Thursday, March 7, 2013

Khauf (Takut Kepada Allah)


Dalam sebuah hadis dari Nabi saw disebutkan bahwa beliau pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat yang rentang kedua sayapnya menutupi ufuk timur dan ufuk barat, kepalanya berada di bawah 'Arasy, kedua kakinya berada di bawah bumi lapis yang ketujuh, sedangkan pada tubuhnya terdapat bulu sebanyak bilangan makhluk Allah. Apabila ada seseorang, baik laki-laki maupun perempuan membaca shalawat untukku, Allah memerintahkan kepada malaikat itu untuk menyelam ke dalam lautan cahaya yang berada di bawah Arasy, lalu malaikat itu menyelam di dalamnya kemudian keluar daripadanya dan mengibas-ngibaskan kedua sayapnya, maka meneteslah cahaya dari setiap bulunya. Selanjurnya Allah menciptakan dari setiap tetes itu malaikat lain yang bertugas memohonkan ampunan untuk orang yang membaca shalawat itu sampai hari kiamat."

Salah seorang ahli hikmah telah mengatakan bahwa kesela­matan tubuh seseorang dapat terpelihara bila mengurangi makanan yang dikonsumsinya, keselamatan ruhaninya terletak pada sikapnya dalam menghindari dosa-dosa dan keselamatan agamanya terletak pada kerajinannya dalam membaca shalawat untuk sebaik-baik makhluk.

Sehubungan dengan pengertian al khauf Allah telah ber­firman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah" Yakni takutlah kamu kepada Allah" dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok," yakni amal yang diperbuatnya untuk bekal di hari kiamat nanti. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa rajinlah bersedekah dan mengamalkan ketaatan agar kamu mendapatkan pahalanya di hari kiamat nanti. "Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Yakni Allah Maha Mengetahui semua kebaikan dan keburukan yang kamu kerjakan. Karena sesungguhnya para malaikat, langit, bumi, malam dan siang hari kelak di hari kiamat akan menjadi saksi terhadap amal kebaikan dan amal keburukan serta ketaatan dan kedurhakaan yang dikerjakan oleh anak manusia. Bahkan semua anggota tubuh orang mu'min dan ahli zuhud serta bumi tempat berpijaknya menjadi saksi yang membela dirinya seraya mengatakan, "Dia telah menggunakanku untuk shalat, puasa, ibadah haji dan berjihad." Maka bergembiralah hati orang mu'min dan ahli zuhud karenanya. Dan semua anggota tubuh serta bumi tempat berpijak orang kafir dan orang durhaka menjadi saksi yang memberatkan dirinya seraya mengatakan, "Dia telah menggunakanku untuk melakukan kemusyrikan, berzina, minum khamar dan makan barang yang haram,", maka alangkah celakanya dia, bila diperiksa secara detail di dalam hisabnya oleh Allah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Orang mu'min sejati adalah orang yang hatinya dipenuhi oleh rasa takut kepada Allah dengan melibatkan semua anggota tubuhnya, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama ahli fiqih Abul Laits, bahwa pertanda takut kepada Allah dapat terlihat melalui tujuh perkara yaitu sebagai berikut.

