Monday, February 4, 2013

Mahar Cinta untuk Kekasih #1

Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:
"Dustalah pengakuan seseorang yang mencintai-Ku, tatkala malam menghampiri, ia malah tidur mengabaikan-Ku."

Jika kamu menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai Allah Swt., maka kamu akan merasa tersiksa oleh tidurmu, kecuali tidur yang tidak disengaja. Orang yang mencintai itu lelah, dan yang dicintai selalu tenang. Orang yang mencintai adalah pencari, sedangkan yang dicintai ialah yang dicari. Rasulullah Saw. bersabda bahwa Allah Swt. berfirman kepada Malaikat Jibril, "Wahai Jibril, tidurkanlah fulan dan bangunkanlah ia.” Firman ini memiliki dua bentuk. Pertama, Dia berfirman, "Bangunkanlah fulan yang mencintai dan tidurkanlah fulan yang dicintai. Orang yang mengakui mencintai-Ku harus Aku berikan tantangan dan menempatkannya pada posisi yang seharusnya, agar 'dedaunan' yang tumbuh di dalam hatinya menjadi berguguran. Bangunkanlah ia agar jelas bukti pengakuannya serta terwujud rasa cintanya. Dan, tidurkanlah ia, karena ia adalah orang dicintai yang telah lama mengalami kelelahan. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa baginya untuk selain cliri-Ku. Aku mengambil cintanya untuk- Ku. Pengakuannya terbukti, begitu juga dengan keterangannya dan pelaksanaannya terhadap janji-Ku. Taubatnya menghampiri-Ku, begitu juga dengan penunaiannya terhadap janji-Ku. la adalah tamu. Seorang tamu tidak diminta melayani dan bekerja. Tidurkanlah dirinya di kamar kelembutan-Ku, dudukanlah dirinya pada meja makan karunia-Ku, serta tenangkanlah dirinya dengan kedekatan kepada-Ku. Kasih sayangnya sungguh benar. Oleh karena itu, lenyaplah seluruh beban dirinya."

Kedua, Dia berfirman, "Tidurkanlah fulan, karena ia menginginkan ridha makhluk melalui ibadahnya kepada-Ku. Bangunkan lah fulan, karena ia ingin mendapatkan ridha-Ku dengan cara beribadah kepada-Ku. Tidurkanlah fulan, karena Aku membenci suaranya. Bangunkanlah fulan, karena Aku ingin mendengarkan suaranya."

Orang yang mencintai akan menjadi orang yang dicintai jika hatinya bersih dari selain Allah Swt., sehingga ia tidak berharap meninggalkan-Nya. Hati akan bisa sampai ke tingkatan ini lantaran menunaikan berbagai ibadah fardhu, bersabar menghadapi perkara-perkara yang haram dan syubhat, mengonsumsi sesuatu yang mubah dan halal, meninggalkan hawa dan syahwat, bersikap dengan wara', serta melakukan kezuhudan yang sempurna, yaitu meninggalkan selain-Nya, menyelisihi hawa, nafsu, dan setan, serta menyucikan hati dari para makhluk, sampai sama baginya antara pujian dan celaan, atau diberikan nikmat dan tidak diberikan.

Hal pertama dalam masalah ini ialah penyaksian bahwa tiada Tuhan melainkan Allah Swt., dan akhirnya adalah merasa sama antara rumah dan tanah. Orang yang benar hatinya dan bersambung dengan Tuhannya, baginya sama saja antara rumah dan tanah, pujian dan celaan, sakit dan sehat, kaya dan fakir, serta dunia menghampirinya atau membelakanginya. Barang siapa memiliki hal ini, maka matilah hawa dan nafsunya, padamlah api tabiatnya, setan tunduk kepadanya, dunia dan para pemiliknya merasa hina di hatinya, kemudian ia berpaling dari semua itu dan menghampiri Penguasanya, sehingga hatinya bisa melangkah di tengah-tengah makhluk menuju kepada-Nya. Dalam kondisi semacam itu, ia dipanggil sebagai orang yang agung di seluruh semesta, dan seluruh makhluk berada di bawah kaki hatinya. Mereka berlindung dengan bayangannya.

Janganlah gelisah. Janganlah kamu mengakui sesuatu yang tidak kamu miliki dan tidak ada di dekatmu. Sebab, pada waktu itu, nafsumu sedang menguasaimu; makhluk dan dunia berada di dalam hatimu. Keduanya lebih besar di hatimu daripada Allah Swt. Kamu keluar dari batasan janji yang Dia janjikan kepada mereka. Jika kamu ingin mendapatkan sesuatu yang aku tunjukkan sebelumnya maka sibukkanlah dirimu dengan menyucikan hati dari segala sesuatu. Bila kamu merupakan orang berakal yang merupakan bagian dari orang-orang yang sadar dan selalu merasa diawasi, maka kamu akan bisu di hadapan Tuhanmu. Kamu akan melihat semua perbuatan-Nya merupakan kenikmatan bagimu.

