Saturday, March 2, 2013

Karakter Hamba yang Shalih

Rasulullah Saw. bersabda:
"Minta tolonglah dalam setiap keadaan dan perbuatan kepada ahlinya yang shalih.”

Ibadah adalah perbuatan dan ahlinya yang shalih ialah orang-orang yang ikhlas dalam segala amalan, mengetahui hukum, mengamalkannya, meninggalkan sekalian manusia setelah mereka mengenalnya, serta lari dari nafsu, harta, anak, dan seluruhnya (selain Tuhan mereka) dengan hati serta relung jiwa mereka. Bangunan megah mereka berada di antara makhluk, sedangkan hati mereka berada di padang pasir dan sahara. Mereka tetap menjalani keadaan seperti itu, sampai hati mereka terdidik dan "sayap-sayap" mereka menjadi kuat, sehingga mereka dapat "terbang menuju langit". Mereka benar- benar berada di dekat Al-Haq 'Azza ivaJalla. Akhirnya, mereka menjadi bagian dari orang-orang yang difirmankan oleh-Nya sebagaimana berikut:

“Dan, sesungguhnya, mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (QS. Shad [38]: 47).

Seorang mukmin akan tetap merasa takut, sampai relung jiwanya memberikan jaminan keamanan, sehingga ia bisa selamat dengan hatinya. Ini adalah kepribadian seorang mukmin.

Celakalah dirimu, wahai orang yang menyekutukan Allah Swt. dengan makhluk. Betapa sering kamu mengetuk pintu yang tidak ada rumah di baliknya? Betapa sering kamu melunakkan besi tanpa api? Kamu tidak memiliki akal, pemikiran, dan perenungan.

Celakalah dirimu, mendekatlah kepadaku dan nikmatilah makananku; walaupun hanya sesuap. Jika kamu merasakan makananku, maka kamu akan zuhud terhadap makanan selainku. Apabila kamu merasakan makanan yang diberikan oleh Al-Khaliq 'Azza u>a Jalla, maka hati dan relung jiwamu akan zuhud terhadap makanan yang disajikan oleh manusia. Semua ini berada di dalam hati yang terletak di balik pakaian, kulit, dan daging. Hati ini tidak akan benar, jika di dalamnya masih tersisa "rumah-rumah" manusia. Iman ini tidak akan benar, bila di dalam hati masih terdapat sebiji cinta dunia.

Apabila keimananmu sudah menjadi keyakinan, dan keyakinan menjadi makrifat, serta makrifat menjadi ilmu, maka kamu akan menjadi seorang mujahid fi sabilillah. Kamu akan mengumpulkan harta dari orang-orang kaya dan membagikannya kepada orang-orang fakir. Kamu akan menjadi pemilik dapur, semua rezeki berada di dalam genggaman hati dan relung jiwamu. Kamu tidak memiliki kemuliaan, wahai orang munafik, sampai kamu menjadi seperti itu.

Celakalah dirimu, kamu tidak terdidik di tangan syekh yang wara' serta mengenal hukum dan ilmu Allah Swt. Celakalah dirimu, kamu menginginkan sesuatu tanpa sesuatu. Apa yang ada di
tanganmu? Jika dunia tidak bisa didapatkan, kecuali dengan kelelahan, maka bagaimana dengan sesuatu yang berada di sisi- Nya? Di manakah posisimu dari orang-orang yang digambarkan di dalam al-Qur'an tentang ibadahnya yang banyak:

"Di dunia, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar." (QS. adz-Dzaariyaat [51]: 17-18).

Tatkala diketahui kejujuran orang-orang dalam beribadah, maka Allah Swt. menempatkan bagi mereka sosok yang mengingatkan dan membangunkan mereka dari tempat tidur masing-masing. Rasulullah Saw. bersabda:
"Allah Swt. berfirman kepada Jibril As., 'WahaiJibril, bangunkan lah fulan dan tidurkanlah fulan.”

