Sunday, February 3, 2013

Kecaman terhadap Orang Munafik

Celakalah kamu, karena kemunafikan telah tumbuh di dalam hatimu. Seharusnya kamu bertaubat dan tidak melakukan kemaksiatan. Jadilah orang yang berakal, hingga ketika debu tersibak, kamu dapat membedakan antara kuda dengan keledai. Barang siapa mendengarkan ucapanku serta ikhlas menjalankannya, maka ia akan menjadi salah seorang yang dekat kepada Allah Swt., karena ini merupakan perkataan yang tidak ada celanya.

Celakalah dirimu, kamu mengaku mencintai Allah Swt., namun kamu menghadapkan hati kepada selain-Nya. Tatkala Majnun benar-benar mencintai Laila, maka hatinya tidak memikirkan apa pun, selain Laila. Dikisahkan, pada suatu hari, Majnun bertemu suatu kaum, lalu mereka bertanya kepadanya, "Dari mana kamu, wahai Majnun?" Kemudian, Majnun menjawab, "Menemui Laila." Lalu, mereka bertanya lagi, "Sekarang, kamu hendak ke mana?" Ia pun menjawab, "Aku hendak menemui Laila."
( Abu Al-Faraj Al-Ashbahani, Al-Aghani, jilid 11/74.)

Ketika hati benar-benar mencintai Allah Swt., maka ia akan menjadi seperti Nabi Musa As. tatkala Dia berfirman kepadanya sebagaimana tertuang dalam ayat berikut:
"Dan, Kami cegah Musa dari menyusu kepada pempuan- perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu.... (QS- Qashash [28]: 12).

Janganlah berdusta. Kamu tidak memiliki hati, melainkan satu saja. Maka, dengan apa hati itu akan kamu isi hingga menjadi penuh? Allah Swt. berfirman:

"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorarg dua buah hati dalam rongganya...." (QS. al-Ahzab [33]: 4).

Tiadalah dibenarkan jika hati mencintai Al-Khaliq 'Azza wa Jalla dan makhluk sekaligus, begitu juga hati yang di dalamnya terkandung dunia dan akhirat. Orang yang tidak mengetahui Allah Swt. senantiasa ingin memperlihatkan amalannya dan bersikap munafik. Sedangkan, orang yang alim pasti enggan melakukan hal itu. Orang yang bodoh senang bermaksiat kepada-Nya, sedangkan orang berakal senantiasa menaati-Nya. Orang yang hatinya membenci sesama, maka ia akan bermaksiat kepada-Nya, sedangkan orang yang mencintai (harish) selalu menaati-Nya. Orang yang loba ingin mengumpulkan dunia, maka ia bersikap riya dan munafik. Sedangkan, orang yang selalu merasa di awasi oleh-Nya, maka ia tidak bersikap riya. Orang yang lalai itu bersikap pamer, sedangkan orang yang sadar, maka ia tidak demikian.

Para wali Allah Swt. memiliki pengingat yang akan mengingatkan mereka dan pengajar yang akan mengajarkan mereka. Dia telah mempersiapkan sarana-sarana pembelajaran bagi mereka. Rasulullah Saw. bersabda:
"Jika seorang mukmin berada di puncak gunung, maka Allah Swt. akan menyediakan seorang alim yang akan mendidiknya. "

Janganlah meminjam perkataan orang-orang yang shalih, menggunakannya untuk berbicara, dan mengklaimnya menjadi milikmu. Peminjaman itu tidak akan bisa disembunyikan. Gunakanlah hartamu, bukan dari pinjaman. Tanamlah kapas dengan tanganmu, siramlah kebun dengan tanganmu, dan tumbuhkanlah dengan kesungguhanmu. Setelah kamu memanen kapas, maka pintallah, jahitlah, dan pakailah hasil jahitan itu. Janganlah kamu merasa senang dengan harta dan pakaian orang lain. Apabila kamu mengutip perkataan orang lain, lalu mengklaim perkataan tersebut sebagai milikmu, maka suatu hari kamu akan dicela oleh orang-orang yang shalih.

