Saturday, February 9, 2013

Malu Sebagian dari Iman


Rasulullah Saw. bersabda, "Malu itu sebagian dari iman. Wahai para hamba Allah Swt., alangkah buruknya kalian dan alangkah beraninya kalian terhadap Tuhan kalian. Malu terhadap manusia dan bersikap buruk terhadap Al-Khaliq 'Azza ivaJalla merupakan omong kosong. Hakikat malu adalah malu kepada- Nya, baik ketika sedang bersama orang banyak maupun sedang sendirian. Malu terhadap makhluk adalah cabangnya, bukan yang pokok. Seorang mukmin akan senantiasa malu kepada- Nya, sedangkan orang munafik merasa malu kepada makhluk. Semoga Allah Swt. tidak memberkahi kalian wahai para munafik, alangkah banyaknya jumlah kalian. Semua kesibukan kalian hanyalah membangun citra diri yang ada di antara kalian dengan para makhluk. Jika kalian memerangiku maka kalian telah memerangi Allah Swt. dan rasul-Nya. Janganlah melelahkan diri, karena Dia selalu memenangkan urusan-Nya.

Saudara-saudara Nabi Yusuf As. merasa telah berusaha membunuhnya, namun mereka tidak mampu melakukannya. Bagaimana mereka mampu membunuhnya, sementara ia adalah raja di sisi Allah Swt., menjadi salah seorang nabi-Nya, dan termasuk orang yang shiddiq. Ilmu-Nya sudah menetapkan bahwa kemaslahatan semua makhluk berada di tangan-Nya. Begitu juga dengan orang-orang Yahudi, mereka bertujuan membunuh Nabi Isa bin Maryam, karena dengki kepadanya tatkala menyaksikan berbagai tanda dan mukjizat yang ada pada dirinya. Kemudian, Dia mewahyukan kepadanya untuk keluar meninggalkan Mesir. Pada waktu itu, ia berumur tiga belas tahun. Ia membawa para kerabatnya untuk melarikan diri. Urusan yang dipikulnya semakin kuat dan namanya semakin tersebar di beberapa negeri. Lalu, orang-orang Yahudi berkumpul untuk menghancurkannya, namun mereka tidak mampu.

Begitulah wahai orang-orang munafik pada zaman ini, kalian ingin menghancurkanku, namun kalian tidak memiliki karamah. Tangan kalian terlalu pendek untuk mendapatkannya. Kalian berusaha membebani diri sendiri untuk melakukan berbagai ketaatan, serta meninggalkan segala maksiat dan kemungkaran, sehingga sikap berlebih-lebihan menjadi tabiat kalian. Pahamilah perkataan Tuhan kalian, serta amalkanlah dan ikhlaslah dalam menjalankannya. Tuhan kami berbicara dengan perkataan yang bisa didengar dan dipahami. Nabi Musa As. mendengarkan perkataan-Nya di dunia, begitu juga dengan Rasulullah Saw. yang dapat mendengarkan firman-Nya. Dan, di akhirat kelak, orang-orang mukmin juga akan mendengarkan firma-Nya.
Tuhan kami bisa dilihat. Kami akan melihat-Nya kelak pada hari kiamat,
sebagaimana kami melihat matahari dan bulan pada hari ini. Dan, kami tidak ragu sedikit pun tentang kejadian itu pada esok hari.

Allah Swt. memiliki para hamba yang menjual surga beserta semua isinya untuk bisa melihat-Nya. Tatkala Dia mengetahui kebenaran niat mereka, bahwasanya mereka menjual surga untuk satu pandangan saja, maka Dia mengekalkan bagi mereka berbagai pandangan, kedekatan kepada-Nya, serta mengganti kenikmatan surga dengan dekat kepada-Nya.

Wahai anakku, kamu selalu diselimuti oleh nafsu, tabiat, dan hawa. Kamu duduk bersama para wanita yang bukan mahrammu, kemudian kamu berkata, "Aku tidak peduli dengan mereka." Kamu telah berdusta, karena syariat tidak sesuai dengan dirimu, begitu juga dengan logika. Kamu menambahkan kayu bakar ke dalam neraka. Ingatlah, keimanan dan makrifat mengenal Allah Swt. akan menghasilkan kekuatan dan kedekatan dengan-Nya. Jadilah seorang "dokter" bagi para makhluk dan jadilah wakil dari Al-Haq 'Azza wa Jalla.

