Saturday, March 2, 2013

Fana dari Nafsu dan Hawa

Jika seorang hamba fana dari nafsu, hawa, dan semua makhluk, maka ia sudah berada di akhirat dengan batinnya, meskipun zhahirnya masih berada di dunia. Ia berada dalam naungan ilmu serta genggaman Allah Swt. seraya bertasbih di lautan kekuasaan-Nya. Apabila ketakutan orang ini semakin besar dan hampir saja hatinya terpotong-potong karena rasa takut tersebut, maka Dia mendekatinya, memberinya kabar gembira, dan menempatkannya di dalam keindahan-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yusuf As. terhadap Saudaranya, Bunyamin.

Ketika seluruh saudara Nabi Yusuf berkumpul, ia melihat Bunyamin berbeda dari yang lain, sehingga ia bertambah sayang kepada saudaranya itu. Ia mempersilakan mereka untuk duduk dan makan di satu tempat, sementara Bunyamin dipersilakan duduk di sisinya dan makan bersamanya. Tatkala selesai makan, ia menyampaikan kabar gembira kepada Bunyamin seraya berkata, "Aku adalah saudaramu, Yusuf."

Maka, Bunyamin pun bahagia dan Yusuf melanjutkan perkataannya, "Aku ingin membuat skenario. Nantinya, kamu akan tertuduh menjadi seorang pencuri, maka bersabarlah menghadapi ujian itu." Rencana tersebut berjalan mulus. Ketika Bunyamin tertangkap karena mencuri, saudara-saudaranya merasa heran terhadap ujian yang dialami oleh Bunyamin dan merasa dengki kepadanya; sebagaimana mereka dengki kepada Nabi Yusuf As. sebelumnya. Pada saat barang curiannya terkuak, maka muncullah kemuliaan Bunyamin dan ia didekatkan kepada saudaranya, Nabi Yusuf As.

Begitu juga dengan seorang mukmin, jika Allah Swt. hendak memberikan tongkat kepemimpinan kepadanya, maka Dia akan mengujinya dengan berbagai musibah dan bahaya. Apabila ia bersabar menghadapinya maka Dia akan mengistimewakannya dengan kemuliaan serta kedekatan.

Wahai anakku, bersikap sempurnalah pada saat perintah datang, dan berpura-pura sakitlah ketika larangan menghampiri, serta pasrah dan diamlah ketika segala bahaya dan takdir mendatangi. Jadilah kamu seperti mayat dalam hal mendatangkan manfaat dan menolak mudharat. Orang yang mencintai itu mendengar serta melihat Al-Haq 'Azza waJalla dan ia buta serta bisu terhadap makhluk. Kerinduan meliputi kelima indranya, zhahirnya bersama makhluk, sedangkan batinnya bersama-Nya. Kakinya ada dan nyata di bumi, sementara cita- citanya berada di langit. Dalam hatinya, ada berbagai cita- cita; sedangkan para makhluk yang lain tidak merasakannya. Mereka melihat kakinya, akan tetapi tidak melihat keinginan dan segala cita-citanya, karena keduanya berada di gudang hati yang merupakan gudang-Nya.

Di manakah posisimu dari semua ini, wahai pendusta? Kamu berdiri bersama harta, anak, kedudukan, serta sikapmu yang mempersekutukan Allah Swt. dengan makhluk dan segala perantara, sedangkan kamu mengaku dekat kepada-Nya. Dusta merupakan sebuah kezhaliman, karena hakikat ke- zhaliman ialah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Bertaubatlah dari kedustaanmu, sebelum kesialan akibat dustamu kembali menimpamu. Temanilah kaum itu, karena di antara sifat mereka jika mereka melihat seseorang yang mereka inginkan maka mereka mencintainya; walaupun yang dilihat itu adalah orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bila ia seorang muslim, maka bertambahlah keimanannya, keyakinannya, dan konsistensinya. Bila bukan seorang muslim maka Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam.

Wahai orang-orang yang lalai dari Al-Haq 'Azza wa Jalla dan hamba-hamba-Nya yang shalih, seluruh harta dan anak tidak akan mendekatkanmu kepada-Nya, karena yang akan mendekatkanmu adalah ketakwaan serta amal shalih. Dulu, orang-orang kafir berusaha mendekatkan diri kepada setan dan para raja dengan harta dan anak-anak mereka. Kemudian, mereka berkata, "Jika Allah Swt. menginginkan kami mendekatkan diri kepada-Nya dengan semua harta dan anak- anak kami pada hari kiamat, maka kami akan melakukannya." Lalu, Dia menurunkan firman-Nya berikut:

"Dan, sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak- anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)"
(QS. Saba' [34]: 37).