Ada suatu kaum, jika mereka bangun maka hati mereka melangkah menuju kepada Allah Swt. Mereka melihat sesuatu dalam mimpi yang tidak mereka lihat dalam kondisi sadar. Mereka berpuasa, mengerjakan shalat, berjihad melawan diri sendiri dalam menghadapi kelaparan, mematahkan segala tujuan, serta menyambung cahaya dengan kegelapan dan berbagai jenis ibadah, sampai mereka mendapatkan surga. Tatkala sudah mendapatkan surga, maka dikatakan kepada mereka, "Jalannya bukan ini, namun yang benar adalah menuju Al- Haq 'Azza wa Jalla." Amalan-amalan mereka berasal dari hati. Bila hati sudah sampai kepada-Nya maka ia akan kokoh serta tumbuh di dekat-Nya.

Barang siapa yang mengetahui sesuatu yang dicarinya, maka kekuatan dan tenaga yang dikerahkannya dalam menaati Tuhannya itu kecil baginya. Seorang mukmin akan tetap berada dalam kelelahan, sampai ia bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda,

"Tidak ada ketenteraman bagi seorang mukmin, selain bertemu dengan Tuhannya."

Beliau juga bersabda:

"Jika seorang mukmin meninggal dunia, lalu dimasukkan ke dalam kubur, kemudian Malaikat Munkar dan Nakir memberikan per tanyaan, dan ia berhasil menjawab pertanyaan itu. maka ruhnya diizinkan mendaki menuju Al-Haq 'Azza wa Jalla dan sujud kepada-Nya. la dikumpulkan bersama para malaikat. Kemudian, ia menemui-Nya dan dibukakan baginya sesuatu yang dahulu dihijab darinya. Setelah itu, ia dibawa ke surga di tengah-tengah kumpulan arwah orang-orang yang shalih. Lalu, mereka menyambutnya dan menanyakan keadaannya. Dan, ia memberikan kabar kepada mereka tentang hal-hal yang diketahuinya. Kemudian, mereka berkata kepadanya, 'Apakah yang dilakukan oleh fulan?' la menjawab, 'Fulan telah meninggal sebelumnya.' Lalu, mereka berkata, 'la tidak sampai kepada kami. Tiada daya dan upaya, kecuali di tangan Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.' Setelah itu, ia diarak menuju induknya al-Hawiyah, kemudian ditempatkan di dalam sangkar burung Khidhir yang dipelihara di surga dan ditempatkan di pelita yang digantung di bawah 'Arsy."

Inilah bentuk pertemuan sebagian besar orang-orang mukmin, semoga Allah Swt. memberikan keselamatan dan kesejahteraan kepada mereka, menjadikan kita bagian dari mereka, menghidupkan kita dengan kehidupan seperti mereka, serta mewafatkan kita sebagaimana yang mereka alami. Amin.

Wahai orang-orang fakir, wahai orang-orang yang diuji dengan berbagai musibah, ingatlah kematian dan hal-hal yang ada di baliknya, maka kalian akan menganggap enteng kefakiran dan musibah-musibah yang menimpa kalian, serta menganggap remeh hilangnya dunia dan para ahlinya. Terimalah hal ini dariku, karena aku sudah mencobanya dan menjalaninya.