Celakalah dirimu, bagaimana kamu bisa menangkap ular dan membolak-baliknya, sementara kamu tidak mengenal ilmu pawang dan tidak pula memakan penawarnya. Kamu buta, lantas bagaimana kamu dapat mengobati mata orang lain? Kamu bisu, maka bagaimana kamu mampu mengajarkan orang lain? Kamu bodoh, lalu bagaimana kamu akan menegakkan agama?! Kamu bukanlah seorang penjaga, maka bagaimana kamu dapat mengantarkan orang lain menuju pintu raja?! Tidak ada yang perlu diucapkan hingga datang hari kiamat dan kamu bisa melihat berbagai keajaiban. Ikhlaslah dalam semua amalanmu. Jika tidak, maka janganlah melelahkan diri sendiri. Bila semua ikatan diputus, serta semua pintu dan arah ditutup, maka terbukalah bagimu arah menuju Al-Haq 'Azza wa Jalla dan kedekatan dengan-Nya, jalan menuju-Nya dipersiapkan untukmu. Setelah itu, sesuatu yang paling mulia, tinggi, dan baik akan menghampirimu.

Dunia ini akan fana, hilang, dan lenyap. Dunia adalah negeri segala bahaya, ujian, serta kegelisahan. Tidak ada seorang pun yang tenang kehidupannya di dunia ini, apalagi jika ia adalah orang yang bijaksana. Disebutkan dalam sebuah pepatah, "Jiwa orang yang bijaksana tidak akan tenang di dunia, begitu juga orang yang mengingat kematian." Barang siapa yang binatang buas berada di hadapannya membuka mulutnya dan mendekatinya, maka bagaimana ia bisa tetap di tempatnya dan kedua matanya bisa dipejamkan.

Wahai orang-orang yang lalai, kuburan telah membuka "mulutnya". "Binatang buas kematian" telah membuka mulutnya. Di antara ribuan orang, hanya ada satu orang yang berada dalam keadaan sadar dan tidak lalai. Orang yang sadar itu zuhud dalam segala hal seraya berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui segala sesuatu yang aku inginkan, 'piring- piring' ini telah aku berikan kepada para makhluk-Mu. Aku menginginkan sesuap saja dari 'piring' kedekatan-Mu. Aku menginginkan sesuatu yang khusus dari-Mu." Wahai orang yang mempersekutukan-Nya dengan berbagai sarana, jika kamu mencicipi makanan dengan tawakkal, maka kamu tidak akan menyekutukan-Nya dengan sarana. Kamu akan duduk di pintu-Nya seraya bertawakkal kepada-Nya dan mempercayai- Nya.

Celakalah dirimu, apakah kamu tidak malu kepada-Nya? kamu meninggalkan usaha dan meminta-minta kepada orang lain. Usaha merupakan awal dan tawakkal menjadi akhirnya. Aku tidak melihat yang awal dan akhir pada dirimu. Aku mengatakan kebenaran kepadamu dan aku tidak malu. Dengarlah dan terimalah, janganlah menentangku, karena menentangku sama saja dengan menentang Al-Haq 'Azza waJalla.

Jagalah shalat secara keseluruhan, karena shalat merupakan hubungan antara kamu dengan Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda:

"Jika seorang mukmin masuk dalam shalatnya dan menghadirkan hatinya di hadapan Tuhannya, maka kilauan cahaya dipancangkan di sekelilingnya, para malaikat berdiri di sekelilingnya, orang-orang yang baik turun baginya dari langit, dan Al-Haq 'Azza waJalla bangga dengannya”
Di antara orang-orang yang shalat, ada orang yang hatinya keluar menuju Al-Haq 'Azza wa Jalla\ sebagaimana keluarnya burung dari sarangnya. Ia laksana anak kecil yang lepas dari tangan ibunya. Ia diangkat dari pangkuan, yaitu dari pengetahuan dan ketenangan yang dijauhkan darinya. Sehingga, seandainya kepalanya dipenggal dan kulitnya dicabik, ia tidak akan merasakannya. Disebutkan dalam sebuah kisah tentang seorang pemimpin yang juga termasuk sahabat Rasulullah Saw., yaitu Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, anak laki-laki saudara perempuan Aisyah, bahwasanya pada suatu ketika, kaki Urwah terluka dan bernanah. Maka, dikatakan kepadanya, "Kaki ini harus diamputasi. Jika tidak, maka seluruh badanmu akan rusak." Lalu, Urwah berkata kepada dokter, "Amputasilah kakiku ketika aku sedang shalat." Kemudian, dokter itu mengamputasi dan membalut kaki Urwah ketika ia berada dalam posisi sujud. Dan, ia pun tidak merasakan sakit sama sekali”

Kalian itu omong-kosong jika dikaitkan dengan orang- orang terdahulu. Kalian hanya bisa berbicara tanpa berbuat, memiliki bentuk tanpa arti, dan ditunggu tanpa kabar. Celakalah dirimu, janganlah kamu tertipu dengan kata-kata orang lain. Kamu harus mengenal keadaan baik dan buruk yang akan kamu jalani. Allah Swt. berfirman:

"Bahkan, manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri." (QS. al-Qiyaamah [75]: 14).

Alangkah baiknya kamu di tengah-tengah orang awam dan orang khusus. Sebagian syekh berkata kepada para sahabatnya, "Jika kalian dizhalimi maka janganlah menzhalimi. Bila dipuji maka janganlah senang. Apabila dicela maka janganlah bersedih. Jika didustai maka janganlah murka. Dan, bila dikhianati maka janganlah mengkhianati." Alangkah indahnya kata-kata ini. Syekh tersebut memerintahkan sahabatnya untuk menyembelih hawa nafsu. Sebenarnya, perkataan itu diambil dari sabda Rasulullah Saw. sebagaimana berikut:

"Malaikat Jibril As. menghampiriku dan berkata, 'Al-Haq 'Azza wa Jalla berfirman kepadamu, 'Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah silaturahmi terhadap orang yang memutuskanmu, berilah sesuatu kepada orang yang tidak memberimu, serta pikirkanlah nikmat-nikmat Allah S w t., ciptaan-Nya, dan semua perbuatan-Nya terhadap para hamba- Nya.”

Jika kamu zuhud di dunia dan kezuhudanmu itu benar-benar nyata, maka dunia akan mendatangimu dalam tidurmu dalam bentuk seorang perempuan yang tunduk kepadamu seraya berkata, "Aku adalah pelayanmu dan kamu memiliki banyak tabungan yang tersimpan padaku, maka ambillah dariku." Lalu, kamu menghitung semua bagianmu, baik kecil maupun besar. Bila makrifatmu kuat maka dunia akan menghampirimu, sedangkan kamu sudah dalam keadaan sadar. Awal keadaan para nabi adalah ilham dan keadaan mereka yang kedua ialah tidur. Bila keadaan mereka kuat, maka malaikat mendatangi mereka dengan bentuk nyata seraya berkata, ' Al-Haq 'Azza wa Jalla mengatakan ini dan itu kepada kalian."

Jadilah orangyang berakal, tinggalkanlah kepemimpinanmu, marilah duduk di sini layaknya anggota jamaah yang lain, agar perkataanku bisa tumbuh di dalam hatimu. Jika kamu memiliki akal maka kamu akan duduk bersahabat denganku, kamu akan merasa cukup dengan satu suapan yang aku berikan setiap hari dan akan sabar menghadapi kasarnya perkataanku. Setiap orang yang memiliki keimanan, maka ia akan kokoh dan tumbuh. Dan, barang siapa yang tidak memiliki keimanan, maka ia akan lari dariku. Celakalah dirimu wahai orang yang mengklaim melihat keadaan selain Allah Swt., bagaimana kami akan membenarkanmu, sementara kamu sendiri tidak memperhatikan keadaanmu?! Semua yang ada di dalam dirimu adalah kedustaan, maka bertaubatlah.

Ya Allah, karuniakanlah kami kebenaran dalam segala keadaan. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani