Sunday, March 31, 2013

Tentang Main Sabun


persebayaMr. Rigen yang pencandu sepakbola itu gemas sekali melihat hasil skor pertandingan Persebaya lawan Persipura.
“Kok bisa-bisanya ya, Pak ?”
“Bisa-bisanya bagaimana ?”
Lha, ya itu. Skor kok 12 – nul. Itu kan main sabun to, Pak ?”
“Bagaimana kamu pasti itu hasil main sabun ?” Saya pancing dia.
Ha, inggih jelas gitu kok, Pak. Mana mungkin Persebaya kalah sampai dua belas dari Persipura. Persebaya sekali-sekali ya boleh kalah dari Persipura. Ning nek sampai kalih welas itu mboten umum. Jadi, ini pasti main sabun.”
Saya mengangguk-angguk, menyatakan setuju dengan jalan pikirannya. Cara dia membangun logika, memilih premis dan menarik kesimpulan boleh juga.
“Terus kalau menurut kamu permainan sabun begitu harus diapakan ?”
“Ya dihukum gitu, Pak. Dihukum. Sebab kalau tidak, mremen-mremen, menjalar ke mana-mana. Bisa rusak sepakbola kita.”
Saya mengangguk-angguk lagi. Kagum akan ketegasan dan kekukuhan pendiriannya. Dan pada waktu orang-orang Persebaya sendiri mengaku bahwa itu main sabun dengan Persipura agar bisa mendepak keluar PSIS, dengan bersemangat Mr. Rigen datang lagi kepada saya.
“To, Pak. To, Pak. Pripun, pripun, kalau begni ini.”
“Ada apa kali ini, Mister ? Kok bolehmu gugup !”
Lha, ini Persebaya ngaku kalau main sabun.”
“Terus ?”
“Enak saja bilangnya itu siasat. Kalau semua main sabun pakai alasan siasat, rak inggih kaco aturan negoro nggih, Pak ?”
Sekali lagi saya mengangguk-angguk. Sekali lagi saya kagum akan keteguhan pendiriannya. Oh, rakyatku yang sederhana, pikiranmu yang polos itulah sokoguru kelangsungan republik ini. Kepolosanmu akan disalahgunakan, kepolosanmu akan diinjak-injak, kepolosanmu akan diperjualbelikan, tetapi kepolosanmu itu akan tetap menjadi sokoguru republik ini. Nah !
Di belakang rumah, saya mendengar Mrs. Nansiyem ribut-ribut dengan Beni Prakosa. Mr. Rigen segera mak brabat lari ke belakang mungkin mencium gejala krisis di daerah kekuasaannya. Saya pun jadi ikutan tergerak mak brabat lari ke belakang.
Iki lho, Pak-e. Iki lho, Pak-e !
“Ada apa, Bune ? Ada apa kok ribut ora karuan ?
Lha, ini kamu lihat sendiri anakmu si bedhes ndoromas Beni Prakosa. Mandi cuma main sabun terus. Nggak mau mandi-mandi. Ayo mandi, nggak ? Nanti dak jewer betul, lho, kupingmu !
Saya melihat sang bedhes Beni yang memang angudubilah nakalnya itu, tertawa terkekeh-kekeh menggosok-nggosokkan sabun di tubuhnya, lantas dicelup-celupkan lagi ke ember mandi hingga air di ember jadi putih semua. Sabun yang berenang-renang di ember itu selalu mrucut menghindar tangkapan anak itu. Mrs. Nansiyem tidak sabar lagi. Tangannya dengan sebat menjewer kedua telinga anaknya. Cengeerrrr … sang Beni pun menangis menjempling-jempling. Situasi pun menjadi tidak terkendali lagi.
“Ini anak bandel tidak ketulungan lagi. Dibilangin jangan main sabun, kok terus saja main sabun !”
Dan Mrs. Nansiyem dengan lebih getol dan penuh gusto mengewer-ngewer telinga anaknya lagi.
“Kapok ora ?! Kapok ora ?!”
Dan Beni Prakosa pun semangkin menjadi-jadi jerit tangisnya. Lama-lama saya lihat Mr. Rigen tidak tahan lagi melihat situasi yang bising dan kacau nggak karuan itu.
Wis, Bune. Wis, Bune. Kamu jangan ngawur mala anak. Salah-salah malah putus kewer-kewer kuping anakmu. Nanti kamu yangnyesel.”
“Anak salah ya kudu diajar ngono.”
Iyo. Ning kamu sudah kebangeten.”
Beni lantas digendong bapaknya. Dihanduki lantas digeletakkan di tempat tidur. Waktu Mr. Rigen ketemu saya lagi di ruang depan, dia merasa perlu menjelaskan sikapnya menyelematkan anaknya dari jeweran istrinya.
Lha, inggih to, Pak.”
“Apanya yang lha inggih ?
