Monday, February 4, 2013

Nelayan Penyabar Menangkap Ikan

Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Di suatu tempat di dekat sana, ada sebuah kolam yang bagus dan jernih penuh dengan bunga-bunga teratai yang indah. Mari kita berjalan sedikit dan melihat apakah kita bisa menemukannya. Nah, di sanalah kolam itu, persis di luar perempatan jalan utama.

Segala macam orang datang ke kolam ini karena berbagai macam alasan. Lihat, beberapa orang sedang memancing. Bagaimana kalau kita melihat mereka? Apakah engkau melihat nelayan di sebelah sana yang sedang melemparkan tali pancingnya ke dalam air yang jernih? Dia sudah menangkap dua atau tiga ikan dan masih mencoba menangkap lebih banyak lagi. Tali pancing milik laki-laki yang ada di sampingnya, menyangkut tanaman teratai. Lihatlah, bagaimana laki-laki itu menghentak dan menghentakkan tali pancingnya untuk membebaskan tali pancing itu. Akhirnya, dia menghentaknya begitu kuat sehingga tali pancing itu pun putus. "Sial benar!" teriaknya. "Pohon teratai ini merusakkan pancing dan tali pancingku!" Dan dia menyentakkan kakinya dengan penuh amarah. Dia datang untuk menangkap ikan, tetapi yang dapat dia tangkap hanyalah sebatang teratai.

Lihat, laki-laki di sebelah sana itu sedang melemparkan tali pancingnya lagi dan sekali lagi, tetapi tidak menangkap apa pun. Dia juga semakin marah. Ikan-ikan tersebut berenang ke sana- ke mari ke segala arah, tapi enggan menelan umpan. "Kiranya kau ikan setani" umpatnya. "Mengapa tidak makan umpanku? Mengapa aku tidak bisa menangkapmu? Aku tidak bisa menunggu di sini selamanya]" Dia begitu bising sehingga membuat ikan-ikan takut. Ikan-ikan tersebut sedang berenang ke segala arah dan justru membuatnya lebih marah. Sekali lagi, dia melemparkan tali pancingnya. Tetapi sungguhpun demikian, ikan-ikan tersebut tidak mau datang mendekat. Akhirnya, dia mematahkan tangkai pancingnya dan membuangnya ke dalam air, seraya berteriak, "Kalian ikan-ikan setani Aku menyia-nyia- kan waktuku denganmu!" Dan dia menghentakkan kakinya dengan penuh amarah, persis seperti laki-laki pertama.

Tapi lihat, tiga orang lainnya masih ada di sana, mencoba keberuntungannya. Dengarkan, mereka sedang berkeluh kesah, "Kolam ini tidak begitu bagus! Tidak ada cukup ikan di sini dan bukan jenis ikan yang bagus. Mungkin kita harus pergi ke sungai." Jadi, mereka bertiga juga pergi dengan menyalahkan kolam tadi.

Sekarang, datanglah seorang pelancong untuk mencari air. Tetapi, bukannya mengisi belanganya, dia malah berdiri di tepi kolam dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan orang- orang tersebut. "Betapa buruknya!" keluhnya. "Lihatlah orang- orang itu! Sebagian sedang mencuci punggungnya di kolam dan sebagian lagi mencuci kakinya. Air ini tidak lagi bersih sekarang!" Jadi dia berdiri di tepi kolam, kencing, dan pergi meninggalkan kolam itu dengan belanga yang masih kosong.

Tetapi, lihatlah. Seorang laki-laki dalam sebuah kereta menghentikannya di tengah jalan dan minta sedikit air. "Jangan minum air di kolam itu!" pelancong tersebut mengingatkan. "Air itu sangat kotori"

"Mungkin saja demikian' laki-laki yang ada di dalam kereta tersebut menyanggah, "Tetapi inilah satu-satunya air yang tersedia sepanjang lima belas mil ke depan. Orang-orang mungkin melakukan segala macam hal yang mengotori kolam ini, tapi di suatu tempat, sebuah aliran sungai kecil yang jernih tentunya akan mengalirinya. Berilah aku sedikit air itu atau aku akan mati kehausan."

"Tidak, jangan!" sergah pelancong itu. "Engkau jangan minum air kotor itu!"

Tapi laki-laki itu tetap bersikeras. "Jangan pedulikan apa yang dilakukan orang-orang itu. Beri saja aku sedikit air dan bawalah ke sini, atau aku akan mati!"

Oh, tidak! Mereka mulai berkelahi. Lihat, belanga tadi telah hancur, dan mereka sedang mencoba saling membunuh! Akhirnya, sama-sama kalah dan setengah mati, dan mereka berdua terhuyung-huyung.

