Thursday, February 7, 2013

Mengamalkan al-quran

PADA hari Selasa sore, 11 Dzulqa'dah, 545 H, di Madrasah, Syaikh rah.a. berkata:

Telah berkata Hasan Al Bashri rah.a., "Hinakanlah dunia, Demi Allah, ia tidaklah baik kecuali setelah dihinakan." Wahai ghulam, bila engkau mengamalkan Al-Qur'an, ia akan menempatkanmu di hadapan-Nya. Demikian pula sunnah, bila diamalkan akan menempatkanmu di depan Nabi saw. Dia akan senantiasa memandang hati para wali itu. Dia akan membersihkan dan menghiasinya. Dia akan membukakan pintu qurb baginya. Dialah duta antara hati nurani dan Tuhannya. Setiap orang yang dapat melangkah maju kepada-Nya selangkah, dia harus bertambah gembira, dia harus bersyukur dan semakin taat kepada-Nya. Kegembiraan yang disebabkan oleh selain itu benar-benar merupakan kegilaan. Orang bodoh bergembira dengan dunia. Tetapi orang alim justru bersedih karenanya. Orang bodoh membantah takdir, tetapi orang alim menyetujuinya. Wahai orang miskin, janganlah mengolok-olok takdir, agar kamu tidak binasa. Di daerah ini kamu harus rela dengan perbuatan Allah swt.. Keluarkanlah makhluk dari hatimu dan berjumpalah dengan Pencipta makhluk. Jumpailah Dia dengan hati, nurani, dan maknamu. Jika kamu selalu mengikuti Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang shalih, serta berkhidmat kepada-Nya, maka lakukanlah. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagimu di dunia maupun di akhirat. Jika kamu mempunyai dunia seisinya, tetapi hatimu tidak seperti hati mereka, berarti kamu tidak memiliki apa-apa. Setiap orang yang hatinya telah sesuai untuk Allah swt. sedangkan di hatinya masih ada dunia atau akhirat, maka dia akan dihukumi dengan hukum Allah swt. apakah dia orang awam atau termasuk orang khawas. Celaka kamu, sadarilah kemampuanmu. Apalah artinya kamu jika dibandingkan mereka. Cita-citamu hanya untuk makan, minum, kawin, dan mengumpulkan dunia. Kamu giat bekerja untuk dunia tetapi malas bekerja untuk akhirat. Kamu hanya menyediakan badanmu untuk ulat. Dalam sebuah hadits, Nabi saw. mengingatkan, "Sesungguhnya Allah swt. mempunyai malaikat yang memanggil setiap hari, pagi dan sore, "Wahai anak Adam, silakan kamu mendekat kepada kamatian, membangun untuk kehancuran, dan mengumpulkan untuk para musuh."

Seorang mukmin mempunyai niat yang baik dalam setiap perbuatannya. Ia tidak mau bekerja di dunia untuk dunia, tetapi membangun dunia untuk akhirat. Ia mendirikan masjid, madrasah, dan membangun jalan. Ia juga membangun yang selain itu untuk keluarga, para janda dan yatim piatu, sehingga sebagai gantinya ia akan dibuatkan bangunan di akhirat. Jadi ia tidak membangun menurut keinginan dan hawa nafsunya. Jika seorang manusia selalu bersama Allah swt. dalam setiap keadaan, maka ketiadaan dan wujudnya adalah dengan Allah swt.. Hatinya berjumpa dengan para nabi dan rasul. Ia menerima apa yang mereka bawa dengan penuh iman dan yakin. Sehingga ia akan berjumpa dengan mereka di dunia maupun di akhirat. Orang yang berdzikir kepada Allah swt. senantiasa hidup. Berpindah dari sesuatu hanyalah sekejap saja. Ia senantiasa berdzikir kepada Allah swt. dengan hatinya meskipun tidak dengan lidahnya. Selain berdzikir kepada Allah swt., ia akan patuh kepada-Nya dan rela terhadap perbuatan-Nya. Jika kita tidak setuju pada Al-Haq Azza wa Jalla mengenai datangnya kemarau, berarti kita telah mengkufuri kemarau itu. Jika kita tidak setuju kepada-Nya mengenai datangnya musim penghujan, berarti kita menolaknya. Dengan menyetujui dua musim itu akan menghilangkan sakit akibat keduanya. Demikian pula, dengan rela menerima bala' akan menghilangkan kesedihan, kesempitan, dan kejemuan.

Alangkah mengherankan keadaan para wali itu, apa pun yang menimpa mereka, semua itu mereka anggap sebagai
kebaikan. Allah swt. telah menemui mereka dengan kema'rifatan- Nya dan menidurkan mereka di kamar kelembutan-Nya, serta menghibur mereka dengan kedamaian bersama-Nya. Tentu saja maqam itu sangat indah bagi mereka. Dengan bersama- Nya, ghaiblah segala sesuatu selain Dia. Mereka selalu mati di hadapan-Nya. Kehebatan telah menguasai mereka. Jika Dia mau, Dia akan menghidupkan, membangunkan, atau menjalankan mereka. Mereka seperti Ash Habul Kahfi dalam gua, di mana Allah berfirman mengenai mereka,

"Dan kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri." (Q..s. Al-Kahfi:17).

Mereka adalah orang yang paling berakal. Dalam setiap keadaan, mereka berkeinginan mendapatkan ampunan dan kesuksesan dari Tuhannya. Celaka kamu, kamu beramal seperti amalan ahli neraka, tetapi kamu mengharapkan surga. Sungguh, keinginan kamu itu keliru. Sebentar lagi kamu akan disiksa. Kamu dihidupkan supaya taat kepada-Nya, tetapi kamu malah berbuat semaumu. Kesehatan itu juga pinjaman, demikian juga kekayaan, kedudukan, dan ketenteraman. Janganlah kamu gunakan semua itu dengan seenakmu.Kamu akan ditanya mengenainya. Segala kenikmatan itu dari Allah swt.. Gunakanlah kenikmatan itu untuk mentaati-Nya. Semua yang kamu sukai itu adalah sesuatu yang menyibukkan. Sedangkan para ahli sufi itu tidak menginginkan sesuatu kecuali keselamatan bersama Al-Haq Azza wa Jalla di dunia dan akhirat. Sebagian dari mereka berkata, "Ikutilah Al- Haq pada makhluk, jangan kamu ikuti makhluk pada Al Haq. Tawadhu'lah kepada orang yang tawadhu', dan sombonglah kepada orang yang sombong. Ketauhilah, rela kepada Allah swt. itu termasuk ibadahnya orang-orang shalih.

Dikutip dari Kitab Fat-hur Rabbani Wa Faidhur-Rahmaan : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
******