Monday, February 4, 2013

MISTER RIGEN MAU DIPUNTIR.

SORE kemarin saya dikejutkan oleh masuknya mobil BMW metallic ijo yang legendaris dari pemiliknya yang tidak kurang legendarisnya juga, yaitu Prof. Dr. Lemahamba M.Sc., M.A., Drs., B.A., SMA, SD, TK lan salajengipun. Saya terkejut karena BMW itu bolehnya masuk bukannya mak-klenyer- klenyer suwiir-suwiir, tetapi mak-zuung zuung-zung-zwuung. We, lha, ada apa ini. Pintu BMW itu sanajan masih mak-beup suaranya, jelas suara mak-beup yang bantingan.
"Wah, kok tumben, Prof. Selamat sore."
"Afternoon, afternoon."
"Tea, coffee, white water, punapa only kotongan?"
"Oh, dasar bos-nya Mister Rigen yang gemblung. Kamu itu tidak ngeh bin sadar to, Geng?"
"Lho, ada apa to, Prof. Rasanya kok saya itu sadar-sadar saja."
"Wah, ciloko kamu itu. Cilokoo !”
Ciloko bagaimana?"
"Krisis, Bung, krisis!"
"Krisis bagaimana to, Prof."
" Wis ciloko tenan kamu Something terrible is happening, Geng. Di wilayah kita ini akan terjadi pemogokan besar-besaran."
"Mogok besar-besaran? Maksud Prof., di Universitas? Dosen-dosen mau mogok?"
"Ha-ha-ha-ha. Dagelan dari mana lagi itu? Dosen kok mogok! Bukan dosen, Geng. Dosen kok mogok."
"Lho, apa tidak mungkin to, Prof.?"
"Ah, kok absurd sekali omonganmu itu! Yang dimogokkan dosen itu apa to, Geeng, Geng. Hayo coba apa?"
"Ya gaji to, Prof. Prof. begitu tidak menyoalkan gaji. Blebar- bleber terbang ke mana-mana mencetak duit. Kalau dosen yang tidak blebar-bleber terbang, hidupnya melulu dari gaji, gaji itu senen-kemis to Prof. umurnya?"
"He-he-he. Terus kamu dan kawan-kawanmu itu berani mogok apa? Berani? Gue sembah lu, kalau berani."
Saya tidak meladeni tantangan itu. Berani mogok. Edan apa!
'Lho, soalnya bukan berani apa tidak, Prof. Sebagai persoalan hipotetis akademis mungkin saja to dosen itu mogok. Siapa saja bisa dan berhak mogok to, Prof."
"He-he-he-he. Jullie docenten itu bisanya ya main-main hipotetis akademis! Yang saya warn ingatkan sama kamu itu perkara riil, Geng. Para batur di kawasan ini, yang babu dan yang jongos sedang menyiapkan mogok besar. Mati kita, Geng. Kalau mereka jadi mogok total kawasan kota ini akan berantakan betul. Bayangin. Kau dan aku harus cuci baju dan cuci piring, ngepel lantai dan bersihkan kakus dan kamar mandi. Bini saya yang fashion conscious itu mesti pakai baju babu menyingsingkan lengan baju supaya kalo cuci piring dan masak tidak kecipratan macam-macam. Wah, susah, Geng."
Sementara beliau berceritera itu saya sudah ikut membayangkan kerepotannya itu. Terutama Madam Lemahamba yang fashion dan make-up conscious itu. Habis sudah keme- noran beliau. Bau harum karena parfumnya yang Channel itu menguap tersedot bau brambang. Baju-baju dan slack-nya yang chic masa-kini terpaksa sementara digantung untuk diganti dengan short yang biasa buat jogging pagi dan kaos oblong. Memang masih trendy juga. Ning fungsinya tidak un- - tuk mejeng terhadap memprouw-memprouw yang lain. Fungsinya sekarang akan buat efisiensi gerak di dapur dan kamar mandi. Kasihan dong. Tapi, kemudian saya tersentak dari lamunan membayangkan Madam Wide Ground itu. Saya tadi bertanya-tanya apa iya pemogokan itu akan terjadi betul. Kok Mister Rigen yang anggota PJJ itu dan Ms. Nansiyem yang
pengurus PBB itu tidak ccritera apa-apa! Apa itu semua bagian dari suatu secret dan silent operation? Untuk men- surprise kita-orang para bos dan majikan. Keterlaluan kalau itu betul.