Sekarang, semua orang sudah pergi, kecuali nelayan pertama yang kita lihat. Dia sedang duduk di sana dengan sabarnya sepanjang waktu ini, melemparkan tali pancingnya dan kadang- kadang menangkap seekor ikan. Kelihatannya seolah-olah dia telah menangkap sekitar dua puluh ikan. Orang-orang lain pergi dengan tangan kosong dan marah.

Cucu-cucuku, setiap hari banyak orang datang ke kolam ini karena berbagai tujuan yang berbeda-beda. Salah seorang datang untuk memetik bunga-bunga. Seseorang lainnya datang untuk membersihkan punggungnya. Beberapa diantaranya datang untuk mengambil air. Seekor sapi betina datang dan kencing. Tetapi, apakah engkau melihat bagaimana kolam itu tetap sama, apa pun yang dilakukan orang-orang? Bunga-bunga teratai yang indah terus tumbuh di air yang jernih ini, sedangkan ikan-ikan dan makhluk-makhluk lainnya berenang ke sana-ke mari di permukaan air. Meskipun setiap orang datang ke sini dan bertindak mengganggu, tak ada yang mampu mempengaruhi kolam ini.

Orang-orang datang ke kolam ini untuk memenuhi keinginannya, dan ketika mereka gagal, mereka menyalahkan siapa saja atau apa saja, kecuali dirinya sendiri. Nelayan yang kailnya menyangkut tanaman teratai, menyalahkan tanaman itu, tapi itu mungkin tidak terjadi jika dia lebih berhati-hati. Pelancong yang mencela apa yang sedang dilakukan orang lain, mendapati keburukan pada kolam itu dan pergi tanpa air sedikit pun. Laki- laki yang tidak bisa menangkap ikan seekor pun, menjadi gusar dan menyalahkan ikan-ikan itu. Tetapi orang yang duduk di sana dengan sabar, menangkap banyak ikan.

Apakah engkau memperhatikan semuanya dengan seksama? Apakah kolam itu bersalah? Apakah ikan-ikan atau tanaman teratai itu patut disalahkan? Tidak, itu bukan kesalahan mereka. Siapa saja yang tidak berhasil, menimpakan kesalahan ke tempat lain, tetapi sesungguhnya kecerobohan, kemarahan, atau ketidaksabaran mereka sendirilah yang menghalangi mereka untuk meraih apa yang mereka inginkan.

Masing-masing orang melihat kesalahannya sendiri pada diri orang lain. Kejumudannya menyebabkan dia menyerang orang lain. Apa pun sifat atau keadaan yang dia miliki, dia melihat sifat atau keadaan yang sama dalam diri orang lain, dan kemudian menyalahkan mereka. Begitulah dunia berlaku sekarang ini.

Tetapi Allah tidak seperti itu, cucu-cucuku. Sebagaimana kolam yang tetap sama, walau apa pun yang dilakukan orang-orang. Allah tidak berubah dan abadi. Bagi-Nya, tidak ada perbedaan warna, suku, atau agama. Dia berada di atas semua filsafat dan dogma. Dia memperlakukan semua kehidupan sama. Ke- kuatan-Nya sangat murni. Keadaan-Nya sangat murni. Sifat, keagungan, dan kearifan-Nya, persamaan hak, keadilan, perdamaian,an kesatuan-Nya, semua sangat murni. Dialah Maha Murni Yang Sempurna. Dialah kekuasaan penuh dan lengkap. Itulah Allah. Yang demikian adalah keadaan-Nya.

Jika orang-orang dari agama yang berbeda-beda akan menghadap ke haribaan Allah, salah seorang akan berkata, "Oh, ini adalah Tuhan Hindu," dan kemudian pergi. Seorang lainnya akan berkata, "Ini adalah Tuhan Zoroaster," sedangkan orang lainnya akan berkata, "Ini adalah Tuhan Kristen," dan masih seorang lainnya akan berkata, "Ini adalah Tuhan Islam." Mereka semua akan mengeluh, "Keimanan orang ini tidaklah benar, sesembahan orang itu salah, dan orang itu bukan salah satu dari kita."

Demikianlah, ketika manusia menghadap Allah, dia membawa kualitasnya sendiri dan kemudian mencari kesalahan pada Sang Kebenaran Tunggal. Dia membunuh sifat-sifat cinta dan mencari kesalahan pada kasih sayang, kesatuan, kedamaian, keadilan, dan kekuatan Allah. Dan meskipun tindakannya sendirilah yang salah, namun dia tadi memarahi Allah dan mencari kesalahan pada kekuasaan-Nya. Orang-orang yang demikian seperti para nelayan yang menyalahkan kolam.

