Monday, February 4, 2013

Konsep Sabar

Rasulullah Saw. bersabda:
"Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berarti."

Setiap orang yang bagus keislamannya dan berhasil mewujudkannya, maka ia akan menghampiri sesuatu yang berarti dan berpaling dari hal-hal yang tidak berguna. Sibuk dengan sesuatu yang tidak bermanfaat merupakan kesibukan para pengangguran yang galau. Orang yang tidak mendapatkan ke- ridhaan dari Allah Swt. ialah orang yang tidak mengamalkan segala yang diperintahkan kepadanya, serta sibuk dengan sesuatu yang tidak diperintahkan. Inilah bentuk keterhalangan, kemurkaan, dan pengusiran yang nyata.
Celakalah kamu, kerjakanlah perintah dan tinggalkanlah larangan, terimalah segala cobaan, serta serahkanlah dirimu kepada takdir; tanpa perlu bertanya alasannya. Pandangan Allah Swt. kepadamu yang disertai dengan ilmu-Nya telah mengenaimu. Dan, hal itu lebih baik dari pandanganmu terhadap dirimu sendiri yang diselimuti kejahilan terhadap Tuhanmu. Puaslah dengan segala pemberian-Nya, sibuklah dengan mensyukuri-Nya, dan janganlah meminta tambahan., karena kamu tidak mengetahui letak kebaikan-Nya.

Bersikap tidak tergantung dengan dunia menjadikan nyaman bagi orang zuhud (zahid) yang taat. Beratnya zuhud itu dirasakan oleh badan, beratnya makrifat dirasakan oleh hati, dan beratnya kedekatan dengan Allah Swt. dirasakan oleh relung jiwa. Zuhudlah, qana'ahlah, bersyukurlah, dan ridhalah dengan Tuhanmu, serta jangan ridha kepada nafsumu. Berbaik sangkalah kepada-Nya dan berburuksangkalah kepada nafsumu. Tinggalkanlah syahwat, karena hal itu merupakan kesembuhan serta kejernihan hati. Kenyang dengan yang halal akan membutakan hati, lantas bagaimana jika kenyang dengan yang haram?! Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda:

"Diet / kelaparan adalah pokok segala obat dan kenyang merupakan pokok segala penyakit. Biasakanlah setiap tubuh dengan sesuatu yang biasa baginya. "

Kekenyangan akan memadamkan cahaya kesadaran, lampu kebijaksanaan, dan cahaya kewalian. Selama masih bersama dunia dan para makhluk, kamu harus diet, karena kamu masih berada dalam tahap latihan. Jika hatimu sudah sampai kepada Al-Haq 'Azza wa Jalla, maka urusanmu akan kembali kepada-Nya. Dia akan memberikanmu kekuasaan; sedangkan dirimu jauh dari dirimu sendiri. Bagaimana Dia tidak akan memberikanmu kekuasaan, bila kamu sudah berhak mendapatkannya? Allah Swt. berfirman:

"Sesungguhnya, pelindungku ialah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih." (QS. al-A'raaf [7]: 196).

Wahai anakku, jangan gelisah dengan takdir yang menghampirimu, karena tidak ada seorang pun yang mampu menolak atau mengusir takdir tersebut. Semua yang diqadhakan, pasti terwujud, baik kamu ridha atau murka. Kesibukanmu di dunia membutuhkan niat yang baik. Jika tidak, kamu akan dikutuk. Katakanlah dalam setiap urusanmu, "Tiada daya dan upaya, kecuali di tangan Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia." Jadikanlah waktumu sesaat untuk dunia, sesaat untuk akhirat, sesaat untuk nafsu, sesaat untuk keluarga, dan sesaat untuk Tuhanmu. Sibuklah menyucikan hatimu terlebih dahulu, karena itu adalah kewajiban. Bila sudah seperti itu, kamu akan bisa sampai pada level makrifat. Jika kamu menyepelekan hal- hal yang pokok, maka kesibukanmu dengan perbuatan yang tidak pokok tidak akan diterima.

Kesucian anggota tubuhmu tidak akan diterima jika hatimu terkotori oleh najis. Maka dari itu, bersihkanlah anggota tubuhmu dengan sunnah, serta sucikanlah hatimu dengan mengamalkan isi al-Qur'an. Jagalah hatimu agar anggota tubuhmu terjaga. Semua yang ada dalam bejana akan dituangkan. Artinya, sesuatu yang berada di dalam hatimu dituangkan ke seluruh anggota tubuhmu. Tawadhu'-lah, karena setiap kali kamu tawadhu, maka kamu akan suci. Bila kamu tidak tawadhu berarti kamu tidak mengenal Allah Swt., para rasul-Nya, nabi-Nya, wali-Nya, hikmah-Nya, perbuatan-Nya, takdir-Nya, kekuasaan-Nya, dunia-Nya, serta akhirat-Nya.