"Itu rencana apa sudah matang to, Prof.?"
"Lho, lha iya. Saya sudah dapat bocorannya!"
"Bocoran apa?"
"Ya bocoran dari rencana mereka. Saya kan punya labor intellegence, intel buruh!"
"Weh, siapa itu, Prof.?"
"Ya pembantu saya sendiri yang saya tanam di PJJ dan PBB. Menurut mereka hari H-nya pun sudah didiskusikan alternatif-alternatifnya."
"Weh-eh. Kapan itu rencananya, Prof."
"Soon Geng. Soon!"
Saya masih terkesima mendengar berita itu. PJJ dan PBB mau mogok. Gek yang mau dijadikan isu itu apa, lho? Wong kita-orang bos-bos dan majikan-majikan Pancasilais uan de Korpri itu tidak kurang-kurang bolehnya menerapkan prinsip-prinsip manajemen perbaturan eh, perburuhan Pancasila. Lho. Kok masih ada rencana mogok. Maka saya pun ingin mengeceknya pada Mister Rigen dan Ms. Nansiyem.
"Geen, Mister Rigen. Yem, Messs Nansiyem."
"Inggihh, Pak Ageng."
"Huuss. Bukan kamu precil-precil. Ini rundingan gawat wong-wong tuwo."
Saya dengar dari balik pintu muka-muka bedhes-bedhes cilik pating pringis.
"Nun inggih dalem, Prof-Prof. Ada kerso apa? Tehnya di-jog lagi, apa mau utusan mau beli bakmi Jumpa Pers?"
"Hus. Ora pringisan, lho, kalian! Ini Prof. Lemahamba ada kabar serius. Katanya sebentar lagi akan ada pemogokan ba- bu-babu dan jongos-jongos yang disponsori PJJ dan PBB. Betul apa?"
Prof. Lemahamba lantas juga ikut nimbrung.
"Iya, Gen? Sudah ngaku saja."
Mister Rigen dan istrinya pada saling memandang. Muka mereka saling bertanya.
"Lho. Pemogokan, Prof.? Pemogokan? Oh, gek yang mau dimogokkan itu apa to Prof., Prof.?"
"Kamu jangan selak menyangkal dan pura-pura tidak tahu lho, Gen. Saya punya labor intelligence yang punya data-datanya, lho."
"Lho, lha mbok panjenengan mau nglabur dalem panjenengan seribu kali wong tidak ada pemogokan lho, Prof. Lha, bolehnya nglabur dalem besok apa, Prof."
"Oh, Geng. Wulu cumbumu itu pancet, tetep saja gendeng-nya. Labor dikira nglabur. Nggak, Gen. Miturut laporan intel saya, kalian PJJ dan PBB mau merencanakan pemogokan total. Dan sudah mateng."
"Yang sudah mateng itu apanya, Prof. Wong tidak ada rencana mogok, lho. Gek intel panjenengan itu siapa?"
"Ya, Gimin temenmu dari Praci itu."
"Ooh, wong Gimin anak kemplu kok dipercaya, lho."
"Wong katanya PJJ dan PBB itu sudah kemasukan PKI dan Gerwani itu?"
"PKI apa, Gerwani apa? PBB dan PJJ itu nggih, para Prof., pada tukaran bertengkar tidak akur-akur mau menetapkan halal bihalal bersama. Lha, terus, pada ngambek-ngambekan, mengancam mau mogok tidak mau aktip lagi di PBB dan PJJ. Niku lho, soalnya, Prof."
Kami semua jadi terdiam. Dalam hati saya mau tertawa nyekikik. Tapi, tidak tega melihat wajah prof. idola saya yang agak embarassed bin klincutan Toh profesor idola saya itu sebelum pulang masih sempat memberi kata wejangan.
"Ning ini tenan lho, Gen! Kamu tidak bohong, lho, ya? Jangan main-main kowe ya? Kalau ternyata jadi mogok kalian, kalian sida tak plintir sampai potol lehermu"
Saya kaget. Elho! Diplintir? Diplintir? Terlambat. Prof. Lemahamba sudah menutup BMW-nya. Beup
26 April 1994