Thursday, February 28, 2013

Prestasi Keilmuan Syekh Abdul Qadir Al Jailani #2

Abdul Wahhab, putra Syekh Abdul Qadir, berkata, "Ayahku menyampaikan nasihatnya tiga kali dalam satu minggu; Jum'at pagi, Selasa malam sehabis Isya', keduanya ini dilakukan di madrasah, dan Ahad pagi di Rubath. Orang-
orang yang hadir dalam majelis taklimnya adalah golongan ulama dan Syekh-syekh besar. Pertama kali ayah mengajar sejak tahun 521, dan berlangsung selama 40 tahun lamanya. Pertama kali ayah menerima murid pada hari Selasa dan Senin. Fatwa hukum disampaikan setelah selesai memberi nasihat- nasihat. Majelis taklim ayah juga dihadiri oleh 400 orang juru tulis, yang semuanya mencatat apa yang disampaikan ayah. Di majelis taklimnya terdapat dua orang yang membaca al-Qur'an secara tartil namun tidak dilagukan. Ada beberapa orang yang meninggal dunia di majelis taklimnya itu. Ayah berjalan di atas kepala orang-orang, lalu kembali ke kursinya."

Abdul Wahhab juga berkata begini, "Aku merantau mencari ilmu, dan aku menguasainya. Setelah kembali ke kota Baghdad, aku bilang pada ayah, 'Saya ingin menyampaikan pidato di depan orang-orang seraya disaksikan Anda.' Ayah mengizinkanku. Aku pun naik ke atas kursi dan menyampaikan nasihat-nasihat dan beragam macam ilmu pengetahuan. Namun tidak ada hati yang merasa damai dan tidak ada air mata yang mengalir. Mereka pun gaduh dan ingin agar ayahku saja yang berpidato. Aku turun dan ayah naik. Beliau berkata, 'Hari kemarin aku berpuasa, dan Ummu Yahya menggoreng beberapa butir telur kecil. Dia meletakkannya di Sakarjah. Ketika gelap datang dia menyenggol Sakarjah itu, dan pecah.' Orang-orang yang hadir di majelis itu gaduh dan berteriak-teriak menangis. Ketika ayah turun aku menceritakan semua itu, dan beliau menjawab, 'Wahai anakku, engkau menceritakan perjalananmu. Apakah engkau telah sampai di sana?' Ayah menunjuk dengan jarinya ke arah langit, lalu berkata, 'Wahai anakku, ketika aku sudah naik ke atas kursi, Tuhan menampakkan diri ke dalam hatiku. Aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar. Maka terjadilah seperti yang kau lihat sendiri.'"

Abdul Wahhab berkata, "Hari berikutnya aku kembali naik ke atas kursi, membicarakan beragam macam ilmu, dan ayahku juga mendengarkannya. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang berkesan. Aku pun turun dan ayah yang naik. Beliau berkata, 'Wahai keluarga pemberani, bersabarlah sebentar.' Mendengar nasihat itu, semua yang hadir menjadi gaduh menangis. Aku bertanya kepada beliau tentang semua kejadian ini. Beliau menjawab, 'Engkau berbicara tentang dirimu sendiri. Dan aku berbicara tentang orang lain.' Ketika ayah ditanyai tentang suatu permasalahan, terkadang beliau menjawabnya dengan cara meminta izin terlebih dulu, lalu berjalan keluar, dan tiba-tiba ada kehebatan terjadi pada dirinya, ia tampak lebih terhormat, baru kemudian beliau menjawab pertanyaan itu sesuai dengan apa yang didengarnya. Beliau berkata, 'Demi kemuliaan Allah, aku tidak berbicara kecuali aku telah mendengar suara, 'Wahai Abdul Qadir, sampaikanlah. Kami bersamamu. Wahai Abdul Qadir, berbicaralah. Kami mendengarkanmu!"'
Abu Umar As-Shariqi dan Abdul Haq Al-Kharimi berkata, "Guru kami (Syekh Abdul Qadir) menangis, beliau mengeluh, 'Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa mempersembahkan jiwaku ini pada-Mu, sementara jiwa ragaku ini sudah jelas adalah milik-Mu.'" Terkadang Syekh Abdul Qadir membaca sebuah syair: 'Tidak ada gunanya berbangsa Arab jika tidak bertakwa. Dan bahasa Ajam tidak akan memberi mudharat bagi orang yang bertakwa.'

As-Syanthufi dari jalur Abu Abdullahbin Abui Fatah berkata, "Aku mengabdi kepada Syekh Abdul Qadir selama empat puluh tahun. Beliau mengerjakan shalat Subuh dengan wudhu' shalat Isya'. Beliau masuk ke tempat khalwatnya sesudah shalat Isya'. Beliau tidak mau keluar kecuali setelah terbitnya fajar." As-Syanthufi melanjutkan riwayatnya, "Aku sempat bermalam di tempat Syekh Abdul Qadir. Beliau mengerjakan ibadah singkat pada awal malam. Kemudian dilanjutkan dengan dzikir sampai sepertiga malam yang pertama. Dan terbang tinggi ke langit sampai hilang dari pandanganku. Baru kemudian mengerjakan shalat dengan berdiri, dan sujudnya sangat lama sekali. Lalu duduk menghadap kiblat sambil mendekatkan diri kepada Allah. Beliau diliputi oleh cahaya yang menyilaukan mata."