“Anak itu ya kita tega patine ning ora tega laraneBune thole itu sok kebangeten mala anak.”
“Ayak, Gen, Gen … Yang tadi bilang orang main sabun kudu dihukum itu siapa ?”
Ha, inggih kuloNing ya lihat-lihat sikonnya to, Pak.”
Weh, kok kowe tahu sikon apa ?”
Ha, inggih to, Pak. Yang main sabun ini kan anak. Anak, Pak. Anak ! Meski salah ya akhirnya kudu tetep dilindungi. Wong anak kok, Pak. Anak !”
Saya mengangguk-ngangguk. Oh, rakyatku yang baik hati. Kebaikan hatimu inilah yang akan menjaga kelangsungan hidup republik kita yang tercinta ini ….
Yogyakarta, 15 Maret 1988
*) gambar dari bajulijo.net

Melaksanakan Nglobi Untuk Pak Ngalmus


hotel aryadutaWaktu baru-baru ini saya duduk di lobi Hotel Aryaduta, Jakarta, menunggu seorang kawan yang yang akan menraktir teppan yaki di restoran Shima yang nempel di hotel tersebut, sekelebat saya melihat Mas Ngalimin alias Drs. Ngalimin M.Ed, Neb, alias Mr. Almost atau yang menurut ejaan Mr. Rigen ; Pak Ngalmus. Tubuh saya segera saya plorod-kan dan saya jadikan lebih mengkeret takut ketahuan Mr. Almost. Di kursi yang empuk, kepenak bin comfortable itu memang duduk sembari mlorod dan mengkeretbisa enak sekali bagai seekor kucing yang tidur mblungker.
Tetapi, bayangan begitu tentulah hilang sama sekali. Bagaimana tidak. Seperti yang pernah saya laporkan dalam kolom ini pada bulan Januari yang lalu, saya telah sanggup menerima tugas melobi koneksi saya para mantan tokoh-tokoh sipil dan militer untuk mengatrol Mr. Ngalimin menjadi menteri. Memang betul waktu itu saya duduk di lobi, tapi lobi hotel, bukan lobi kasak-kusuk politik. Mati aku ! Beliau melihat saya bahkan mendekati tempat saya duduk.
“Aha ! Campaign manager-ku ! Baru duduk di lobi untuk melobi koneksi dalam rangka aku jadi menteri ?”
Waduh ! Dalam hati, saya kagum juga kepada beliau. Tidak saja sanggup menebak apa yang sedang saya pikirkan. Tetapi malah menebak dalam satu sajak. Luar biasa. Saya terpaksa bersikap pura-pura kaget.
“Lho, Mas Nglimin. Sudah lama di Jakarta ?”
“Lho, sampeyan itu bagaimana, sih ? Ya sudah, to. Kan saya mesti nongkrongi SIUM MPR sembari lobi ke sana ke sini. Sampeyanbagaimana nglobi-nya ? Oke, to ?”
Saya jadi cegukan mendapat pertanyaan seperti itu. Pertanyaan itu adalah tagihan, tuntutan prestasi kerja saya sebagai salah satulobbyist Mr. Ngalimin yang kali ini tidak boleh lagi menyandang Mr. Almost, tetapi Insya Allah mesti jadi Mr. Minister. Saya cegukan karena saya tidak terlalu sukses mengerjakan pekerjaan rumah saya. Dengan pelan dan diplomatis sekali saya coba menjawab dan memberikan laporan pekerjaan rumah saya.
“Begini, Mas Ngalimin. Saya sudah berhasil mengontak semua calon target kita.”
Good, good. I know you won’t let me down,” sambil berkata begitu Mr. Ngalimin menepuk-nepuk bahu saya. Benar-benar sudah gaya politikus Nebraska.
“Wah … tunggu Mas. Saya berhasil mengontak, tapi .. eh, itu Mas.”
“Eh … bagaimana ?”
“Begini, Mas. Berhasil itu ternyata tidak berarti sukses.”
“Lho, bagaimana ini ? Berhasil tidak berarti sukses ? Waaahh … sampeyan ini masih wong Jawa betul. Ngono yo ngono, ning ojo ngono.”
“Maksud saya, nggih, Mas Ngalimin. Saya sudah berhasil menghubungi atau mendatangi empat rumah para mantan target kita dan malah salah satu night club yang sedang in di Jakarta.”
“Lantas, lantas ? Tidak suksesnya itu di mana ?”
“Tidak suksesnya ? Ya, di rumah-rumah dan klab malam itu.”
“Bagaimana, bagaimana ?”
“Begini. Di tiga rumah mantan menteri sipil, menteri pati ABRI dan mantan keuangan PT Lenga Klentik Negara, saya dapatkan hal yang tidak dinyana-nyana. Lha, kok mereka sudah pada seda, meninggal dunia, semua.”
