Sunday, February 3, 2013

Kembali kepada Allah Swt

Wahai anakku, jika hati telah mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam al-Qur'an dan sunnah, maka hati itu akan dekat kepada Allah Swt. Bila sudah demikian, maka hati tersebut dapat mengetahui dan melihat kebaikan serta keburukan yang ada di dalam dirimu, mampu membedakan segala sesuatu yang menjadi hak Allah Swt. dan hak selain-Nya, serta bisa memilah antara yang benar dengan yang batil. Apabila seorang mukmin memiliki cahaya yang dapat digunakan untuk melihat, maka bagaimana ia tidak akan menjadi seseorang yang jujur dan dekat kepada-Nya? Seorang mukmin itu memiliki cahaya yang digunakannya untuk melihat. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda:

"Takutlah dengan firasat seorang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya-Nya."
“Diriwayatkan oleh Timiidzi, dalam Sunan at-Tirmidzi, at-Tafsir, Min Surat al-Hijr, 3127, dari Abu Said al-Khudri Ra. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Al-firdaus, 6554 dari Ibnu Abbas Ra. dengan lafazh, 'Seorang mukmin melihat dengan cahaya Allah Swt. yang diciptakan oleh-Nya."

Orang yang arif serta dekat kepada-Nya juga diberikan cahaya yang dapat membuatnya mampu melihat kedekatannya dengan Tuhannya, melihat kedekatan Tuhannya dari hatinya, arwah para nabi, hati para shiddiqin, serta keadaan dan kedudukan mereka. Semua ini berada di dalam hati dan kejernihan relung jiwa. Ia selalu berada dalam kebahagiaan bersama Tuhannya. Di antara mereka, ada orang yang alim lisan dan hatinya. Sedangkan, orang munafik ialah orang yang alim lisannya dan buruk hatinya. Seluruh ilmu orang munafik hanya berada pada lisannya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda:

"Sesuatu yang paling aku takutkan dari umatku adalah orang munafik yang alim lisannya."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam Al-Kamil dari Abu Utsman an-Nahdi, ia berkata, "Aku berada di bawah mimbar Umar bin Khathab ketika ia sedang berkhutbah di hadapan khalayak, la berkata dalam khutbahnya, 'Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, 'Hal yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang alim lisannya." Al-Kamil Fi Dhuafa' ar-Rijal, jilid 111/970).

Wahai anakku, jika kamu menemuiku, maka simpanlah ilmu dan sikap riyamu. Masuklah dalam keadaan bangkrut tanpa membawa apa pun. Apabila kamu menemuiku untuk memperlihatkan ilmu dan dirimu, maka terbukalah hijab dari- mu. Celakalah dirimu, kamu membenciku karena aku menyampaikan kebenaran dan mendebatmu. Tidak ada yang membenci dan menjahiliku, kecuali orang yang jahil terhadap Allah Swt., banyak bicara, serta sedikit bertindak. Tidak ada yang mencintaiku, kecuali orang yang mengenal-Nya, banyak beraktivitas, dan sedikit bicara. Orang yang ikhlas selalu mencintaiku, sedangkan orang munafik senantiasa membenciku. Orang yang mengikuti sunnah pasti mencintaiku, sedangkan para ahli bid'ah terus membenciku.

Bila kamu mencintaiku, maka manfaatnya akan kembali kepadamu. Sedangkan, jika kamu membenciku, maka bahayanya juga kembali kepadamu. Aku tidak berdiri bersama pujian para makhluk dan celaan mereka. Tidak ada yang aku takutkan serta harapkan di muka bumi ini, baik dari kalangan manusia, jin, maupun hewan. Aku hanya takut kepada Allah Swt. Setiap kali Dia memberiku keamanan, maka ketakutkanku kepada-Nya semakin bertambah, karena Dia bisa melakukan apa pun yang diinginkan-Nya. Disebutkan di dalam al-Qur'an:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai." (QS. al-Anbiyaa' [21]: 23).