Ada suatu kaum yang tidak menginginkan sesuatu, selain bisa melihat wajah Tuhan mereka, maka mereka bangkit dari surga, berdiri di hadapan Pencipta semua surga. Lambung mereka jauh dari tempat tidur untuk mencari wajah-Nya dan keridhaan- Nya serta hati mereka tertutup dari keluarga mereka sendiri. Ketika sesuatu datang menghampiri mereka,
maka mereka senang sekali. Mereka menutup semua tokonya serta tinggal di padang pasir dan gurun. Mereka tidak memiliki tempat tinggal. Malam mereka bukanlah malam, dan siang mereka bukanlah siang. Hati mereka seperti biji-bijian yang ada di dalam kuali panas. Biji yang ada dalam kuali adalah tafakkur dalam muhasabah, munaqasyah, dan muhaqaqah. Mereka adalah orang-orang berakal yang cerdas dan jenius, yang mengenal dunia dan ahlinya, serta mengenal segala tipu daya, sihir, dan pengkhianatannya. Bila diseru dengan hati kaum ini maka lambung mereka akan jauh dari tempat tidur. Makna-makna mereka didengarkan setelah mendengar bentuk- bentuk mereka. Burung-burung didengar bersamaan dengan suara kipakan sayapnya. Mereka mendengarkan firman Al-Haq 'Azza wa Jalla dalam hadits Qudsi berikut:

"Berdustalah orang yang mengakui mencintai-Ku, yang apabila malam menghampiri, ia malah tidur mengabaikan-Ku."

Mereka malu dan segan melihat kenyataan ini, sehingga mereka bangkit di hadapan-Nya di tengah kegelapan malam. Mereka meluruskan kaki di hadapan-Nya, meneteskan air mata di pipi mereka, berbicara kepada-Nya dengan derai air mata mereka, menemui-Nya dengan langkah-langkah hati mereka, serta berdiri di hadapan-Nya dengan kedua kaki ketakutan dan harapan. Amalkanlah Kitabullah dan sunnah nabi-Nya, ikhlaslah dalam semua amalan kalian. Kemudian, lihatlah apa yang bisa kalian saksikan dari kelembutan-Nya, kemuliaan-Nya, dan kelezatan dalam bermunajat kepada-Nya.

Wahai orang-orang yang diharamkan dari-Nya, wahai hamba-hamba yang lari dari Tuhannya, wahai orang-orang yang berpaling, menghadaplah! Wahai orang-orang yang lari, kembalilah, janganlah lari dari anak-anak panah bahaya, karena itu hanyalah ilusi. Kokohlah, kalian telah dijaga dari kejahatan dan kepahitan. Ia bukan untuk kalian, dan kalian juga bukan untuknya. Kalian adalah kacamata. Kalian adalah pengikut. Kalian adalah orang-orang yang akan menambah jumlah kaum ini. Barang siapa yang ikut menghitamkan suatu kaum, maka ia menjadi bagian dari mereka. Seorang mukmin itu memiliki tiga mata: mata kepala yang digunakannya untuk melihat dunia, mata hati yang digunakannya untuk melihat akhirat, dan mata relung jiwa yang digunakannya untuk melihat Al-Haq 'Azza wa Jalla.

Mata kepala itu akan fana bersama dunia, sedangkan mata hati akan fana bersama akhirat, dan mata relung jiwa akan tetap abadi bersama Al-Haq 'Azza wa Jalla di dunia dan akhirat, karena ia melihat kepada-Nya, baik di dunia maupun akhirat.

Seorang mukmin yang memiliki sifat ini, kemudian ia berada di suatu bangunan, maka ia akan menjadi rahmat bagi sekalian penghuni bangunan itu. Jika bukan karena dirinya, maka fondasinya akan rapuh dan dindingnya akan menimpa penghuninya.

Janganlah kalian berada bersama orang jahil yang membunuh para nabi dan rasul, yang menentang mereka dan Tuhan mereka, serta jauh dan dihijab. Ya Allah, terimalah taubatku dan taubat mereka, serta tunjukkanlah diriku dan diri mereka. Amin. Wahai orang-orang yang menikmati kenikmatan dunia, tidak lama lagi kalian akan meninggalkan nikmat kalian. Alangkah indahnya perkataan seorang penyair berikut:

"Wahai anakku, dengarkanlah, karena suara itu bisa kamu dengarkan. Jika tidak segera, maka ia akan hilang. Makanlah semua yang kamu inginkan. Hiduplah penuh dengan kenikmatan. Akhir semua ini adalah kematian."

Tidak lama lagi, harta dan umur kalian akan fana, pandangan kalian akan rabun, akal kalian akan berkurang, makanan dan minuman kalian menjadi sedikit, dan kalian akan menyaksikan berbagai syahwat, akan tetapi kalian tidak mampu menikmatinya sedikit pun. Istri, tetangga, dan anak kalian akan membenci kalian. Mereka mengharapkan kematian kalian. Kalian akan mengalami keresahan dan kegelisahan yang dapat menghilangkan dunia dari diri kalian dan akhirat akan menghampiri kalian. Apabila kalian memiliki amal shalih, maka akhirat akan menghampiri dan memeluk kalian. Jika tidak ada, maka fakirlah tempat berdiri kalian dan nerakalah tempat kembali kalian. Apakah ini hanya omong kosong? Tidak, Rasulullah Saw. bersabda, "Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat”

Beliau menyampaikan hal itu kepada dirinya sendiri dan para sahabat beliau. Belajarlah di hadapanku, wahai orang-orang jahil. Ikutilah diriku, karena aku akan menunjukkan kalian jalan kebenaran. Kalian mengklaim keinginanku, namun kalian menyembunyikan harta kalian dariku. Kalian telah berdusta dalam klaim itu. Seorang murid itu tidak memiliki pakaian, imamah (kopiah), emas, dan lain sebagainya, jika dibandingkan dengan syekhnya. Ia makan dengan piring syekhnya itu. Jika kalian menuduh syekh dengan kedustaan, maka janganlah bersamanya, karena kalian tidak layak bersamanya dan tidak pula mendapatkan keinginannya. Apabila orang yang sakit menuduh dokter dengan kedustaan, maka ia tidak akan sembuh dengan pengobatannya.

Wahai anakku, janganlah menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu, sehingga kamu kehilangan sesuatu yang berarti. Mengungkit-ungkit keadaan orang selainmu dan aib-aibnya termasuk perbuatan yang tidak bermanfaat. Mengingat keadaan dirimu sendiri merupakan perkara yang bermanfaat bagimu.

Semua kata yang diucapkan oleh pengikut hawa, nafsu, dan tabiat merupakan keburukandirinyasendiri, bukan kebaikannya. Hal itu layaknya pencari kayu pada malam hari yang tidak mengetahui sesuatu yang ada di tangannya. Jika nafsu telah tenang, gejolak hawa dan tabiat sudah padam, maka akal akan tumbuh, keimanan akan kuat, ketenangan akan menghampiri, dan kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang batil akan muncul, sehingga ia mampu menahan dirinya dari kebatilan serta berbicara dengan kebenaran. Kemudian, hukum akan menghampirinya dan ia mengamalkannya. Setelah itu, ia akan menjadi hamba-Nya serta menaati rasul-Nya dalam segala perintah dan larangan, karena ia mendengar firman Al- Haq 'Azza wa Jalla sebagaimana berikut:

"...Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah...." (QS. al- Hasyr [59]: 7).

Ketahuilah, ayat tersebut mencakup semua perintah dan larangan dari Rasulullah Saw., sehingga ia menjalankan perintah beliau dengan berbagai ketaatan dan menahan dirinya dari berbagai maksiat. Ketika itu, ia akan menjadi muslim yang bertakwa. Jika hal itu sudah terwujud, maka ia akan menjadi sosok yang mengenal-Nya, mengetahui-Nya, diam dan bisu di dekat-Nya, serta menumpahkan sesuatu yang terucap di dalam hatinya. Di sisi-Nya, ia menjadi baru selama-lamanya dan kebahagiaan yang abadi.

Ya Allah, karuniakanlah kami kedekatan kepada-Mu, lezatnya munajat-kepada-Mu, dan bahagia bersama-Mu. Berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

(Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)