“Wah, jadi mereka juga sudah mantan manusia, to ? Lantas lainnya ? Tadi sampeyan menyebut empat rumah mantan tokoh dan satu night club ?
“Ya, di satu rumah lagi itu rumahnya seorang mantan perwira tinggi, mantan seorang yang hebat banget. Saya dapati rumahnya kosong. Rumahnya gede banget. Anjing herdernya dua. Untung satpamnya ramah. Katanya, bapak sedang di rumah ibu yang satunya, Ngomong begitu sambil berkedip-kedip matanya. Waktu melihat wajah saya yang kecewa bin gela, mas satpam itu menyarankan saya untuk mencoba malam-malam ke satu night club baru yang kecil tapi indah, Le Beo. Bapak suka dansa malam-malam di sana. Sekali lagi satpam itu mengerdip-ngerdipkan matanya.”
“Lantas, lantas ? Sampeyan juga pergi ke sana ?”
Lha, iya dong. Meski tempatnya sangat eksklusif dan sangat muahall. Saya glembuk adik saya yang jadi pengusaha untuk mengajak saya ke sana. Adik saya yang pengusaha kelas teri, yang cukup puas dengan proyek sub-sub-sub kontraktor, jadinya juga ngglembuk partner Cina-nya. Yang sesungguhnya juga pas-pasan saja.”
“Lantas, lantas ?”
Saya lantas menyambung laporan saya. Kami ke Le Beo bertiga saja. Sesunggguhnya tidak lucu karena seharusnya kita diharapkan membawa partner. Tetapi ndilalah ketiga istri kami alergi dengan klab malam. Untunglah kami dapat membujuk sang manager bahwa kami hanya minum dan menemui seseorang saja, itu pun hanya untuk sebentar saja. Kami duduk. Minuman sudah dipesan. Dan musik pun sedang bermain dengan hangatnya. Musik disko yang tidak gedobrakan diselingi cha-cha dan kadang-kadang sekali waltz. Enak juga. Kaki sudah mulai gatal-gatal kepingin turun ke lantai. Eh, bukan Narayana lagi. Tur tidak ada partner. Dan targetnya kan mau ngomong, melobi sang mantan jenderal, to ? Jadi, ya cukup jari-jari saja dijentik-jentikkan di meja. Adik saya yang tidak dansa dan hanya sekali-sekali saja ke klab malam hanya untuk meng-entertain relasinya, ketawa cekikikan melihat kombinasi ketegangan, nostalgia dan kenikmatan terbayang di wajah saya. Akhirnya, saya melihat pak jenderal, eh mantan jenderal itu datang dengan seorang wanita yang aduhai cantiknya. Pastilah bukan ibu yang satunya. Untuk itu terlalu manja dan coquette sikapnya. Sikap yang belum mapan, belum jelas anggaran pengeluarannya. Paling-paling calon ibu yang satunya lagi. Pak mantan jenderal pun melambaikan tangan kepada saya.
“Rileks, ya ? Nanti saya nggabung ke situ. Mau pencak silat dulu di lantai. Boleh, to ? Boleh, to ? Pensiunan, kok.”
Sambil tertawa terkekeh, mereka turun ke lantai. Dan astaga ! Kawan saya yang mantan jenderal itu masih dengan gusto, penuh gaya, berdansa dan berdansa. Dan kami dengan penuh kegemasan dan kecemasan, menunggu dan menunggu. Sialan, pak mantan jenderal pada jam sebelas malam, begitu saja mak glenes pergi, lupa nggabung dengan meja kami.
“Begitulah, Mas Ngalimin. Berhasil kontak tapi tidak sukses. Maafkan saya. Saya telah gagal total.”
Mas Ngalimin diam. Mengambil sebatang Gudang Garam. Menyalakan korek, menyedot rokoknya dalam-dalam. Sementara itu saya melirik ke pojok lobi, saya lihat teman yang mau menraktir teppan yaki sudah gelisah menunggu. Teman saya itu adalah seorang sahabat yang bonafid, jutawan nyaris milyarder hasil dari keringat sendiri. Bukan putra mahkota, bukan pejabat. Pengusaha, titik. Karena itu, tidak tega untuk saya perkenalkan kepada Mr. Ngalimin.
“Wah, ya sudah. Nggak apa-apa. You did your utmost best. Saya masih ada harapan  lain. Kontak saya itu sudah saya penuhi permintaannya. Seekor ikan arwana dan sejodoh ikan mas koki Taiwan. Katanya dia sudah melihat nama saya masuk. Dan berkat lobi dia, saya dapat pointer, angka yang tinggi.”
“Wah, syukurlah Mas. Saya ikut mendo’akan.”