1.    Menjaga lisannya dari melakukan kedustaan, mengumpat, mengadu domba, mengatakan kebohongan, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak ada gunanya, melainkan menyibukkannya untuk berdzikir menyebut nama Allah, membaca Al Quran, dan mendiskusikan ilmu.
2.    Menjaga qolbunya dengan mengeluarkan permusuhan, ke­bencian, dan kedengkian terhadap sesama saudara dari dalamnya. Karena sesungguhnya hasud atau dengki dapat menghapuskan kebaikan sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Saw dalam sabdanya, "Rasa dengki dapat menghapuskan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar." Dan perlu diketahui bahwa dengki termasuk penyakit qolbu yang paling parah, tidak dapat disembuhkan, melainkan hanya dengan bekal ilmu pengetahuan dan sikap yang bertentangan dengannya.
3.   Memelihara pandangan mata, oleh karena itu jangan sampai menatapkan pandangan mata kepada hal-hal yang diharamkan, baik yang berupa makanan, minuman, pakaian, maupun hal lainnya yang diharamkan dan jangan pula mengarahkan pan­dangan mata kepada perkara duniawi dengan pandangan berkeinginan, melainkan dengan pandangan hanya sekadar mengambil pelajaran. Dan jangan pula melihat hal-hal yang tidak dihalalkan baginya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, "Barangsiapa yang memenuhi kedua matanya dengan hal yang diharamkan, niscaya Allah bakal memenuhi kedua matanya di hari kiamat nanti dengan api neraka."
4.   Memelihara perutnya, oleh karena itu jangan sampai mema­sukkan sesuatu yang diharamkan ke dalam perutnya, sebab hal ini merupakan dosa besar. Dalam sebuah hadis disebutkan, "Apabila sesuap makanan haram dimasukkan ke dalam perut seseorang, maka semua malaikat, baik yang ada di bumi maupun di langit melaknatinya selama makanan itu masih berada di dalam perutnya. Jika orang yang bersangkutan mati dalam keadaan seperti itu, maka tempat tinggalnya adalah neraka Jahannam."
5.   Memelihara tangannya, oleh karena itu jangan sampai meng­gunakan tangannya untuk meraih hal yang diharamkan, me­lainkan digunakan untuk meraih sesuatu yang mengandung pengertian taat kepada Allah.
6.   Dalam sebuah riwayat dari Ka'bul Ahbar disebutkan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan sebuah istana dari Zabarjad hijau, di dalamnya terdapat tujuh puluh ribu rumah, dan di dalam setiap rumah terdapat tujuh puluh ribu kamar. Istana ini tidak disediakan, kecuali hanya untuk orang yang ditawarkan sesuatu yang haram kepadanya lalu ia menolaknya karena takut kepada Allah
7.   Memelihara kakinya, oleh karena itu ia tidak pernah melangkahkan kakinya kepada kemaksiatan, melainkan hanya untuk menempuh jalan ketaatan yang diridhai oleh-Nya, berjalan dengan para ulama dan orang-orang yang saleh.
8.   Memelihara ketaatannya, oleh karena itu ketaatan yang dilakukan olehnya hanyalah semata-mata karena Allah, jauh dari riya dan pamer. Apabila seseorang dapat melakukan semuanya, berarti dia termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya melalui ayat-ayat berikut:

dan kehidupan akhirat itu di sisi Rabbmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Q5. Az-Zukhruf [43]: 35).


Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman- taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Q5. Al-Hijr [15]: 45).


Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, (Q5. Ath-Thur [52]: 17).


Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (Q5. Ad-Dukhan [44]: 51).

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa seakan-akan Allah menyatakan, bahwa mereka di hari kiamat nanti akan selamat dari api neraka. Namun demikian, dianjurkan bagi seorang mu'min untuk tetap berada dalam perasaan harap dan cemasnya, ia berharap mendapat rahmat Allah dan tidak pernah berputus asa

janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. (Q5. Az-Zumar [39]: 53).

Dan hendaknya seseorang selalu menyembah Allah meng­hentikan perbuatan-perbuatan buruknya, serta bertaubat kepada Allah.

Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa ketika Daud as. sedang asyik berada di dalam suraunya membaca kitab Zabur, mendadak ia melihat cacing merah di tanah, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, "Apakah yang dimaksudkan oleh Allah dengan cacing tanah ini?" Maka pada saat itu juga Allah mengizinkan kepada cacing tanah untuk dapat berbicara, lalu mengatakan, "Hai Nabi Allah, bila siang hari tiba Tuhan memberikan ilham-Nya kepadaku di setiap harinya untuk mengucapkan Subhanallaah Walhamdulillaah Walaa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar) sebanyak seribu kali. Dan bila malam hari tiba, Tuhan mengilhamkan kepadaku di setiap malamnya untuk mengucapkan Allaahumma Shalli 'Alaa MuhammadinNabiyyil Ummiy Wa'alaaAalihi Washahbihi Wasallim(Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad nabi yang ummi, dan juga kepada segenap keluarga serta para sahabatnya) sebanyak seribu kali. Sedangkan engkau tidak mengucapkan apa pun yang dapat kuambil manfaatnya darimu." Maka saat itu juga Daud as. menyesali sikapnya yang merendahkan cacing, ia merasa takut kepada Allah, lalu bertaubat dan bertawakkal kepada-Nya. daripadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dahulu Nabi Ibrahim as. kesayangan Allah apabila teringat kepada kesalahannya, jatuh pingsan tak sadarkan diri, dan debaran jantungnya yang keras karena takut kepada Allah, konon terdengar sampai sejauh jarak satu mil persegi. Maka Allah mengutus malaikat Jibril kepadanya, setelah Jibril datang di hadapannya berkata, "Allah Yang Mahaperkasa berkirim salam untukmu seraya berfirman “'Pantaskah bila seorang yang disayangi oleh Tuhan merasa takut kepada Tuhan Yang menyayanginya?" Ibrahim as. dalam jawabannya mengatakan, "Hai Jibril, jika aku teringat kepada kesalahanku, maka ingatanku langsung tertuju kepada siksa-Nya dan lupa dengan statusku sebagai kesayangan-Nya." Memang demikianlah sifat dan watak para nabi, para wali, orang-orang yang saleh dan ahli zuhud, oleh karena itu renungkanlah hal ini sedalam-dalamnya.

Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub – Imam Al-Ghazali

--------- ### -------