Sunday, February 10, 2013

Saran dari Seorang Zahid

Musim panas   memasuki puncaknya. Panas  mentari  menyengat  kota madinah,  termasuk taman  dan Ladang yang   mengelilinginya . Dalam kondisi cuaca  yang  demikian, seorang lelaki  bernama Muhammad  ibn   Munkadar yang  mengaku sebagai   orang yang  zuhud dan   saleh tiba  di Madinah. Matanya  menangkap sesosok lelaki gemuk  yang  jelas   sekali baru   saja   selesai mengunjungi dan  mengawasi  ladangnya. Karena kegemukan serta lelah, ia dipapah oleh beberapa orang, tentunya sahabat dan  kerabatnya.

"Siapakah  orang yang  pada  cuaca  sebegini panas  masih menyibukkan diri dengan kehidupan  duniawi?" pikir Ibn Munkadar. Ia lalu  mendekati orang tersebut. Alangkah terkejutnya, ternyata ia adalah Muhammad ibn Ali ibn Al Husein (Imam Baqir)! Dalam  hati ia bertanya, "Mengapa manusia  mulia ini memperturutkan dunia?  Aku harus  menasihatinya agar  menjauhi sikap  semacam ini!"  Ia  pun  menghampiri dan memberi salam  kepada Imam.

Dengan  napas  tersengal dan   keringat   bercucuran,  Imam  Baqir menjawab salamnya. "Apakah   pantas, tokoh  terhormat seperti Anda   keluar rumah dan  menyibukkan diri dengan  kegiatan duniawi  dalam cuaca   panas seperti   ini?  Terutama karena tubuhmu yang gemuk,  tentunya membuat Anda  kepayahan," tanya orang itu .

Tanpa  menunggu jawaban, ia melanjutkan, "Siapakah  yang   memberitahukan  kematian?
Siapa yang  tahu  kapan  ia akan  mati? Ajal dapat saja menghampirimu saat ini juga, semoga  Allah melindungimu! Jikalau maut menjemputmu dalam kondisi seperti  ini, apa yang akan  menjadi takdirmu?  Tak pantas   bagimu   mengejar dunia ini,  bersusah payah   di  bawah terik   matahari dengan  tubuh gemuk  seperti ini! Tidak! Tidak! ini  tak  layak  bagimu!"

Imam  Baqir menarik  tangannya dari teman teman yang memapahnya, bersandar ke dinding, dan  menjawab, "Jika  maut   menjemputku saat ini,  dan aku  wafat, maka  aku   meninggalkan dunia ini selagi berusaha dan  beribadah kepada Allah.   Mengenai  pekerjaan  yang kulakukan , selayaknyalah ini merupakan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Engkau membayangkan  bahwa   ibadah   adalah sebatas  permintaan, doa, dan  permohonan. Aku harus  menghidupi dan   menjaga   keluargaku. Jika  aku  tak  bekerja atau  tak memikul  beban  derita, maka aku  harus menadahkan tangan kepadamu atau orang sepertimu untuk membantuku. Aku bekerja demi  memenuhi kebutuhan hidup  sehingga  aku tak  memiliki   kebutuhan  atas  orang lain.  Aku haruslah takut akan ajalku. jika dalam kondisi melakukan dosa, melanggar, dan tidak mematuhi  firman-firman-Nya. Bukan dalam keadaan tunduk terhadap perintah- perintah Allah Yang Mahakuasa, Yang telah  memerintahkanku agar tak  menjadi beban   bagi  orang lain,  melainkan dapat memenuhi kebutuhanku sehari-hari."

Si  zahid  akhirnya  berkata, "Kalau  begitu aku  telah   melakukan  kesalahan   besar!  Kupikir, aku bisa memberi bimbingan bagi orang lain, namun  sekarang aku sadar  bahwa aku keliru dan salah jalan, sesungguhnya aku sendirilah  yang membutuhkan nasihat