Dengan langkah tegas Mr. Ngalimin menuju counter resepsionis. Entah mau ngurus apa lagi dia. Saya pun menggabung sahabat saya melenggang ke Restoran Shima. Saya mulai membayangkan sang koki, di depan saya, di belakang meja persegi itu, meliuk-liukkan tempat garam dan tempat merica, merajang daging Kobe, menghancurkan telur dengan elegan, menggoreng nasi bagai seorang maestro. Memang betul kata seorang kawan. Teppan yaki bukan hanya seni memasak tetapi juga seni pertunjukan. Satu performing art.
Catatan susulan :
Peristiwa di atas terjadi pada tanggal 18 Maret 1988. Saya mengetik kolom ini pada tanggal 20 Maret 1988. Saya kirimkan via pos kilat khusus siang hari tanggal 20 Maret 1988. Pada tanggal 21 Maret 1988 Bapak Presiden akan mengumumkan susunan kabinetnya. Pada malam yang bersamaan itu saya harus njagong resepsi perkawinan seorang anggota keluarga besar kami sampai jauh malam. Pasti pada malam tanggal 21 itu saya belum akan tahu apakah Mr. Ngalimin akhirnya berhenti jadi Mr. Almost dan menjadi Mr. Minister. Ketika kolom ini sampai di tangan pembaca, Anda pasti sudah akan tahu apakah Mr. Ngalimin masuk kabinet atau belum lagi. Wong kolom ini jatuh pada hari Selasa. Akan halnya dengan saya, baru akan tahu tanggal 22 sore di Padang, karena pada hari itu saya harus terbang ke kota itu. Untuk apa ? Ah … untuk apa lagi kalau bukan untuk jual abab di seminar ….
Mr. Ngalimin, I’ll pray for you …..
Yogyakarta, 22 Maret 1988
*) gambar dari id.hotels.com

Sore-Sore Tentang Gusti Allah


ngobrol soreSore-sore sepulang saya dari Jakarta dan Padang, Mr. Rigen menunggu saya minum teh dan nyomot pisang goreng panas. Upacara sore begitu sering kali memang saya rindukan setiap kali saya harus lama meninggalkan Yogya. Ada suasana yang khas pada sore-sore begitu. Suasana yang tidak dapat digambarkan atau ditulis secara pas. Wong soal roso, kok ! Setangkas-tangkas seorang penulis tidak akan mungkin ia akan memiliki cukup peluru kata-kata untuk bercerita tentang suasana sore dengan teh panas kenthel dan pisang goreng yang manget-manget. Ya, pokoknya maat dan laras. Mungkin Anda akan bertanya apakah di Jakarta, di mana saya justru direriung keluarga tidak saya temui suasana maat dan laras begitu ? Wooo … lain !
Di Jakarta, istri baru pulang menjelang maghrib dari rutin kerja kantor. Si Gendut, mahasiswi metropolitan masa kini, entah di mana sore-sore begitu. Entah belum pulang dari ngobrol di rumah temannya, jogging keliling kompleks, pokoknya embuhdi mana, dia selalu punya acara sendiri. Suasana kumpul itu baru datang di sekitar meja makan pada malam hari. Sore memang jarang hadir di rumah saya di Jakarta. Kecuali pada hari Minggu dan hari libur.
Sore-sore, agaknya memang milik kota yang masih adem ayem di pedalaman. Kota yang pada pukul dua siang tidur. Yang toko-tokonya setengah terbuka setengah tertutup pada jam-jam siang begitu. Sore-sore memang sekatan waktu yang indah antara siang dan malam. Sehabis menggeliat sesudah tidur siang, belum siap untuk mandi sore dan mikir-mikir mau apa pada malam harinya. Sore memang zona yang akan aman untuk menampung itu semua. Di luar negeri pun tidak ada suasana sore-sore begitu. Sore kadang lenyap begitu saja ditelan malam pada musim dingin. Atau tidak jelas batasnya pada hari-hari panjang di musim panas. Pokoknya sore-sore milik kota seperti Ngayogya inilah.
“Wah … pripun, Pak ?”
Pripun lagi. Mbok sekali-sekali mulai dialog itu tidak dengan pripun.”
Lha, memang batur itu kan perbendaharaan kata-katanya terbatas to, Pak. Di ketoprak-ketoprak dan dagelan-dagelan itu batur kan ya mulai dengan pripun to, Pak.”
Huss … kok semangkin nekat, lho.”
“Ha …inggih. Pripun itu cara wong cilik bertanya pada para pemimpinnya.”
“Ya, sudah. Silakan pripun !”
Mr. Rigen meringis. Tahu bahwa diam-diam majikannya selalu kagum akan ketangkasan pokorolannya.
Pripun, Pak ? Jago-jago Bapak kok keok semua !”
“Jago apa ?”
“Persija, keok. Pak Ngalmus dobel keok !
