Tuesday, February 5, 2013

MELEBUR DARI MAKHLUK

Leburkanlah dirimu dari makhluk dengan izin Allah Swt., dari hawa nafsumu dengan perintah-Nya, dan dari keinginanmu dengan perbuatan-Nya. Jika kamu termasuk orang yang beriman, bertawakkallah hanya kepada-Nya. Dalam kondisi seperti itu, kamu layak menjadi bejana ilmu-Nya.

Adapun tanda meleburnya dirimu dari para makhluk adalah terputusnya jalinan dirimu dengan mereka, juga bolak-balikmu terhadap mereka, dan tiadanya harapanmu terhadap segala sesuatu yang ada di tangan mereka. Sedangkan, tanda meleburmu dari hawa nafsu ialah kamu enggan meraup dunia serta tidak bergantung kepada sarana-sarana dalam mendapatkan manfaat dan menolak mudharat. Janganlah bergerak dengan dirimu sendiri, jangan pula berpegang dengannya, serta janganlah merasa lemah dan lari. Serahkanlah semuanya kepada Allah Swt., karena Dia-lah yang mengurusinya pertama dan terakhir kali; hal itu sebagaimana Dia mengurusi kamu ketika berada di dalam rahim dan saat masih menjadi bayi yang menyusu dalam ayunan.

Adapun tanda meleburmu dari keinginanmu dengan perbuatan Allah Swt. adalah ketika kamu tidak mengingini»" apa pun, serta tidak pula memiliki kebutuhan dan terapan. Sebab, ketika sedang bersama-Nya, kamu tidak menpnginkan sesuatu apa pun, melainkan kehendak-Nya. Perbuat-.n Allah-lah yang mengalir di dalam dirimu.

Setelah itu, kamu menyatu dalan kehendak dan perbuatan Allah Swt. Dalam kondisi semacam ini, tamu merasa aman, lapang dada, memiliki wajah yang bercahaya, tienyang dan kaya, serta tidak membutuhkan apa pun; cuku» dengan Sang Pencipta. Tangan kekuasaan senantiasa membolak-balikkanmu, lisan keabadian menyerumu, Tuhan segala ajaran mengajarkanmu, Dia memakai- kanmu beragam cahaya-Nya dan segala perhiasan, serta menempatkanmu sebagai ahli ilmu yang utama, sehingga kamu merasa membutuhkan-Nya selama-lamanya.

Jika kondisinya sudah demikian, kamu menjadi "terpecah belah"; tidak memiliki syahwat dan keinginan seperti bejana bocor yang tidak mampu menampung cairan dan larutan, sehingga kamu bersih dari akhlak-akhlak manusiawi. Hatimu tidak bisa menerima, selain keinginan-Nya. Ketika itu, kamu akan dikaruniai sifat takwin (pembentukan/penciptaan) dan segala sesuatu yang luar biasa. Hal ini tampak seolah-olah darimu. Padahal, dalam perspektif ilmu, semua itu merupakan tindakan dan kehendak Allah Swt.

Dan, apabila sudah berada dalam posisi seperti itu, kamu berada dalam kelompok orang-orang yang hati mereka tertundukkan, keinginan manusiawi mereka telah terpatahkan, dan syahwat- syahwat alamiah sudah dihilangkan. Lalu, tumbuhlah di dalam diri mereka kehendak ketuhanan dan syahwat-syahwat keutamaan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah Saw. sebagaimana berikut:
"Aku dibuat cinta terhadap tiga hal dari dunia; wewangian, wanita, dan dijadikan ketenangan jiwaku dalam shalat."

Semua itu bisa didapatkan oleh Rasulullah Saw. setelah beliau mampu keluar dari ketergantungan terhadap hal-hal tersebut demi mewujudkan sesuatu yang telah kami tunjukkan sebelumnya. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi sebagaimana berikut:
“Aku bersama orang yang hatinya pecah berkeping-keping demi Aku."

Allah Swt. tidak akan bersamamu hingga hawa nafsu dan keinginanmu patah arang. Jika sudah patah, tidak ada sesuatu pun di dalam dirimu, dan tidak ada pula sesuatu yang layak di dalam dirimu, maka Dia menghidupkanmu kembali hanya untuk-Nya. Apabila di dalam dirimu terdapat kehendak baru, maka Dia akan "meremukkanmu", hingga kamu berpatah hati. Kemudian, Dia akan menciptakan kehendak baru lagi di dalam dirimu, lalu dihancurkan lagi jika masih ada sisa kehendak di dalam dirimu. Beginilah keadaanmu sampai ajal menjemputmu; mempertemukanmu dengan-Nya. Inilah makna, "Orang yang patah hatinya karena Aku."

Adapun makna perkataan, "Ketika kamu berada di dalamnya adalah kekokohanmu dan ketenanganmu di dalamnya. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

"Hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, pandangannya yang digunakan untuk melihat, tangannya yang digunakan untuk memukul, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan."

Dalam redaksi lain disebutkan:
"Dengan-Ku ia mendengar, memukul, dan berpikir."

Ini akan terjadi ketika kamu berada dalam kondisi fana, yaitu jika kamu melebur dari dirimu sendiri dan makhluk. Makhluk itu ada yang berupa kebaikan dan ada pula yang berupa kejahatan, begitu juga halnya dengan kamu yang memiliki kebaikan dan kejahatan. Janganlah mengharapkan kebaikan mereka dan jangan pula takut dengan kejahatan mereka. Kamu hanya memiliki Allah Swt. Di dalam takdir-Nya, terdapat kebaikan dan keburukan. Dia mengamankanmu dari keburukan dan menenggelamkanmu dalam lautan kebaikan-Nya, sehingga kamu menjadi bejana segala kebaikan serta sumber segala kenikmatan, kebahagiaan, karunia, cahaya, keamanan, dan ketenangan.

Fana adalah harapan, sasaran, target akhir, batasan, dan tujuan perjalanan para wali. Fana merupakan istiqamah yang dicari oleh para wali dan abdal terdahulu. Mereka melebur dari keinginan diri mereka dan menggantinya dengan kehendak Allah Yang Maha Benar, sehingga mereka berkeinginan dengan keinginan Al-Haq selama-lamanya sampai mereka meninggal dunia. Oleh karena itu, mereka dinamakan dengan abdal (semoga Allah Swt. meridhai mereka).
Bagi orang-orang mulia tersebut, menggabungkan keinginan diri sendiri dengan kehendak Allah Swt. merupakan sebuah dosa, meskipun mereka dalam kondisi lupa, terdesak, bahkan kaget sekalipun. Apabila mereka melakukan dosa ini, maka Allah Swt. akan segera menurunkan rahmat-Nya kepada mereka dengan memberi peringatan dan kesadaran, sehingga mereka bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya. Sebab, tidak ada seorang pun yang bebas dari dosa, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dari keinginan. Para nabi bersih dari hawa nafsu. Sedangkan, makhluk lainnya; dari kalangan manusia dan jin; tidak ada yang suci dan bersih dari keduanya. Hanya saja, sebagian para wali menjaga diri dari hawa nafsu, dan para abdal dilindungi dari kehendak, namun tetap saja mereka tidak bisa terlepas dari keduanya (kehendak dan hawa nafsu). Artinya, bisa saja terkadang mereka condong kepada keduanya, kemudian Allah Swt. menyadarkan mereka dengan rahmat-Nya.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------