Friday, February 22, 2013

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jaylany #1

Masa-masa Pahit selama Menuntut Ilmu
Dengan sanad di muka Ibnu An-Najjar berkata, Abu Muhammad Abdullah bin Abui Husain al-Hayyani menulis sebuah surat untukku, dan aku menyalinnya dari tulisan tangannya. Ia berkata, "Syekh Abdul Qadir bercerita padaku, beliau mengatakan, 'Ibuku berpesan padaku, pergilah engkau ke Baghdad dan belajarlah ilmu di sana.' Beliau melanjutkan kisahnya, 'Aku pun pergi melintasi satu negara ke negara lainnya. Waktu itu usiaku enam belas tahun (riwayat lain mengatakan delapan belas tahun), dan aku pun sibuk mendalami ilmu'." Muhammad bin Qayid bertutur, "Aku sempat bertanya pada Syekh Abdul Qadir, apa pijakan utama hidupmu?' Syekh Abdul Qadir menjawab, 'Kejujuran! Aku tidak pernah berbohong. Sampai aku berada di Kuttab sekalipun'."

"Syekh Abdul Qadir melanjutkan kata-katanya," ucap Muhammad bin Qayid, "Pada waktu itu aku masih muda di negeriku. Aku pergi ke ladang pada hari Arafah. Aku mengikuti sapi-sapi pembajak ladang.

Kemudian ada seekor sapi menoleh ke arahku dan mengeluarkan suara: 'Wahai Abdul Qadir, engkau tidak diciptakan untuk ini, dan engkau tidak diperintahkan untuk pekerjaan ini. Aku pun pulang ke rumah dengan perasaan takut. Aku menatap atap dan kulihat orang-orang sedang wuquf di padang Arafah. Aku segera beranjak menemui ibuku dan kuceritakan semua kejadian itu. 'Wahai ibu, persembahkanlah diriku ini kepada Allah. Karena aku melihat diriku pergi merantau ke Baghdad untuk belajar ilmu dan berkunjung ke orang-orang saleh.' Ibuku bertanya dan aku terangkan apa adanya. Ibuku menangis dan berkata padaku, 'Aku memiliki delapan puluh dinar. Aku mewarisinya dari ayahku/ Empat puluh dinar untuk saudara laki-lakiku, dan empat puluh dinar lagi disimpan dalam jahitan baju di bawah ketiakku. Ibuku mengizinkanku pergi dan memintaku untuk berjanji agar berkata jujur kapan pun dan di mana pun. Ibuku keluar dengan menitip barang padaku, 'Wahai anakku, pergilah. Aku melepasmu bersamanya.' Inilah wajah terakhir yang tak pernah aku lihat lagi sampai hari kiamat."

"Aku pun pergi bersama rombongan kafilah kecil menuju Baghdad. Setelah kami melewati daerah Hamdan, kami tiba di suatu padang luas. Tiba-tiba muncul enam puluh orang Persia dan menghentikan rombongan. Namun tak seorang pun yang melirik padaku. Kemudian ada salah seorang yang berjalan menuju diriku dan bertanya, 'Wahai anak miskin, apa yang engkau miliki?' Aku jawab, 'Empat puluh dinar.' Dia bertanya lagi, 'Tunjukkan di mana?' Aku jawab, 'Tersimpan di balik bajuku di bawah ketiak.' Orang itu mengira aku mengejeknya sehingga dia pun pergi meninggalkanku. Lalu datang seorang lagi dan bertanya seperti pertanyaan orang pertama. Aku jawab seperti jawaban yang pertama pula. Namun dia segera meninggalkanku, dan mereka berdua berkumpul di hadapan ketuanya. Mereka menyampaikan apa yang mereka dengar dariku. Ketua perampok itu berkata, 'Bawa padaku!' Merekapun membawa semua hasil rampasan ke bukit yang tinggi dan membagi-baginya. Lalu ada yang bertanya padaku, 'Apa yang engkau miliki?' aku jawab, 'Empat puluh dinar.' la bertanya lagi, 'Tunjukkan di mana!' aku jawab, 'Tersimpan di balik bajuku di bawah ketiak.' Dia menyuruh orang untuk menyobek bajuku, dan benar saja, dia menemukan apa yang dicarinya. Orang itu bertanya, 'Mengapa kamu lakukan ini?' aku jawab, 'Ibuku memintaku untuk selalu berkata jujur. Dan aku tidak mau menyalahi janji.' Ketua perampok itu menangis sejadi- jadinya. la berkata, 'Engkau tidak mau menyalahi janji ibumu. Dan aku sampai detik ini telah banyak melakukan ini dan itu, dan menyalahi janji dan perintah Tuhanku/ Ketua perampok itu bertaubat di depanku. Dan semua anak buahnya berkata, 'Engkau adalah pimpinan kami di kala merampok, dan kini engkau juga pimpinan kami dalam bertaubat.' Mereka semua tanpa kecuali bertaubat di depanku, di tanganku. Mereka mengembalikan semua barang milik kafilah. Mereka adalah orang-orang pertama yang bertaubat di depanku, di tanganku."