Sunday, February 24, 2013

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jaylany. #3

Syekh Abdul Qadir berkisah, "Beberapa hari kemudian, datang seseorang bernama Yusuf dari kota Hamadan. Beliau disebut wali Quthb. Beliau berkunjung ke Rubath. Ketika aku mendengar beliau ada di Rubath, aku segera menuju ke sana. Aku bertanya tentang wali Quthb. Dia menjawab bahwa wali Quthb ada di As-Sardab. Aku pergi menuju As-Sardab itu. Ketika sang wali melihatku, beliau berdiri dan mempersilakanku duduk. Lalu menjelaskan semua kemusykilan yang aku hadapi. Kemudian beliau berkata padaku, 'Wahai Abdul Qadir, sampaikanlah kepada orang-orang yang mau engkau sampaikan.' Aku menjawabnya, 'Wahai tuanku, aku seorang lelaki dari bangsa 'ajami (non-Arab). Bagaimana mungkin aku berbicara di hadapan cendekiawan-cendekiawan Baghdad?' Beliau menjawab pertanyaanku, 'Engkau telah hafal fikih, ushul fikih, perbedaan madzhab, ilmu nahwu, ilmu bahasa, dan tafsir. Tidak ada yang pantas berbicara di hadapan orang banyak kecuali dirimu/ Beliau kembali berkata, 'Cepat duduk di kursiku, dan sampaikan apa yang ingin engkau sampaikan.'" Syekh Abdul Qadir berkata, "Aku diperintah dan dilarang begini dalam keadaan jaga maupun ketika tidur."

Abu as-Sa'ud al-Harr berkata, "Aku mendengar Syekh Abdul Qadir bertutur, 'Aku tinggal di kalangan orang-orang Irak sendirian dan selalu mengelana. Aku tidak mengenal seorang pun dan mereka juga tidak mengenalku. Banyak sekali golongan Rijal al-Ghaib (manusia dari alam gaib) maupun bangsa Jin yang datang kepadaku. Aku mengajari mereka semua cara mendekat kepada Allah swt. Kemewahan duniawi datang merayuku dalam rupa yang bermacam-macam, tetapi Allah telah menyelamatkanku dari ketertarikan padanya. Setan-setan datang padaku dalam rupa yang bermacam- macam, mereka memerangiku, tetapi Allah membantuku untuk
melawannya. Nafsuku sendiri tampak padaku dalam rupa yang bermacam-macam pula. Akan tetapi, sejak semula sampai sekarang aku melatihnya dengan banyak mujahadah yang keras. Aku menolong jiwaku dengan kedua tanganku ini. Selama satu tahun lamanya aku hanya makan dari makanan-makanan yang dibuang, dan tidak minum air. Satu tahun berikutnya aku hanya minum air, dan tidak makan. Satu tahun lagi aku tidak makan, tidak minum, dan juga tidak tidur. Pada suatu malam, aku tidur di istana raja. Aku bermimpi, makanya aku segera bangun dan pergi ke tepi pantai. Aku mandi, dan melakukan itu berkali-kali."

Thalhah bin Muzhaffar Al-Alani berkata, "Syekh Abdul Qadir mengisahkan, 'pertama kali tiba di Baghdad, aku tidak memiliki sesuatu untuk dimakan dan tidak ada pula barang halal lainnya. Aku pergi ke istana raja untuk mencari sesuatu yang halal. Namun di sana aku temukan tujuh puluh orang saleh yang semuanya sedang mencari apa yang aku cari. Aku berpikir, alangkah tidak terhormat jika aku harus ikut berdesak-desakan dengan mereka. Aku kembali pulang. Tiba-tiba ada seseorang yang menjumpaiku, dia kenal diriku, karena dia juga berasal dari kampung yang sama denganku. Dia memberiku barang titipan. Orang itu berkata, 'Ini dari ibumu untukmu yang dititipkan padaku.' Aku ambil sebagian saja untuk diriku sendiri, dan sebagian lainnya lagi aku bawa lari menuju istana raja untuk kubagi-bagikan kepada tujuh puluh orang saleh itu. Mereka bertanya, 'Apa ini?' Aku jawab, 'Ini aku dapatkan dari ibuku. Aku merasa tidak baik jika aku harus memilikinya sendirian tanpa memberikannya pada kalian.' Aku pun kembali ke Baghdad dan dengan bagianku itu aku membeli makanan secukupnya. Aku panggil semua orang muslim yang fakir. Kami makan bersama-sama, sehingga aku tak menyisakan sedikit pun barang titipan itu."
"Ibuku sangat merindukanku. Dia menuliskan surat untukku dan menceritakan kerinduannya itu. Ibuku memotong sebagian rambutnya lalu menyelipkannya pada surat itu dan dikirimkan kepadaku. Aku menulis surat balasan untuknya: 'Ibu, jika engkau kehendaki, aku akan tinggalkan semuanya, dan aku akan kembali ke sisimu/ Lalu ibuku mengirim surat balasan: 'Janganlah engkau pulang, tetaplah menuntut ilmu.' Aku pun menyibukkan diri dengan belajar ilmu fikih ke banyak guru. Kemudian pergi ke padang Sahara sehingga aku tidak diketahui oleh siapa pun. Di waktu siang aku tinggal di sebuah bangunan yang roboh. Aku mengenakan jubah dari kain wol. Kepalaku ditutupi secarik kain. Aku berjalan dengan kaki telanjang. Aku berjalan di jalan-jalan penuh duri atau tidak. Tidak ada satu pun yang membuatku merasa takut. Sungguh, terkadang nafsuku membujukku untuk mencicipi lezatnya masakan yang dijual di pasar. Tapi aku buang jauh-jauh rayuan nafsu itu, dan aku terus menyusuri lorong demi lorong yang menuju ke padang Sahara."