Berapa sering kamu mendengar, namun tidak memikirkannya? Dan, berapa lama kamu memikirkannya, akan tetapi tidak mengamalkannya? Serta, berapa banyak kamu beramal, namun tidak ikhlas?! Ada atau tidak, hukumnya sama. Bila kamu datang ke sisiku dan tidak mengamalkan perkataanku, maka untuk apa kamu datang? Apakah kamu segan dengan orang-orang yang hadir? Kamu masih tetap berada di tokomu, berjalan-jalan di antara reruntuhan rumahmu. Kamu datang ke sini hanya untuk mengisi waktu lowong. Kamu mendengar seakan-akan tidak mendengarnya.

Wahai pemilik harta, lupakanlah hartamu dan marilah duduk bersama orang-orang fakir. Merendahlah kepada Allah Swt. Pada suatu waktu, Rasulullah Saw. ditanya, "Siapakah keluargamu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Setiap orang yang bertakwa adalah keluargaku."

Janganlah mendatangiku dengan langkah-langkah keturunanmu. Akan tetapi, datangilah kemari dengan langkah-langkah ketakwaanmu. Jadilah sosok yang mengerti segala sesuatu yang ada di tanganmu. Sesuatu yang ada di sisi-Nya tidak bisa diperoleh dengan mengandalkan keturunan, melainkan dengan ketakwaan. Di dalam al-Qur'an disebutkan:

.. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu..(QS. al-Hujuraat [49]: 13).

Tidak ada kebaikan pada dirimu wahai anak kecil, para pemuda, syekh, dan murid; jika kalian tidak membersihkan makanan kalian dari hal-hal yang haram. Di antara kalian, masih banyak orang yang menelan makanan yang disusupi oleh sesuatu yang nyata-nyata haram. Barang siapa yang memakan harta haram, maka hatinya akan menghitam. Dan, barang siapa yang memakan harta yang syubhat, maka hatinya akan keruh. Hawa nafsu akan membuat kalian menganggap remeh memakan harta yang haram. Nafsu dan hawa bekerja sama dalam mencari syahwat serta kenikmatan, dan keduanya tidak wara' dalam mendapatkannya. Bila kalian memberikan roti yang berwarna kumal/cokelat kepada nafsu kalian, maka nafsu itu akan meminta roti yang berwarna bersih/putih. Berikanlah roti gandum kepada nafsu kalian, agar nafsu tersebut berharap kembali pada roti yang berwarna cokelat. Jika nafsu tidak wara' terhadap makanan, maka hal itu seperti ayam yang dipelihara di dalam kandang; ayam tersebut akan memakan makanan yang najis dan suci. Barang siapa yang ingin memakan daging atau telur ayam tersebut, hendaklah ia mengurungnya dan memberinya makanan yang suci. Tahanlah diri kalian dari memakan makanan yang najis/haram.
Berilah diri kalian makanan yang halal dan suci, agar daging yang tumbuh dengan makanan yang haram menjadi sirna. Jauhilah makanan yang haram dan syubhat, serta makanan halal yang didorong oleh hawa.

Bila dikatakan kepada kalian, "Apakah kalian ingin meninggal dunia dalam keadaan mengerjakan amalan ini?" Maka, kalian menjawab, "Tidak."
Jika dikatakan, "Bertaubatlah dan perbaikilah amalan kalian." Kalian menjawab, "Bila Allah Swt. memberi kami taufiq, maka kami akan bertaubat." Kalian berdalih dengan takdir dalam pertaubatan kalian dan berdalih pula dengan takdir dalam syahwat dan kenikmatan yang kalian lakukan. Tatkala kalian berada dalam langkah "akan", serta antara tidak dan ya, maka kematian menghampiri dan mencekik kalian. Kalian dikejutkan oleh kematian; sedangkan wasiat kalian belum ditulis, dan harapan-harapan kalian masih panjang.

Pemikiran yang sehat adalah pemikiran yang membuat orang-orang yang shalih melarikan diri dari pembangunan menuju kehancuran, memusnahkan kebahagiaan dan mengabadikan kesedihan mereka. Setiap orang yang mengenal Allah Swt., maka akan banyak kesedihan dan ketakutannya. Ia memiliki pembicara yang berbicara kepadanya, dan kesibukan yang dilakukannya. Ia berharap untuk tidak mendengarkan perkataan siapa pun serta tidak bertemu siapa pun. Ia berharap bisa membebaskan diri dari keluarga dan hartanya. Ia berharap bisa berpindah dari bagiannya kepada yang lainnya. Ia berharap ada perubahan dalam tabiat dan akhlaknya agar mampu menuju Pencipta Yang Maha Kuasa.

Setiap kali ia ingin membebaskan diri dari semua itu, hukum yang telah ditetapkan baginya memboikotnya. Ia menghampirinya dengan persetujuan/tanda tangan dan ilmu, kemudian ia menjaga malam dan siangnya, sehingga ia bisa istirahat dari dunia menuju Tuhannya. Lalu, ia dikalahkan oleh makrifat kepada-Nya, sehingga hal itu menjaga zhahir dan batinnya. Fath al-Mushili—semoga Allah Swt. merahmatinya— berkata dalam munajatnya kepada Tuhannya, "Tuhanku, sampai kapan Engkau akan mengembalikanku dan menahanku di dunia. Kapankah Engkau akan memindahkanku kepada- Mu, agar aku bisa beristirahat dari dunia dan para makhluk." Perumpaan ini tidak lain hanyalah seperti perkataan Nabi Nuh As. kepada anak laki-lakinya sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

"Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (QS. Hud [11]:42).