Jika kalian mendekatkan diri kepada Al-Haq 'Azza wa Jalla dengan harta, sementara kalian berada di dunia, maka hal itu akan memberikan manfaat di dunia saja. Sedangkan, apabila kalian mengajarkan khat, al-Qur'an, dan ibadah kepada anak- anak, kemudian berniat untuk mendekatkan diri kepada- Nya, maka hal itu akan memberikan manfaat kepada kalian. Kalian akan mendapatkan pahala dari amal tersebut setelah kalian meninggal dunia. Dia sudah memberitahukan kepada kalian bahwa semua yang kalian miliki tidak akan bermanfaat. Adapun yang dapat memberikan manfaat adalah keimanan, amal shalih, kejujuran, serta pembenaran.

Seorang mukmin yang bijaksana dan shalih selalu membuat ridha Rasulullah Saw. dengan amal shalihnya, sampai beliau mengizinkan hatinya bertemu dengan Tuhannya. Ia seperti budak yang apabila sudah lama memberikan pelayanan maka ia berkata, "Tuan, tunjukkanlah kepadaku pintu Sang Penguasa. Sibukkanlah diriku dengan-Nya. Tunjukkanlah aku tempat yang dapat membuat aku melihat-Nya dan meletakkan kedua tanganku di depan pintu kedekatan-Nya." Lalu, tuannya itu (Rasulullah Saw.) membawanya dan mendekatkannya ke pintu- Nya. Begitu sampai di depan pintu, dikatakan kepada beliau, "Wahai Muhammad, wahai sang utusan, pemberi petunjuk, dan pengajar, siapakah orang yang bersamamu?"

Beliau menjawab, "Engkau sudah mengetahuinya. Seorang anak kecil yang sudah aku didik dan relakan untuk melayani pintu ini." Kemudian, beliau berkata dalam hati, "Ini adalah kamu dan Tuhanmu." Perkataan tersebut seperti perkataan Jibril As. tatkala naik bersama beliau ke langit dan mendekati Allah Swt., "Inilah dirimu dan Tuhanmu."

Wahai anakku, datangkanlah amal shalihmu dan dekatkanlah dirimu kepada Tuhan sekalian alam. Para penghuni surga berada di dalam kamarnya dalam keadaan aman dari semua bahaya dunia. Barang siapa yang bersabar menghadapi kefakiran, tanggungan keluarga, segala penyakit dan virus, serta kegelisahan dan keresahan, maka ia akan aman dari pedihnya kematian, mampu menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, serta akan dimasukkan ke dalam surga. Ia tidak akan keluar lagi dari surga itu selama-lamanya.

Ketenteraman para penduduk surga akan didapatkan ketika mereka memasukinya. Sedangkan, orang-orang yang mencintai Allah Swt., hati mereka tidak memiliki ketenteraman, walaupun mereka memasuki surga ribuan kali, sampai mereka bisa melihat- Nya. Mereka tidak menginginkan makhluk, karena mereka hanya menginginkan-Nya. Mereka tidak menginginkan surga yang penuh dengan kenikmatan (an-na'im), karena mereka hanya menginginkan Dzat Pemberi Nikmat (Al-Mun'in). Mereka menjauhi keluarga,67 konsentrasi terhadap Dzat Yang Maha Kuasa, dan hati mereka sempit dengan kelapangan bumi ini. Mereka memiliki kesibukan yang membuat mereka tidak sempat sibuk dengan sekalian makhluk. Jika hati mereka melihat surga, baik secara sadar maupun tidur, maka mereka tidak mengungkapkannya sebagai gurauan.
Mereka melihatnya sebagaimana mereka melihat binatang buas, kerangkeng, dan penjara. Mereka berkata, "Semua yang berada di dalamnya memiliki hijab, keresahan, dan azab." Maka, mereka lari menjauhinya, sebagaimana orang-orang lari dari binatang buas, kerangkeng, dan penjara.

Wahai anakku, pendekkanlah angan-anganmu, minimalisirlah ketamakanmu, shalatlah layaknya orang yang akan berpisah dengan dunia ini, hadirlah bersamaku dengan orang yang akan berpisah dengan kehidupannya. Bila takdir menghampirimu dengan hadirnya Hari Akhir maka itu terjadi tanpa perkiraanmu. Tidak selayaknya seorang mukmin tertidur, kecuali wasiatnya tertulis di dekat kepalanya. Apabila Al-Haq 'Azza wa Jalla membangunkannya dalam keadaan selamat, berarti ia diberkahi. Jika tidak, maka keluarganya akan mendapatkan wasiatnya, kemudian mereka akan menjalankannya setelah kematiannya dan merasa sedih karena kehilangannya.

Hendaklah kamu makan, duduk, serta bertemu teman dan saudara layaknya orang yang akan meninggalkan dunia. Bagaimana tidak akan seperti itu seseorang yang urusannya berada di tangan selainnya? Relung jiwa itu mampu melihat hati. Hati mampu melihat nafsu yang tenang dan diminta menyembunyikannya. Ia mampu melihat masalah ini setelah mendidiknya dan melayaninya untuk hati, berdiri bersamanya dan membuatnya layak mendapatkannya setelah melakukan mujahadah dan mukabadah.

Barang siapa sampai pada maqam tersebut, maka ia adalah wakil dan khalifah Al-Haq 'Azza wa Jalla di muka bumi. Ia akan menjadi pintu segala rahasia. Di tangannya terdapat kunci gudang-gudang hati yang merupakan gudang-Nya. Masalah ini tidak masuk akal bagi sekalian manusia. Semua yang tampak pada dirinya adalah sebiji atom gunung-Nya dan setetes air laut-Nya, serta secercah cahaya matahari-Nya.
Ya Allah, aku memohon maaf kepada-Mu karena membahas masalah rahasia-rahasia ini, dan Engkau mengetahui bahwa diriku ini lemah. Sebagian di antara mereka berkata, "Hati- hatilah dengan permintaan maafmu." Akan tetapi, bila aku naik ke kursi ini maka aku akan hilang dari hadapan kalian. Tidak ada seorang pun yang berada di hadapan hati ini yang aku tidak meminta maaf kepadanya dan menjaga diri darinya.

Apabila hati ini benar, dan kakinya berdiri tegap di pintu Al-Haq 'Azza wa Jalla, maka hati tersebut akan masuk ke dalam wilayah at-takwin, ke dalam lembah-Nya dan lautan- Nya, sehingga terkadang ia bersama dengan perkataan-Nya, keinginan-Nya, dan pandangan-Nya. Semuanya menjadi
perbuatan-Nya, dan ia pun ber-'uzlah (menyendiri). Ia fana, sedangkan Dia kekal. Sedikit saja di antara kalian yang mempercayai hal ini, dan sebagian besar di antara kalian justru mendustakannya. Mengimani hal ini adalah wilayah (kewalian) serta mengamalkannya merupakan nihayah (akhir).

Tidak ada yang tidak mengetahui keadaan orang yang shalih, kecuali Dajjal yang mengendarai hawa nafsunya. Masalah ini berfondasikan keyakinan yang benar, kemudian mengamalkan dalam bentuk zhahir yang memberikan makrifat untuk mengcnal-Nya dan pengetahuan untuk mengetahui- Nya. Hukum itu berada di antara dirinya dengan makhluk lainnya, dan ilmu itu ada di antara dirinya dengan Tuhannya. Amalan-amalan zhahir layaknya biji atom jika dibandingkan dengan gunung amalan-amalan batin. Anggota badan merasa tenang, namun hatinya berguncang. Kedua mata kepalanya tertidur, akan tetapi kedua mata hatinya terjaga. Hatinya beramal dan tidak kufur. Ia berdzikir; sedangkan ia tertidur. Kapankah kalian mengenal dunia, kemudian meninggalkannya dan mentalaknya? Kapankah kalian meninggalkan sifat iri kepada saudara-saudara kalian sendiri, yaitu terhadap segala sesuatu yang ada di tangan mereka.

Celakalah dirimu, kamu dengki kepada saudaramu sendiri karena istrinya, anaknya, tempat tinggalnya, serta dunia yang berada di tangannya. Semua itu diciptakan untuknya, tidak ada bagianmu di sana. Kamu mengharapkan istrinya, padahal ia diciptakan untuknya di dunia dan akhirat. Kamu mengharapkan kelapangan rezekinya, padahal Qalam telah terlebih dahulu menetapkan kesempitanmu, sehingga kamu dihukum dan dihina, karena kamu meminta sesuatu yang tidak akan diberikan kepadamu. Betapa kerasnya usahamu untuk mendapatkan dunia, padahal tidak ada bagianmu di dalamnya, kecuali sesuatu yang sudah dibagikan untukmu.

Ya Allah, bangunkanlah hati kami dari segala kelalaian. Bangunkanlah kami untuk-Mu, berikanlah kami taufiq untuk melayani-Mu. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

(Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)