Wahai anakku, janganlah sibuk mencuci pakaian badanmu dan membiarkan "pakaian" hatimu penuh kotoran. Cucilah hatimu terlebih dahulu, setelah itu cucilah pakaianmu. Kumpulkanlah antara dua cucian dan dua kesucian; cucilah pakaian mu dari kotoran dan cucilah hatimu dari dosa. Janganlah tertipu dengan sesuatu, karena Tuhanmu melakukan apa pun yang diinginkan-Nya. Dikisahkan dari seorang yang shalih bahwa ia mengunjungi saudaranya fi sabilillah, kemudian ia berkata kepada saudaranya, "Wahai saudaraku, marilah ke sini untuk menangisi ilmu-Nya yang ada pada diri kita."

Alangkah indahnya ucapan tersebut. Ia benar-benar mengenal Allah Swt. dan mendengar sabda Rasulullah Saw. sebagaimana berikut:

"Salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan penduduk surga, sampai tidak ada jarak antara dirinya dengan surga, kecuali satu depa. "

Wahai anakku, kamu hanya akan bisa menyaksikan ilmu Allah Swt. yang ada di dalam dirimu ketika kamu kembali kepada-Nya dengan hati dan keinginanmu secara totalitas, menjaga pintu rahmat-Nya, membuat "dinding besi" antara dirimu dengan syahwatmu, menjadikan kuburan serta kematian berada di hadapan kedua mata dan hatimu, merasa diawasi oleh pandangan-Nya, merasa cukup dengan kefakiran, ridha dengan kebangkrutan, merasa cukup dengan yang sedikit, dan tetap menjaga aturan-aturan agama, yaitu menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, serta bersabar menghadapi qadar yang menghampiri. Apabila kamu terus-menerus berada dalam keadaan seperti ini, maka hatimu akan bertemu dengan-Nya, dan relung jiwamu akan menemui-Nya. Ketika itu, segala sesuatu akan terbuka untukmu. Kamu akan melihat dengan mata hati dan menjadi seseorang sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Ra., "Bila tutup itu dibuka, maka keyakinanku akan bertambah." Lalu, ditanyakan kepadanya, "Apakah kamu melihat Tuhanmu?" Maka, ia menjawab, "Aku tidak akan menyembah Tuhanku, bila aku tidak melihat-Nya."


Ada orang shalih ditanya, "Apakah kamu melihat Tuhanmu?" Lalu, ia menjawab, "Bila aku tidak melihat-Nya, maka aku akan meninggalkan tempatku."

Kemudian, ada yang bertanya lagi, "Bagaimana kamu melihatnya?" Ia menjawab, "Apabila para makhluk keluar dari hati seorang hamba dan tidak tersisa di dalamnya, kecuali Al-Haq 'Azza waJalla, maka ia akan melihat-Nya dan mendekati-Nya sesuai keinginan-Nya. Dia akan memperlihatkan diri-Nya sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah Saw. pada malam mi'raj.  Dia akan memperlihatkan diri-Nya kepada hamba ini, mendekatinya, dan berbicara dengannya dalam keadaan tidur. Terkadang, Dia menarik hati hamba tersebut agar dekat kepada-Nya dalam keadaan sadar. Dia menutup kedua mata kepalanya, sehingga ia melihat-Nya dengan kedua mata hatinya."

