Saturday, February 23, 2013

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jaylany #2

Abdullah as-Sulami berkata, "Aku mendengar Syekh Abdul Qadir berkata, 'Aku pernah tidak menyentuh makanan sama sekali selama beberapa hari. Ketika aku tiba di suatu tempat di daerah timur, tiba-tiba datang seseorang menyerahkan kertas yang terlipat keras. Dia lalu pergi meninggalkanku. Aku terus melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan seorang penjual sayuran. Aku membeli sepotong roti kering dan makanan bercampur roti. Lalu aku berjalan menuju sebuah masjid terpencil. Aku duduk menyendiri di masjid itu untuk mengulangi mata pelajaran yang aku dapatkan. Aku meletakkan makanan itu di depanku sambil menghadap kiblat. Aku berpikir apakah aku akan makan atau tidak? Lalu aku membuka secarik kertas yang terselip di dinding masjid. Aku mengambil dan membaca tulisan yang ada di dalamnya: Allah berfirman dalam sebagian kitabnya yang diturunkan pada zaman lampau bahwa makanan dan hawa nafsu hanya diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang imannya lemah, supaya mereka menjadikan makanan tersebut sebagai alat untuk beribadah dan mengerjakan ketaatan. Setelah membaca isi kertas tersebut aku segera mengambil sapu tangan dan membiarkan makanan itu tetap menghadap kiblat. Aku segera shalat dua rakaat dan pergi'."

Thalhah bercerita, "Syekh Abdul Qadir berkata padaku, 'Ada sebuah kelompok di Baghdad yang sedang belajar fikih. Ketika tiba masa panen mereka keluar menuju Rustacj untuk mencari biji-bijian. Pada suatu hari mereka mengajakku, 'Ayolah pergi bersama kami, kita menuju Ya'qub untuk mendapatkan sesuatu.' Aku pun terpaksa dan pergi bersama mereka. Di daerah Ya'qub tersebut ada seseorang yang sangat saleh, yang akrab dipanggil Syarif Ya'qubi. Aku melangkah untuk menemui Syarif Ya'qubi itu. Dia berkata padaku, 'Para pencari Tuhan dan orang-orang saleh tidak akan meminta-minta/ Aku pun gagal pergi untuk tujuan meminta biji-bijian hasil panen."

Syekh Abdul Qadir bertutur, "Aku menyibukkan diri dengan belajar fikih dan berkunjung ke tempat-tempat orang saleh. Aku menguji jiwaku ini dengan mujahadah sampai ada sesuatu yang selalu menghantuiku. Siang dan malam ia tetap menghantuiku, dan di padang sahara pun tetap begitu. Aku pergi dan tiba-tiba wajahku bercahaya terang. Pada suatu malam ada sesuatu yang datang padaku. Aku berteriak keras sehingga orang-orang yang suka mencela mendengar teriakanku. Mereka terkejut, kemudian datang mengelilingiku, sedangkan aku sendiri tersungkur di atas tanah. Mereka mengenaliku dan berkata, 'Wahai Abdul Qadir yang gila. Engkau telah membuat kami kaget. Semoga Tuhan tidak memberimu kebaikan.' Mereka berkeliling di kota Baghdad pada malam hari dengan tujuan bertemu seseorang kemudian merampas barangnya."

