Wednesday, March 20, 2013

Ingin Menjadi Ayah kamu

Dahulu kala, ada seorang hartawan yang sangat jahat. Mentang- mentang dirinya berduit dan selalu ingin bergengsi, dia menindas orang-orang miskin. Barangsiapa telah meminjam uang darinya, dia akan selalu mencari alasan yang tidak adil untuk meningkatkan bunga sehingga membuat si peminjam tidak berdaya untuk membayar kembali dengan bunga tinggi dan akhirnya menjadi bangkrut.
Dia merasa bosan jika hanya memeras korbannya. Dia ingin menyaksikan tampang semua orang ketika bersujud di depannya meminta bantuan, memohon ampun sampai-sampai tidak menghiraukan kehormatan pribadi, berbicara dengan suara lirih dan penuh belas kasihan. Sepasang matanya berputar-putar sejenak, berpikir. Hingga sebuah pikiran yang kelewat jahat tebersit dalam benaknya.
Sang Hartawan memerintahkan kaki tangannya yang selalu bertindak sebagai tukang pukul menangkap dan menggiring tiga orang peminjam uang bernama Zhang Laoda (putra sulung bermarga Zhang), Wang Lao'er (putra kedua bermarga Wang), dan Ding Laosan (putra ketiga bermarga Ding) untuk datang menghadap kepadanya dengan alasan: ada sesuatu yang harus dirundingkan. Tiga orang miskin itu berdiri di ruang tamu Si Hartawan yang sangat besar, megah, dan mewah menyaksikan Si Hartawan yang dalam otaknya selalu penuh dengan kelicikan dan trik-trik yang menyiksa orang miskin itu tidak nampak seperti biasanya. Dia yang selalu menunjukkan sikap yang jahat, beringas, dan keji itu hari ini berlagak seperti orang bijak atau dermawan yang selalu tertawa-tawa. Perasaan orang-orang miskin itu justru menjadi sangat gelisah dan khawatir. Mereka paham dengan perilaku Si Hartawan yang jahat ini. Pasti ada sesuatu yang 'baru' yang akan dikeluarkan untuk mengerjai mereka. Dengan malas-malasan bercampur jengkel, sambil menunggu, mereka menundukkan kepala dan terus menatap ke lantai ruang tamu.
Si hartawan itu berlagak sambil berkata: "Kali ini saya memanggil kalian, karena saya telah mempelajari keadaan kalian yang sangat susah, sampai-sampai tidak punya makanan lagi, apalagi membayar utang. Untuk menunjukkan rasa prihatin dan simpati, saya telah memikirkan satu ide yang sangat menguntungkan kalian. Asal kalian masing-masing bersumpah kepada saya dan mengatakan janji kalian untuk membayar utang saya kelak di akhirat, maka siapa yang telah mengatakan dengan bagus dan saya pun puas dengan perkataan sumpah itu, saya berjanji tidak akan menagih utang kalian lagi. Bagaimana? Ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi kalian, bukan!" Mendengar perkataan dari si hartawan itu maka tiga petani miskin ini mengerti bahwa Si Hartawan telah menemukan akal dan siap untuk mempermainkan dan menghina mereka. Dengan
perasaan khawatir dan gelisah, mereka hanya bisa menunggu dengan sabar apa yang bakal dilakukan oleh Si Hartawan. Lantas, harus bagaimana mereka menghadapinya?
Suasana menjadi hening. Tidak ada yang berbicara. Setelah sekian lama terdiam, Zhang Laoda yang utangnya paling sedikit namun paling tidak punya nyali itu dengan gemetar dan ketakutan membuka mulut dan berkata: "Saya rela menjadi seekor kuda kelak di akhirat, menjadi kuda tunggangan Tuan demi membayar lunas utang saya." Si Hartawan tertawa terbahak-ba- hak sehingga sepasang mata yang sudah sempit itu nyaris tak terlihat lagi, kemudian menjawabnya: "Baik, baik, kalau begitu jadilah kuda tungganganku!" Setelah berkata demikian, dia membakar surat bukti pinjaman milik Zhang Laoda. Dan Zhang Laoda pun dengan menundukkan kepalanya, karena merasa malu, menghela napas panjang dan menyingkir ke salah satu sudut ruang tamu. Setelah menyaksikan apa yang telah terjadi, Wang Lao'er dengan mulut yang gagap berkata terbata-bata: "Akurela, ke....kelak di a....khirat menjadi seekor kerbau, membajak ta..nah sawah, dan me....narik kereta,
beker....ja untuk memba....yar utang saya." Si Hartawan sangat gembira. Dengan memanggut-manggutkan kepala dia berkata: "Bagus, bagus. Ya sudah, kalau begitu kamu menjadi kerbau dan bekerja untuk sawah ladang saya." Setelah berbicara, dia pun membakar surat bukti pinjaman dari Wang Lao'er. Wang Lao'er juga telah mendapat penghinaan dari Si Hartawan. Wajahnya terlihat berganti warna: sebentar merah, sebentar putih pucat.
Di antara mereka bertiga, meskipun utang Ding Laosan paling banyak, tetapi dia adalah seorang yang bermartabat tinggi, juga paling pintar dan berani. Dalam hati dia berpikir: Kita adalah manusia, mengapa harus menjadi kuda atau kerbau dan bekerja untuk dia; selalu dibentak-bentak, dimarahi sebagai hewan? Tidak, aku tidak rela dan aku tidak gentar. Aku harus memutar otak untuk sebaliknya mengerjai-nya. Demi kehormatan para orang miskin, aku harus berbuat sesuatu. Setelah bertekad bulat, dia pun membuka mulut dan berbicara: "Aku rela kelak menjadi ayah kamu untuk membayar utang."
Si Hartawan menjadi marah. "Kurang ajar! Besar sekali nyali kamu, ya! Kamu telah berutang begitu banyak, masih berani berkata yang begitu, menghina saya. Apakah kamu tidak ingin htdup lagi!" Usai memarahi Ding Laosan, dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Ding Laosan. Tetapi Ding Laosan sama sekali tak gentar. Dengan santai dia berkata lagi: "Nanti dulu! Omongan saya sangat beralasan. Saya telah meminjam uang begitu banyak. Jumlah ini tidak bisa lunas dibayar dengan bekerja sebagai kuda tunggangan ataupun kerbau sawah. Maka andaikata kelak di akhirat saya menjadi ayah kamu, bekerja berat sepanjang umur, tidak menghiraukan keselamatan saya demi mengumpulkan harta, hingga memiliki rumah dan kekayaan keluarga yang berlimpah-limpah, bahkan diri saya sendiri tidak bisa menikmatinya, semuanya akan diwariskan kepada kamu untuk menikmati hidup. Dengan begitu saya baru mampu membayar lunas utang saya, bukan." Si Hartawan pun menjadi bisu setelah mendengar perkataan ini.

Sebetulnya  Si Hartawan berkeinginan (mempermainkan dan menghina orang lain, namun sebaliknya, ia malah mendapat balasan yang memalukan, seperti perumpamaan: maksud hati ingin mencuri ayam, malah barus mengeluarkan biaya memberi makan beras untuk pakan ayam. Bila kita menghadapi masalah atau kejadian yang mirip dengan cerita ini, kita seharusnya bertindak seperti apa yang telab dilakukan oleh Ding Laosan yang dengan begitu berani, tak gentar, dan dengan kecerdasannya telah membalikkan dan menundukkan lawan hingga akhirnya berhasil membela kehormatannya