Barang siapa yang ubudiyah, ma'budiah, dan makrifatnya terwujud, maka ia tidak akan berkata, "Perlihatkanlah kepadaku dan janganlah hanya melihat kepadaku." Ia menjadi fana dan larut. Oleh karena itu, sebagian orang yang sampai pada maqam ini berkata, "Apa kewajibanku terhadap diriku sendiri?" Alangkah bagusnya perkataan seseorang berikut, Aku adalah hamba-Nya, dan seorang hamba tidak memiliki pilihan terhadap Tuhannya, tidak juga keinginan." Seseorang yang membeli budak yang ahli agama dan shalih, kemudian orang tersebut berkata kepadanya, "Wahai budak, apa yang ingin kamu makan?" Lalu, budak itu menjawab, "Aku akan memakan segala sesuatu yang kamu berikan kepadaku." Lalu, ia bertanya lagi, "Apa yang ingin kamu pakai?" Budak tersebut menjawab, ' Aku akan mengenakan pakaian yang kamu berikan kepadaku." Kemudian, ia bertanya, "Di bagian mana kamu ingin duduk di rumahku ini?" Budak ini menjawab, "Aku duduk di tempat kamu mengizinkan aku duduk di situ." Lalu, ia bertanya, "Kesibukan apakah yang ingin kamu kerjakan?" Ia menjawab, "Aku sibuk dengan segala sesuatu yang kamu perintahkan kepadaku."

Setelah mendengar jawaban budak tersebut, orang itu menangis dan berkata, "Beruntunglah, kamu bersama Tuhanmu dalam keadaan sebagaimana kamu bersamaku." Lalu, budak itu berkata, "Wahai tuanku, apakah seorang hamba memiliki keinginan dan pilihan terhadap tuannya?" Orang tersebut menjawab, "Kamu merdeka karena Allah Swt. dan aku ingin kamu tinggal bersamaku, agar aku bisa melayanimu dengan diriku dan hartaku." Setiap orang yang mengenal Allah Swt., maka ia tidak akan memiliki keinginan dan pilihan. Ia akan berkata, "Apa kewajibanku terhadap diriku sendiri." Kemudian, ia tidak menentang qadar dalam segala urusan-Nya dan urusan selain- Nya.

Dengarlah wahai para pembangkang, pendebat, dan orang-orang yang buruk adabnya, dengarkanlah ucapanku berikut, "Aku memberikan motivasi kepada kalian untuk berpegang kepada al-Qur'an dan sunnah. Setiap pemilik hati yang dekat kepada Allah Swt., maka aku katakan ini tidak asing baginya. Para hamba-Nya yang bersikap zuhud terhadap para makhluk, maka senang membaca al-Qur'an dan sabda Rasulullah Saw. Oleh karena itu, tidak salah jika mereka memiliki hati yang senang dengan-Nya serta dekat kepada-Nya. Dengan itu, mereka bisa melihat diri sendiri dan orang lain. Hati mereka dalam keadaan sehat, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari mereka. Mereka berbicara dengan pemikiran-pemikiran yang terlintas di dalam kepala mereka, dan memberitahukan sesuatu yang ada di dalam rumah mereka."

Celakalah kamu, jadilah orang yang berakal, janganlah menghadapi suatu kaum dengan kejahilan. Setelah kamu keluar dari ruangan, kemudian berbicara kepada orang lain mengenai tinta hitam yang mengenai tangan dan pakaianmu, kamu merasa bangga berbicara kepada mereka. Ini adalah perkara yang membutuhkan pelurusan, baik zhahir maupun batin. Kemudian, kamu fana dengannya dari segala sesuatu.

Wahai orang-orang yang lalai, ingatlah hari kiamat, baik kiamat khusus maupun kiamat umum. Kiamat khusus adalah kematian salah seorang di antara kalian, dan kiamat umum adalah hari yang dijanjikan oleh Allah Swt. Ingatlah firman- Nya berikut:

"(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga." (QS. Maryam [19]: 85-86).

Orang-orang yang bertakwa benar-benar akan dikumpulkan, sedangkan orang-orang yang bermaksiat benar-benar akan digiring. Semoga Allah Swt. merahmati para hamba yang mengingat hari kiamat dan orang-orang bertakwa pada hari ini agar dikumpulkan bersama para hamba itu pada hari yang dijanjikan tersebut.

