah tegas Mr. Ngalimin menuju counter resepsionis. Entah mau ngurus apa lagi dia. Saya pun menggabung sahabat saya melenggang ke Restoran Shima. Saya mulai membayangkan sang koki, di depan saya, di belakang meja persegi itu, meliuk-liukkan tempat garam dan tempat merica, merajang daging Kobe, menghancurkan telur dengan elegan, menggoreng nasi bagai seorang maestro. Memang betul kata seorang kawan. Teppan yaki bukan hanya seni memasak tetapi juga seni pertunjukan. Satu performing art.
Catatan susulan :
Peristiwa di atas terjadi pada tanggal 18 Maret 1988. Saya mengetik kolom ini pada tanggal 20 Maret 1988. Saya kirimkan via pos kilat khusus siang hari tanggal 20 Maret 1988. Pada tanggal 21 Maret 1988 Bapak Presiden akan mengumumkan susunan kabinetnya. Pada malam yang bersamaan itu saya harus njagong resepsi perkawinan seorang anggota keluarga besar kami sampai jauh malam. Pasti pada malam tanggal 21 itu saya belum akan tahu apakah Mr. Ngalimin akhirnya berhenti jadi Mr. Almost dan menjadi Mr. Minister. Ketika kolom ini sampai di tangan pembaca, Anda pasti sudah akan tahu apakah Mr. Ngalimin masuk kabinet atau belum lagi. Wong kolom ini jatuh pada hari Selasa. Akan halnya dengan saya, baru akan tahu tanggal 22 sore di Padang, karena pada hari itu saya harus terbang ke kota itu. Untuk apa ? Ah … untuk apa lagi kalau bukan untuk jual abab di seminar ….
Mr. Ngalimin, I’ll pray for you …..
Yogyakarta, 22 Maret 1988
*) gambar dari id.hotels.com