Saya jadi mak sengkring mendengar pertanyaan atau malah ledekan Mr. Rigen itu. Saya sudah mencoba melupakan semua itu, kok ini malah digugat lagi.
“Yaaa … kadang-kadang dalam hidup itu, Gen, orang tidak dapat terus-terusan berhasil. Kadang-kadang perlu juga keok itu. Ada hikmahnya, Gen, keok itu.”
Yakk … Bapak kok terus jadi lebih tua begitu, lho.”
Lha, terus maumu apa, Gen? Wong kenyataannya Persija ya kalah tenan. Pak Ngalmus ya belum berhasil lagi jadi menteri. Mau apa, mau apa ?”
“Ya, betul itu memang kersane Gusti Allah. Yang saya herani, kok Persebayadiparengke menang, wong sudah pernah urikan main sabun. Dan Pak Ngalmus yang sudah ngetok semua usaha bertahun-tahun kok ya belum diparengkeGusti Allah jadi menteri, lho.”
“Ya, mana kita tahu, Gen. Pokoknya apa yang digariskan Yang Kuwasa itu mesti ada maksudnya. Mesti baiknya.”
Yakk … Bapak itu kok terus tiru-tiru kami wong cilik, lho. Kalau tidak paham, sudah buntu, larinya ke Gusti Allah. Buat ngayem-ayem, menenteramkan hati. Saya itu mohon penjelasan lho, Pak.”
Saya jadi judeg. Kenapa wong cilik seperti Mr. Rigen itu suka menuntut yang angel-angel dari kami kaum pemegang kekuasaan. Kami power eliteKeranjingan tenan ! Mbok ya sudah nrimo saja dengan keterangan yang seadanya, yang masuk akal. Lagi pula apa kersanya Gusti Allah itu hanya untuk wong cilik saja ?
“Gen ! Gusti Allah itu kalau kagungan kersa buat kita semua. DIA yang menentukan Persebaya menang. Yo wis. DIA menetapkan Pak Ngalmus belum boleh jadi menteri. Yo wis. Diterima saja.”
“Wah … kalau begitu saya dak main sabun dalam bal-balan lawan Blunyah Cilik minggu depan. Biar Jetis terpelanting masuk kotak. Paklik saya di Praci daksuruh lenggang-kangkung saja, tidak usah kasak-kusuk untuk jadi lurah. Nanti kan kejatuhan pulung sendiri.”
Sehabis ngomong begitu, mak brebet Mr. Rigen pergi ke belakang. Saya mengelus dada. Weh … sering kali sulit juga nyratenimomong kemauan wong cilik ! Selalu butuh penjelasan yang memuaskan. Tetapi permintaannya sering sulit-sulit. Kayaknya kami kaum power elite hasumadya dengan penjelasan yang memuaskan. Kalau kami sendiri hilang akal dan mau lari ke Gusti Allah dimarahi. Kayaknya cuma mereka yang punya Gusti Allah. Wee … lha, trembelane tenan !
Tetapi sesudah saya merenung sebentar, saya kok jadi tersenyum. Lha, kalau mereka wong cilik tidak mengklaim Gusti Allah sebagai milik mereka, punya apa lagi mereka ?
Yogyakarta, 29 Maret 1988
*) gambar koleksi Dian Kelana (kompasiana.com)

Saturday, March 23, 2013

Tentang Gaya Hidup Jakarta, Njukja dan Ngawi

holidayDi Jakarta kemarin, saya ketemu kawan lama, seorang ekonom tamatan Harvard. Seperti biasanya bila dua orang kawan lama tidak ketemu, percakapan pun merembet ke mana-mana dan merembet ke pribadi-pribadi lain yang juga sudah lama tidak ketemu.
Lha, si Usman itu bagaimana sekarang ? Apa juga masih setia mengajar seperti kamu ?”
Adapun yang saya sebut sebagai si Usman adalah juga seorang kawan lama, seorang tamatan Harvard Business School. Cemerlang, mengajar dengan penuh dedikasi di salah satu universitas negeri, karena itu pas-pasan saja ekonominya. Kayak kata “business” dan “Harvard” itu tidak ada dampaknya yang berarti dalam hidupnya.
“Naahh, itu. Usman, jangan kaget, sudah meninggalkan dunia pendidikan. Keluar dari fakultas kami dan pindah kerja di satu perusahaan raksasa.”
“Pindah kerja ? Ke perusahaan raksasa ? Rasanya kok susah membayangkan si Usman kerja di perusahaan.”
“Susah kalau hanya membayangkan pekerjaannya. Tapi, kalau lu bayangin gajinya barangkali jadi tidak terlalu susah lagi. Mau tahu gajinya sekarang di perusahaan itu ?”
Saya menggelengkan kepala masih membayangkan Usman yang sederhana dan penuh idealisme itu mengabdikan dirinya di luar dunia keilmuan dan pendidikan.
“Lima belas juta rupiah !”