"Pada suatu hari, aku berjalan dan tiba-tiba ada secarik kertas melayang jatuh di jalan. Aku mengambil dan membacanya: 'Makanan dan syahwat hanya diciptakan untuk orang-orang lemah agar mereka bisa kuat mengerjakan ketaatan pada Tuhan mereka. “Setelah membaca tulisan di kertas itu, hawa nafsu tersebut hilang seketika dari hatiku.”
Syekh Abdul Qadir berkata, "Aku makan buah-buahan berduri, sampah sayur-sayuran, dan daun-daun busuk yang terhempas ke tepi pantai. Aku tercekik oleh kelaparan di sebuah negeri yang dibilang makmur, ketika itu bernama Baghdad. Sehingga beberapa hari aku tidak menyentuh makanan, dan yang aku makan hanyalah sisa-sisa yang dibuang. Pada suatu hari saat aku sangat kelaparan, aku pergi ke tepi pantai untuk mencari sekadar daun-daun busuk atau semacamnya. Tetapi, ke mana saja aku pergi selalu saja kutemukan orang-orang miskin yang kondisinya sama denganku. Aku tidak mau ikut berebut dengan mereka. Aku memilih pulang dengan tangan hampa. Aku masuk ke dalam sebuah masjid, dan rasa lapar telah benar- benar mencengkeramku. Aku bahkan sudah tidaK kuat lagi berpegangan. Aku duduk di emperan masjid. Kematian serasa sangat dekat denganku. Tiba-tiba seorang pemuda juga datang ke masjid. Dia membawa roti dan makanan bakaran. Dia duduk sambil makan. Saat dia mengunyah sesuap makanan, hampir saja mulutku ikut menganga karena terlalu lapar. Tapi aku segera menahannya."

Aku berkata, "Semua yang terjadi sekarang adalah apa yang sudah ditakdirkan Allah.' Tiba-tiba pemuda 'ajami itu melirik dan menatapku. Dia berkata, 'Bismillah, wahai saudaraku.' Aku menolak tapi dia memaksaku. Aku pun memenuhinya dan makan secukupnya saja. Dia bertanya padaku, 'Apa kesibukanmu? Dari mana engkau? Apa yang engkau tahu?' Aku jawab, 'Pekerjaanku sebagai pelajar ilmu fikih. Aku berasal dari daerah Kailan.' Pemuda itu pun segera memotong dan berkata,'Aku juga dari Kailan. Apakah engkau kenal orang yang bernama Abdul Qadir al-Kailani, dia adalah cucu dari az-Zahid Abu Abdillah bin Al-Shauma'i?' Aku jawab, 'Orang itu adalah aku.' Pemuda itu terkejut mendengarnya, wajahnya memerah, seraya berkata, 'Demi Allah, wahai saudaraku, aku sudah tiba di Baghdad dan membawa barang titipan. Aku bertanya tentang dirimu, namun tak seorang pun yang mengetahui keberadaanmu. Sampai suatu saat uang sakuku habis. Dan selama tiga hari aku tidak punya apa pun untuk membeli makanan kecuali mengambil milikmu yang ada padaku. Dan sekarang adalah hari keempat. Aku berkata pada diri sendiri: 'Sudah tiga hari aku tidak makan, dan agama menghalalkan memakan daging bangkai. Aku pun mengambil hak milikmu seharga roti dan makanan bakaran ini. Maka, makanlah dengan senang hati. Karena ini adalah milikmu sendiri. Akulah yang menjadi tamumu sekarang, sekalipun secara lahiriah ini milikku dan engkau adalah tamuku'."

"Aku pun bertanya tentang arti ucapan pemuda itu. Dia pun menjelaskannya, 'Ibumu mengirimkan uang sebanyak delapan dinar untukmu. Demi Allah, aku tidak berbohong. Hanya saja hari ini aku membeli makanan ini dari uangmu. Aku minta maaf padamu karena tidak bisa menjaga amanat'." Abdul Qadir berkata, "Pada waktu itu aku menenangkannya, membuatnya merasa nyaman, dan aku memberinya sepotong emas, sehingga ia menjadi hak miliknya yang halal. Pemuda itu pun mengambilnya dan pergi."