Thursday, February 7, 2013

Seorang mukmin Adalah ORANG yang sedang mencari bekal

PADA hari Ahad 9 Dzulqa'dah 545 H., di Pondok, Syaikh rah.a. berceramah sebagai berikut:

Seorang mukmin selalu mencari bekal dan seorang kafir hanya bersukaria. Seorang mukmin mencari bekal, karena hendak kembali ke kampung akhirat, diperjalanan ini (dunia) ia hanya menggunakan sedikit untuk keperluannya. Seluruh hartanya untuk akhirat. Hati dan cita-citanya untuk akhirat. Ia memutuskan hatinya dari dunia dan melakukan segala ketaatan untuk menuju kepada akhirat, bukan untuk dunia dan penghuninya. Meski dia mempunyai makanan yang lezat, ia akan mementingkan orang-orang miskin, karena ia yakin bahwa di akhirat ia akan mendapatkan makanan yang lebih dari itu. Puncak cita-cita seorang mukmin yang arif dan alim adalah berada di pintu dekat Al-Haq Azza wa Jalla, supaya hatinya sampai kepada-Nya di dunia sebelum di akhirat. Dekat kepada Al-Haq Azza wa Jalla adalah puncak langkah-langkah hati. Aku melihat engkau berdiri, duduk, ruku', sujud, dan bangun hingga lelah, namun hatimu tidak bergeser dari tempatnya, tidak keluar dari rumah wujudnya dan tidak berpindah dari kebinasaan- kebinasaan. Bersungguh-sungguhlah dalam mencari Tuhanmu Azza wa Jalla. Kesungguhan dan kebenaranmu membuatmu tidak perlu bersusah payah. Tetaskanlah telur wujudmu dengan kebenaranmu, pecahkan dinding penglihatanmu kepada makhluk dan ikatannya dengan keikhlasan tauhidmu. Pecahkan sangkar pencarianmu kepada sesuatu dengan tangan kezuhudanmu. Dan terbanglah dengan hatimu, sehingga sampai ke pantai dekatmu dengan Tuhanmu. Ketika datang kepadamu dayung dan sampan, pertolongan akan mengambilmu dan menyeberangkanmu kepada Tuhanmu.

Dunia ini adalah lautan. Imanmu adalah perahunya. Karena itulah Luqman Hakim berkata kepada anaknya, " Wahai anakku, dunia ini lautan, dan iman adalah perahunya, ketaatan itu dayungnya, dan akhirat adalah pantainya. " Wahai orang yang selalu durhaka, sebentar lagi kamu akan buta dan bisu, lumpuh dan fakir. Hatimu keras, hartamu akan hilang dirampas dan dicuri. Jadilah engkau orang yang berakal, dan bertaubatlah kepada Tuhanmu. Janganlah engkau menyekutukan Tuhan dengan harta. Janganlah engkau bertawakkal kepada harta dan tidak mau menginfakkannya. Keluarkanlah ia dari hatimu. Letakkan ia dirumah atau di sakumu, dengan anak dan binatangmu, kemudian ingatlah kematian. Kurangilah kerakusanmu, pendekkan angan- anganmu.

Abu Yazid Al-Busthami rah.a. berkata, "Seorang mukmin tidak meminta dunia maupun akhirat kepada Allah swt. tetapi ia hanya meminta Allah swt.. Wahai ghulam, kembalilah kepada Allah swt. dengan hatimu. Orang yang bertaubat kepada Allah swt. adalah orang yang kembali kepada-Nya.

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu." (Q.s. Az-Zumar: 45).

Yakni kembalilah dan serahkanlah segala sesuatu kepada-Nya. Serahkanlah dirimu kepada-Nya, berbaringlah di hadapan-Nya tanpa berkata-kata, tanpa tangan, kaki, mata, tanpa bertanya mengapa dan bagaimana, tanpa membantah dan menolak, tetapi setuju dan mengikuti. Katakan dengan benar. Jika demikian, tentu hatimu akan kembali kepada-Nya, menyaksikan-Nya, tidak suka kepada selain-Nya, bahkan gelisah dengan segala sesuatu di bawah Arys dan di atas bumi, dan lari dari semua makhluk. Ia akan menyendiri dari semua makhluk. Tidak bisa beradab dengan baik terhadap guru kecuali orang yang telah berkhidmat kepada mereka, bahkan melihat sebagian keadaan mereka.Kaum sufi telah menjadikan pujian dan celaan seperti kemarau dan penghujan atau malam dan siang. Mereka melihat keduanya dari Allah swt.. Tidak ada yang menentukan kedatangannya kecuali Allah swt.. Setelah jelas demikian, mereka tidak silau dengan orang-orang yang memuji dan tidak lari dari orang yang mencela. Mereka tidak menghiraukannya. Hatinya keluar dari mencintai atau membenci makhluk. Mereka tidak suka ataupun benci, tetapi sayang. Apakah artinya ilmu tanpa kebenaran dan kejujuran, sungguh kamu telah disesatkan Allah swt. atas ilmumu. Kamu belajar, shalat, dan puasa karena makhluk, sehingga mereka mengakuimu, memujimu, bahkan menyerahkan hartanya kepadamu. Kamu telah mendapat semua itu dari mereka. Jika datang kamatian, siksa, kesempitan, dan kekacauan kepadamu, maka akan terhalang antara kamu dengan mereka. Maka mereka dan hartanya tidak sedikit pun berguna bagimu. Justru ia akan dimakan oleh selainmu sedangkan hisabnya tetap atas kamu. Wahai orang yang mundur dan terhalang, amalanmu sia-sia di dunia maupun di akhirat. Para wali yang ikhlas itu senantiasa bersama Al-Haq Azza wa Jalla. Para ulama yang mengamalkan ilmunya adalah para wakil Allah swt. di bumi. Mereka adalah pewaris para nabi, bukan kamu wahai orang yang gila, yang hanya sibuk berbicara tetapi batinnya kosong.