Wahai orang-orang yang meninggalkan ketakwaan, pada hari kiamat kelak, orang-orang yang bertakwa dikumpulkan bersama-bersama dan diberi kendaraan menuju Ar-Rahman 'Azza wa Jalla. Mereka dikawal oleh para malaikat. Amalan-amalan mereka memiliki berbagai bentuk. Mereka mengendarai kereta, dan kereta mereka adalah amalan mereka, begitu juga dengan perhiasan dan imamah (kopiah) mereka. Di antara mereka, ada orang yang memiliki amalan yang berbentuk indah dan ada pula yang menjijikkan. Kunci ketakwaan adalah taubat. Dan, konsisten bertaubat merupakan kunci kedekatan kepada-Nya. Taubat ialah akar dan cabang seluruh kebaikan. Oleh karena itu, orang-orang shalih tidak bisa meninggalkannya dalam segala keadaan mereka.

Bertaubatlah wahai para pendosa dan pelaku maksiat. Berdamailah dengan  Tuhan kalian dengan cara bertaubat. Ini ditujukan kepada hati yang tidak layak diberikan kepada Al-Haq 'Azza wa Jalla,
yaitu hati yang di dalamnya terdapat sebiji dunia dan tamak dengan makhluk. Bila kalian ingin bersahabat dengan-Nya, maka keluarkanlah semua itu dari hati kalian. Ini tidak akan memudharatkan kalian sama sekali. Bila kalian berhubungan dengan-Nya, maka dunia dan makhluk akan menghampiri kalian. Kalian akan bersama-Nya di pintu-Nya. Ini adalah sesuatu yang sudah dibuktikan, yaitu dipraktikkan oleh orang-orang yang zuhud; meninggalkan dunia dan wara'.

Wahai anakku, kamu harus mengikhlaskan amal kepada-Nya dalam shalat, puasa, haji, zakat, dan semua perbuatanmu. Buatlah janji sebelum kamu sampai kepada-Nya. Janji ini tidak lain hanyalah tauhid, ikhlas, menjalankan sunnah, sabar, syukur, menyerahkan diri, tidak tergantung kepada makhluk, meminta kepada-Nya, berpaling dari selain-Nya, serta menghampiri-Nya dengan hati dan jiwa. Tidak ada salahnya Dia memberikanmu kedekatan di dunia serta kezuhudan dari segala sesuatu. Cinta diserahkan kepada-Nya, begitu juga dengan kerinduan. Di akhirat, cinta akan memberikanmu kedekatan kepada-Nya dan segala nikmat-Nya yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengarkan telinga, serta terlintas dalam pikiran manusia.

Wahai anakku, bergantunglah dengan tali rahmat Tuhanmu. Jika iblis menghampirimu yang kemungkinan dapat menipumu, maka mintalah bantuan kepada-Nya agar Dia menjauhkan iblis darimu. Mintalah bantuan-Nya sebagaimana orang-orang sebelummu meminta bantuan kepada-Nya. Perbaikilah amalmu serta prasangkamu terhadap-Nya. Berbaik sangka yang disertai dengan ketaatan kepada-Nya akan memberikanmu banyak hal. Berbaik sangka kepada-Nya, para nabi-Nya, rasul-Nya, dan orang-orang shalih mengandung banyak kebaikan.

Celakalah dirimu, kamu mengklaim menjadi orang sufi, padahal dirimu penuh dengan kekeruhan. Orang sufi adalah orang yang batin dan zhahirnya jernih dengan mengikuti al-Qur'an dan sunnah. Setiap kali kejernihannya bertambah, maka ia akan semakin keluar dari lautan wujudnya, serta meninggalkan keinginan, pilihan, dan hasratnya. Barang siapa yang jernih hatinya, maka Rasulullah Saw. akan menjadi perantara antara dirinya dengan Tuhannya. Dasar kebaikan adalah mengikuti beliau, baik dalam perkataan maupun perbuatan beliau.