“Setahun ?”
Huss ! Kok setahun ?! Sebulan, dong !”
Astaghfirullah. Gek seberapa banyak uang segitu ?
Uwahh ! Terus untuk apa uang sak pethuthuk, sak hohah dan sak abreg-abreg itu ? Mbayangin banyaknya saja sudah susah. Tunggu, tunggu. Dua belas kali lima belas juta. Jadi berapa ya terimanya si Usman setahun ?”
“Ya, seratus delapan puluh juta rupiah, dong.”
Huwahh ! Lha, itu berarti dia bisa beli dua rumah setahun, gitu !”
Kawan saya tertawa terkekeh-kekeh. Pundak saya dia gaploki beberapa kali.
“Geeng, Geng ! Elu itu kok masih udik nYukja bener, sih. Bahkan mungkin nYukja saja kagak. Ngawi barangkali !”
Elho ! nYukja atau Ngawi atau Cambridge Massachusett, ngelmu aritmatikanya kan sama saja, toh ? Di kompleks tempat saya tinggal, Cipinang, kau bisa beli maisonette lima pulub lima juta sebiji. Kalau si Usman beli dua maisonette setahun itu baru seratus sepuluh juta rupiah. Seratus delapan puluh juta diambil seratus sepuluh masih …. “
“Ha … ha … ha … Ya, itu aritmatika nYukja atau Ngawi. Hitung-hitungan itu kan terkait sama gaya hidup, Bung. Kalau gaya hidup nYukja yang cuma sekitar gudeg dan Ngawi yang cuma tempe, iya lah ! Si Usman bahkan bisa beli tiga rumah setahun dengan gaya hidup dua kampung itu. Tapi kalau kau ukur dengan gaya hidup Jakarta, belum tentu gaji sebesar itu cukup buat si Usman.”
Saya jadi merasa tersinggung dikatakan tidak tahu gya hidup Jakarta. Jelek-jelek begini kan saya punya rumah di Jakarta. Dan gaya hidup ? Eh, sekali-sekali saya kan singgah juga di Pizza Hut melahap pizza yang sebesar nampan dapur. Makan di Teppanyaki di Tokyo Garden dan Shima. Makan sea food di Yun Nyan atau Kingdom. Mendengarkan jazz di Borobudur, Sahid Jaya atau Mandarin, dan hahhh (!), juga es krim Haagen Dasz yang dahsyat itu !
Kurang tahu apa aku dengan gaya hidup Jakarta. Dan orbit perpusaran socialite, kaum elit, di Jakarta, toh aku tidak terlalu asing. Sekali-sekali undangan cocktail, dinner dan lunch dengan para tokoh mancanegara aku juga kecipratan. Kurang apa, kurang apa ?! Eh, trembelane tenan ! Kawan saya itu malah semangkin terpingkal tertawanya mendengar deretan pembuktianku tentang tidak asingnya aku dengan gaya hidup Jakarta.
“Ho … ho … ho … Orang dengan gaji seperti Usman di Jakarta itu sudah punya konsep lain tentang gaya hidup Jakarta. Berliburweekend atau main golf di Bali itu, seperti kau mau jajan tempe bacem dan jadah ke Kaliurang. Weekend, mereka ke Pulau Phuket di Thailand atau ke salah satu pulau kecil di lepas pantai Malaysia. Dan liburan mereka yang beneran ya ke mana saja. Ke Maldives, Gstaad, Sapporo, ke desa kecil di Swedia atau ke Kepulauan Karibia. Pokoknya ke tempat-tempat yang tidak umum. Setidaknya buat kita.”
“Dan, dia antara mereka itu ada semacam, entah itu, persaingan atau persengkongkolan untuk saling mendahului, menduduki tempat-tempat itu. Singapur, Hong Kong, Tokyo, New York ? Kecil itu, buat mereka. Terlalu ordinaire, terlalu biasa. Belum lagi yang mereka belanjakan. Belum lagi cara mereka meng-entertain, menghibur atau menjamu relasi-relasi mereka. Nah, apa cukup uang lima belas juta sebulan itu ? Apa lagi mereka keluarkan uang itu dengan uang plastik atau credit card itu. Charge … charge … charge … tahu-tahu dapat peringatan dari bank kalau cadangan mendekati garis merah.”