Thalhah menceritakan, bahwa Syekh Abdul Qadir berkata, "Aku berjumpa dengan orang gila. Pada saat itu aku sedang menuju Al-Maristan. Aku mengalami suatu pengalaman, sepertinya aku mati, maka didatangkanlah kain kafan dan seseorang yang siap memandikan jenazahku. Mereka meletakkan jenazahku di atas pemandian. Kemudian orang yang memandikanku itu pergi, dan aku pun terbangun.' Syekh Abdul Qadir melanjutkan, 'Terbersit dalam benakku untuk segera meninggalkan kota Baghdad karena terlalu banyak fitnah dan cobaan di sana. Aku segera mengambil mushaf al-Qur'an, menggantungkannya di bahu, lalu berjalan menuju pintu gerbang yang mengarah ke padang Sahara. Tiba-tiba ada suara yang berkata padaku, 'Hendak pergi ke mana?' Dengan adanya suara itu, tubuhku merasakan panas. Aku mengira suara itu datang dari belakangku. Suara itu berkata lagi, 'Kembalilah! Karena orang-orang banyak membutuhkanmu.' Aku menjawab, 'Sungguh, aku takb utuh orang-orang. Aku ingin menyelamatkan agamaku/ Suara itu berkata lagi, 'Kembalilah ke tempatmu. Karena keselamatan agamamu ada di sana!' Aku tidak melihat wujud orang yang berkata itu. Selanjutnya aku mengalami pengalaman-pengalaman gaib lainnya yang sulit diceritakan. Aku berharap Allah memudahkanku dengan adanya orang yang bisa menghilangkan segala permasalahanku. Keesokan harinya aku melewati daerah Madzfariyah. Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu jendela rumahnya. Dia memanggilku, 'Wahai Abdul Qadir.' Aku datang dan diam di hadapannya. Orang itu berkata lagi, 'Sepertinya aku memintamu tadi malam atau kemarin?' Aku diam, tidak tahu apa yang mesti kujawab atas pertanyaan tersebut. Orang itu tampak sangat marah padaku, dan menutup daun pintu jendelanya dengan keras sekali, sehingga debu-debunya beterbangan ke wajahku. Setelah aku berjalan sebentar, aku teringat pada kata-katanya dan aku yakin dia adalah orang saleh. Aku berputar dan segera mencari ke rumah-rumah yang kujumpai, tapi aku tidak mendapatkannya.
Dadaku terasa sempit karena menyesal. Orang itu adalah orang yang saleh, dia bernama Hammad ad-Dabasi. Aku baru tahu kemudian dan menyadari hal itu, dan dia telah menghilangkan segala kemusykilan yang sedang kualami."

Syekh Abdul Qadir melanjutkan, 'Ketika aku tidak bersama Syekh Hammad ad-Dabasi, aku pergi mencari ilmu tapi kemudian aku segera kembali padanya. Beliau sering berkata padaku, 'Oh, engkau datang lagi padaku. Engkau itu adalah seorang ulama fikih, maka pergi dan belajarlah kepada para ulama fikih.' Aku diam saja. Suatu hari, tepatnya hari Jum'at, beliau keluar dari kota Baghdad bersama satu rombongan sahabat-sahabatnya untuk tujuan mengerjakan shalat Jum'at di masjid Ar-Rashafah. Cuaca pada waktu itu sangat dingin. Ketika aku sampai di tepian sungai, beliau melemparku ke dalam air. Aku segera membaca: Bismillah ghuslal jum'at (dengan menyebut nama Allah, aku mandi sunnah untuk shalat Jum'at). Aku mengenakan jubah dari wol, dan di lengan bajuku beberapa carik kain wol. Aku mengangkat tanganku tapi tidak ada pegangan. Mereka pergi meninggalkanku sendirian. Aku berusaha sendiri untuk keluar dari air, memeras air pada jubahku, dan segera mengejar mereka. Rasa dingin sangat menyiksaku. Syekh Hammad ad-Dabasi berkali-kali menyakitiku. Dan ketika aku tidak bersamanya, aku pergi belajar ilmu tapi kemudian aku segera kembali padanya. Beliau berkata, 'Hari ini kami memiliki banyak sekali roti, tapi sayang, kami makan semuanya sampai habis dan tidak ada sisa untukmu.' Sahabat-sahabat Hammad ad-Dabasi itu ingin berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, karena mereka seringkali melihat Syekh Hammad ad-Dabasi sendiri menganiayaku. Mereka berkata, 'Engkau ahli fikih. Oh, apakah engkau mau hidup seperti kami, sedangkan engkau selalu datang pada kami?!' Ketika Syekh Hammad ad-Dabasi melihat perbuatan tidak baik mereka padaku, beliau berkata, 'Mengapa kalian menyakitinya?! Demi Allah, di antara kalian tidak ada seorang pun yang seperti dia. Aku hanya ingin menguji kemauannya, tetapi hatinya bagai gunung yang kokoh."