Setiap kali hati seorang hamba semakin jernih, maka ia dapat melihat Rasulullah Saw. dalam mimpinya yang memerintahkan atau melarangnya dengan sesuatu. Semuanya tergantung pada hati dan dipisahkan sesuai dengan niatnya. Semuanya menjadi rahasia, tanpa kejelasan. Semuanya menjadi jernih, tanpa kekeruhan. Mengeluarkan segala sesuatu dari hati dan mencabut gunung-gunung yang besar membutuhkan tenaga yang besar, serta kesabaran menghadapi berbagai kepedihan dan bahaya. Janganlah meminta sesuatu yang tidak ada di tangan kalian.

Beruntunglah kalian karena telah mengamalkan as-sawad (kehitaman) ini dari al-bayadh (keputihan), dan kalian menjadi orang muslim. Beruntunglah kalian, jadilah bagian dari kumpulan kaum muslimin pada hari kiamat, dan janganlah menjadi bagian dari orang-orang yang kafir. Beruntunglah kalian karena menetap di tanah surga atau di pintunya, serta tidak menjadi penghuni neraka. Tawadhu'-lah dan janganlah sombong. Tawadhu' akan meninggikan, sedangkan sombong akan menjatuhkan. Rasulullah Saw. bersabda:
"Barang siapa yang tawadhu', maka Allah Swt. akan meninggikannya. "

Demi Allah, para hamba yang mengamalkan berbagai kebaikan itu layaknya gunung, mereka tawadhu' kepada Allah Swt. dan berkata, "Kami tidak memiliki amalan apa pun yang akan memasukkan kami ke dalam surga. Kami dapat masuk ke dalamnya karena rahmat-Nya. Apabila kami tidak memasukinya, maka itu karena keadilan-Nya." Mereka selalu berdiri bersama-Nya dengan kaki kebangkrutan. Maka dari itu, bertaubatlah dan akuilah kekurangan serta kelemahan kalian. Taubat adalah kehidupan. Al-Haq 'Azza wa Jalla menghidupkan bumi setelah kematiannya dengan hujan, dan menghidupkan hati setelah kematiannya dengan taubat dan kesadaran.

Wahai para pelaku maksiat, janganlah putus asa terhadap rahmat Tuhan kalian. Wahai orang-orang yang mati hatinya, teruslah mengingat Tuhan kalian, membaca kitab-Nya, menjalankan sunnah nabi-Nya, serta menghadiri majelis-majelis dzikir. Hati kalian telah hidup; sebagaimana hidupnya tanah yang mati dengan turunnya hujan. Terus-menerus berdzikir merupakan perantara yang akan mengabadikan kebaikan di dunia dan akhirat. Jika hati sehat, maka dzikir selalu bersamanya, ditetapkan di segala sisinya dan di seluruh bagiannya, sehingga kedua mata dan hatinya tertidur dalam keadaan mengingat Tuhannya. Hal itulah yang diwariskan oleh Rasulullah Saw.

Sebagian orang shalih memiliki alat tasbih yang digunakannya untuk bertasbih, dan mereka tidur dengan barang itu berada di tangannya. Kemudian, ia bangun, sedangkan alat itu tetap berputar di tangannya tanpa ada yang memutarnya, dan lisannya tetap bertasbih. Ada kaum yang benar-benar mengantuk, dan di antara mereka ada yang berusaha untuk tidur sesaat pada malam hari, agar bisa begadang di sisa waktu malam. Sebagian orang shalih ada yang berusaha untuk tidur pada sebagian malam, padahal ia belum mengantuk. Ketika ditanya, maka ia menjawab, "Hatiku melihat Tuhanku."

Perkataan orang shalih tersebut benar, karena tidurnya orang yang benar adalah wahyu dan ketenangannya berada di dalam tidurnya. Orang yang dekat kepada Al-Haq 'Azza wa Jalla memiliki para malaikat yang ditugaskan menjaganya dalam seluruh waktunya. Jika ia tidur, maka mereka duduk di dekat kepala dan kedua kakinya. Mereka menjaganya di hadapan dan belakangnya dari datangnya setan di bagian yang tidak mungkin didekatinya.

Ya Allah, jadikanlah kami dalam penjagaan-Mu dalam semua keadaan. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka.