Tuesday, February 5, 2013

Meninggalkan Perbuatan yang Tidak Bermanfaat

Tinggalkanlah segala kesia-kesiaan dalam berbicara dan memubazirkan harta. Dalam kondisi tertentu, janganlah terlalu sering duduk bersama para kerabat, tetangga, sahabat, dan orang-orang yang kamu kenal tanpa adanya alasan, karena hal itu hanyalah kegalauan. Jika kamu sering berkumpul bersama mereka maka kemungkinan besar yang terjadi adalah munculnya ucapan-ucapan dusta dan ghibah (menggunjing). Maksiat akan terjadi jika ada dua orang manusia bertemu.

Janganlah kalian meninggalkan rumah, kecuali menuju ke suatu tempat yang mengandung maslahat bagi diri sendiri dan keluarga. Berusahalah agar awal segala sesuatu atau awal pembicaraan tidak dimulai dari diri kalian. Akan tetapi, hendaklah perkataan kalian itu merupakan tanggapan atas ucapan lawan bicara kalian. Seandainya ada orang bertanya kepada kalian tentang sesuatu; dan jawabannya itu mengandung maslahat bagi diri kalian serta dirinya, maka jawablah pertanyaan tersebut. Akan tetapi, jika tidak mengandung maslahat maka janganlah menjawabnya. Apabila bertemu dengan saudara kalian yang muslim, maka janganlah bertanya kepadanya "Dari mana kamu berlalu, dan dari mana kamu datang bisa jadi, ia memberi tahu kalian tentang keadaan yang dialaminya namun dengan berdusta, sehingga kalian menuntunnya untuk berdusta.

Malulah kepada para malaikat pencatat amal. Janganlah membuat mereka menulis sesuatu yang tidak boleh kalian kerjakan, kecuali yang akan membahagiakan dan menyenangkan kalian pada hari kiamat kelak. Buatlah mereka menuliskan tasbih, membaca al-Qur'an, serta mengeluarkan kata-kata yang mengandung maslahat bagi diri kalian sendiri dan seluruh makhluk. Perbanyaklah tinta mereka dengan air mata kalian, kuatkanlah pena mereka dengan tauhid kalian, kemudian dudukkanlah mereka di depan pintu Tuhan, lalu masuklah menemui Tuhan kalian. Pendekkanlah angan-angan kalian. Jadikanlah kematian berada di hadapan kedua mata kalian.

Bila salah seorang di antara kalian melihat saudaranya, maka ucapkanlah selamat tinggal dan keselamatan layaknya salam perpisahan. Begitu juga, jika kalian meninggalkan rumah, maka hendaklah mengucapkan perpisahan kepada keluarga dengan hati. Sebab, bisa jadi, Malaikat Izrail memanggil dan menghampiri kalian saat sedang dalam perjalanan. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda:
"Janganlah salah seorang di antara kalian tidur, kecuali wasiatnya tertulis di bawah kepalanya. "

Apabila kalian berutang dan telah mampu melunasinya, maka segeralah melunasi utang itu dan janganlah menundanya. Barang siapa yang mampu melunasi utangnya, namun tidak membayarnya, maka ia zhalim terhadap dirinya sendiri. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda:
"Terlambatnya pembayaran utang orang kaya adalah zhalim."

Ada suatu kaum yang terbiasa bersabar menghadapi ujian, tidak gelisah layaknya kegelisahan yang kalian alami. Sebagian di antara mereka diuji setiap hari dengan suatu ujian, kemudian hari berikutnya ia tidak dihampiri ujian lagi. Maka, ia berkata, "Wahai Tuhanku, dosa apa yang aku lakukan hari ini, sehingga ujianku tidak diturunkan kepadaku?" Ujian itu berbeda-beda, di antaranya ada yang berkaitan dengan badan dan hati, ada kalanya ujian datang dari sesama makhluk, terkadang pula dari Al-Khaliq 'Azza wa Jalla. Tidak ada kebaikan dalam diri orang yang tidak disakiti. Segala ujian adalah asupan yang datang dari-Nya. Puncak dari ahli ibadah dan zuhud di dunia adalah karamah dan di akhirat ialah surga. Puncak seorang yang arif adalah kekalnya keimanannya di dunia dan selamat dari neraka di akhirat. Adapun puncak obsesi dan syahwatnya akan tetap seperti ini, sampai dikatakan kepada hatinya, "Apa ini? Tenanglah dan kokohlah. Keimanan itu kokoh di sisimu dan orang-orang mukmin mendapatkan cahaya keimanan mereka dari dirimu. Kelak, kamu menjadi orang yang memberikan syafaat dan diterima perkataannya yang menjadi penyebab banyak manusia terbebas dari neraka" serta berada di hadapan nabimu yang menjadi pemimpin para pemberi syafaat. Ini merupakan rekomendasi untuk keabadian iman, makrifat, keselamatan di akhirat, serta perjalanan bersama para nabi, rasul, dan para shiddiq."

Wahai orang munafik, semua ini tidak berada di tanganmu akibat kemunafikanmu dan perbuatan tidak baikmu; sedangkan kamu melihat cahayamu, penerimaanmu di hati para makhluk, dan orang-orang mencium tanganmu. Kamu pesimis terhadap dirimu sendiri di dunia dan akhirat, serta terhadap orang yang kamu didik dan perintahkan mengikutimu. Kamu merupakan cermin Dajjal yang terpancang pada harta manusia. Tidak ada salahnya jika hal itu menyebabkan doamu tidak dikabulkan dan tidak memiliki posisi di hati para shiddiq. Allah Swt. telah menyesatkanmu dengan ilmu yang kamu miliki. Kamu akan melihat ketika debu disingkap; yang kamu tunggangi berupa kuda atau keledai. Ketika debu disingkap, maka kamu akan melihat para pembela-Nya yang berada di atas kuda-kuda dan kereta-kereta; sedangkan kamu berada di atas keledai yang lemah di belakang mereka, serta ditangkap oleh setan dan iblis.

Ada suatu kaum yang sampai pada level doa dan permintaan tidak ada lagi bersama mereka. Mereka tidak meminta didatangkan kebaikan dan tidak pula menolak keburukan. Doa mereka sesuai dengan perintah hati mereka. Terkadang, mereka berdoa untuk kepentingan mereka sendiri dan ada kalanya untuk kepentingan makhluk yang lain. Mereka mengucapkan doa; sedangkan mereka gaib darinya.

Ya Allah, berikanlah kami adab yang baik bersama-Mu dalam segala keadaan. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.


Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani