Thursday, February 28, 2013

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jailani #4

Thalhah bin Muzhaffar mengatakan, "Syekh Abdul Qadir berkata, “Aku duduk di suatu tempat di padang Sahara, sembari mengulang-ulangi pelajaran fikihku. Ketika itu aku sangat lapar. Tiba-tiba ada orang yang berkata padaku, “Belum pernah aku lihat orang meminjam sesuatu hanya agar bisa belajar fikih dan ilmu-ilmu lain.” Aku jawab, 'Bagaimana mungkin aku meminjam sesuatu sementara aku sendiri miskin dan tidak punya apa pun?!' Orang itu berkata lagi, 'Pinjamlah. Dan aku yang akan melunasinya.' Aku pun pergi menemui seorang penjual sayuran dan berkata padanya, 'Pekerjakanlah aku dengan menetapkan syarat-syarat tertentu. Jika Allah sudah memberiku kelapangan rezeki, maka aku akan memberikannya padamu. Jika aku mati, maka aku berharap engkau menghalalkannya untukku'."

Abdul Qadir melanjutkan, "Penjual sayuran itu menangis. Dia berkata, 'Wahai Tuan, aku akan mempekerjakanmu. Ambil saja apa yang kaubutuhkan.' Aku pun mengambil bayaran berupa sepotong roti setiap hari dan sedikit bimbingan. Beberapa hari lamanya aku bekerja. Lalu dadaku terasa sesak, bagaimana tidak, sementara aku tidak punya apa pun untuk kuberikan padanya. Tiba-tiba ada suara yang muncul dan berkata padaku, 'Pergilah ke tempat si fulan. Ketika engkau lihat ia dalam keadaan roboh, maka ambil dan serahkan kepada si penjual sayur, bayarlah hutangmu.' Setelah aku sampai di tempat tersebut, aku lihat ia roboh. Aku temukan sepotong emas besar sekali. Aku ambil dan kuserahkan pada si penjual sayur."