Bila tidak bertindak, maka kamu tidak memiliki perkataan apa pun. Bentuk zhahir suatu perkara berkaitan dengan amalan. Allah Swt. berfirman:

“.. Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan(QS. an-Nahl [16]: 32).

Seorang mukmin tidak membuat "lelah" para malaikat dengan kata-kata yang tidak penting dan berarti. Hatinya takut kepada Al-Haq 'Azza wa Jalla. Hati dan lisannya menjadi bisu. Hatinya sejuk karena wibawanya, begitu juga dengan seluruh anggota badannya, sehingga para malaikat bisa istirahat; tidak menuliskan amal buruknya.

Wahai anakku, kamu memiliki dosa yang bertumpuk di atas konklusi yang kabur, sulit, dan tidak jelas. Bisa jadi, dosa tersebut akan berubah menjadi kebaikan dan bisa juga menjadi keburukan bagimu. Ingatlah kematian, karena kamu tidak akan pernah bisa menghindar dari kematianmu. Tinggalkanlah keadaan yang kamu jalani saat ini, yaitu ucapan ini dan itu, serta sibuk dengan sesuatu yang tidak penting.

Pendekkanlah angan-anganmu serta minimalkanlah kelobaanmu, karena sebentar lagi kamu akan menjadi mayat.

Bisa jadi, kematian menghampirimu, sementara kamu sedang duduk di suatu tempat. Kamu mendatangi tempat itu dengan kedua kakimu, dan bisa jadi kamu pulang dalam keadaan digotong ke rumahmu dengan keranda jenazah.

Seorang mukmin senantiasa mengobati jiwanya ketika rasa sakit menghampirinya seraya berkata kepada dirinya sendiri, "Aku sudah menasihatimu, namun kamu tidak menggubrisnya. Siapakah dirimu, aku sudah memperingatkanmu, wahai orang yang bodoh, ingkar, dan menjadi musuh Allah Swt.?" Setiap orang yang tidak menghisab jiwanya serta tidak mendebatnya, maka ia tidak akan menang. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda:
"Barang siapa tidak memiliki penasihat bagi dirinya sendiri, maka nasihat yang datang dari orang yang memberi nasihat tidak akan memberikan manfaat baginya. " 
(Kami tidak mendapatinya dengan lafazh tersebut. Redaksi hadits tersebut didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad Ahmad, az-Zuhd dari Malik bin Dinar, ia berkata, "Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Isa As., 'Wahai Isa, nasihatilah dirimu sendiri. Jika kamu sudah mendapatkan nasihat, maka nasihatilah orang lain. Bila tidak, maka malulah kepada-Ku.")

Bila seseorang menginginkan kesuksesan, maka hendaklah ia menasihati dirinya sendiri, menzuhudkannya, dan bersungguh- sungguh melawan nafsunya. Zuhud ialah meninggalkan hal-hal yang haram, kemudian meninggalkan hal-hal syubhat, lalu hal-hal yang mubah, setelah itu hal-hal yang halalnya bersifat mutlak dalam segala keadaan, sehingga tidak ditinggalkan secara umum. Hakikat zuhud adalah meninggalkan dunia dan akhirat, serta syahwat dan kenikmatan, mencari berbagai keadaan, derajat, karamah, dan kedudukan, sehingga tidak tersisa lagi di dalam hatinya, selain Allah Swt. Dia-lah puncak segala harapan, serta kepada-Nya-lah segala urusan dikembalikan.

Di antara orang-orang yang berbicara, ada yang berbicara dengan hatinya. Di antara mereka, ada yang berbicara dengan relung jiwanya. Dan, di antara mereka, ada pula yang berbicara dengan nafsu, hawa, dan setannya. Kebiasaan orang mukmin adalah berpikir sebelum berbicara, sedangkan kebiasaan orang munafik ialah berbicara dahulu dan baru berpikir. Lisan orang mukmin berada di bawah kendali akal dan hatinya, sedangkan lisan orang munafik mengendalikan akal serta hatinya.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang mukmin, dan janganlah menjadikan kami orang-orang munafik. Berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka. Amin.