Perbedaan antara kerajaan Allah dan kerajaan dunia, bisa dilihat dalam kualitas tindakan manusia. Manusia tidak mampu memahami kerajaan Allah jika dia tadi tidak mencapai kualitas, tindakan, dan kesatuan Allah. Namun manusia justru menunjukkan kualitas dan perbedaannya sendiri di dunia ini.

Allah tidak berada dalam keadaan itu. Meskipun Dia bersemayam dalam semua kehidupan, namun engkau hanya akan melihat-Nya terefleksi dalam diri insan yang memiliki kesabaran, cinta, dan sifat Allah. Allah bersinar dalam kalbu orang itu. Citra Allah dapat dilihat dalam diri orang itu, meskipun dia tetap berbentuk manusia. Inilah cara Allah melakukan tugas- Nya, dan mengurus kerajaan-Nya.

Cucu-cucuku, apakah engkau memahami segala yang terjadi di kolam itu? Ada 8 atau 10 orang yang menghabiskan waktu mereka untuk mencari kesalahan dan mencela. Hanya seorang saja yang memiliki kesabaran dan melaksanakan pekerjaannya penuh perhatian dan satu tujuan. Karena sifat-sifat ini, dia mampu menangkap banyak ikan. Dunia akan selalu mencari kesalahan, tapi orang yang sabar tersebut tetap akan menangkap ikan.

Cucu-cucuku, anak-anakku, saudara-saudaraku, seperti inilah dunia. Orang yang mempunyai kesabaran dan kepuasan diri, akan menerima apa saja yang dibutuhkan dalam hidupnya. Orang yang takwa kepada Allah dan memuji-Nya, orang yang mencapai kearifan dan jalan yang penuh kasih sayang, dan yang mempunyai kualitas yang berbudi luhur akan rasa malu, kesopanan, kehati-hatian, dan takut berbuat dosa: orang yang memiliki iman yang mutlak, keyakinan, kemantapan hati, dan kepercayaan kepada Allah — orang seperti itu akan menerima harta keagungan-Nya, cinta-Nya, kualitas-Nya, dan kearifan- Nya yang terjaga, menanam-Nya. Orang tersebut akan menerima kekayaan Allah dan hidup dengan damai di dunia ini dan dunia esok. Tapi barangsiapa selalu tidak sabar dan mencari kesalahan, akan kehilangan segalanya. Engkau harus merenungkannya.

Cucu-cucuku, apakah engkau ingat dua laki-laki yang berkelahi? Ingatkah pada laki-laki dalam kereta dan pelancong yang menolak air karena menemukan kesalahan pada kolam? Mari kita lihat apa yang telah terjadi pada mereka. Lihatlah, tubuh mereka sedang tergeletak di pinggiran jalan berdampingan. Tampaknya mereka berdua mati kehausan.

Seorang laki-laki ketiga sedang berbaring di samping mereka. Dia tampak sekarat juga. Kurangnya kearifan menghancurkan dirinya, keangkuhan membuatnya menderita, dan kejumudan membunuhnya. Dia sedang berteriak minta air. Anak-anak, kolam itu tidak mungkin mendatanginya, jadi engkau harus berlari dan mengambil sedikit air dengan belanga yang pecah itu. Ah, lihatlah, sesudah minum sedikit air ini, dia mulai mengumpulkan kekuatannya.

"Siapa yang membawa air ini? Di mana engkau mendapatkannya? Jika engkau mengambilnya dari kolam itu, maka air itu tidak bersih!" teriaknya sambil melemparkan belanga yang rusak itu beserta airnya.

Orang-orang yang tidak memiliki kearifan, bertindak persis seperti ini. Segera sesudah mereka memperoleh sedikit kekuatan, keangkuhan dan kejumudannya hidup lagi. Pertolongan apa pun yang kita berikan kepada orang-orang seperti itu, akan menyerupai racun bagi mereka. Jadi kita harus sangat hati-hati. Jika seseorang melempar sebuah belanga kepada kita, kita bisa terluka.

Engkau harus memahami hal ini dan mengajarkan kearifan Allah kepada siapa saja yang mempunyai kualitas-Nya. Bicaralah tentang kearifan hanya kepada siapa pun yang bisa memahaminya. Ingatlah, anak-anakku, semua kesalahan manusia disebabkan oleh tindakannya sendiri yang bodoh, dan karena kurangnya kearifan. Tidak satu pun yang merupakan kesalahan Allah. Renungkanlah!

Allah di dalam diri manusia dan manusia di dalam Allah. Dia adalah Tuhan kita, satu-satunya Dzat Yang paling berhak disembah. Siapa saja yang memahami hal ini dan melaksanakan perintah Allah dengan keagungan dan kualitas-Nya, akan berkuasa dalam kerajaan Allah. Semoga Allah menolong kalian semua. Amin.