Ingatlah orang-orang yang lapar ketika sedang kelaparan, orang-orang telanjang yang tidak memiliki pakaian, orang-orang sakit yang sedang meronta, dan orang-orang di dalam penjara yang merana. Dengan mengingat semua itu, musibah yang menimpamu akan semakin ringan. Ingatlah keadaan para penghuni kubur pada hari kiamat kelak. Ingatlah ilmu Allah Swt., pandangan-Nya, dan karunia-Nya kepadamu, sehingga kamu merasa malu.

Jika kamu merasa penat dengan suatu urusan maka ingatlah dosa-dosamu, bertaubatlah dan katakanlah kepada dirimu sendiri, "Karena dosa-dosaku inilah, Al-Haq 'Azza wa Jalla menyempitkan kehidupanku." Apabila kamu sudah bertaubat dari semua dosa dan bertakwa kepada-Nya, maka Dia akan menjadikan bagimu kelapangan dari setiap kegelisahan, dan memberikan jalan keluar dari segala kesempitan. Allah Swt. berfirman:

"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada dtsangka-sangkanya...." (QS. ath-Thalaaq [65]: 2-3).

Orang yang berakal adalah orang yang jujur dan berbeda dengan kejujurannya dari para pendusta. Jadikanlah kejujuran sebagai pengganti dusta, konsisten sebagai pengganti plinplan, menghampiri sebagai pengganti membelakangi, sesuai sebagai pengganti bertentangan, dan yakin sebagai pengganti keraguan. Bila kamu sudah sesuai dengan garis-garis yang diajarkan oleh Allah Swt. dan tidak menentang, bersyukur dan tidak kufur, ridha dan tidak murka, serta tenang dan tidak ragu-ragu, maka dikatakan kepadamu:

"...Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya"(QS. az-Zumar [39]: 36).

Celakalah kamu, semua yang kamu tempati dan jalani adalah keresahan di dalam keresahan. Allah Swt. tidak akan melihatnya. Perkara ini tidak akan pernah muncul dengan amalan-amalan fisik, melainkan dengan amalan-amalan hati. Rasulullah Saw. bersabda seraya menunjuk dada beliau:
"Zuhud itu berada di sini. Takwa itu berada di sini. "

Barang siapa yang menginginkan kemenangan, maka jadilah tanah di bawah kaki para syekh. Bagaimana sifat para syekh itu? Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dan para makhluk, menjauhi keduanya dan semua yang ada di bawa 'Arsy sampai bumi, yaitu langit dengan segala isinya, dan bumi dengan segala kandungannya. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan segala sesuatu layaknya orang yang tidak akan kembali lagi, meninggalkan semua makhluk dan nafsu mereka secara umum, sehingga mereka mendapati bersama Tuhan mereka dalam segala keadaan.

Setiap orang yang mencari persahabatan dengan Al-Haq 'Azza wa Jalla, namun disertai dengan nafsu, maka ia berada dalam kegelisahan dan kesia-kesiaan. Barang siapa yang benar kezuhudan dan tauhidnya, maka ia tidak akan melihat tangan para makhluk dan wujud mereka, serta tidak melihat pemberi karunia selain-Nya.

Wahai penduduk dunia, alangkah butuhnya kalian mendengarkan perkataan ini. Wahai orang-orang yang zuhud dengan kejahilan, alangkah butuhnya kalian mendengarkan perkataan ini. Sebagian besar orang yang zuhud dan ahli ibadah adalah hamba makhluk dan mempersekutukan Allah Swt. dengan mereka.

Wahai orang-orang yang ikhlas, larilah dari kesyirikan menuju pintu Tuhan kalian. Janganlah lari menjauhi segala bahaya. Jika kalian berdiri di depan pintu-Nya, kemudian berbagai bahaya menghampiri kalian, maka berpeganglah dengan pintu itu, karena pintu tersebut akan membela kalian dengan tauhid dan wibawa kejujuran kalian. Bila bahaya-bahaya masih menghampiri kalian maka kalian harus konsisten/kokoh dan membaca firman-Nya berikut:

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat" (QS. Ibrahim [14]: 27).
"...Maka, Allah akan memelihara kamu dari mereka Dan, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. al-Baqarah {2}: 137).
"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba- Nya...."(QS. az-Zumar [39]: 36).

Dan, perbanyaklah membaca hauqalah (LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL 'ALIYYIL 'AZHIIM), istighfar, tasbih, serta mengingat Al-Haq 'Azza waJalla.

Dengan kejujuran, seseorang akan diamankan dari segala bahaya, nafsu, hawa, dan setan. Alangkah banyaknya nasihat yang sudah aku beri tahukan kepada kalian, namun kalian tidak mengetahuinya. Ingatlah firman Allah Swt. berikut:

"Dan, barang siapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk...." (QS. al-Israa' [ 17]: 97).

"Dan, barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak
seorang pun yang dapat menyesatkannya" (QS. az-Zumar [39]: 37).

"Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk—" (QS. al-A'raaf [7]: 186).

Rasulullah Saw. suka memberikan petunjuk kepada orang- orang yang sesat dan berharap hidayah bagi mereka. Namun, Allah Swt. mewahyukan kepada beliau:
"Sesungguhnya, kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya...." (QS. al-Qashash [28]: 56).

Beliau sendiri juga bersabda:
“Aku diutus dengan hidayah, dan aku tidak memiliki hidayah sedikit pun."