Friday, February 8, 2013

Mengendalikan Nafsu

Wahai anakku, berikanlah nafsumu untuk dunia, hatimu untuk akhirat, dan relung jiwamu untuk Allah Swt. Janganlah merasa tenang terhadap dunia, karena dunia adalah ular yang dihiasi dan menyeru kepada para manusia dengan perhiasannya, kemudian menghancurkan mereka. Berpalinglah dari dunia dengan sebenar-benarnya. Ikhlaslah dalam menaati-Nya, membantu orang-orang yang shalih, berpaling dari segala syahwat, dan mengesakan-Nya, hingga di dalam hatimu tidak tersisa dunia sekecil atom sekalipun.

Tauhid itu dapat melenyapkan segalanya. Semua obat ada dalam mengesakan Al-Haq 'Azza wa Jalla dan berpaling dari mencintai dunia. Tidak ada kebaikan di dalam dirimu, sampai kamu mengenal nafsumu sendiri, tidak memberikan bagian buruknya dan memenuhi haknya yang sebenarnya. Jika sudah demikian, kamu akan merasa tenang dengan hatimu, dan hatimu akan merasa tenang dengan relung jiwamu, serta relung jiwamu akan merasa tenang dengan-Nya. Janganlah mengangkat "tongkat mujahadah" nafsumu, janganlah tertipu dengan rayuan-rayuannya, dan janganlah pula tertipu dengan nina bobok-nya. Janganlah tertipu dengan tidurnya binatang buas yang ada di hadapanmu, karena binatang itu menampakkan dirinya seolah-olah tidur, padahal ia sedang menunggu mangsanya untuk dicengkeram. Hati-hatilah dengannya ketika ia sedang tidur; sebagaimana kamu berhati-hati dengannya ketika ia dalam keadaan sadar.

Berhati-hatilah dengan nafsumu. Janganlah meletakkan senjata pada pundak hatimu. Nafsu akan menampakkan ketenangan, kerendahan, taioadhudan muwafaqah dalam kebaikan jika ia kenyang dengan hal-hal yang bertentangan dengannya. Hati-hatilah dengan hal-hal yang terjadi setelah itu. Banyaklah bersedih dan minimalisirlah kegembiraan. Itulah yang dialami oleh para nabi, rasul, dan orang-orang shalih terdahulu. Rasulullah Saw. merupakan sosok yang lama bersedih, selalu berpikir, tidak tertawa (kecuali senyuman), dan tidak bersantai ria.

Orang yang berakal tidak akan bahagia dengan dunia, tidak juga dengan anak-anak, keluarga, harta,
makanan, pakaian, kendaraan, dan pernikahan. Semua itu merupakan omong-kosong. Bukalah mata nafsumu dan katakan kepadanya, "Lihatlah kepada Tuhanku, bagaimana Dia melihat kepadamu. Lihatlah, bagaimana hancurnya orang-orang kaya dan para raja sebelum kamu."

Perhatikanlah pertarungan-pertarungan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kamu, yaitu orang- orang yang memiliki dan menikmati dunia ini. Sekarang, mereka ditawan di dalam "penjara azab". Istana mereka kosong, rumah mereka hancur, harta mereka sirna, semua syahwat lenyap, dan yang tersisa hanyalah kelelahan. Janganlah merasa bahagia ketika kamu berada pada waktu bahagia. Janganlah takjub dengan kecantikan wajah istrimu, ketampanan anakmu, keindahan rumahmu, serta banyaknya hartamu. Janganlah bahagia dengan sesuatu yang tidak membuat bahagia orang- orang terdahulu, yakni para nabi, rasul, dan orang-orang yang shalih. Allah Swt. berfirman:

"...Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang bahagia." (QS. aI-Qashash [28]: 76).

Maksud "orang-orang yang bahagia" dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang bahagia dengan dunia dan penduduknya, serta bahagia dengan selain-Nya.

Hendaklah tabiat suatu kaum dan pemikiran yang mereka inginkan berkaitan dengan perkara-perkara akhirat, bukan dengan syahwat, kenikmatan, dan kehinaan. Wahai orang yang tidak ada artinya, kamu tidak memiliki kebaikan yang bisa diharapkan darimu. Wahai orang yang lalai, di akhirat kelak, ada azab yang pedih bagi orang yang tidak menaati Allah Swt. Jika hati seorang hamba bisa istiqamah serta mampu meninggalkan segala sesuatu dan menempatkannya di belakang hatinya, maka mudah saja baginya menghancurkan dunia untuk kekuasaan akhirat, mudah saja baginya dihadapkan ke neraka dan binatang buas, mudah saja baginya digabungkan dengan binatang-binatang ganas dan dijauhkan dari makhluk, mudah saja baginya ditempatkan pada hausnya padang pasir, begitu juga dengan kelaparannya dan kematiannya seraya berkata, "Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk orang-orang yang bingung, tunjukkanlah diriku jalan menuju kepada-Mu."

Jadikanlah keresahanmu satu keresahan saja. Ini tidak akan terwujud, kecuali setelah bersikap zuhud dalam hal-hal yang diharamkan, kemudian zuhud dalam hal-hal yang mubah, kemudian zuhud dalam hal-hal yang halal secara mutlak. Berusahalah agar kamu berada pada sore dan pagi hari dalam keadaan tidak ada makhluk sebiji atom pun di dalam hatimu. Aku melihatmu dipenuhi dengan syahwat dan kenikmatan, makhluk dan dunia, serta bergantung dengan berbagai perantara, maka kenapa pula kamu berbicara tentang keadaan orang-orang yang shalihdan mengakuinya sebagai keadaanmu?! Kamu memberi tahu aku tentang keadaan selainmu, dan memberikan infaq kepadaku dari kantong selainmu. Kamu mengkaji berbagai buku, mengeluarkan darinya kata-kata para penulisnya, kemudian berbicara dengannya seolah-olah menunjukkan kepada para pendengar bahwa tema pembicaraan tersebut berasal dari pikiran, kekuatan, dan ucapan hatimu.

Celakalah dirimu. Lakukanlah apa yang orang-orang shalih ucapkan, kemudian bicarakanlah, sehingga perkataanmu itu merupakan kokokan (suara ayam) amalanmu, dan buah pohon amalanmu. Masalah ini tidak akan pernah tuntas hanya dengan melihat dan menghafal kata-kata mereka, namun dengan mengamalkan sesuatu yang mereka katakan, beradab baik, berbaik sangka, dan menjalaninya dalam segala keadaan. Orang yang awam diberikan pahala sesuai dengan kadar langkahnya dengan kedua kakinya, sedangkan orang khusus (khas) diberikan pahala sesuai dengan kadar cita-citanya. Barang siapa yang cita- citanya satu cita-cita saja, maka Al-Haq 'Azza wa Jalla baginya juga Esa. Bila ia berpaling dengan hatinya kepada selain-Nya, maka Dia juga berpaling darinya. Disebutkan di dalam al- Quran:

"Sesungguhnya, pelindungku adalah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur'an), dan Dia melindungi orang-orang yang shalih." (QS. al-A'raaf [7]: 196).

Jika hati hamba bersambung dengan Tuhannya, maka Dia akan menjadi tabibnya. Tidak ada tabib selain-Nya, dan tidak ada pula kedekatan selain-Nya. Nabi Daud As. berkata, "Wahai Tuhanku, aku telah mendatangi seluruh tabib dari kalangan hamba-Mu, akan tetapi semuanya menunjukkanku kepada- Mu. Wahai Dzat yang memberi petunjuk orang-orang yang bingung, tunjukkanlah diriku." Barang siapa yang dicintai- Nya, maka hatinya akan dipenuhi kerinduan yang universal, keberpalingan yang universal, dan fana yang universal.

Hakikat kasyf (terbukanya hijab) tidak akan sempurna, kecuali setelah keluar dari hijab. Jika kamu ingin sampai kepada Allah Swt., maka tinggalkanlah dunia dan akhirat, serta segala sesuatu yang ada di bawah 'Arsy sampai ke bumi. Semua makhluk adalah hijab 'Arsy, selain Rasulullah Saw., karena beliau adalah pintu. Allah Swt. berfirman:

"...Dan, apa yang diberikan oleh rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan, apa yang dilarangnya kepada kalian, maka tinggalkanlah...." (QS. al-Hasyr [59]: 7).

Wahai anakku, kapan hatimu akan menjadi paham dan relung jiwamu akan jernih, sedangkan kamu masih suka mempersekutukan Allah Swt. dengan makhluk? Bagaimana kamu akan menang, sementara hatimu kosong dari ketakwaan? Bagaimana hatimu akan jernih, jika hatimu kosong dari tauhid? Tauhid adalah cahaya, sedangkan mempersekutukan-Nya dengan makhluk merupakan kezhaliman. Kamu dihijab dari-Nya dengan makhluk dan dihijab dari Musabbib (Allah Swt.) dengan segala sebab. Kamu hanyalah pengakuan kosong. Apa yang kamu berikan tidak diterima dengan sekadar klaim, tanpa bukti. Perkara ini hanya akan menjadi baik dengan dua perkara. Pertama, mujahadah dan mukabadah, memikul perkara yang paling sulit dan melelahkan, yaitu sesuatu yang biasanya dikenal di kalangan orang-orang yang shalih. Kedua, mauhibah (pemberian) tanpa kelelahan, dan ini jarang dimiliki oleh para makhluk.

Wahai anakku, kamu harus berpegang dengan dirimu sendiri ketika imanmu lemah. Kamu tidak bisa berpegang dengan keluargamu, tetanggamu, penduduk negerimu, dan wilayahmu. Jika imanmu kuat, maka tampakkanlah kepada keluarga dan anakmu, kemudian kepada sekalian makhluk.

Janganlah menampakkan diri kepada mereka, kecuali kamu bertameng dengan ketakwaan, meletakkan keimanan di kepala hatimu, di tanganmu ada pedang tauhid, di jubahmu ada anak-anak panah pengabulan doa, mengendarai kuda taufiq, mempelajari, menangkis, lari, memukul dan mengusir, kemudian memikulnya untuk menghampiri para musuh Al-Khaliq 'Azza waJalla. Ketika itu, kemenangan dan pertolongan akan menghampirimu dari enam sisi: kanan, kiri, atas, bawah, depan, dan belakang, untuk menyelamatkan sekalian makhluk dari tangan-tangan setan dan membawa mereka menuju pintu-Nya.

Barang siapa yang berhasil sampai ke maqam itu, maka hijab dibukakan dari mata hatinya. Bagaimana ia akan berpaling dari enam arah, sementara pandangan-Nya telah membakar hijab dan tidak menghijabnya lagi, kemudian mengangkat kepala hatinya, sehingga ia bisa melihat 'Arsy dan semua langit. Jika ia mengetuk maka ia akan melihat lapisan-lapisan bumi beserta para penghuninya. Bila kamu sudah sampai pada maqam ini maka tinggalkanlah semua makhluk untuk menuju pintu-Nya. Jika kamu menyeru sekalian makhluk, sedangkan kamu tidak berada di pintu- Nya, maka doamu untuk kebaikan mereka akan menjadi bumerang keburukan untuk dirimu; sebagaimana kamu bergerak, maka seperti itu kamu akan turun. Setiap kali kamu menginginkan ketinggian, kamu akan jatuh. Kamu tidak memiliki berita sedikit pun mengenai orang-orang yang shalih. Coba kamu perhatikan baik-baik; kamu adalah lisan tanpa akal, zhahir tanpa batin, kebersamaan tanpa khalwat, dan berjalan tanpa tujuan, serta pedangmu terbuat dari kayu dan anak panahmu dari aluminium. Kamu adalah orang pengecut yang tidak memiliki keberanian sedikit pun. Anak panah paling kecil sekalipun bisa membunuhmu. Sekuntum bunga juga dapat menyebabkan kiamatmu (kematianmu).

Ya Allah, kuatkanlah agama kami, keimanan kami, dan badan kami dengan kedekatan-Mu. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

(Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)