Wahai ghulam, kamu tidak ada apa-apanya. Islam tidak membenarkan kamu. Islam adalah asas, yang di atasnya didirikan syahadat, itu belum sempurna bagimu. Kamu mengucapkan La Ilaaha lila Allah tetapi hatimu berdusta. Di hatimu banyak Tuhan. Kamu takut kepada raja dan penguasa. Yang menjadi peganganmu adalah pekerjaan, keuntungan, usaha, kekuatan, pendengaran, mata dan ototmu sebagai Tuhan. Kamu beranggapan bahwa makhluk itu bisa memberikan manfaat, bahaya, dapat memberi dan menahan. Banyak manusia pasrah pada benda-benda itu dengan hati mereka dan mereka mengaku pasrah kepada Allah swt.. Sehingga zikir mereka kepada Al-Haq Azza wa Jalla hanya sebagai kebiasaan di lidah, bukan di hati. Jika hal ini disampaikan, mereka akan terkejut dan berkata, "Bagaimana mungkin kami dituduh seperti itu, bukankah kami ini orang-orang muslim." Sungguh, kelak cacat mereka itu akan tampak.

Celaka kamu, seharusnya ketika kamu mengucapkan Laa ilaaha, kamu menafikan segala sesuatu dan ketika mengucapkan Illallah, kamu mengitsbatkan hanya Allah swt. bukan yang lain- Nya. Bilamana hatimu berpegang kepada selain Al-Haq Azza wa Jalla, berarti kamu dusta dalam itsbatmu. Hihanmu adalah sesuatu yang menjadi peganganmu. Segi lahir samasekali tidak dilihat, karena yakin, muhklis, dan muwahhid itu adalah hati. Yang memiliki sifat takwa, wara', zuhud, arif, dan amil itu adalah hati. Hati itu amir, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Jika kamu mengucapkan La Ilaaha lila Allah, pertama-tama katakanlah dengan hatimu, kemudian dengan lidahmu. Selanjutnya bertawakkallah kepada Allah, berpeganglah kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Sibukkanlah hatimu dengan Allah swt. dan keburukan dilahirmu, sedangkan batinmu tetap bersama Pencipta kebaikan dan keburukan. Barangsiapa mengenal-Nya, ia tentu akan tunduk kepada-Nya, terkunci lidahnya dihadapan-Nya, bahkan merendahkan hatinya kepada- Nya dan kepada para hamba-Nya yang shalih. Cita-citanya, risaunya, dan tangisnya akan bertambah. Bahkan tangisannya, rasa takutnya, rasa malunya, dan penyesalannya kian banyak atas kesalahannya terdahulu. Dia juga cemas sekiranya kehilangan apa yang telah dimilikinya berupa kema'rifatan, ilmu, dan kedekatan. Karena Allah swt. Maha berbuat apa Yang Dia kehendaki, Dia tidak ditanya atas apa yang Dia perbuat, sedang manusia akan ditanya. Ia sibuk memandang masa lalu dengan penyesalan dan rasa malu serta memandang masa depan dengan rasa cemas dan takut kalau-kalau karunia yang telah ia dapatkan itu dicabut kembali. Apakah pada Hari Kiamat ia tergolong orang kafir atau orang mukmin. Oleh sebab itulah Nabi saw. bersabda:
"Di antara kamu, akulah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya."

Termasuk golongan Arifin yang langka adalah orang yang dibacakan kepadanya tulisan takdirnya dan ke mana tempat kembalinya. Dia telah membaca rahasia yang telah ditentukan baginya di Lauhil-mahfuzh, kemudian ia menyembunyikan agar tidak terlihat oleh nafsu. Inilah Islam, menjalankan perintah dan menjauhi larangan serta sabar atas segala ujian, dan puncaknya adalah zuhud pada sesuatu selain Al-Haq Azza wa Jalla. Sehingga baginya sama saja antara emas dan tanah, pujian dan celaan, diberi atau tidak, surga atau neraka, nikmat atau siksa, kaya atau miskin, bahkan ada manusia atau tidak ada manusia. Jika telah demikian keadaannya, maka Allah swt. ada di belakang semua itu, kemudian ia akan diberi kewalian dan kepemimpinan atas makhluk. Semua orang di belakangnya akan mendapatkan manfaat dari pemberian Allah swt. itu.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Dikutip dari Kitab Fat-hur Rabbani Wa Faidhur-Rahmaan : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
******