Ada seorang pemberi nasihat berkata kepada kalian, "Marilah berlayar bersama kami dengan kapal keselamatan." Lalu, kalian menjawab, "Kami akan mendaki gunung yang akan menjaga kami dari air." Kalian telah dikendalikan oleh panjangnya angan-angan dan ketamakan terhadap dunia. Tidak lama lagi, Malaikat Maut akan menghampiri kalian, kemudian membenamkan kalian di dalam gunung itu.

Terimalah wejangan yang aku sampaikan, wahai para hamba Allah Swt. Keluarlah dari rumah kejahilan kalian. Kalian telah membangun dinding agama tanpa fondasi sama sekali. Kalian telah menghancurkannya tanpa fondasi yang harus dicabut dan dihancurkan lagi. Dunia berada dalam hati kalian dan maksiat- juga berada dalam hati kalian. Tempatkanlah diriku di antara kalian, agar aku dapat membersihkan dan menyucikan kalian dengan minuman yang aku berikan. Aku memberikan kalian "minuman" wara', zuhud, takwa, keimanan, makrifat, ilmu, dan fana dalam segala hal. Jika sudah seperti itu, wujud akan menghampiri kalian dengan Tuhan kalian, dekat kepada-Nya, serta berdzikir mengingat-Nya. Barang siapa yang menganggap hal ini benar baginya, maka ia akan menjadi matahari bagi para makhluk, memberi petunjuk serta menuntun tangan mereka menyeberang dari tepian dunia menuju daratan akhirat. Rasulullah Saw. bersabda:
"Minta tolonglah dalam setiap perbuatan dengan para pelakunya yang baik. "

Celakalah, kalian merasa cukup dengan pendapat kalian sendiri seraya berkata, "Apa yang akan kamu lakukan di dekat para ahli fiqh dan ulama?" Kalian menyangka bahwa kalian diciptakan hanya untuk bekerja, makan, minum, dan nikah. Bertaubatlah dan kembalilah sebelum kematian menghampiri kalian; sementara kalian berada dalam amalan yang buruk. Masing-masing kalian diperintahkan, dilarang, dan disuruh bersabar menghadap qadar yang menghampiri kalian. Bersabarlah menghadapi keburukan para makhluk dan tetangga, karena kesabaran itu mengandung banyak kebaikan. Kalian diperintahkan untuk bersabar serta bertanggung jawab terhadap diri kalian dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kalian. Rasulullah Saw. bersabda:
"Kalian adalah pemimpin. Dan, masing-masing kalian bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kalian pimpin.”

Bersabarlah menghadapi takdir, agar kesengsaraan berubah menjadi nikmat. Sabar merupakan dasar segala kebaikan. Para malaikat diuji, kemudian mereka bersabar. Para nabi diuji, lalu mereka bersabar. Orang-orang yang shalih juga diuji, mereka tetap bersabar. Dan, kalian adalah peninggalan mereka, maka berbuatlah seperti perbuatan mereka. Jika hati itu benar/sehat, maka ia tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihi atau sesuai dengannya, orang-orang yang memuji atau mencelanya, orang-orang yang memberi atau bakhil kepadanya, orang-orang yang mendekatinya atau menjauhinya, serta orang-orang yang menerima atau menolaknya. Sebab, hati yang sehat telah dipenuhi dengan tauhid, tawakkal, yakin, taufiq, ilmu, iman, dan dekat kepada-Nya. Ia melihat seluruh makhluk dengan pandangan kelemahan, kehinaan, dan kefakiran. Bersamaan dengan itu, ia tidak sombong terhadap orang yang ada di bawahnya. Ia menjadi layaknya binatang buas ketika bertemu dengan orang-orang kafir, munafik, dan para pelaku maksiat. Namun, ia tawadhu' dan merendahkan diri terhadap orang- orang yang shalih, bertakwa, dan wara'. Allah Swt menyifati orang ini di dalam firman-Nya sebagaimana berikut:

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...." (QS. al-Fath [48}: 29).

Bila seorang hamba benar, maka ia berada di balik logika makhluk dan perintah-Nya. Ia tampak dan menjadi sesuai dengan firman-Nya:
"...Dan, Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. " (QS. an-Nahl [16]: 8).

Semua ini adalah buah dari tauhid, ikhlas, dan kesabaran. Semua kebaikan berada di bawah kaki kesabaran. Oleh karena itu, Dia mengulang-ulang penyebutannya dan menegaskan perintah-Nya dengan firman-Nya berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran [3]: 200).

Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang sabar dan mengikuti mereka, baik dalam perkataan maupun perbuatan, khalwat (sendirian) maupun jalwah (terang-terangan), serta lahir maupun batin dalam segala keadaan kami. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani