Sunday, March 17, 2013

Burung Sakti dan Burung Hantu


Hui Shi adalah teman karib dari seorang filsuf bernama Zhuangzi1. Setelah Hui Shi diangkat menjadi perdana menteri di Negara Wei, Zhuangzi pun merasa sangat bahagia atas pelantikan teman karibnya ini. Beliau pun berkenan untuk berangkat mengunjungi Hui Shi.
Berita keberangkatan Zhuangzi ini telah terdengar oleh orang-orang licik yang selalu berada di sekeliling Hui Shi, di an­taranya ada seseorang yang ingin menjilat Sang Perdana Menteri dengan cara mengadu domba. Dia mengatakan maksud dan tu­juan kedatangan Zhuangzi ke Ibu Kota ini bukanlah demi per­sahabatan, melainkan berusaha dan bermaksud untuk merebut kedudukan perdana menteri. Begitu Hui Shi mendengar hasutan ini, dia merasa ketakutan, takut jika Zhuangzi yang sangat bertalenta itu benar-benar datang untuk merebut kedudukannya. De­ngan segera, Hui Shi mengantisipasinya dengan mengeluarkan maklumat untuk menangkap Zhuangzi sebagai buronan. Demi melaksanakan perintah dari Sang Perdana Menteri, pasukan Wei telah berpatroli dan memeriksa daerah Ibu Kota selama tiga hari tiga malam.
Tingkah laku Hui Shi ini juga telah diketahui oleh Zhuangzi. Beliau justru mengambil inisiatif untuk berkunjung ke tempat Sang Perdana Menteri dengan menyatakan diri ingin bertemu. Hui Shi berprasangka bahwa Zhuangzi nekat mencelakakan diri sendiri, padahal beliau mengetahui ada jebakan atau perangkap yang ditujukan kepadanya.
Hui Shi pun merasa heran dan penasaran dengan sikap Zhuangzi, karena Zhuangzi juga tidak memberikan penjelasan apa pun kepada Hui Shi—tetapi hanya duduk dan menceritakan sebuah dongeng:
"Di Selatan, konon terdapat burung sakti, sejenis burung feng- huang atau burung phoenix yang disebut dengan nama yuanchu. Burung sakti ini sering terbang dari Kutub Utara ke Kutub Sela­tan dan sebaliknya. Di tengah perjalanan, bila tak menemukan pohon wutong (jenis pohon Firmiana simplex yang sangat tinggi; pohon sejenis ini bisa tumbuh setinggi belasan meter), sang bu­rung tak akan berhenti untuk bersinggah dan beristirahat. Kalau tidak menemukan buah dari pohon bambu hijau atau buah- buahan lain yang sangat langka, dia pun takkan pernah berhenti untuk sekadar makan. Bila tak menemukan sumber air alam yang manis dan segar, dia pun takkan pernah turun untuk minum.
"Pernah suatu kali burung yuanchu yang sedang terbang tinggi di atas langit tak sengaja menyaksikan pemandangan di bawah:
seekor burung kukuk beluk atau burung hantu sedang mematuk dan memakan jasad tikus yang telah mati dan membusuk. Mung­kin burung hantu ini sedang kelaparan. Menyaksikan burung sakti yuanchu sedang terbang di atasnya—saat menikmati jasad tikus busuk, karena takut kalau burung yuanchu akan turun demi merebut makanannya—maka burung hantu itu langsung ber­siap siaga memagari makanannya. Wajah si burung hantu pun memerah karena marah. Bulu sekujur badannya berdiri tegak, sepasang matanya menyorotkan sinar kemarahan, dan berlagak seolah-olah siap berduel dengan sang burung sakti. Saat me­nyaksikan si burung sakti masih beterbangan, berkeliling-keli­ling di atas, dengan sekuat tenaga burung hantu itu bersiul keras dan mengeluarkan suara melengking sebagai pertanda bahwa si burung hantu siap untuk bertarung, juga sebagai suatu upaya un­tuk menakut-nakuti si burung sakti."
Zhuangzi dengan tenang menceritakan kisah pertemuan bu­rung hantu dengan burung sakti yuanchu. Setelah selesai, dengan langkah kaki yang sangat mantap dan yakin, sambil tertawa beliau menghampiri Hui Shi dan bertanya kepadanya: "Hari ini Anda telah mendapatkan promosi sebagai perdana men­teri. Menyaksikan kedatangan saya, apakah Anda juga hendak menghadang dan menakut-nakuti saya?" Setelah selesai bertanya demikian, beliau kembali tertawa terbahak-bahak dan terus ber­jalan dengan tak menoleh ke belakang lagi.

Sebagai seorang bijak yang berpandangan jauh, berjiwa dan berbudi luhur, seseorang selalu mendambakan sesuatu yang mulia dan tak ternoda. Ini semua takkan mungkin dimengerti oleh, orang biasa, apalagi yang berpikiran sempit. Dengan pemikiran manusia yang tamak dan serakah mencoba me­nyelami tindakan dan martabat kebijaksanaan seorang yang budiman, seperti yang dikatakan dalam peribahasa China: Yi xiao ren zhi xin, du junzi zhi fu" yang berarti: "Dengan hati 'manusia kerdil' mengukur perut (baca: hati) seorang budiman yang saleh." Cerita ini juga mengejek dan menyindir para "manusia kerdil" yang selalu rakus terhadap kekayaan dan kekuasaan.