Waktu kami berpisah, saya masih terbayang-bayang tampang Usman. Apa iya Usman akan atau sudah menjalani gaya hidup Jakarta yang kayak begitu ? Saya masih ingat rumahnya di Tebet dulu waktu masih mengontrak. Sekali-sekali kami singgah di rumah kontrakan yang sederhana itu. Kami disuguhi ketoprak, asinan atau gado-gado. Tidak pernah lebih mewah dari itu. Saya ingat pernah ketemu Usman sekeluarga nonton Srimulat di TIM sambil masing-masing mengunyah tahu Sumedang dan menyedot teh Sosro. Itu pun gantian nyedotnya. Sekarang ? Waahhh, apa iya sampai di Gstaad dia main ski. Berenang-renang dengan snorkel di Laut Karibia yang biru itu. Berajojing di Crazy Horse Paris ? Waahh, berantakan semua gambaran saya tentang Usman di benak saya. Seperti kepingan-kepingan kaleidoskop yang berwarna-warni. Ya, semoga happy sajalah kau Usman. Tiba-tiba mulutku mencong tersenyum sendiri. Dapurmu ! Lima belas juta, jee !
Minggu pagi itu, di rumahku di mBulaksumur, seperti biasa Mr. Rigen bertanya menu makan siang.
“Pak, bagaimana kalau siang ini saya masak brongkos ? Sudah lama tidak masak brongkos. Dengan kikil, kacang tholo besar, lombokijo, tempe dan tahu. Nanti saya pilihkan kluwak-nya yang tua-tua. Nggih, begitu saja, nggih ? Pasti brongkos itu nanti dahsyat danmlekoh … “
Saya mengangguk-angguk saja di kursi malas. Dalam pikiran saya bagaimana kalau si Usman pada waktu pagi itu ikut duduk mendegarkan Mr. Rigen …
Yogyakarta, 1 Maret 1988

Thursday, March 21, 2013

Haagen Dasz vs Es Tung-Tung

voucher-haag-dazs-3Jajan adalah sarapan kedua, dessert atau cuci mulut sesudah makan siang, dan alat untuk mancal kemul atau penedang selimut sebelum tidur. Bagaimana hebat dan bertubi-tubinya indoktrinasi yang telah kita dapat sejak kecil bahwa jajan adalah tidak baik. Karena airnya mentah, makanannya tidak ditutup tudung saji karena itu penuh dengan debu, gizinya cuma sedikit, tempat nangkring lalat pembawa penyakit. Toh, dengan gembira kita lawan indoktrinasi itu. Seakan-akan indoktrinasi yang sudah berdasar penelitian dan penemuan ilmiah itu omongan gombal saja.
Korban besar atau kecil, perut mules atau mencret bahkan meninggal, tidak pernah membuat kita jera. Kita jajan, jajan dan jajan. Dan sepertinya ini merupakan persekongkolan internasional melawan fatwa-fatwa tentang hygiene dan kesehatan, di seluruh dunia, baik kesatu, kedua dan ketiga, orang gemar melahap jajanan itu. Dan with relish, dengan nikmat !
Lihat saja Meryl Streep dalam “Falling in Love”. Dengan sedapnya aktris dahsyat itu melahap hot-dog jalanan sembari terus minta tambah sambal chili kepada penjajanya. Padahal di samping indoktrinasi di sekolah, majalah “Comsumer’s Report” yang sangat berwibawa di Amerika itu, tidak jera-jeranya memperingatkan khalayak akan kotor dan tidak hygienis-nya makanan seperti hot-dog atau hamburgerjalanan itu.
Bahkan untuk makanan rakyat atau makanan jalanan itu, mereka menciptakan istilah junk food. Makanan sampah ! Makanan rongsokan ! Toh, rakyat Amerika terus melahap makanan rongsokan itu di jalan-jalan. Restoran-restoran yang canggih di negara itu yang mengangkathamburger dalam menu mereka dengan, misalnya, merk hamburger with college education, tidak pernah dapat mengusir hot-dog danhamburger dari jalanan. Mereka tumbuh terus dengan suburnya. Ilalang tidak pernah punah, kata pepatah Belanda.
“Pak Ageng, Beni boleh panggil ginding-ginding, ya ?”
Ginding-ginding itu apa ?”
“Itu, lho, yang bundel-bundel, yang ting-ting.”
Anak kecil, apalagi jenius seperti Beni Prakosa, selalu mempunyai cara sendiri untuk menggambarkan benda-benda. Adapun ginding-ginding itu maksudnya glinding-glinding, bundel-bundel adalah bunder-bunder dan ting-ting adalah suara mangkuk yang dipukul sendok. Maka tahulah kita yang dia gambarkan. Bakso ! Wah, setan cilik itu minta bakso pada pukul empat sore. Dua jam sebelumnya dia masih tidur pules. Dan setengah jam sebelumnya dia masih makan siang dengan sop cakar yang sangat bergizi. Pada pukul empat sore tubuhnya sudah membutuhkan jajan bunderan daging kecil-kecil yang direkat dengan kanji dalam jumlah yang sangat sporadis berenang-renang di kolam larutan kaldu yang mengagumkan cuwer-nya.
“Boleh, boleh. Panggil, Le !
Saya tidak tahu mengapa nyaris otomatis saya mengatakan “boleh” kepada setiap permintaan bedhes cilik itu. Mr. Rigen yang mendengar itu, buru-buru berteriak,
Ginding-ginding tiga saja !”
Hari berikutnya, hari yang memang panas betul. Kami serumah leyeh-leyeh kegerahan. Suara penjaja es puter lewat. Beni Prakosa pun berteriak,
“Pak Ageengg ! Es tung-tung, es tung-tung !”
“Terus mau apa kalau ada es tung-tung ?”
“Beni mau, Pak Ageng.”
“Kamu baru sembuh dari pilek, to ?”
“Sudah sembuh, sudah sembuh !”
“Sudah sembuh, sudah sembuh ! Ya, boleh panggil, Le !
Dan, eh, kok saya ikut-ikutan beli juga, lho. Dan, hemm … nikmat juga ! Dan tentu saja saya tidak bertanya apakah airnya matang atau mentah, santannya diperas di bekas kaos dalam penjajanya atau dikalo bambu yang bersih, merasnya pakai tangan kanan atau tangan kiri. Pokoknya rasanya enak. Dan kami serumah menikmati es tung-tung tanpa beban apa pun. Mr. Rigen dan spouse pun ikut menikmatinya tanpa kekhawatiran anaknya mungkin akan kambuh batuknya. Pokoknya enak.
Di Jakarta beberapa hari sesudah itu si mBak, anak sulung saya yang sudah bersuami dan beranak bayi itu, membawa berita setengah pengumuman setengah tuntutan.
“Pak, es krim Häagen Dasz sudah datang di Jakarta !”
“Terus ?”
“Kok terus. Beli, dong !”
“Dalam rangka ?”
“Dalam rangka nostalgia.”
Es krim, saya ingat, memang kelewat enak. Cuma enaknya es krim itu sampai mana sih batas puncaknya ? Di Moskow, saya ingat, es krimnya juga kelewat enak. Konon dulu mereka mengirim Anastasia Mikoyan sendiri untuk belajar membuat es krim di Amerika. Ada punHäagen Dasz itu bukan es krim Skandinavia, melainkan es krim Amerika tulen. Nama Häagen Dasz itu konon untuk bikin seram di telinga saja. Biar lebih meyakinkan, memberi kesan es krim impor. Jadi, sesungguhnya sama saja dengan sepatu Cibaduyut diberi merk ‘kebarat-baratan’, tas kantor Sidoarjo diberi merk Echolac atau Samsonite.
“Demi nostalgia nih, yeee ?”
Iye, dong, Be.”
Dan demi nostalgia itu mahal juga harganya. Eh, bukan mahal ! Tapi … muahall ! Plus korban perasan lagi. Bayangkan, di delicatessenHotel Borobudur saya memang plingak-plinguk mencari saudara Häagen Dasz itu ngumpet di mana. Perempuan yang jaga itu, perempuan Indonesia, bertanya rada ketus,
Yes ?
Lho, kok yes, tanya saya dalam hati, “Yes ?
Wah, repot nih. Tanyanya yes melulu.
“Anu, apa betul di sini jualan Häagen Dasz ?
Sure. Di situ. Di freezer itu. Mau beli ? Satu pint Rp 9.500,- plus tax, lho. Diamond saja lebih murah. Bule saja kalau ke sini ambil yangDiamond …”
Untuk show of force bahwa Häagen Dasz itu dulu di Amerika sono adalah dessert kami setiap saat, saya beli dua pint. Satu Chocolate, satuVanilla Honey. Di depan kas, meski mata masih menteleng mempertahankan gengsi, hati saya kecut juga. Mati aku. Es krim dua pint saja kok dua kali Rp. 9.500,- plus tax, lho.
“Terima kasih, Pak. Saya harap keluarga akan enjoy Häagen Dasz.”
Sure, sure, mBak. Häagen Dasz ganyangan kami sehari-hari.”
Di rumah kami, di Cipinang Indah, memang dengan penuh relish anak-anak saya plus meng-Häagen Dasz dengan nikmatnya. Akan halnya saya, karena yang membayar, tentu saja harus juga kelihatan nikmat melahap es krim canggih itu. Juga istri saya, yang sepeninggal saya wajib ketir-ketir hatinya menampung tuntutan-tuntutan nostalgia yang lain dari anak-anak saya.
Waktu kembali ke Bulaksumur segera saya keluarkan perintah hari itu.
“Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem, Beni Prakosa, kalau es tung-tung lewat, segera panggil, ya !”
“Lho, tumben Bapak kok ngebet es tung-tung ?”
“Demi nostalgia, Gen.”
Kami berempat, sekali lagi leyeh-leyeh di lincak menikmati es tung-tung di siang yang gerah itu. Empat gelas es tung-tung harganya cuma Rp. 200,-. Junk food, makanan rongsokan sedunia, bersatulah !
Yogyakarta, 23 Februari 1988